Sakit Bukan Penjara Bagiku

Ida Cholisa

 

Aku memang sakit. Tapi aku berusaha tak menampakkan diri bahwa aku sakit. Aku memang cuti mengajar, tapi aku tak pernah cuti dari mengerjakan pekerjaan rumah serta mengurus anak-anak. Sebab jika aku berdiam saja, bagaimana roda rumah akan berputar dengan mulusnya?

Dahulu aku perempuan gesit. Segala pekerjaan aku tangani. Tak ada waktu yang terbuang sama sekali. Pekerjaan rumah, anak-anak, pekerjaan sekolah, bisnis, menulis, semua aku lakukan dengan penuh suka cita. Tiada hari tanpa aku bertemu relasi, tiada waktu tanpa aku ayunkan segenap langkahku. Dunia penuh warna bagiku.

Kini ketika sakit menyapaku, separuh dunia seakan terlepas dariku. Tak bisa aku beraktivitas penuh seperti dulu. Menyesalkah aku? Oh, tidak! Satu yang kusyukuri, aku tetap mampu melihat celah dari setiap musibah, selalu mampu mengambil pelajaran dari setiap kejadian, selalu mampu menjaga semangat dari setiap derita yang menyengat. Maka aku tak merasakan sakit dari penyakitku, maka aku tetap teguh berdiri di atas kaki ini.

Jujur kukatakan, aku tak menderita dalam sakit yang tak biasa. Maka kau lihat aku. Badanku tetap tegap seperti dulu, meski rambut telah menghilang dari kepalaku. Semangatku tetap menyala seperti dulu. Hari-hariku tetap ceria seperti dulu.

Kemoterapi telah aku jalani, sebanyak tiga kali. Seharusnya aku segera menjalani operasi. Tapi karena sesuatu hal, operasi mundur bulan depan, bahkan jadwal kemo 4 pun mundur minggu depan. Masih panjang perjuangan, masih beberapa kemo lagi harus aku laksanakan. Berat memang.

Jika mengingat kemo, perutku terasa mual. Rasa tak enak langsung menyerang. Segera kutepiskan bayangan tak menyenangkan, karena bagaimanapun inilah bagian dari sebuah perjuangan. Tak ada perjuangan yang tak membutuhkan pengorbanan. Aku mengerti itu, sangat mengerti.

Aku tahu sebentar lagi akan ada yang hilang dari badanku. Payudara kananku akan diangkat, dan aku hanya akan memiliki satu buah payudara saja. Bersedihkah aku? Tidak, insya Allah. Aku siap menyambutnya, sebuah pertempuran di mana pisau bedah akan menyayat dan memotong payudara kananku…

Aku akan lahir sebagai perempuan berpayudara satu. Tapi aku akan lahir sebagai perempuan bersemangat baja, semangat yang terus terpompa tanpa ada yang mampu mengempiskannya…

Kini kujalani hari-hariku dengan perasaan biasa, sangat biasa. Aku tertawa, aku bercanda, seolah aku tak sedang terbelit derita. Meski sebenarnya, dalam tatapan mata selainku, aku sungguh memelas dengan segenap perjuanganku. Bisakah kau bayangkan bagaimana lelahnya diri berulangkali melakukan pengobatan, meninggalkan anak-anak dalam kesendirian, memikirkan biaya pengobatan sambil tetap berjuang dan menabur sepenuh harapan?

Perjuanganku tak biasa, tapi aku bersikap biasa dalam menjalaninya. Sebab yang kutahu, Tuhan tak akan memberikan umatNya ujian di luar batas kemampuannya. Jika Dia telah memilihku untuk menanggung segenap ujiannya, itu tandanya aku harus mampu melewati dan menghadapinya. Itulah sebabnya tak ada alasan bagiku untuk mengeluh padaNya, menangis apalagi menyesali semua yang ada….

Sakit bukanlah penjara bagiku. Dalam sakit aku tetap bekerja dan berkarya. Tak pernah kumanjakan diriku dalam diam tak menentu, tetapi selalu kuaktifkan jiwa dan ragaku agar tak tersumbat segenap kemampuanku. Maka dalam sakit tetap kumelihat cahaya, cahaya yang akan menuntunku menuju terang yang sempurna…

Aku bersyukur atas segenap karuniaNya. Yang baik bagiku belum tentu baik bagiNya, yang menurutku tak baik bagiku, justru itulah yang baik menurutNya. Maka tetap berprasangka baik, ikhlas sembari merangkai doa, itu semua yang pada akhirnya mengangkatku dari lubang derita…

Alhamdulillah, puji syukur selalu kepadaNya…***

 

Bogor, Des 2010-

 

12 Comments to "Sakit Bukan Penjara Bagiku"

  1. Linda Cheang  14 July, 2011 at 15:02

    Sakit memang bukan penjara, karena kalau tiada rasa sakit, akan jadi apa kita ini?

  2. rya  14 July, 2011 at 15:00

    mudah-,udahan sakit yang diderita segera disembuhkan. tetap semangat ya bu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.