Laki-laki dan Kabut

Dwi Klik Santosa

 

Laki-laki itu duduk termenung. Pagi dinantinya dengan murung. Halimun memudarkan asa itu akan datangnya surya. Pun dingin yang tiris dan akut makin melarutkan rindu itu pada masa lalu.

“Dibesarkan aku oleh budi. Ditikam kini aku oleh budi …”

Tulisnya pada sebuah buku kecil diari. Sejenak ujung pena itu mandeg. Sepasang matanya kosong. Tatapnya menembus ke kejauhan.

“Jika bukan karena cinta. Untuk apa ingin kutemukan cinta ….”

Di ketinggian paling puncak gunung itu, laki-laki itu tegak memandangi sedataran bukit. Pun tiada sosok atau sesuatu terlihat. Kabut telah mengaburkan pandang. Senampak-nampak, abu dan putih bergerumbul hilir mudik menyesakkan pernafasan.

Semalaman laki-laki itu bertahan. Akutnya kabut gunung yang maha dingin dan bau belerang, tak dirasai sebagai racun yang akan membeku-birukan nadi, jalan lancar penopang hidupnya.

“Tidak akan kutinggalkan,” katanya pada kabut, “tidak akan kutinggalkan.”

Setitik. Dari asal yang tak terduga. Mencercah sinar menembus sosoknya. Sekristal asap berembun berpudaran. Meleleh-leleh menyublim es-es halus itu dihembus angin yang datang entah. Laksana gaib, angin menghantar pesan berupa bisikan.

“Masa lalu itu kenang-kenangan bagimu untuk menimbang kembali apa yang sebenarnya ingin kau cari. Jika bukan karena tragedi, tak akan kau kenali apa itu makna. Apa itu arti. Di tempat yang hening, telah kau kenali apa itu sunyi. Apa itu cari. Pulang. Pulanglah. Tulis. Tulislah. Apa yang ingin dan bisa kau beri ….”

 

Pondokaren

5 Juni 2011

: 09.4o

 

6 Comments to "Laki-laki dan Kabut"

  1. [email protected]  11 July, 2011 at 11:19

    apakah………

  2. Dewi Aichi  9 July, 2011 at 20:43

    benar Atite, mas Dwi ini pecinta nusantara sejati, supportnya kepada tim Indonesia di ajang ajang pertandingan olah raga, menang kalah tidak apa-apa, yang jelas mensupport. Dan postingan postingan sederhana, dari mas Dwi..membuktikan he he..biar GR dia..

    Uhh..Sao Paulo dingin bangettttt…gila, ngga kepikir bisa sampai segini dinginnya…jangan jangan benar nih, negara 4 musim lama lama menjadi seperti tropis, negara tropis menjadi 4 musim…alamnya pusing nih…

  3. atite  9 July, 2011 at 19:56

    selalu bikin hati adem kl membaca tulisan mas / mbak (?) Dwi ini…
    salam…

  4. anoew  9 July, 2011 at 18:25

    Jadi kemanakah si Budi?

  5. Djoko Paisan  9 July, 2011 at 13:44

    Mas DWI….
    Terimakasih, walau tidak mudeng……
    Tapi juga iri dengan orang yang bebas berkelana……
    Satu kemerdekaan, tanpa ada keharusan…..
    Hahahahahaha….!!!
    Salam Damai dari Mainz

  6. jingga  9 July, 2011 at 11:22

    Laki laki ku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.