Love, Light and Joy

Wesiati Setyaningsih

 

Siang itu cukup panas. Aku, Dina dan Afi sedang mencari tempat duduk di sebuah warung bakso dan es campur. Final lomba pidato masih berlangsung di lantai 5 gedung IKIP PGRI. Ternyata tempat ini penuh sekali. Semua orang sedang makan. Jadi kami harus menunggu beberapa saat. Mataku tertumbuk pada sebuah keluarga. Perempuan muda yang cantik, duduk di sebelahnya seorang nenek menggendong bayi yang sedang tertidur, lalu di sebelah nenek itu sekorang laki-laki muda memangku seorang anak laki-laki kecil. Perempuan muda, sang nenek, dan laki-laki muda itu sedang menyendok es campur yang masih banyak dari piring. hhhmm..mungkin masih akan lama.

Menunggu beberapa saat, kami bertiga mendapat tempat duduk. Aku mendapat tempat duduk di sebelah laki-laki muda yang memangku anak tadi. Pesanan kami belum dibuat. Aku asyik ngobrol dengan Afi dan Dina. Tiba-tiba anak kecil yang sedang dipangku ayahnya di sebelahku menangis keras. Aku menoleh. Dia sedang mengulurkan tangannya ke neneknya yang duduk di sebelah kirinya. Sang nenek lalu mengelus-elus jarinya. tangisnya masih beberapa sementara ayahnya yang memangkunya asik saja makan es campur, seolah tak terjadi apa-apa. Aku heran. entah kenapa tangis anak kecil selalu membuat hatiku terluka.

Beberapa saat tangis anak itu berhenti. Aku bertanya-tanya, kenapa kiranya anak kecil itu menangis. Jarinya terjepit? Lis mejanya baik-baik saja kok. Tidak ada yang rusak. Aku amati anak itu. Lucu. Pipinya bulat. Kini air mata masih membasahi pipinya. Aku melihat polah anak itu. Kebiasaan, aku selalu mengamati anak kecil. Tingkah polah mereka sering kali mengejutkan. Ayahnya menyuapkan sedikit kuah es campur ke mulutnya, mungkin untuk menghiburnya, tapi dia menunjuk mulut ayahnya.

“Papa..” katanya.

Mungkin maksudnya, papa aja yang makan. Aku terharu. Baru selesai menangis dia sudah memikirkan orang lain. Tak lama kemudian ayahnya menaruh sendoknya. Anak kecil itu mulai memegang sendok. Ayahnya menarik sendok itu dari tangannya. Anak kecil itu tak mau melepas. Bisa jadi dia ingin berusaha menyendok sendiri. Tapi tiba-tiba ‘cettthaak!’

Laki-laki muda itu menyentil keras jari anaknya.

“Dibilangin kok susah,” katanya.

Jantungku seperti ditembak ratusan peluru dari jarak dekat saat seketika tangis anak itu meledak lagi. Ya Tuhan! Ternyata dia tadi menangis karena jarinya disentil ayahnya. Laki-laki muda itu masih mengomel memarahi anaknya. Dari sampingnya, aku bergumam,

“Kasihan, kali pak,”

Tak lama laki-laki itu keluar membopong anaknya. Sang nenek mengikuti. Lalu perempuan muda itu juga pergi setelah membayar. Aku lihat dua orang yang duduk di depan mereka juga mengikuti mereka dengan tatapan mata kaget dan tak mengerti, sejak laki-laki muda tadi membuat anaknya menangis.

***

Lomba selesai. Kami tidak membawa piala satupun. Well, aku tak lagi gundah. Datang ke lomba adalah sebuah pengalaman. Itu yang terpenting. Kami pulang dengan angkot karena nomer telepon taksi susah dihubungi dan kebetulan tempat angkot ngetem dekat dari situ. Di mikrolet aku teringat anak kecil itu lagi. Matanya yang berair, tingkahnya yang meminta ayahnya menyuapkan sendok ke mulutnya sendiri, juga saat tangannya diulurkan ke neneknya minta perlindungan setelah dia disentil ayahnya untuk kedua kali. Hatiku terasa begitu perih.

Pulang tanpa piala tak membuatku kecewa. Tapi peristiwa anak kecil dan ayahnya tadi membuatku merana. Kupejamkan mataku. Terbayang wajah anak kecil itu. Matanya berair. Pipinya basah. Dalam bayanganku dia di depanku. Lalu kubawa dia ke dadaku. Kupeluk dia sepenuh hati.

Aku sering chat dengan teman yang selalu menuliskan ‘love, light, joy” setiap kali kami mengakhiri percakapan maya kami. Jadi saat itu aku kirimkan segenap cinta, cahaya dan kegembiraan dari hatiku, untuk hati anak kecil itu. Siapa tahu energi cinta, cahaya dan kegembiraan yang aku salurkan dari hatiku bisa sampai ke hati anak kecil itu. Aku merasa seperti sebuah energi yang bersinar hangat keluar dari dadaku dan menghangati anak kecil yang kubayangkan berada di dadaku saat itu. Tiba-tiba hatiku ikut menghangat. Perih yang tadinya kurasa mulai menguap perlahan.

Masih dalam bayanganku, anak kecil itu mengangkat kepalanya. Airmata tak lagi memenuhi matanya. Pipinya tak lagi basah, dan bibirnya kini tesenyum. Wajahnya kini ceria. Hatiku bahagia.

Aku membuka mataku perlahan. Angkot masih juga berhenti lama. Padahal mobil ini baru berjalan beberapa saat. Tapi aku tak peduli. Hatiku yang tadi perih mulai sudah sembuh. Dan kini aku tahu bagaimana mengobati rasa sakit hatiku. Kirimkan saja ‘cinta, cahaya dan kegembiraan’ pada siapapun. Dan itu akan membuat hatiku kembali bahagia.

Di rumah, aku masih ingat adegan mengerikan saat jari anak kecil itu disentil ayahnya dan seketika dia menangis keras. Pada saat itu aku kembali mengirimkan ‘love, light and joy” dari hatiku. Saat itu pula hatiku menjadi lega.

Dalam hati kukatakan,

“Wahai anak kecil, aku punya banyak malaikat bersamaku. Kukirimkan satu malaikatku untuk menjaga dan melindungi hatimu. Agar meskipun situasi hidupmu tampak tak indah bagimu, hatimu tetap terjaga gembira…”

(*Semoga semua orang tua di dunia sadar bahwa anak adalah potongan darah dan daging mereka sendiri. menyakiti anak-anak mereka, sama saja menyakiti mereka sendiri. Juga semoga anak-anak sedunia mendapat cukup banyak cinta di hati mereka…amin…)

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

16 Comments to "Love, Light and Joy"

  1. wesiati  17 July, 2011 at 05:53

    terima kasih banyak atas comment2nya. 3 hari saya tidak onlen karena lagi ikutan kemah bakti osis murid2 saya di pantaran boyolali . saya kira semua orang punya keputusan sendiri2. ketika dia memutuskan untuk menikah, kemungkinannya adalah memiliki anak. karenanya kalau muncul anak dalam pernikahan mereka, ya mestinya diterima dengan konsekuen karena seorang anak terlahir karena hasil ‘perbuatan’ yang terjadi dalam pernikahan tersebut.
    bagi yang memutuskan untuk tidak memiliki anak, well, itu juga bagus. setidaknya sudah memiliki keputusan berdua yang diambil dengan sadar dan pastinya menghadapi segala konsekuensinya dengan sadar juga.

  2. non sibi  15 July, 2011 at 00:31

    Wesiati,
    Terima kasih utk tulisannya.
    Saya teringat syair lagu ‘Everybody’ Ingrid Michaelson:
    Happy is the heart that still feels pain
    Darkness drains and light will come again
    Swing open up your chest and let it in
    Just let the love, love, love begin
    Have a wonderful day!

  3. Donald Sendow  14 July, 2011 at 23:46

    banyak orang pengen punya anak pas dapet dimarah marahin….hmmmm

  4. J C  14 July, 2011 at 11:02

    Mbak Wesiati, mak nyeeeeessss tenan artikel ini…let’s send love, light and joy to the whole universe…

  5. Lani  14 July, 2011 at 09:51

    ISK alangkah indahnya klu dunia banyak org spt kamu tuh kalimatmu dialinea plg bawah komentar 11…….hehehe…..kamu menyinggung diriku, wlu aku ndak pelihara anjing tp aku penyuka anjing………..tp bukan berarti aku tdk menyukai anak lo ya……..hehehe, kurang tepat klu dibilang tdk menyukai………lbh tepatnya kata memilih………

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  14 July, 2011 at 08:50

    Senangnya denger kalimat ini:

    “anak adalah potongan darah dan daging mereka sendiri. menyakiti anak-anak mereka, sama saja menyakiti mereka sendiri”.

    Anak bagi saya segalanya. Tetapi saya juga menghormati orang yang tak menyukai anak dan lebih senang memelihara anjing.

    Terima kasih kisahnya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.