Dua Lelaki

Istiqomah Almaky

 

Tatap mata perempuan itu tampak kosong. Cahaya mata yang biasa berbinar itu redup. Duka apa yang ia simpan di kelopak mata coklatnya, tak ada yang tahu. Dalam status FB-nya pagi ini ia tuliskan sajak singkat.

Segaris luka menelan bulan semalam

Hari ini tak ada segaris senyum di bibir yang biasanya rekah itu. Keempat anaknya sesekali menatap wajah bundanya dengan penuh tanda tanya.

“Bunda sakit?” si bontot yang biasanya nakal bertanya padanya dengan hati-hati.

Perempuan itu menggeleng. Dipangkunya si bontot dan diciumnya berkali-kali pipi yang bulat itu sepenuh hatinya.

“Bunda tak sakit, Nak, hanya bunda lupa bagaimana cara tertawa, bahkan tersenyum pun bunda lupa,” begitu perempuan itu menjawab dalam hatinya.

Seharian rumah sederhana itu kehilangan warna. Mendung di langit menggelayut juga di langit-langit kamarnya.

Perempuan itu membawa pulang mendung usai mengikuti acara jumpa fans  seorang penulis dari ibu kota. Perempuan itu tak hendak, bahkan tak lagi mampu, mengeja nama pengarang tersebut. Apa yang ia lihat tadi siang di sebuah mall terbesar di kotanya, sangat melukai hatinya. Penulis yang selama ini diam-diam mengajaknya berbagi kasih sayang, lewat chatting bahkan saling membuka kamera itu ternyata tak seindah bayangannya.

Masih terlukis jelas dalam hatinya, bagaimana pagi tadi dengan hati berbunga-bunga ia berangkat di acara jumpa fans dan bedah buku. Ia membayangkan akan disalami kekasih mayanya itu dengan hangat. Bahkan mungkin, lelaki itu akan nekad memeluk dan menciumnya.

Panas wajah perempuan itu membayangkan indahnya perjumpaan yang telah lama sangat ia harapkan. Tiga bulan berteman di dunia maya berlanjut dengan pernyataan saling sayang dan saling mengasihi, hingga tahun kedua. Keinginan untuk bertemu dan menatap mata teduh yang hanya mampu ia tatap di layar monitor notebooknya, sering membuat dada perempuan itu nyeri. Bahkan sering ia bertanya pada lelaki mayanya itu dalam sajak-sajaknya yang pedih.

Kau tahu,

kuntum-kuntum mawar yang kau tebar di dada

telah bermekaran dalam mimpi.

jarak yang terulur

waktu yang tak pernah undur

menggugurkan mimpi

rindu menguntumkan kelopak-kelopak kamboja

pertemuan jadi nisan

 

Kekasih mayanya yang seorang cerpenis itu akan membalasnya dengan kalimat-kalimat romantis.

Honey… please mengertilah. Bila benar cinta kita seperti kuntum melati, percayalah, waktu akan bersekutu dengan kita.

Suatu saat, rindu akan mempertemukan kita pada muaranya. Dan aku pasti akan memelukmu selamanya.”

Perempuan itu selalu menangis bila kekasihnya memanggil dengan sebutan-sebutan romantis. Honey, Dear, Sayang, Kasih, Cinta adalah panggilan-panggilan sayang yang ia terima dari lelakinya. Panggilan-panggilan yang membuat hatinya selalu gemetar. Baru dengan kekasih mayanya inilah perempuan itu merasakan hatinya seperti dibawa terbang, terayun-ayun oleh kata-kata manis. Ia terbuai.

Sayang, semua kemesraan yang terbangun demikian indah itu begitu saja digugurkan kekasihnya itu tadi siang. Dalam acara jumpa fans dan bedah buku itu, di luar sangkanya, kekasihnya bersikap biasa-biasa saja, menyapanya demikian datar, dengan senyum yang dipaksakan, pura-pura ramah. Senyum dan sikap yang sama ia berikan pada penggemar-penggemarnya yang rata-rata adalah ibu rumah tangga dan gadis-gadis remaja.

Yang lebih menyakitkan, awalnya, bahkan kekasihnya itu bersikap seolah tak mengenalnya. Meski perempuan itu telah duduk di kursi paling depan dan selalu menatap lurus penuh kasih pada lelaki mayanya. Tak ada respon. Padahal kekasihnya itu pernah menulis satu kalimat yang membuat perempuan itu melayang, meninggalkan dunianya.

