Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Hati-hati Patah Hati

Wednesday, 6 July 2011

Viewed 1968 times, 1 times today | 31 Comments |

Bagong Julianto, Sekayu – Muba, Sumsel

 

 

1. Karoseri Pribadi, mBadran-Mangkubumen, Solo, 1983

Sedang dalam perjalanan ke kampus. Route yang biasa adalah: nJajar-Turisari-Mangkubumen-Pasar Nongko-mbablas ke timur terus ke Kentingan. Lhah, sekali ini mbelok lewat mBadran. Muter-muter masuk pula. Route yang aneh dan pasti nyleneh. Saya cuma tahu cewek Gondo rumahnya di mBadran,  tapi di mana satu tepatnya, nggak jelas. Tumben pula Gondo minta dibonceng. Ranselnya juga gembung, seperti bawa buah kelapa. Kepala dan tubuhnya yang jauh lebih tinggi dari saya, pasti diterpa angin.

“Ngontrol cewekmu atau bingung ini ‘Gon?! Baru grejegan apa?”, tanya saya.

(Grejegan=ribut kecil, debat remeh-temeh).

“Wis, diam saja kamu. Itu-itu ikuti mobil itu!”, tunjuk Gondo. Segera motor bebek itu saya pacu mendekati Kijang yang ditunjuk Gondo.

“Terus mendekat! Dari sisi kiri saja!”, lagi Gondo mengarahkan saya. Keterheranan saya dengan sikap dan perangai Gondo yang rada ganjil hari itu belum sempat saya konfirmasi. Tiba-taba: “Dhuar….Dhuar….”, dua bongkah batu berurutan dilempartolakkan Gondo ke Kijang itu….    (seperti tolak peluru, kosakata Jawa: mbalang).

“Biajindhul……”, saya ‘ngumpat. Kaget, takut, takjub  bercampur tanda tanya ingin tahu. Ini pasti ada hubungannya dengan relasi cowok-cewek. Relasi yang sering nggak masuk akal. Segera saya pacu ngebut itu bebek, meliuk-liuk di keramaian jalan Manahan. Kami, tentu saja nggak mau diadili massa atau diteriaki copet-rampok dan diramai-ramaikan orang.

Perbuatan Gondo itu tidak direncanakan bersama saya. Jelas. Mencederai harta benda orang. Memeokkan mobil, dan kalau bisa memecahkan kaca mobil. Saya belum tentu setuju. Dia hanya ingin menikmati dendam kesumat cemburu itu sendirian, tapi di lain sisi melibatkan saya sebagai operator sepeda motor. Semprul, gombal amoh!  Mobil Kijang itu ternyata adalah mobil saingan potensial dia. Saingan dalam memperebutkan seorang prawan mBadran yang  minyak-minyik kinyis-kinyis…

 

2.Tukar tambah sepatu cat merah dengan sandal Kickers, sepatu ditukar…tambah malu

Bagus juga berkisah……

“Gus, kamu di depan saja”, kata Gondo. Bagus, paling “kalem” di antara kami. Kalem=sak-kal, gelem. Sekali jadi langsung mau. Penurut dan paling baik hati. Pelan sepeda motor itu dikendarai Bagus dengan memboncengkan Gondo. Lagi-lagi mengarah ke mBadran. mBelok juga! Bagus menurut saja diarahkan kiri-kanan oleh Gondo. Memang jagoan si Gondo ini! Membujuk dan menyembunyirahasiakan sesuatu. Sesuatu yang sensasional pula!

“Kejar Kijang itu, ambil sisi kiri!”, perintah Gondo. Sekejap kemudian: sret-sreeeeeet…… Secepat itu Gondo menyiramkan cat tembok warna merah ke mobil Kijang.

“Ndlegek….. jiangkrik!”, Bagus juga mengumpat sambil memacu sepeda motor Gondo, kali ini mengarah ke Jalan Slamet Riadi. Bahasa dan wong Jawa memang kaya umpatan. Tapi bukan mobil itu saja yang berlumuran cat. Celana, sepatu dan sepeda motor juga belepotan cat merah itu…. Inilah efek buruk relasi cowok-cewek itu: memerahkan sepatu putih dan mencorengkan   mobil hijau daun.

Lain hari, Gondo ‘nawari Bagus:

“Mau pakai sandal Kickers ini?!”, saat itu mereka baru saja dari tempat kost Eri. Gondo, katanya mau ngambil-jemput sepatu bolanya yang sudah berbulan-bulan disandera Eri. Bagus ingat sepatu Adidas putihnya yang telah berlumuran cat merah akibat destruktivitas rasa cemburu Gondo ke saingannya. Bagus berpikir, inilah ganti sepatu itu. Lumayan. Tidak pula demikian halnya pemikiran Gondo. Saat menjemput kemaren, didapatinya sepatu bola itu telah dhedhel dhuwel, hancur, menganga dan teronggok di sudut bawah rak sepatu. Pantas Eri nggak berani memulangkan sepatu bernasib sial itu.

