Conversations with my goats

Anastasia Yuliantari

 

Aku tak tertarik untuk memelihara binatang. Hubunganku dengan binatang peliharaan adalah “mau tak mau”. Bila sudah terlanjur ada terpaksa memelihara tapi lebih baik bila tak ada. Bila dirunut hal ini agak aneh karena Bapakku suka sekali memelihara perkutut dan kutilang. Sejak kami masih kecil di emperan rumah tergantung sangkar-sangkar burung peliharaannya. Sementara, Rien, adik perempuanku memelihara seekor kucing jantan.

Max lebih heboh lagi peliharaannya. Sebagai anak petani sejak masih belum bersekolah dia diberi tanggungjawab memelihara dua ekor kerbau untuk alat membajak sawahnya, seekor kuda jantan yang berfungsi sebagai alat transportasi, membajak tanah, dan teman bermain. Beberapa anjing untuk membantu menjaga keamanan rumah, mencari tikus, dan sekali lagi, teman bermain. Juga babi untuk kebutuhan adat dan sekaligus investasi bagi keluarga.

“Kudaku dulu bernama Si Belang, dia tinggi dan besar, kalau sedang bekerja di sawah dan hujan, aku berteduh di bawah perutnya.” Katanya dengan suara penuh sayang setiap melihat kuda berwarna coklat di perjalanan. Sementara Rien masih selalu mempercakapkan Timbul, nama kucingnya, walau sekarang sudah punya seekor lagi bernama Ben. “Timbul lebih pintar, Ik.” Keluhnya setiap kucingnya yang sekarang tak menurut juga setelah dilatih melakukan sesuatu selama beberapa lama.

Bapak, Rien, dan Max adalah para penyayang binatang yang telaten memperhatikan kesejahteraan hewan-hewan miliknya dan akrab dengan tingkah mereka. Sementara aku hanya sambil lalu saja memperhatikan. Kalau pun bertanya tentang keadaan binatang itu, hanya sekedar lip service. Bagiku kelihatannya membuang-buang energi dan waktu memelihara segala jenis binatang semacam itu.

Saat Nar, keponakan Max, tinggal bersama Mama mertua di rumah kami di Dalo, Max membelikan beberapa ekor kambing untuk dipeliharanya. Kambing jenis kambing kacang itu dibuatkan kandang di kebun belakang rumah. Aku tak begitu perduli, sampai beberapa bulan aku hanya menganggapnya “ada” tanpa perlu tertarik untuk mengecek apakah hewan-hewan itu memang benar-benar ada di dalam kandangnya. Sekali-kalinya aku muncul di depan kandang itu adalah ketika Max kuminta untuk memotretku di depan kandang. Itu pun hanya karena kelihatannya lucu berfoto di depan hewan ternak kami. Setelahnya tak ada memori tentang 4 ekor kambing kacang itu.

Sampai suatu hari Max dan Nar mempunyai proyek membuat dan mengolah pupuk kandang dari kotoran binatang dan kompos untuk kebun kami. Berhari-hari mereka mengumpulkan kotoran sapi, sekam, daun-daunan, batang pisang, dan banyak bahan lagi. Mereka pergi sejak matahari belum muncul dan pulang ketika sinarnya telah hilang. Hanya sekali saja mereka pulang untuk beristirahat makan siang. Akibatnya tak ada yang memberi makan kambing-kambing itu. Memang ada keponakan lain, Nindy yang masih SD, diberi tugas mengambil alih pemberian pakan hewan-hewan kami, tapi selain kambing ada tiga ekor babi yang lebih ruwet cara pemeliharaannya karena pakannya harus dirajang dan direbus, maka jadilah embikan kambing yang tak sabar menahan lapar itu membuatku menengok ke belakang rumah.

Empat kepala menyembul dari balik bilah-bilah bambu sambil bersuara ribut menyambutku. Rumput telah habis di tempat makananan biasa diletakkan di depan kandang. Setelah menoleh ke sana ke mari terlihatlah karung berisi daun-daun akasia. Kuangkut saja sekedarnya untuk menghentikan mereka mengembik bersahutan. Tapi ternyata daun sepelukanku tak cukup dibagi merata untuk keempatnya, maka beberapa kali lagi aku mengangkutnya. Karena telah nongkrong di depan kandang pastilah aku memperhatikan tingkah mereka. Dua ekor yang lebih besar gemar sekali merebut makanan kambing yang lebih kecil. Terpaksalah aku harus membentak untuk menakut-nakuti dan anehnya mulai bercakap-cakap dengan mereka, walau aku tahu mereka tak akan mengerti juga apa yang aku omongkan.

Tak terasa setiap pagi dan sore aku nongkrong memberi makan kambing-kambing itu sambil berdiri dan memperhatikan mereka makan jatah pakannya. Itu berarti bisa sejam bahkan lebih karena diselingi bentakan dan gerutuan bila mereka saling berebut makanan. Max yang melihatnya tertawa dan seolah-olah menjadikan hal ini tugasku. Tak heran kalau dia pulang sebentar untuk istirahat makan siang salah satu hal yang ditanyakan adalah: “Kambingnya sudah diberi makan atau belum, dear?” Aduh, mengapa aku serta merta diangkat sebagai pemberi makan kambing?

Lalu tiba-tiba keempat hewan peliharaan itu mendapat nama: si coklat, si belang, si hitam, dan si kecil. Sebetulnya hal ini merupakan konsekwensi logis bila telah semakin akrab dengan sesuatu. Sebuah identifikasi yang menunjukkan kedekatan, juga mempermudah untuk menggebah salah satunya bila menanduk atau merebut pakan yang lain. Di situlah percakapan terjadi, bukan benar-benar komunikasi dua arah, namun tetap sebuah komunikasi karena binatang-binatang itu merespon apa yang aku katakan atau lakukan. Aku pernah membaca seseorang yang bercakap-cakap dengan pohon atau tanaman miliknya. Menurut buku itu, tanaman miliknya menjadi lebih subur karena makhluk hidup peka terhadap perasaan kasih atau perhatian. Padahal tanaman bukan makhluk bernyawa, jadi kambing walau tak secerdik anjing atau kucing pastilah mereka tahu juga kalau ada yang memperhatikannya.

Sebaliknya, aku juga merasakan sesuatu yang menyegarkan dengan berdiri di depan kandang memperhatikan mereka menyantap rumput dengan lahap bahkan cenderung rakus, berteriak menggebah yang nakal, memuji yang manis, memberi makan mereka dari tanganku walau kadang ngeri bila tergigit, dan tertawa-tawa melihat tingkah mereka yang lucu.

Setiap kali pemiliknya pulang aku akan melaporkan binatang-binatang peliharaannya yang telah kenyang sejahtera berbaring di kandangnya, dan Max akan berkomentar sambil mengelus rambutku: “Kamu, sih memberi makan mereka seperti tamasya saja, dear. Lebih banyak untuk senang-senangnya.”

Ah, bukankah seharusnya memang seperti itu? Setiap ke kampung adalah untuk tamasya.

 

41 Comments to "Conversations with my goats"

  1. Ki Ageng Similikithi  15 July, 2011 at 05:03

    Persahabatan juga terjalin antara manusia dgn spesies lain. tulisan menarik. saya bisa merasakannya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.