“Kau tahu, bahkan bila kita berada dalam satu tempat, di antara ribuan orang aku akan menemukanmu, meski kita belum pernah bertemu. Matamu yang indah, senyummu yang selalu rekah, membuat hari-hariku menjadi makin indah. Lebih dari itu, Kau harus tahu debaran dada kita pasti akan saling memanggil, dan kerinduan kita akan mempertemukan kita, entah kapan, dimana. Tapi aku yakin, cinta kita benar adanya.”

Saat host memberi kesempatan pada para fans untuk meminta tanda tangan, perempuan itu bergegas menyapa kekasihnya.

“Hai…!” hanya kata itu yang mampu ia ucapkan.

“Hai juga. Siapa ya?”

Kekasihnya membalas sapanya biasa saja. Tak ada jabat tangan, pelukan, atau ciuman seperti yang tadi sangat diharapkannya.

“Vania…. Wah…. Akhirnya kita bisa juga bertemu. Kapan ke Jakarta lagi?” suara kekasihnya mendadak berubah hangat dan mesra ketika seorang perempuan berambut panjang dengan celana jeans ketat dan tank top merah jambu mendekatinya.

“Baik. Sengaja aku datang ke kota ini saat tahu kau punya acara di sini,”jawab perempuan yang dipanggil Vania itu.

Berkeping-keping hati perempuan itu saat dilihatnya kekasihnya memeluk dan mencium Vania. Seharusnya pelukan dan ciuman itu untukku, bukan untuk perempuan yang dipanggil Vania itu.

Belum reda rasa cemburu membakar dadanya, muncul perempuan cantik lainnya yang juga dipeluk dan dicium kekasihnya dengan hangat dan mesra. Seperti mengejek perempuan itu yang tampil sederhana.

Perempuan itu melirik baju yang dikenakannya. Baju yang ia kenakan hasil  jahitan tetangganya, bukan produk butik ternama. Rambutnya yang sebahu hanya ia ikat dengan karet gelang. Tak ada sedikit pun make up yang ia kenakan. Ia tampil seperti apa adanya dirinya. Seperti biasanya pula ia sama sekali tak berbedak, tak berlipstik. Ia benar-benar tampil apa adanya. Ia begitu percaya kekasihnya akan menyukai penampilannya yang sangat sederhana. Bukankah kekasihnya pernah memuja kecantikan alaminya.

“Aku menyukai kecantikanmu yang alami. Tak ada kepalsuan. Beda dengan perempuan-perempuan yang bermake up tebal, mereka itu sesungguhnya munafik. Tak mau mensyukuri anugerah Tuhan. Bersembunyi di balik topeng untuk menutupi kekurangannya,” tulis lelaki itu suatu kali padanya saat chatting sambil saling membuka webcam.

Nyatanya? Kekasihnya sama sekali tak mengenalnya apalagi memuja kesederhanaan penampilannya.

Tak tahan dengan semua itu, perempuan itu meninggalkan acara itu sebelum mendapatkan tanda tangan kekasihnya, sang penulis yang buku yang tadi baru saja dibelinya.

Di parkiran, hampir saja perempuan itu membuang buku itu ke dalam tong sampah. Namun, pandangan curiga dari satpam yang berjaga mengurungkan niatnya.

“Bapak mau?” akhirnya ia berikan buku itu pada si satpam.

Satpam itu terbelalak tak percaya. Matanya berbinar menerima buku terbitan baru karya pengarang idolanya.

***

Hingga saat lelakinya tiba, perempuan itu masih belum menemu cara, bagaimana mengembangkan senyumnya.

Lelaki bermata teduh yang kuyup sehabis seharian bergumul dengan tugas-tugas kantor itu tak terlalu peduli dengan wajah perempuannya. Terlalu sering ia menatap lukisan duka di wajah ibu anak-anaknya itu. Hampir tiap hari ia temukan istrinya tenggelam dalam sajak-sajaknya, wirid panjang berselang-seling dengan permohonan, dan tangis sesal atas dosa-dosa yang diperbuatnya. Perempuannya juga suka beururai air mata saat menulis sajak atau cerpen-cerpennya.

Lelaki itu mengerti, perempuannya berhati rapuh. Sedikit saja angin menyentuhnya, butir-butir air matanya pasti luruh. Herannya, lelaki itu begitu suka menjilati air mata asin perempuannya saat bercumbu. Seksi dan menggoda, menampakkan ketakberdayaan, dan kepasrahan, gumam lelaki itu tiap kali mencium pipi istrinya yang basah air mata.

“Ada yang kau sedihkan hari ini? Anak-anak nakal atau uang belanja kurang?” tanya lelaki itu sambil membuka bajunya.