Gondo memanggil-manggil Eri. Eri nggak ada. Nggak ada orang nampaknya. Yang ada justru sandal Kickers yang jelas masih baru. Nggak jelas sandal siapa. Yang pasti, bagi Gondo itu memadai sebagai ganti sepatu bolanya…

Beberapa hari kemudian……

Saat nempel ban bebek bocor di Manahan, kami dihampiri Suluh.

(Kawan dan kompanyon Eri ini termasuk musuh dalam selimut bagi kami. Sering bertindak ceroboh. Sekali waktu, Suluh kami labrak. Sebetulnya saya nggak tahu saat diajak Gunot tempo hari. Katanya mau pinjam catatan kuliah, mau mengkopi. Setiba di tempat dan tanpa ba-bi-bu, langsung saja tinju Gunot mendarat tepat di pipi Suluh. Suluh meringis dan ”Ampun….ampun ‘Not!” Kesalahannya termasuk fatal: ngganggu Nani, adik angkatan yang lagi ditaksir Gunot).

Sambil menyapa kami satu per satu: “Gon; Gong; Gus!”, Suluh tersenyum. Sepertinya artificial dan terpaksa. Sungguh, tak ada baginya pilihan lain selain berkawan, mengawani dan atau menganggap kami sebagai kawan. Kami adalah Mas’e Solo. Sebetulnya bukan hal yang patut  dibanggakan: jadi jago kandang. Jadi jagoan kampong dhewek. Ini hanya sebentuk pernyataan dan peringatan agar para pendatang, terutama para pemuda yang merasa jadi harapan pemudi, tidak berlaku tak sopan di pergaulan antar sesama.

Tiba-tiba Gondo bisikkan ke Bagus, saya juga ikut mendengar:

“Gus, jaga kakimu. Singkirkan Kickersmu. Awas, jangan sampai terlihat Suluh”, wajah Gondo cengengesan. Wajah Bagus memerah menahan marah, gondok, geram. Saya lihat, wajah Suluh bercampur senang-heran-tandatanya-ingin tahu dan seperti menemukan sesuatu yang sangat berarti ketika melihat di samping kaki telanjang Bagus tergeletak sandal itu……

Sampunnn. Suwunnn (BgJ, 0611)

 

Share This Post

Posted by Wednesday, 6 July 2011 on 10:20.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

31 Responses to “Hati-hati Patah Hati”

Pages: « 4 [3] 2 1 »

  1. 30
    Donald Revangga Putra Says:

    ahli patah hati…

  2. 29
    kembangnanas Says:

    pak bagjul, kalo hatinya patah ya disambung pak, klo perlu dipasangi pen platina hihihihihi

  3. 28
    selogiri Says:

    pak bagong niki mestine akeh ceritane..hehehe..

  4. 27
    anoew Says:

    Bahasa dan wong Jawa memang kaya umpatan

    Kang, aku jadi inget jaman semono kae kalau pisuh-pisuhan sama teman hahah.. Apalagi seperti kasus mobil dicat itu, kalau saya sudah pasti langsung tak pisuhi “mbah jiman ngangsu…!

  5. 26
    bagong julianto Says:

    Mas Jalu….

    Mas, ditraktir es cendhol apa sawut ketan juruh, apa lentho apa kacang dhele godhok, ‘kok mau jadi utusannya Mas Gondo?
    Hahaha….
    Ditraktir godril……
    Mesti beli di Pasar Gedhe…..

  6. 25
    bagong julianto Says:

    Bung Iwan SK….

    Rahmat Kartolo bisa njawab Patah Hati, itu karena punya semangat setelah ndengar Waldjinah slow rock balada:
    “Wong yen lagi gandrung…..
    Ra perduli mbhledhose gunung..”
    Orang kalau sedang jatuh cinta…
    Nggak perduli apapun juga (=meletusnya Soputan)..

    Suwunnn

  7. 24
    bagong julianto Says:

    DA dan Nuchan….

    Kalau terus-terusan patah hati?
    Berarti remuk hati?!
    Enakan juga sambel goreng ati…..

    Suwunnn.

  8. 23
    bagong julianto Says:

    itsme…..

    “kalau tidak mau patah hati makan yang seimbang”
    Repot…..
    Mesti bawa timbangan terus…..
    Salah timbang, nanti didenda Kantor Metrologi…….

    Suwunnnn.

  9. 22
    bagong julianto Says:

    Linda….

    “……kalau patah hati, ya, lem atau tambal ajah hati yang patah…..”
    Wis…wis….. pakai apa ya? Lem U-hu apa lem uhuk-uhuk……
    Huahahaha……

    Suwunnnn.

  10. 21
    bagong julianto Says:

    KangMas Dj…

    Whuah…..Jan! Ngentek-entekke itu, nom-noman yang lain ora keduman….. hahaha…
    “Satu belum mau pergi, yang lain sudah datang”
    Lhah, nyoto ‘kan: nJenengan itu ijik enom nanging wis Dhewoso……..
    geDhe, duowo ‘tur roso…. hahaha….

    Suwunnnn…

Pages: « 4 [3] 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)