Pet Rescue di Namie

Sakura – Jepang

 

Terhitung mulai tanggal 1 Juli ini, akhirnya pemerintah Jepang menetapkan kenaikan harga listrik sebesar 15%, karena semua PLTN yang ada sekarang dihentikan, jadi untuk menutup biaya produksi yang lebih tinggi dari pembangkit listrik lainnya, mau nggak mau terjadi kenaikan sebesar 15% tersebut. Dan aku masih bertahan untuk tidak menggunakan AC, sebisa mungkin, buka jendela lebar-lebar, meski radiasi di sini sebesar 1.3 micro Sv/h, untunglah bukan dosis yang membahayakan buat tubuh manusia.

Sebenarnya aku tidak ada rencana sama sekali untuk membantu program rescue pet di Namie, suatu kota yang setengahnya masuk radius 30 km dan setengahnya masuk radius 20 km dari lokasi PLTN Fukushima. Mengapa bisa sampai ke sana, ceritanya agak unik. Aku berencana untuk pulang ke Indonesia sebentar pada summer ini, untuk itu, aku harus menitipkan kucingku pada Japan Cat Network.

Secara kebetulan, Susan, dari Japan Cat Network sedang berada di propinsi Fukushima, tepatnya di Inawashiro, suatu kota yang indah, merupakan daerah wisata dengan danaunya yang cantik dan ada ski resortnya pula. Susan menawarkanku untuk datang ke Inawashiro, aku semula menolak, karena jadwal dia di sana hanya sampai Jumat, sedangkan aku hanya bisa libur di akhir minggu, karena kesibukan jadwal risetku. Tetapi akhirnya setelah kupikir lagi, ini kesempatan untuk bertemu Susan, atau aku harus menemuinya di propinsi Shiga, suatu propinsi yang sangat jauh sekali dari propinsi Fukushima. Finally aku kontak Susan, aku off dari lab. Secara mendadak dan datang ke Inawashiro. Ini pertama kali aku keluar dari kota Fukushima (meski masih dalam wilayah propinsi Fukushima) sejak kepindahanku ke Fukushima akhir April lalu.

Beruntung aku bisa berbahasa Jepang, meski tanpa modal map dan jadwal transportasi, dadakan aku berangkat ke Inawashiro, dari Fukushima st. aku naik bus sampai ke Koriyama st, sekitar 1 jam perjalanan. Lalu dari Koriyama st. aku naik kereta sampai ke Inawashiro station. Suatu perjalanan wisata yang sangat menyenangkan hati, melewati bukit-bukit hijau dan barisan pohon-pohon cemara yang teduh dan indah.

Setelah 40 menit perjalanan dengan kereta, akhirnya aku tiba di Inawashiro dan setelah menunggu sebentar, aku akhirnya bisa bertemu dengan Susan Robert (dari Japan Cat Network, http://www.japancatnet.com/) dan Alex Lane dari Kinship Circle (Lohas Club). (http://www.kinshipcircle.org/disasters/japan_quake/photos.html). Aku sudah mengenal Susan sejak hampir 1,5 tahun yang lalu, karena aku foster Moonshine (kucingku sekarang) dari Japan Cat Network. Dengan Alex Lane, ini pertama kali pertemuanku dengannya. Susan dan Alex adalah dua dari puluhan volunteers Amerika yang sekarang sedang berjuang untuk menyelamatkan animals (anjing, kucing, ayam, sapi dsb, bisa dilihat di website Kinship Circle di atas) dari daerah sekitar PLTN Fukushima.

Sayangnya, pemerintah Jepang masih tidak mengijinkan kami memasuki areal di dalam 20 km. Jadi yang bisa kami lakukan hanya merescue animals sebatas di luar 20 km dari PLTN Fukushima. Imageku tentang Susan, ternyata tidak berubah dengan Susan secara real, senyumnya yang ramah sama dengan foto-fotonya yang ada di website-website. Hanya saja rambutnya sekarang dipotong pendek sebahu. Alex Lane, seorang gadis Amerika dengan rambut yang sangat indah warnanya, pirang emas. Sayangnya dia gadis yang cuek, rambutnya yang indah hanya dikucir satu ke belakang. Dari Inawashiro st., Susan dan Alex (Alex yang menyetir mobil) kami menuju Lohas Club. Suatu shelter yang indah, lengkap dengan pet hotel dan juga tempat penginapan bagi para volunteers.

Satu hal yang saya kagumi dari bangsa Amerika, mereka sangat solid untuk membantu volunteers grup yang terletak di luar negara mereka, dan dengan dukungan dana yang kuat (Amerika gitu loooohhhh) , volunteers grup mereka yang berada di Jepang bahkan lebih dominan dibandingkan grup-grup volunteer Jepang sendiri. Di Lohas Club Inawashiro sendiri, sekarang ada sekitar 32 ekor kucing dan lebih dari 20 ekor anjing yang ditampung, sebelum owner mereka mengambil atau kami transfer ke owner penggantinya. Dalam system kami, semua pet yang direscue, akan kami pasang fotonya di website kami, kemudian jika dalam beberapa bulan ke depannya tidak ada kontak dari ownernya, maka kami akan transfer mereka kepada owner pengganti untuk diadopsi atau difoster. Di Lohas Club, aku juga bertemu dengan seorang gadis Amerika lainnya yang berbadan langsing, ayu, berambut panjang kecoklatan, Alice namanya,  Alice yang mengantarkanku untuk melihat kucing-kucing di Lohas Club.

Aku suka anjing dan kucing, sehingga tidak masalah sama sekali bagiku untuk mengelus-elus mereka, malah hatiku ikut senang. Aku sebenarnya lebih suka anjing, tetapi karena ajaran agamaku yang melarang air liur anjing menyentuh kulit, maka aku akhirnya cenderung lebih dekat kepada kucing-kucing.

Setelah di Lohas Club selama 1 jam, Susan dan Alex menawarkanku mau ikut ke Namie atau tidak, dengan spontan aku menjawab, “Yes, I want to go”. Terus terang, aku suka kegiatan-kegiatan seperti ini. Saat di Inwashiro, aku mengecek level radiasi, pada 0.145 micro Sv/h. Keluar dari Inawashiro, pada radius di luar 30 km, level radiasinya 1.547 micro Sv/h. Di tempat tinggalku di Fukushima-shi, yang berjarak 5 km dari PLTN Fukushima, level radiasinya sekitar 1.3 micro Sv/h. Kalau gitu nggak salah lagi, memang segitu, sekitar 10 kali lipat dari radiasi normal, dan masih dalam batas yang tidak membahayakan bagi tubuh manusia.

Tetapi begitu memasuki radius sekitar 30 km, level radiasinya meningkat drastis. Dari 9 micro Sv/h, langsung melonjak menjadi 11 micro Sv/h dan terus naik sampai 14 micro Sv/h. Saat level radiasinya sudah mencapai 2 micro Sv/h, sebenarnya kami sudah memakai masker dan baju pelindung, dengan suhu udara sekiatr 30 derajat C, memang agak gerah juga. Ditambah harus berjalan menyusuri sawah, semak-semak, untuk mencari kucing-kucing dan anjing-anjing yang ditinggal begitu saja oleh pemiliknya.

Beberapa tugas memang merupakan tugas khusus, seperti ada owner yang minta dicarikan kitten dari kucing mereka yang baru lahir. Karena saat ditinggal mengungsi, kucingnya sedang hamil besar. Untuk kucing-kucing liar yang terlihat sehat, kami tidak mengambilnya, tetapi hanya memberi makan (sehari 2 kali, pagi dan menjelang malam, shift secara bergantian).Untuk kucing yang tidak sehat dan sakit atau kurus, kami membawanya pulang ke shelter di Inawashiro. Beberapa anjing yang kami temui, akhirnya kami bawa ke shelter, karena kesehatannya menurun dan terlihat sangat menderita. Susan mengatakan kepadaku, bahwa dalam radius di luar 20 km, sampai dengan bulan Mei lalu, banyak grup volunteer yang memberikan makan buat para anjing dan kucing di sepanjang jalan besar dan saat itu mudah ditemui para anjing dan kucing yang menunggu makanan di pinggir jalan.

Tetapi memasuki bulan enam, jumlah grup volunteers sudah mulai berkurang dan tidak terlihat lagi para anjing dan kucing yang menunggu di pinggir jalan. Jadi kami harus masuk-masuk menerabas semak-semak dan membuka pintu-pintu pagar rumah untuk mencari kucing dan anjing yang ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. Aku membawa 10 kg dried food untuk kucing, ternyata dalam waktu kurang 2 jam, kantung makanan yang aku bawa tersebut nyaris kosong. Begitu banyak kucing-kucing kurus yang kami temui di dalam kota Namie. Kota yang begitu sunyi tanpa penghuni.

Satu dua kali kami masih melihat beberapa mobil yang memasuki kota Namie. Dari pemerintah Jepang sendiri, dalam radius 30 km, masih diijinkan pulang ke rumah sekitar 1-2 jam untuk mengambil barang-barang dan keperluan lainnya. Tetapi di dalam radius 20 km, sudah tidak diijinkan secara total. Dari cerita Susan, di dalam radius 20 km sampai dekat dengan lokasi PLTN Fukushima, sebenarnya banyak kucing dan anjing yang mati kelaparan. Karena kami para volunteers tidak diijinkan masuk ke dalam oleh para petugas polisi yang berpatroli sepanjang garis batas 20 km. Kami sendiri, harus beberapa kali bertemu dengan para polisi dan menjelaskan maksud kedatangan kami ke Namie.

Untunglah mobil kami adalah mobil kantor volunteers Kinship Circle, sehingga dengan melihat logonya, para polisi akan bersikap sangat ramah dan bahkan mendukung kami, bahkan mengingatkan kami untuk berhati-hati karena banyak orang jahat yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tetapi untunglah di Fukushima sendiri, meskipun kotanya banyak yang kosong, tidak ada rumah yang kecurian, mungkin pencurinya takut terkena dosis radiasi yang terlalu tinggi…hehehe..padahal rumah-rumah dan mobil-mobil banyak yang ditinggalkan begitu saja tanpa dikunci. Saya sendiri melihat beberapa rumah yang tirai curtainnya melambai-lambai ke luar tertiup angin, jendela rumahnya tidak dikunci.

Mungkin untuk membiarkan kucing-kucing dan anjing-anjing piaraan mereka bebas ke luar masuk rumah. Syukurlah Namie juga aman, meski sudah ditinggalkan para penduduknya berbulan-bulan. Di kota Namie sendiri, listrik tetap berfungsi dengan normal, lampu-lampu lalu lintas tetap beroperasi meski tidak ada orang sama sekali, hanya air ledeng yang tidak jalan dan mati. Polisi di Namie, bekerja tidak sendirian, mereka dibantu oleh para polisi dari propinsi lain, seperti dari propinsi Mie, sehingga patrol di sini berjalan dengan baik. Saya sempat menfoto salah satu pengumuman yang ditempel di salah satu rumah bahwa sekitar rumah tersebut telah diperiksa polisi dan dinyatakan aman, pada tanggal 26 Juni.

Tanpa terasa, waktu berjalan sangat cepat, sudah 4 jam lebih di Namie. Di Namie sendiri, kami dibantu oleh seorang wanita Jepang yang pemberani. Amano-san, masih muda sekitar 30 tahun, tetapi dia tidak mau mengungsi, lebih memilih untuk tetap bertahan di Namie untuk memberikan makanan buat para anjing dan kucing di sekitar Namie setiap pagi dan sore. Suatu dedikasi yang sangat tinggi. Berani tinggal di dalam wilayah yang level radiasinya mencapai 100 kali lipat dari radiasi normal. Akhirnya, ketika jam sudah menujukkan sekitar pukul 6 sore, kami balik ke Inawashiro, dengan membawa beberapa pet. Satu ekor anjing sangat besar, sehingga tidak bisa dikandangkan di dalam mobil dan dia kami dudukkan bersama Susan. Ternyata anjing ini sangat senang sekali untuk melihat-lihat pemadangan dari luar jendela mobil yang terbuka. Syukurlah.

Mungkin beberapa orang akan menganggap kami gila, berani-beraninya masuk ke dalam wilayah dengan level radiasi yang tinggi., Tetapi kalau tidak ada orang yang bergerak untuk tujuan ini, siapa lagi yang akan melakukan? Apakah kami akan tega membiarkan begitu banyak animals mati di sana? Bagaimana pun, kami juga berhati-hati terhadap level radiasi. Kami tidak dating setiap hari, tetapi secara bergilir. Dan setelah balik dari daerah sekitar PLTN Fukushima, kami harus cepat mengganti pakaian, mandi dan keramas yang bersih.

Tidak ada maksud untuk memamerkan kegiatan yang kami lakukan kepada umum, di sini. Tetapi, kami ingin menginformasikan kepada masyarakat umum, bahwa kami tetap berjuang untuk menyelamatkan animals juga dari daerah sekitar PLTN Fukushima. Terima kasih. Salam dari Fukushima.