Perempuan itu tak mengalihkan pandangan matanya pada layar monitor yang seharian menyala di depan matanya. Dada perempuan itu naik turun seperti membawa beban. Perempuan itu menggeleng perlahan.

“Kamu menulis cerita sedih lagi hari ini?” lelakinya bertanya kembali sambil menggantungkan bajunya.

Perempuan itu mengangguk. Hatinya pedih. Tak hanya karena ia merasa dikhianati kekasihnya, namun juga karena ia sadar telah membohongi suaminya.Bahkan, jauh lebih dariitu. Telah mengkhianati suaminya.

Lelaki itu telah selesai berganti baju. Ia terbiasa melihat istrinya tersenyum tertawa, marah-marah, bahkan menangis di depan notebooknya. Ia mengerti, obsesi istrinya: menjadi seorang penulis, penulis high quality katanya, bukan penulis roman picisan.

“Tidurlah, jangan terlalu memaksa!” lelaki itu menyentuh pundak istrinya lembut.

Setelah mencium kening perempuannya, lelaki itu berbaring, kemudian menghapus lelah dalam dengkur panjangnya.

***

Perempuan itu tetap tergugu, menatap layar monitor yang menyala. Di sana ia temukan foto seseorang pemilik sepasang mata teduh yang mengacaukan hari-harinya. Lelaki yang hanya ia kenal lewat dunia maya itu adalah lelaki yang setia mengajarinya menulis. Setiap hari rasa kagumnya pada lelaki itu berubah menjadi rasa suka. Lelaki itu mampu menumbuhkan rasa percaya dirinya bahwa ia mampu menulis.

Baginya kini, dunia terbelah dua, dunia nyata dan dunia maya. Di dunia nyata ia mencintai suami dan anak-anaknya, tak bisa hidup tanpa mereka. Di dunia maya, ia memuja lelaki yang wajahnya kini ia tatap di layar monitornya. Entah, berapa puluh kali, perempuan itu membuka wall Facebook lelaki yang ia puja. Sekedar memastikan lelaki itu baik-baik saja, membaca status yang di-update , atau mengintip apa yang ditulis hari ini di notenya.

Hingga malam masih juga ia tatap wajah di layar monitor yang menyala itu. Berkali-kali ia mendesah, menahan luruh air mata. Ia tak tahu mengapa wajah lelaki yang hanya ia kenal di dunia maya dan sama sekali tak memedulikan kehadiran dirinya tadi siang itu begitu berkuasa atas hatinya.

Hati perempuan itu makin hancur saat ia menatap lelakinya mendengkur sebab tumpukan kerja yang mengungkungnya seharian. Di wajah lelaki yang memenuhi segala mimpi dan pintanya itu, ia temukan keteduhan. Entah berapa lama, mungkin setahun, dua tahun, mungkin lebih, lelaki yang ia cintai pertama kali di dunia itu tenggelam dalam kerja keras seharian. Kadang malah ia harus pulang malam-malam.

“BPK datang minggu depan, KPK akan memeriksa pekan depan,” kalimat yang akhir-akhir ini sering diceritakan suaminya.

Sejak lelakinya mendapat posisi mapan, hidup semakin mapan. Kebutuhan semakin terjamin. Hm… seperti film atau roman picisan, sering perempuan itu menggumam. Kesibukan membuat lelakinya tinggal seonggok tubuk kelelahan bila sampai padanya malam-malam.

Tak ada lagi pelukan mesra atau bisikan-bisikan lembut yang menggoda dan menggairahkan darah perempuannya. Hampir tak ada waktu bagi suaminya untuk sekedar mengajaknya menikmati jagung bakar sambil menghabiskan kelapa muda di pinggir pantai seperti yang sering selama ini mereka lakukan.

Semuanya menjadi kenangan yang menekan kerinduannya. Andai saja bisa ia balikkan waktu, ingin sekali perempuan itu kembali ke masa lalu. Masa dimana suaminya yang pendiam dan tak pandai merayu itu mampu membuatnya merasa menjadi perempuan paling ayu di dunia.

Perempuan itu menghitung mundur hari-harinya. Tentang lelaki yang ia sayangi sepenuh hatinya. Setiap hari, ia sediakan selalu waktu untuk memijat bahu dan punggung lelakinya. Ia suka melakukannya. Seperti ia begitu tergoda setiap menghirup keringat lelakinya sehabis kerja. Baginya keringat yang bau itu sangat seksi sebab menjadi bukti betapa lelakinya mencinta dirinya dan anak-anaknya.

Diciumnya pipi lelaki yang memeluk tubuh dan hatinya bertahun itu dengan air mata hampir runtuh.

“Maafkan, aku Mas,” bisiknya sambil menengadah ke langit-langit kamar.

Di atas sana ia melihat Tuhan murung. Hatinya gemetar. Hampir tiga hari tak dipijatnya bahu lelaki yang bertahun merelakan tubuh dan jiwanya untuk kebahagiaan istri dan anak-anaknya.

Dari layar monitor yang masih menyala, perempuan itu melihat pesan, seseorang mengomentari catatan lelaki yang dipujanya. Dibukanya notes cerita bersambung karya kekasinya itu, di kotak komentar  seorang perempuan memuji tulisan lelaki itu.

“Sungguh hebat dan membuat tertarik untuk terus membacanya. Pasti penulisnya seromantis tokoh cerita ini.”

Perempuan itu memegang dadanya yang mendadak perih. Mengapa ia selalu merasa tak rela bila ada perempuan lain memuja lelaki yang dikaguminya.

Perempuan itu menangis semalaman.

***

Sebelum waktu subuh habis, perempuan itu luruh dalam sujud. Ia tak mampu menghentikan tangisnya. Ia mengadukan hatinya pada Tuhan.

Sebelum usai ia melipat mukena, lelakinya terjaga. Sambil tersenyum lelakinya mencium pipi perempuan itu. Lelakinya mengajak menemui Tuhan di atas ranjang mereka.

Perempuan itu meneteskan air mata di pelukan lelakinya.

***

Matahari semburat merah di balik jendela. Perempuan itu tak bergeming ketika lelakinya mencium pipinya dan berpamitan pergi kerja. Ia malah menarik selimutnya. Ia tak tahu bagaimana menatap matahari yang masih setia pada pagi, tidak seperti dirinya. Perempuan itu hampir-hampir memohon mati untuk menghapus dosanya. Ia bergidik. Ia tak ingin kehilangan lelakinya. Namun, ia juga masih rindu pada lelaki lain yang dipujanya.

Tanpa cuci muka, tanpa mandi, perempuan itu menyalakan notebooknya.

Ia tulis di status terbarunya,

“Bila hari ini pintu langit dibukakan untukku, satu yang ingin kuminta darimu, Tuhan. Kembalikan hatiku seperti dulu. Utuh. Tak terbagi.”

 

11 Comments to "Dua Lelaki"

  1. Faradina Izdhihary  13 July, 2011 at 08:19

    Huaaaaaaaaaaaa Mas Joko Paisan…. aku 100% perempuan. Asli. Masih cantikl wkwkwk meski baru saja genap 40 tahun. Salam kenal semua yaaa. Semua yang di situ itu kan fiksi huiiii. Yang real, aku beneran ibu dari 4 anak. Lagi merintis karier kepenulisanku. hiks…. membayangkan selingkuh maya aja sudah sakit banget, pa lagi kalau beneran. (Untungnya gak ada yang mau sama aku). hihihi

  2. Donald F.R.Sendow  12 July, 2011 at 09:34

    Keren,,,kembalikan hatiku,utuh yak terbagi……

  3. [email protected]  11 July, 2011 at 13:44

    naaaah…. ada jg nih :p

  4. Itsmi  11 July, 2011 at 10:58

    dengan dua lelaki itu mimpi yang indah bagi wanita….

  5. Sakura  11 July, 2011 at 09:34

    Walah walah walah…..romantis banget perempuan kayak gitu yaaa..kok mewek buat seseorang di dunia maya…

  6. J C  11 July, 2011 at 00:12

    Ini namanya benar-benar kesetaraan gender…hadoooohhhh…

  7. Djoko Paisan  10 July, 2011 at 15:38

    Mas faradina….
    Terimakasih untuk cerpennya…..
    Memang masih banyak orang ( bukan hanya wanita saja ) yang mengalami hal-hal yang demkian…
    Semoga TUHAN menunjukan jalan terangNya…..
    Selama masih ada napas ( Roh ) dibadan ini, TUHAN masih membukan pintu pengampunan.
    Kalau memang ingin kembali kejalan yang benar…..
    Salam.

  8. nu2k  10 July, 2011 at 14:42

    Mas Sumonggo, itu baru yang kedua. Yang berani diceritakan di Baltyra.. Yang sesungguhnya, ya dia sendiri yang tahu. Itu juga salah satu cara untuk mengecek sejauh mana rasa cintanya pada sang “lelakinya”.. Ha, ha, haaa.. Ketahuan deh kamu….

    gr. Nu2k

  9. Sumonggo  10 July, 2011 at 11:52

    Bener nih, cuma dua?

  10. nevergiveupyo  10 July, 2011 at 10:39

    wah… dahsyat nih….

    moga pintu langit terbuka… hari ini

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *