Vaginoplasty

Ki Ageng Similikithi

 

“Lampu” teriak Dr. Pram memecah kesunyian di kamar operasi.  Pagi itu di awal tahun 1974, beliau sedang melakukan operasi vaginoplasty di rumah sakit Kandungan dan Kebidanan Mangkubumen,  Yogya.  Terhenyak saya mendengar teriakannya. Saya  masih ko-asisten mendapat tugas  mengarahkan lampu ke daerah operasi.  Cepat-cepat saya benarkan arah sinar lampu. Perhatian saya terganggu karena permintaan mas Pur, fotografer yang bertugas mengabadikan jalannya operasi. Kami tidak begitu terkejut akan teriakan Dr. Pram, kebiasaannya memang begitu.  Mas Pur, fotografer itu kadang-kadang terlalu aktif di hadapan ko as, melebihi para dokter asisten ahli.

“Siapa yang menyiapkan pasien ini?”. Ganti pertanyaan ditujukan ke asisten operasi. Almahum Dr. Suro, sedikit terkejut. “Kok kurang bersih gimana sih ?”. Dokter Suro coba menjelaskan. “Tadi saya cek, rambutnya sudah bersih dicukur Dok”. “Mas, saya tidak tanya cukur pubes. Tetapi itu organ yang mau digarap kok masih kotor dan bau”. Tim asisten operasi semua terdiam. Tak ada gunanya mencari dalih. Dr. Suro dengan sabar membersihkan vagina dan daerah sekitar vagina.

Dr. Pram kemudian mulai operasi trans vaginal. Hati-hati sekali memotong dan menyambung jaringan jaringan yang telah kendor. Pasien mengalami prolapsus vagina. Organ vagina melorot oleh karena otot-otot dan jaringan penyangga sudah kendor. Pasien berumur sekitar lima puluh tahun. Isteri seorang pejabat di  propinsi.  Alasan operasi memang pertimbangan medis semata-mata.

Sambil operasi, Dr. Pras cerita, jika pasien ini adalah  kasus ketiga yang dioperasi dengan teknik ini. Temannya di Denpasar telah melakukan operasi sebanyak tujuh kali. Mereka janji akan mempresentasikan hasilnya di konggres nasional tahun depan. Ada semacam pacuan di antara kedua sahabat itu. Operasi berjalan lancar, selesai dalam waktu dua jam.

Vaginoplasty adalah operasi yang bertujuan untuk merekonstruksi kelainan di  organ vagina, penunjang vagina dan jaringan mulut vagina karena berbagai sebab (http://en.wikipedia.org/wiki/Vaginoplasty ).   Yang paling sering adalah kelainan karena mengendornya jaringan otot vagina dan penunjang vagina, sehingga kantung vagina melorot turun. Jelas ini membawa dampak terhadap fungsi seksual, terhadap bentuk estetika vagina dan juga menyebabkan keluhan tidak enak untuk pasien.  Sebagian besar alasan vaginoplasty adalah karena pertimbangan medis dan kesehatan.

Namun  dengan berjalannya waktu dan  membanjirnya  budaya komersial, disertai meningkatnya tuntutan dan selera kaum wanita, semakin banyak operasi vagionaplasty yang tujuannya bukan semata mata untuk rekonstruksi medis, tetapi  untuk tujuan estetika semata-mata.

Untuk memperbaiki  penampilan vagina dan alat-alat sekitar vagina, misalnya bibir vagina, jaringan klitoris. Yah mungkin biar penampilannya lebih cantik menawan dan memikat pasangan. Bahkan juga untuk menutup kembali selaput dara yang telah robek karena perkawinan.  Ini semata-mata hanya indikasi social, bukan medis. Karena ada permintaan pasar, tak ayal lagi pelayanan vaginoplasty estetika semakin populer, semakin mahal dan jadi simbol gengsi.

Vaginoplasty estetika populer di kalangan kaum wanita kelas atas yang berduit dan kalangan selebriti. Mungkin demi gengsi, atau demi meningkatkan popularitas di kalangan penggemar. Walau sudah kawin, hymen atau selaput dara yang sudah robek atau hilang, bisa ditautkan kembali atau ditambal dengan jaringan lain. Perawan kembali walau hanya secara artifisial. Dalam konteks non rekonstruksi, vaginoplasty juga bisa untuk meremajakan kembali jaringan vagina, mengembalikan kekencangan otot-otot dan meningkatkan penampilan estetika dan kepuasan sang pasangan.

