Nilai Budaya Orang Belanda

Nunuk Pulandari

 

(Bagian pertama dari dua tulisan)

Menyambung tayangan mbak Rina tentang :”Wanita Asia di Mata Bule, sisi negatiefnya”, saya jadi teringat beberapa artikel (aslinya dalam bahasa Belanda) saya yang intinya membahas tentang Perkawinan Campuran dan Nilai budaya Orang Belanda.

Saya kira di lapak tetangga (tahun 2006, saya kira diajeng Zev. almh pernah menayangkannya). Untuk dapat mengerti mengapa terjadi hal-hal seperti yang dituliskan oleh Sdri. RinaIvaRksd saya ingin menambahkan 2  buah tulisan berikut ini (dengan beberapa perbaikan disana sini)..Tentu kalau dimas JC berkenan untuk menayangkannya..

“ Nilai budaya Wong Londo”

Sebagian dari cerita di bawah ini sesungguhnya saya temukan di antara lembaran kertas-kertas yang sedang saya pilah-pilah untuk dibuang. Ceritanya memang sedang bèbèrès. Tapiiiii….Anehnya seringkali setelah sesaat mulai membongkar lemari buku dan menemukan secarik tulisan, yang terjadi bukannya memilah-milah dan kemudian menatanya kembali atau membuangnya…

Tapi malah menarik kursi lalu duduk dan mulai membaca, membaca dan membacaaaa….Membaca entah itu  artikel, buku atau catatan-catatan kecil yang kebetulan terlihat mata dan menurut saya terlupakan untuk membacanya. Dalam kesempatan kali ini saya juga menemukan kembali tulisan saya sendiri yang pernah terselip dan lupa untuk menyelesaikannya.

Saya masih ingat mengapa saya menulis artikel ini. Suatu hari saya dan diajeng Diene, sekarang sedang bertugas di Canada, salah seorang sahabat duduk-duduk minum kopi di salah satu teras di Pusat Pertokoan Passage (toko dibawah satu atap)  di Den Haag.

Setelah kami mendudukkan diri di kursi empuk dan memesan minuman dan makanan, segera sambil mengobrol kami melihat dan memperhatikan yang lalu lalang. Banyak orang dengan berbagai macam dandanan dan outfit  berlalu lalang melewati meja kami. Sebagian terlihat menjijing beberapa tas plastic dengan merk-merk yang cukup terkenal. Yang lainnya membawa tas plastic yang lebih besar yang dibagian luarnya dapat terbaca nama toko yang sudah disinggahinya.

Melihat dari ukuran dan bentuk tas-tas itu dalam hati saya kadang menduga dan mereka-reka apa isi tas yang dijinjingnya. Kadang saya berpikir: ”Hmmm, tas merk apa ya yang dia beli? Atau sepatu warna apa ya yang ada di dalam kotak itu?..Achhhh”.  Di sela acara obrol-mengobrol dan melihat yang sedang makan di sekeliling kami, terpikir dalam benak saya:” Memang  benar, beberapa kebiasaan orang Belanda sudah (mulai) berubah.”

Dan perubahan ini dapat kita lihat dengan nyata, misalnya pada siang itu. Banyak orang Belanda lebih royal dalam  hal pemanfaatan uang mereka…Kita juga dapat melihat bahwa daerah pertokoan di Belanda semakin hari semakin berkembang dan semakin ramai

Restaurant tidak hanya terbatas pada hari-hari weekend saja dipenuhi banyak pengunjungnya, tetapi juga di hari-hari kerja. Penerbangan ke LN hampir selalu dipenuhi oleh para pelancong dari Belanda. Untuk para pelancong Indonesia hal ini tentunya dapat anda buktikan sendiri. Di pelosok bagian dunia mana yang tidak kita jumpai orang Belanda… dll, dlll

Restaurant d’ Olifant

Yaaa, di manapun kita berada pasti kita akan berjumpa dengan orang Belanda. Tentu dengan segala ciri-cirinya yang khas. Misalnya kalau mereka ada di negara panas, mereka akan mengenakan celana pendek tetapi tetap memakai sepatu sandal dengan kaos kaki…. ha, ha, haaaa… Atau kebiasaannya bertolak pinggang misalnya.…..Beberapa kebiasaan mereka yang juga sangat menonjol masih tetap dapat kita kenali dalam kehidupan sehari-hari mereka. Misalnya seperti yang terurai di bawah ini.

Dari awal keberadaan saya (untuk menetap, tahun 1992) di Negeri Belanda, apalagi kalau menengok jauh ke belakang ketika pertama kali (tahun 1975) saya menginjakkan kaki di Belanda, dan bahkan  sampai saat kini,  secara umum saya dapat mengatakan bahwa orang Belanda  sangat hemat dan gemar menabung.

Hal ini untuk orang asing yang tidak / kurang mengetahui alasannya dapat menimbulkan kesan bahwa mereka sangat pelit dan sangat “berhitungan”.  Sifat hemat dan gemar menabung dalam diri orang Belanda terjadi  dengan berbagai alasan. Saya tidak akan menguraikan sifat hemat  ini  dilihat dari segi pengaruh agama atau sejarahnya (ada dan banyak sekali) . Tetapi saya hanya akan melihatnya dari segi kehidupan sehari-hari dan dalam prakteknya seperti yang saya lihat dengan kacamata saya sebagai seorang “Indonesia” yang mempunyai konco ngajeng orang Belanda pada masa kini.

