Bandara, Suatu Sore

HennieTriana Oberst – Jerman

 

Sekali-sekali selepas kerja aku mampir ke kantor yang ada di Bandara Soekarno-Hatta, kadang kebetulan sedang ada keperluan, tetapi sesekali hanya berkunjung dan menikmati kesibukan dan lalu lalang orang-orang di Bandara.

Ketika sore itu aku sedang berada di ruang tunggu keberangkatan ada seorang lelaki muda di antara para penumpang yang dengan santun dan keseganan yang terbaca dari mimik wajahnya berusaha membuka percakapan denganku.

Bu, boleh saya bertanya?”, begitu lelaki tersebut mengawali kalimatnya.

Iya, boleh. Ada yang bisa saya bantu, Pak?”, jawabku dan balik bertanya.

Saya mau tanya, kira-kira kapan ya Bu kami kembali ke tanah air?” Pertanyaan yang membuatku berkernyit. Bagaimana mungkin seorang penumpang tidak mengetahui kapan jadwal kepulangannya.

Aku bertanya dalam hati “seberapa banyak informasi yang diketahui lelaki muda ini tentang perjalanan ibadah tersebut.”

Boleh saya lihat tiket Bapak?’, tanyaku kemudian.

Saya tidak pegang, Bu. Semua tiket dan paspor ada di pihak agen. Saya tidak berani tanya-tanya”, jawabnya lugu dengan nada pasrah.

Sebentar, saya akan tanya agen Bapak dulu ya”, jawabku menenangkannya. Pandangan mata memohon tersebut membuatku terenyuh.

Segera aku hampiri seseorang dari agen perjalanan yang mengurus paket ibadah tersebut. Mereka memang selalu mendampingi para calon penumpang di setiap kelompok yang akan berangkat. Setelah berbicara dengannya, kami kemudian bersama-sama menghampiri lelaki muda yang bertanya padaku tadi.

Ia kemudian mendapat jawaban langsung dari agennya atas pertanyaannya tadi. Jawaban tentang jadwal perjalanannya, sesuai visa dan tanggal kepulangan seperti tertera di dokumennya.

~~OOO~~

Belakangan aku tahu bahwa cara curang seperti ini adalah satu contoh yang dipakai sebahagian agen perjalanan yang menawarkan paket Umrah ke Arab. Saat itu program Umrah yang ditawarkan belum seramai seperti beberapa tahun belakangan ini. Orang-orang yang tidak mengerti seperti lelaki muda tersebut selain beribadah juga diiming-imingi bisa mendapatkan pekerjaan di sana.

Termasuk juga bagi sebahagian orang yang ingin melaksanakan Haji, sementara menunggu musim Haji tiba mereka bisa menjadi tenaga kerja musiman. Jalan pintas seperti ini adalah satu alasan orang-orang seperti mereka menerima tawaran tersebut. Seperti kita ketahui betapa mahalnya biaya untuk menunaikan Haji dari Indonesia, belum lagi ditambah harus berada di daftar tunggu yang panjang.

Oknum dari agen perjalanan seperti itu hanya memanfaatkan orang-orang yang tidak mengerti, dengan tidak jujur mengatakan apa rencana mereka yang sebenarnya. Orang-orang lugu yang akan terjerumus menjadi tenaga kerja dan penduduk illegal di negeri impian beberapa gelintir manusia.

Terima kasih buat redaksi dan sahabat Baltyra yang telah membaca.

 

Salam hangat

 

56 Comments to "Bandara, Suatu Sore"

  1. Beny Akumo  12 July, 2011 at 16:15

    saya lugu …

  2. Nuchan  10 July, 2011 at 17:41

    Hahhaha ini kemana si Atheis kagak nongol2 juga hahhahhaa….
    Kebanyakan cari literatur dia ini hahhahha..Itsmi..Itsmi…hahhaha
    Mas Iwan lama-lama bisa jadi kloningnya Itsmi hahhahaa
    Abis gayanya persis banget hehhehe

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  10 July, 2011 at 09:29

    Nuchan, lama-lama saya bisa jadi Itsmi lho… hahahaha…

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  10 July, 2011 at 09:27

    Iwan mewakili Itsmi:

    Iwan, beberapa pendapatmu benar. Tapi kamu juga harus cuci otakmu dengan minuman di cafe agar kamu tahu bahwa dunia bukan hanya roh, tapi rok…hahaaha…

    Untuk Nuchan, saya biarkan Iwan bicara bebas dengan gaya saya. Selama ini diterkekang dengan aturan tuhan. Kasihan Iwan, hidup penuh ketakutan oleh agama dan tuhan, yang tidak terbukti ada. hahahaha…

  5. Nuchan  10 July, 2011 at 09:22

    Ampun dah hahhaha..sebelum Itsmi turun tangan ..Mas Iwan sudah menebak kira2 apa komen Itsmi hahhahaa…tapi memang menjadi sebuah kelucuan yah hahhaaa..Itsmi…Itsmi…hahahhaha

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  10 July, 2011 at 08:58

    Iwan mewakili Itsmi:

    Nuchan, kamu sudah tahu kalau agama dan budaya adalah halusinasi manusia yang tak mampu berpikir. Saya kira kamu bukan halusinasi lagi, tetapi sudah mabuk. Hahahahaha…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.