Tak dimungkiri, kini vaginoplasty seolah menjadi bagian budaya popular kelas atas, kalangan orang berduit dan selebriti. Bukan lagi hanya sekedar untuk memperbaiki disfungsi vagina karena sebab sebab medis seperti yang digambarkan dalam operasi di atas.

Orang bisa minta dioperasi agar Ms. V bisa tersenyum manis menarik sang pasangan. Bisa untuk memperbaiki penampilan bibir vagina. Ada bibir yang mungkin terlalu besar, bergelantungan tak beraturan, bisa diperbaiki supaya bisa mungil dan menawan. Mungkin  juga beralasan. Jika penampilan Ms. V tidak menawan, serong  ke kiri, serong  ke kanan, dengan bibir  bergantungan tak beraturan, bisa-bisa sang burung  tidak mau berkokok, mampir, apalagi masuk. Manusiawi lah.

Yang menjadi berlebihan karena kemudian  ini dipromosikan sebagai salah satu simbul budaya pop kelas atas. Budaya kekinian yang mahal. Bayangkan bagaimana bangganya sang selebriti kita DP sesudah menjalani vaginoplasty selaput dara (http://kayosakti.blogdetik.com/2011/06/04/dewi-persik-perawan-lagi-biarpun-janda/). Mungkin bagi yang bersangkutan ini sebagai aktualisasi diri sebagai artis papan atas.

Bahkan tripnya digabung dengan umroh,  biar semakin afdol. Bagi sang produser, meningkatnya  popularitas bisa  untuk menggaet  penggemar, menggaet pasar.  Bayangkan bila image sang selebriti  tersebar luas, wah Ms. V nya sudah melorot, sudah kendor, sudah miring sembilan puluh derajad.  Jelas para penggemar lari. Sori mek sori sori. Ini harus dicegah secara proaktif, vaginoplasty, walau harus bayar milyaran.

Ketika saya omong-omong dengan beberapa teman ahli kandungan dan kebidanan, menghadapi komersialisasi dan penyebarluasan image vagionaplasty ini di kalangan orang berduit dan selebriti papan atas, ada-ada saja inovasi yang mungkin bisa dilakukan.

Perlu langkah  langkah untuk  menyelaraskan  (alignment) dengan merebaknya   budaya korupsi, penyimpangan, politik uang di tanah air. Saya sarankan dokter-dokter tersebut membuat inovasi teknologi dan kemitraaan (alliance) dengan pengusaha melalui mekanisme pasar.  Sokur kalau  bisa dipasarkan untuk ekspor.

Salah satu inovasinya, bagaimana kalau dokter dokter itu bekerja sama dengan produsen jenang atau wajik. Entah jenang Kudus atau dodol Bandung, untuk menyubal  Ms. V saat vaginoplasty biar tambah lekat. Atau kemitraan dengan pedagang rujak cingur, biar aromanya semakin aduhai dan menggoda.

Wah wah wah edan kabeh.  Maaf malah ngelantur.   Terlalu vulgar mungkin.

 

Salam damai

Ki Ageng Similikithi

Manila, 30 Juni 2011

 

71 Comments to "Vaginoplasty"

  1. Ki Ageng Similikithi  7 July, 2011 at 04:06

    Fobia kadang memang berkaitan dengan pengalaman/ingatan masa lalu yang tersimpan dalam ingatan secara tdk disadari. Tak harus pengalaman sendiri, kadang cerita pun sdh cukup sbg penyebab. Krisis masal spt huru hara 65 dan sesudahnya, huru hara 1998, kekerasan etnis di Sampit pasti banyak menyebabkan reaksi panik walaupun yang bersangkutan hanya mendengar kisah dri teman atau saudara, apa lagi yang mengalaminya langsung.

    Di tahun akhir enampuluhan ada film bagus yang menceritakan proses persalinan secara visual, bagus sekali. Wunder der liebe. Memberikan gmbaran yang jelas dan gamblang bagaimana proses itu berjalan. Membantu secara ppsikologis bagi banyak orang ttg proses dan resiko persalinan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *