Anwari Doel Arnowo
Beras?
Dewi Sri?
Ya, memang beras itu sudah saya kenal sejak saya lahir. Ketika saya masih bayi saya sudah mengkonsumsi beras dalam bentuk lain (in another form), namanya: TAJIN. Tajin ini adalah makanan bayi yang andal serta merata dipakai oleh orang-orang JADOEL (jaman doeloe) yang terlahir sebelum ada pabrik susu di Indonesia. Sebenarnya tajin hanyalah paduan air dengan beras yang dihaluskan, tetapi sungguh amat tangguh bisa membantu manusia-manusia yang menjadi tokoh-tokoh JADOEL yang telah ikut mendirikan negara kita: Repoeblik Indonesia.

Ketika saya sudah dewasa dan belajar di negeri Jepang antara tahun 1959 sampai 1963 saya sempat bergaul cara Jepang, makan minum cara rakyat biasa dan juga di tempat-tempat mahal, karena diundang serta dijamu oleh para Direktur Pabrik-Pabrik yang bersangkutan dengan dunia industri perkapalan (shipbuilding, bukan pelayaran yang mewakili kata shipping) di daerah Kansai, di Nagoya dan Kobe serta Osaka. Yang terakhir ini tentu saja sangat mewah, karena company account (akun perusahaan) bukan dibayar secara pribadinya para pengundang. Berbicara yang hebat-hebat dan yang lucu-lucu mengenai yang dihidangkan. Ada jenis ikan tertentu, maaf lupa namanya, yang diceritakan kepada kami, di”ambil” (bukan dipancing atau dijaring) seperti biasanya orang mendapatkan ikan daratan karena dari sungai, bukan dari laut.
Lalu apanya yang uniek??
Para “nelayan menangkapnya” menggunakan sejenis burung mirip rajawali yang telah dijinakkan dan dilatih. Ditenggerkan di atas lengan kiri dan kemudian dilepaskan di pinggir sungai dan di sekitar tempat tertentu yang telah diketahui banyak terdapat ikan yang dibidik sebagai binatang buruan. Yaa, tentu sekali ikan seperti itu tidak sembarang orang bisa menikmatinya. Apa pasal?? Ya karena langka dan bukan dari hasil ternak. Cara menangkapnya yang seperti ini kan tidak selalu berhasil, karena “rajawali” ini hanya mampu mendekati sampai ke permukaan air saja, dan ikan-ikan itu pasti juga telah dilengkapi oleh alam dengan “kepintaran” menghadapi bahaya secara naluri. Jadi kemungkinan berhasil pasti tidak seratus persen. Itu penyebab harganya menjadi mahal.
Apakah itu saja cerita saya soal makanan pokok orang Jepang: beras, yang sama dengan kita di Indonesia?
Dari yang saya pernah baca jauh pada masa lalu, Kaisar Hirohito yaitu ayah dari kaisar yang saat ini petahana padanan kata resminya untuk sedang memerintah, Akihito, pada usia lebih dari 70 tahun, telah menemukan jenis beras yang dianggap unggul kualitasnya pada waktu itu. Terlepas dari dia dianggap sebagai penjahat perang karena politik ekspansi dan perangnya di Aia dan pernah menyerbu Pearl Harbour di Hawaii, dia ini seorang yang lembut hatinya dan seorang yang patut disebut sebagai ilmuwan.
Tidak tergambar Kaisar Jepang itu berhura-hura menikmati kehidupan yang mewah tanpa prestasi. Apalagi terdengar melakukan hal-hal nista seperti selingkuh seperti yang sering telah terjadi di kerajaan-kerajaan di negeri lain. Ketika sebelum Kekaisaran Jepang takluk dan menyerah kalah kepada Sekutu yang dipimpin oleh Amerika Serikat, dia setara dengan se“orang” DEWA yang disembah dan dipuja serta amat berlebihan dihormati oleh seluruh rakyat Jepang. Memang setelah Jepang diperintah secara demokratik yang amat berdisiplin ala Jepang, pen“dewa”an terhadapnya itu menurun tetapi mereka tetap takzim dan hormat.
Dia menjadi pemersatu rasa kebangsaan dan rakyat Jepang itu di dalam hatinya dapat meredam dendam kesumatnya terhadap si “monyet putih” yang serdadu Amerika. Begitu?? Iya, pada waktu saya berada di Jepang selama itu dan sesudahnya, orang Jepang biarpun sedang mengucapkan Haik! Haik! serta membungkuk-bungkukkan badannya, di dalam hati mereka bisa mengeluarkan sumpah serapahnya sepuas-puas hatinya. Ini saya ketahui karena saya tinggal mondok di rumah seorang Jepang asli di perkampangan orang Jepang asli, jauh dari teman-teman saya yang amat kental berkumpul bersama sesama bangsa, bangsa Indonesia.
Saya makan dan mandi cara Jepang. Mandi OFURO cara kuno yaitu setelah berbilas, saya masuk ke dalam sebuah tong terbuat dari kayu dan dilapisi logam tembaga di bawah dasarnya serta dipanasi dengan api besar. Panasnya bisa melebihi temperatur 40 derajat, saya direbus di dalamnya. Kulit menjadi membesar pori-porinya dan “semua” kotoran terlepas dari kulit saya. Kemudian berbilas lagi dan langsung masuk futon (baca: FUTONG), selimut tebal berisi bulu angsa, tidurlah sampai pagi dengan nyenyak.