 

24 Comments to "Pet Rescue di Namie"

  1. Djoko Paisan  7 July, 2011 at 18:57

    Sakura…..
    Arigatou….!!!
    Puji TUHAN…!!!
    Masih ada orang memiliki Perikebinatangan….!!!
    Bagaimanapun, meraka adalah makhluk hidup yang tidak bisa menlong diri sendiri.
    Jadi ya, sudah selayaknya, kalau ada orang yang bersedia menolongnya, walau beresiko besar.
    Salam manis dari mainz…

  2. Daisy  7 July, 2011 at 18:18

    Hello Moonshine, nice to meet u

    Hahaha jadi saling pamer Pus. Mana Mbak Agatha? ntar dipamerin doggy-nya yang item itu juga

  3. Sakura  7 July, 2011 at 16:31

    Daisy, kucingku super manja dan cerewet, dan sama kayak kucingnya Daisy, takut denger suara-suara. Langsung nyungsep ke dalam selimut begitu denger bel rumah. Kalau suara mobil, lebih takut lagi dia. Namanya Moonshine, siamese.

    Aku juga joint sama grup yang lain di FB, Indonesian Cat Rescue.

  4. Daisy  7 July, 2011 at 16:12

    Weleh, ndak juga Mbak. Itu karena kami sekeluarga suka kucing aja. Tapi, sekarang si kucing ini nakalnya minta ampuuuuunnn daaah, jadi sering diomelin (padahal aslinya sia-sia krn dia nggak bakal tahu apa maksudnya hehe). Tapi, kalau ngilang/ sembunyi dicari-cari. Nggak pernah keluar rumah sih, dia takut sama suara-suara apalagi suara kendaraan bermotor.

    Sudah aku buka web-nya, kayaknya lama tidak diapdet. Tapi, mereka punya grup FB, udah join. Makasih ya

  5. Sakura  7 July, 2011 at 14:40

    Daisy, dua jempol hebat buat Daisy!! Hebat!!

    Ini website PK: http://pedulikucing.blogspot.com/2010/05/laporan-hasil-booth-peduli-kucing-cat.html

  6. Daisy  7 July, 2011 at 14:35

    Sekarang sudah sehat dan lari-lari lincah

  7. Daisy  7 July, 2011 at 14:34

    Ini kucingku yang sekarang. Dulu dibuang orang di sekitar rumah sampai kecebur got. Matanya sakit dan kakinya pincang kayaknya keinjek roda sepeda motor

  8. Daisy  7 July, 2011 at 14:29

    Peduli Kucing?
    Mereka punya website, Mbak?
    Minta donk?
    Thanks

  9. [email protected]  7 July, 2011 at 14:06

    hahahaa…. kayanya idenya udah disetujui… tinggal pelaksanaan :p

    kita petisi aja ke presiden, minta suruh anggota DPR/MPR jalan2 gratis, dibiayai oleh negara ke jepang… pas sampe di jepang, masukin ke bus bawa kesono…. tinggalin…. huiiiiiiiih… mantap lah pokoke….

  10. Sakura  7 July, 2011 at 13:59

    Terima kasih buat Redaksi Baltyra yang sudah menyangkan artikel ini. Sorry ada kalimat yang salah, tanggal 25 Juni, bukan tanggal 26 Juni, saat patroli polisi selesai memeriksa daerah tersebut.

    Terima kasih juga buat teman-teman semua yang sudah mampir.

    Sedih sebenarnya saat menemukan banyak anjing dan kucing kelaparan. Untunglah saya masih diberi kesempatan sama Tuhan untuk sedikit membantu mereka.

    Setuju sama Paspampers..anggota DPR masukin aja ke tanki reaktor..huahahaha..
    Thanks buat Linda yang sudah menyelamatkan anjing-anjing jalanan.
    Daisy, di Jepang, kalau menyakiti binatang minimal kena denda 700 000 yen. Ini baru denda untuk hal-hal yang kecil, seperti tidak memberikan makanan dan minuman beberapa hari. Kalau menyakiti dalam skala lebih besar, bisa kena sidang dan penjara juga. Sayang, di dalam wilayah 20 km dari PLTN, susah menerapkan sanksi tersebut, lah yang punya rumah aja nggak tahu ngungsi ke mana.

    Yang kami inginkan dari pemerintah Jepang cuma satu, semoga ada perubahan policy di masa datang, bahwa di lokasi pengungsian harus dibangun pula bangunan khusus untuk para hewan mengungsi. Bukan hanya untuk manusia, tapi juga para binatang kesayangan, bagaimana pun, mereka juga punya perasaan, merekajuga bagian dari keluarga kita.

    Kalau di Indonesia, duh jangan harap deh, beberapa kali saya mensupport kegiatan penyelamatan kucing bersama Peduli Kucing, kucing-kucingnya terluka sangat parah, ada yang diceburin ke oli, ada yang disiram air panas…duhh nggak tega banget ngeliat foto-fotonya.

    Mbak Lani,iya kotanya sepi banget.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.