Psikologi dan Substansi

Yully Sukarjo

 

”Saya menaruh harapan besar pada anda dok. . ” lirih suara wanita paruh baya itu. Dari matanya ku lihat butiran2 permohonan yang membuat ku berfikir 1000x lipat lebih keras.

”Ini sedikit untuk biaya operasional, mohon jangan ditolak.”

”Tidak bu, bawalah kembali uang ini, saya akan menerima setelah usaha saya berhasil”. Tegas psikolog muda itu sambil memasukan amplop itu ke tas wanita muda itu dengan sigap. dia tau, wanita itu akan bersikeras menolaknya. Dia adalah psikolog cerdas!jadi sudah dapat menebak tingkah laku orang lain. bukan seperti paranormal.

Sepeninggalan wanita itu, Elena termenung, berfikir keras, bagaimana menaklukan atau istilahnya menyelami jiwa Randi, anak dari Bu Retno, klien barunya.

Randi anak semata wayang bu Retno, dia terjerat cinta terlarang sesama jenis, dengan sahabat kecilnya, Rindra. berbagai upaya telah bu Retno lakukan untuk memisahkan cinta mereka, namun hasilnya nihil.

Bahkan bu Retno pernah mengirim Randi ke Inggris untuk kuliah di sana sekaligus cara halus memberi jarak pada Randi dan Rindra. Tetapi Randi malah terjebak pergaulan lebih bebas dengan teman-teman seasramanya di sana.

Tak ayal, dalam waktu kurang dari 3 bulan Bu Retno memulangkan anaknya secara paksa.

Bu Retno , meskipun memiliki segalanya dalam hal materi, namun dia merasa sangat miskin, karena ternyata materi tak bisa mengubah jantung hatinya menjadi lelaki normal. Dia terus menyalahkan diri sendiri, karena dulu, dia sering menelantarkan Randi dan menitipkannnya pada Pak Raden, sopir pribadi keluarga mereka. Pak Raden yang mengalami kegagalan dalam berumah tangga, bahkan berkali-kali, entah bagaimana kronologi detailnya, sehingga akhirnya terbongkar memiliki skandar dengan Randi, anak majikannya, yang sudah mulai membujang kala itu.

*******

”Randi, Rindra, selamat pagi! Nama saya Elena Endriani Gunawan. Panggil saja saya Egg, ok!”.

Elena mengulurkan tangan.

”Haha, what a cute name!, well mau lue ngomongg apa juga, ngg’ bakal ngaruh ma hidup gw, gw datang ke sini cuma ngindarin cuap-cuapan mama yang bikin telinga gw sedikit bengkak!”. Randi menjawab sinis.

”Ya ngg’ beibz. . . . ”. Dengan manisnya suara sinis itu berubah dibarengi senyuman Rindra yang , yuck! But, bukan Elena kalau tak bisa menghandle mereka.

”Yup! Cut off-cut off!”. Jawab Rindra, yang Elena tak tau apa maksudnya.

Dilanjutkan adegan lap mengelap keringat di antara mereka yang membuat Elena memutuskan, bertindak ASAP!

”Oh. . . that’s great! Kalau kamu tau semuanya! You are a brilliant!”. Elena selalu memuji klien-kliennya. Tanpa menunggu , dia melanjutkan,

”Sekarang, saya cuma pengen kalian lihat my little eksperiment!, wanna see? Cekidot!”.

Kedua pemuda itu sedikit tertarik dengan gaya bahasa Elena yang, muungkin ringan di pendengaran mereka, jauh dari kesan dokter yang biasanya kalau berbicara, substansi banget. . . .

Mereka mengikuti langkah Elena, bagai kapas yang tertiup angin, no brutality, atau berat hati.

”You guys tau donk. . . apa ini. . . . ”

”Ya iya lah cantik. . . ”. Jawab Rindra, yang sedikit membuat Elena surprised!”Berarti, dia masih tau mana wanita cantik!”. Gumam Elena pada dirinya sendiri.

”Kalau begitu, let’s play!”. seru Elena sembari menjentikan jari tengah dan ibu jarinya.

Dengan terampil psikolog muda yang juga memiliki hobi melukis itu menuangkan cat air kedalam mangkuk2 kecil sesuai warnanya.

”Coba lihat, ini warna apa?”.

”Goddamn it! Pertunjukan bodoh apa ini?”. Randi menggebrak meja, jengah.

”Beibz, kita tunggu pertunjukan selesai, would you?”. Rindra mengelus tangan Randi, menyuruhnya duduk kembali. Randi duduk. Manut!

”Ini adalah wanda Merah, indah bukan?tetapi, kalau warna merah ini kita campur dengan warna merah, apa hasilnya?”.

”Ya, benar sekali, nothing!”. Elena menjawab pertanyaannya sendiri.

”Tetapi, coba kalau kita campurkan warna merah ini dengan warna kuning. . . . ”. Elena menuang sedikit cat warna kuningg ke dalam mangkuk warna merah.

”Hm. . . . amazing orange bukan?”.

Elena melirik ekspresi kedua pemuda itu, dingin.

”Hei hei hei. . . kenapa pada diam?ada yang salah?”. Tegur elena sambil iseng mengambil kuas dan mengusapkan pada pipi Randi. Randi terkejut, tak kuasa menngelak. Rindra tertawa terkekeh-kekeh. Tapi mendadak terdiam karena sapuan Elena mendarat di pipinya juga. Mereka tertawa lepas. sambil terus saling mengecat pipi masing-masing.

”STOP!”. Suara Elena bagai komandan upacara.

”Sekarang kalian tau kan? Merah, tak ada yang melarang dicampur merah, tapi tak menghasilkan hal yang baru, jadi buat apa di teruskan? Kita adalah kholifah bumi, jadi kita harus terus ber-reproduksi, agar kita memiliki penerus, untuk menjaga bumi. Jangan bebankan tanggung jawab kita pada orang lain. kalian tentu mengerti bukan?”.

Randi tak menjawab. namun tak tau mengapa, pelajaran mengecat anak TK itu, membuat dadanya bergemuruh dahsyat. Randi berlalu tanpa sepatah kata pun. sebaliknya Rindra, dia jatuh terduduk, dia merasakan tulang belulangnya ngilu seketika.

****3 years later****

”Selamat ya dok”.

Randi datang ke pernikahan Elena bersama seorang wanita cantik sekali. Elena tercengang, lebih kaget lagi setelahh mengetahui kado ulang tahun Randi adalah seperangkat alat melukis dan barisan kata-kata indah.

—-Tak perlu kata-kata substansi, untuk menghangatkan dinginnya hati—-

Rindra pun datang dengan muka sumringah.

”Selamat ya dokter cantik! Kalau bukan melihat syurga di senyuman mu waktu itu, aku mungkin akan masuk neraka selamanya. . . haha”

Kelakar Rindra sambil menyerahkan secarik undangan pada Elena.

 

12 Comments to "Psikologi dan Substansi"

  1. non sibi  13 July, 2011 at 01:36

    Hm… asal jangan AC-DC ya…

  2. Lani  12 July, 2011 at 10:28

    waaaah….! welaaaah….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.