Halia dan Maling

Anastasia Yuliantari

 

Ruteng sudah menjelang tengah hari tapi Max belum pulang juga dari kampung. Aku mulai cemas karena dia berjanji pulang sebelum jam 12 siang yang merupakan batas semua kegiatan dan mulai fokus mengajar.

Sampai menjelang senja tak ada kabar. Aku tak mencoba menghubungi handphonenya karena tahu akan percuma saja. Tak pernah sekali pun dia menenteng alat itu selama pergi ke kebun. “Untuk apa, sih dear bawa-bawa ponsel ke kebun. Ga akan ada yang telepon juga.” Katanya memberi alasan. Ya, sudah aku kembali mengajar sambil berharap dia menghubungiku.

Menjelang malam, saat aku pulang, kulihat lampu sudah menyala. Lega rasanya tapi juga jengkel karena hal penting buatku untuk saling tahu di mana posisi kami. Hanya berdua saja, koq seperti orang hilang tak saling kontak.

Begitu pintu terbuka dia langsung menyeret tanganku ke tengah ruang tamu. Rupanya dia sudah tahu kesalahan apa yang dilakukannya. “Lihat, kamu jangan marah dulu…eee.” Katanya dengan logat kental. “Aku dan Nar harus menggali halia (jahe) di kebun sampai sejam lalu.” Aku hanya mengerutkan dahi, bukan alasan yang tepat untuk diberikan padaku. “Jangan merengut gitu kah, dear.” Dia mengguncang-guncang tanganku. “Bahaya kalau tidak digali hari ini.” Ujarnya dengan mimik gawat darurat yang sangat meyakinkan, atau paling tidak berusaha mengesankan hatiku. Memang kenapa? “Halia punya Tanta yang di belakang rumah kita itu dicuri orang. Satu kebun habis dimaling!”

Haaa??? Ini hal baru yang tak terpikirkan olehku. Pencurian di kampung kami tergolong peristiwa langka. Maksudku pencurian yang terang-terangan dan dalam jumlah besar. Dulu saat kami akan menanam jahe aku sempat bercakap dengan salah seorang paman Max. Kalau sekiranya menanam jahe apa akan aman dari tangan jahil. Pikiran orang kota besar masih banyak bertengger di kepalaku sehingga faktor keamanan selalu menjadi prioritas dan tak boleh diabaikan dalam perhitungan penanaman apapun di kebun.

“Ah Ibu, kalau kita menanam satu kebun, diambil satu dua rumpun itu biasa, namanya hanya minta secara tak langsung.” Jawabnya enteng. Bila setiap warga kampung minta serumpun, ya sama saja, alias habis tandas. “Tak mungkin, percaya saja padaku. Tidak akan hilang, paling hanya orang yang butuh untuk memasak atau ingin merasai sedikit untuk bikin minuman.” Dan memang selama ini tak ada masalah.

“Aku menggali hampir lima petak, ya kira-kira seratus kiloanlah. Nar dan beberapa tetangga membantu menggali sehingga hampir semuanya sudah dipanen.” Matanya bergerak gelisah. Kenapa lagi? “Malam ini mungkin maling itu ke kebun kita, masih ada beberapa petak yang belum sempat tergali.” Sesalnya. Pasti tak begitu banyak. “Lumayanlah, mungkin lima puluh kilo lagi.”

Ah, kebun Tante tetangga itu lumayan jauh dari kebun kita, jadi pastilah belum akan kelayapan sampai ke Kius (Nama lokasi kebun kami). “Maling itu sudah menjarah kebun lain sebelah kebun Oom Yos. Tahu, kan dear itu yang dekat betong-betong (rumpun bambu)” Bila memang benar, berarti maling itu telah berada di daerah kebun kami. Pantas Max cemas sekali.

Tapi malingnya siapa? Tak mungkin orang bisa lolos membawa kira-kira dua ratus kilogram jahe tanpa diketahui. Aku mengusulkan hal paling masuk akal yang kuketahui, yaitu mencari orang yang tak punya kebun jahe tapi menjual jahe. “Baiklah kalau mereka berasal dari kampung kita, bagaimana kalau berasal dari kampung lain?” Wah, dead end, deh.

Tak bisa dipungkiri perubahan jaman telah menyebabkan hal yang dulu dianggap tabu dan memalukan kini sanggup dilakukan oleh beberapa orang. Mencuri bagi masyarakat mana pun tak akan bisa diterima sebagai perbuatan baik atas nama apa pun. Tapi bila kebutuhan hidup terutama menyangkut hubungan sosial tak tertanggulangi bisa jadi jalan pintaslah yang dipilihnya. Tahun ini karena cuaca yang tak bersahabat bisa dipastikan kopi tak akan berbuah dengan baik, padi juga hanya pas untuk hidup bagi yang menanamnya, sementara “bulan ramai” sedang berlangsung.

Bukan ramai karena menguntungkan, namun ramai dengan sumbangan. Dalam dua bulan belakangan mungkin sudah lima puluh undangan melayang untuk menghadiri berbagai acara. Bisa dibayangkan bila setiap pesta membutuhkan amplop berisi Rp. 20. 000,- tinggal hitung saja. Ini bukan pemakluman terhadap tindakan mengambil milik orang lain, namun bisa jadi menjadi sebab yang membuat seseorang menghalalkan segala cara demi tidak kehilangan muka. Di kampung yang setiap penduduk saling mengenal dengan baik, tak hadir dalam sebuah acara akan membuat beban psikologis yang cukup besar. Mulai dari bisik-bisik tetangga sampai boikot bicara (dijothak dalam bahasa Jawa) bisa menimpa.

Jadi apa yang harus dilakukan? “Besok pagi-pagi aku akan ke kampung lagi untuk menggali halia yang tersisa.” Tekadnya. “Itu kalau malam ini belum dirangseknya juga milik kita.” Ya, ikhlaskan saja. Tak perlu dipikirkan daripada tak bisa memejamkan mata sepanjang malam. “Masak begitu?” Max merengut tak terima.

Kalau sudah demikian aku akan membuat dua cangkir kopi dan membiarkannya menumpahkan semua yang menjadi uneg-unegnya. Aku tahu malam ini akan menjadi malam dengan diskusi panjang bagi kami.

 

46 Comments to "Halia dan Maling"

  1. Lani  12 July, 2011 at 10:26

    AY makane aku ralat, nanti ada org yg gak trima…..dgn dmk aku minta maaf to????? jik ngopo iki? saiki udan deressssssss di Kona…..halah OOT

  2. Anastasia Yuliantari  12 July, 2011 at 10:10

    Yu Lani: dirimu ki jiaaannnn…babu karo batu kacek sithik ning artine adoh banget….hahaha.

  3. Lani  12 July, 2011 at 05:15

    AY sori salah ketik 34 BUKAN ES BABU tp BATU wakakakak

  4. Djoko Paisan  12 July, 2011 at 04:40

    Anastasia Yuliantari Says:
    July 12th, 2011 at 04:20

    Pak DJ: doakan saja agar saya semakin bisa memahami dan mengerti ya, Pak. Soalnya sebagai manusia saya masih terdiri dari darah dan daging selain roh. Sehingga walau roh kuat, tetapi daging masih lemah.

    Maaf Kalau Dj. jadi sok tau ya….
    Dj. sendiri juga masih manusia, tidak ada bedanya dengan mbak Anastasia….
    Tiap hari TUHAN beri pelajaran dan Dia sendiri yang memberi kekuatan.
    Olehnya mintalah kekuatan dari TUHAN saja….
    Salam manis untuk mbak anastasia dan Max, juga keluarga besar di Flores…
    TUHAN MEMBERKATI…!!!

  5. Anastasia Yuliantari  12 July, 2011 at 04:22

    Nev…..lha koq adoh men olehe ngangkut jaheku? Tukar dengan pala dan kenari piye? Gelem ora?

  6. Anastasia Yuliantari  12 July, 2011 at 04:21

    Yu Lani: top markotop resepnya….setujuuuuuu minum wedang jahe a la Lani van Kona.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.