Teman-teman saya yang nasionalistis secara berlebihan banyak yang bersikap agak sok jijik dengan kebudayaan Tuan Rumah di mana kita menuntut ilmu berkumpul di sebuah apato (ucapannya: apaato = apartment) berdesak-desakan agar sewanya per orangmenjadi murah. Setiap hari makan masakan Indonesia yang diramu seadanya dan sebisanya.
Saya? Ah saya bersama-sama duduk di tatami dan mengelilingi meja kecil, menggunakan sumpit serta makan lobak dan lain-lain yang misalnya nori (rumput laut), telur ikan dan ikan mentah (+wasabi berwarna hjau yang seperti mustard di dunia Barat) serta nasi yang amat sedap dan nyaman.
Kita boleh saja memuja Tanah Air sendiri, tetapi tidak usah merendahkan Tanah Air apalagi budaya orang lain. Itulah sebabnya saya memilih MONDOK ke sebuah keluarga Jepang yang biasa. Rumahnya rumah yang amat keJepangan (very much Japanese) dan adat istiadatnya juga. Di situlah saya bisa lebih menghayati dan sering juga menemui kenikmatan tertentu yang tidak ada di keluarga, Keluarga Ayah Ibu saya, sebelumnya. Ada yang jelek dan ada yang baik, TIDAK ADA SALAH APA-APA bila saya memilih untuk meniru dan memerhati yang baik saja, kan??
Dapat kita baca di internet, bahwa Kaisar Hirohito [Emperor Hirohito or Emperor Shōwa (昭和天皇, Shōwa Tennō)], setelah penyerahan tanda takluk Perang Dunia Kedua, pertama-tama kalinya dia bertanya kepada bawahannya, adalah sebagai berikut: “Ada berapa orang guru yang masih hidup?” sebagai tanda dia amat memperhatikan nasib guru yang dianggap sebagai ujung tombak yang amat penting bagi masa depan bangsanya.
Teringatlah saya ketika saya bersama seorang teman berwisata ke sebuah daerah pertanian di Jepang Selatan, ke tempat petani beras. Tanpa observasi lebih dalam, teman saya yang asal Garut, membual bahwa dia juga asal dari keluarga petani. Dengan gaya amat bangga sekali, teman saya bilang bahwa di Garut itu juga menghasilkan beras macam-macam, ada ketan dan ada yang merah dan ada yang hitam dan sebagainya. Waktu itu kita sudah dua tahun di Jepang dan teman saya itu salah satu yang nasionalistis berlebihan itu, sehingga bahasa Jepangya amat kurang karena KUPER (kurang pergaulan) dan seperti pepesan kosong saja.
Dia dengan hatsuon (logat) kental daerah Jawa Barat, mengucapkan ketan, merah dan hitam saja masih menoleh ke saya dan meminta diterjemahkan maksudnya. Saya juga malu menerjemahkanya karena saya tau bahwa Jepang jauh lebih unggul dalam masalah dan soal pertaian dan produksi beras, waktu itu dan juga sekarang. Bagi anda yang membaca tulisan ini, mungkin ada yang bisa menuliskannya bila saja kita bangsa Indonesia sudah bisa melampaui kemampuan bangsa Jepang dalam menciptakan keunggulan dalam produksi persawahan kita, silakan menuliskannya. Saya amat mengharapkannya. PLEASE EDUCATE ME.
Silakan membuka link berikut ini: http://snopes.com/photos/arts/
Apa ini?
Orang bisa mengatur pertumbuhan tanaman padi jauh sebelum menananmkan bibitnya.
Rekayasa? Apa salahnya rekayasa ini?

Silakan khabari saya kalau sudah saatnya bangsa kita bisa mempunyai PEMIMPIN (bukan sekedar pimpinan) yang bisa membawa bangsa kita secara pesat maju melangkah menghidupi bangsa kita yang saat ini sedang porak poranda ini.
Ingatlah, saya tidak mau memuja bangsa lain dan membandingkannya dengan kondisi bangsa kita yang sedang merana ini. Saya kira baik sekali kita meniru yang baik dan bisa sesuai dengan karakter bangsa sendiri. Tidak tergantung kepada bangsa asing dalam cara berpikir dan cara memandang segala sesuatunya, apakah itu dari Barat, Timur Tengah atau dari China bahkan dari Jepang sekalipun. Mari kita hargai semua suku bangsa Indonesia dan semua penduduk Indonesia sendiri biarpun dia keturunan bangsa asing sekalipun, apalagi yang terlahir di Indonesia.
Anwari Doel Arnowo
2011/07/03
August 6th, 2011 at 00:40
Pak Anwari,senang membaca artikel ini,pengalaman Bapak tinggal bersama penduduk Jepang asli saya lewati bertahun tahun juga di Africa,saya lebih memilih tinggal dengan penduduk lokal memahami karakter & bahasa mereka dengan cepat,makan makanan traditional,tujuannya karena saya akan masuk dalam PASAR mereka,memahami apa sih maunya mereka…..hasilnya luar biasa buat saya.
Terima kasih pak sudah berbagi pengalaman berharga ini,salam