Dalam  keluarga Belanda  banyak terjadi diskusi antar pasangan yang ada hanya untuk membicarakan  tentang jumlah pengeluaran  dan rencana pembelanjaan serta pemasukkan uang mereka. Saya sendiri sering sadar kalau dalam hal yang satu ini saya  sering “sak énak é dhéwé”.  Meskipun itu juga dhuwit é dhéwé lhoooo. Maksud saya hasil kerjané dhéwé…Ha, ha, haaa.

Memang yang sering saya lupa adalah bahwa pemasukan dan pendapatan kita di Belanda selalu tetap dan sama nilai nominalnya. Untuk agak mengeremnya kami ada acara dua mingguan yang intinya setiap dua minggu sekali konco ngajeng selalu membantu mengontrol dan  membicarakan  pengeluaran serta rencana pembelian untuk dua minggu mendatang.

Misalnya minggu ini saya terlalu banyak mengorek isi dompet untuk membeli yang namanya taaaaas… Hmmmm, apa lagi kalau bukan tas, sepatu atau parfum atau perlengkapan wanita lainnya.?? Untuk menutupnya dalam dua minggu mendatang saya harus bisa  menabung dan mengirit-irit pengeluaran sebanyak jumlah kelebihan pengeluaran dua minggu sebelumnya…Daaaaannnnn ….Ini ternyata bukan masalah yang mudah. Cukuuuup suuusaaaahhhh lhooo untuk melaksanakannya.  Terutama pada awal-awal keberadaan saya di Belanda.

Kebiasaan keluarga-keluarga Belanda perbulan yang sudah lama berlaku adalah menyisihkan uang sejumlah tertentu dengan teratur. Tujuannya : Untuk menutup kebutuhan yang tidak dapat diperhitungkan sebelumnya. Misalnya, sepeda yang tiba-tiba rusak-sak sehingga kita perlu beli yang baru. Atau kita harus mengeluarkan sejumlah uang yang tertentu karena umur mesin cuci memang sudah mendekati masa berkabungnya.

Atau untuk keperluan yang lebih besar seperti membeli mobil yang memang sudah mulai ngadat. Atau untuk membeli rumah yang lebih besar; atau untuk biaya kelanjutan studi anak atau  untuk mengadakan perjalanan liburan keluar negeri (walaupun ada dana resmi uang vakantie dari kantor, tapi sering jumlahnya tidak mencukupi).

Indahnya bunga Anggrek tanpa terasa cukup menguras dompet

Untuk mencapai keberhasilannya,  salah satu hal penunjang yang penting adalah faktor kedisiplinan yang tinggi selain tentunya dana yang harus tersedia.  Dan satu hal lain yang juga sangat penting adalah suatu fakta bahwa kalau orang Belanda mendapat kesukaran dalam hal keuangan, dia  tidak akan bisa dengan begitu saja minta bantuan/ tolong pada saudara nya sendiri.

Dalam hal keuangan sudah menjadi rahasia umum bahwa orang Belanda akan berhitung sampai ke angka  nul koma nul, nul, nul……..Walaupun itu menyangkut saudaranya sendiri….Untung konco ngajengku sudah lama berubah…Dia tidak pernah berhitungan lagi dan sudah terbiasa nginep di rumah keluarga saya yang lain.

Anda mungkin masih ingat akan istilah “Going Dutch”. Istilah itu  tentunya tidak timbul dengan begitu saja. Saya ingat ketika pertama kali konco ngajeng ikut ke Indonesia dan makan bersama dengan keluarga. Selesai makan dia langsung bertanya: “Hoeveel moeten wij voor ons tweeën  betalen?- Berapa kita harus bayar untuk kita berdua?”

Aduuuuhhhhh, merah padam deh warna muka saya menahan semua perasaan. Waktu itu mungkin dia sudah lupa cerita saya tentang bagaimana kebiasaan kita (orang Indonesia) kalau makan bersama dengan keluarga besar. Bahwa hampir bisa dipastikan kalau salah seorang anggota keluarga yang keadaan ekonominya lebih mapan pasti dengan sendirinya akan membayar dan mentraktir yang lainnya. Paling tidak itu selalu terjadi dalam keluarga / kakak-beradik saya.  Tanpa ada perasaan ini dan itu.

Lain sekali dengan kebiasaan orang Belanda. Kalau kita keluar makan, entah itu dengan keluarga besar atau dengan teman-teman jangan terkejut  kalau pada awal / akhir acara makan setiap yang hadir  akan ditagih sejumlah uang untuk bayar rekening yang ada. Tidak terkecuali apakah dia seorang  wanita atau seorang pria.

Saat ini  meskipun praktek “Going Dutch”masih terjadi tetapi bentuknya sudah berubah. Lebih bernuansa. Kita tidak lagi membayar ramé-ramé pada akhir acara makan bersama tetapi (misalnya kalau kita berempat) kita membayarnya secara bergantian/ bergiliran setiap kali kita keluar makan bersama.…. Kadang kalau jumlah yang ikut makannya/ minumnya banyak memang bisa terjadi insiden-insiden kecil kalau seseorang setelah sekian kali ikutan makan/ minum  bersama tetapi tidak pernah mau bayar atau pura-pura pergi ke toilet setiap kali rekening tiba..

Dalam hal ini teguran atau paksaan membayar perlu diberlakukan. Dan orang Belanda tidak akan sungkan-sungkan untuk menunjuk siapa yang kebagian atau harus membayar pada kesempatan itu. Meskipun untuk itu si pelayan harus menunggu lama sampai yang bersangkutan kembali lagi dari toilet.

Dalam media sering tertera berita tentang mala petaka yang terjadi di berbagai belahan dunia dengan berbagai macam bentuknya. Untuk mengatasinya sering  uluran tangan para dermawan sangat dinantikan. Hampir dapat dipastikan bahwa orang Belanda  akan segera berlomba membuka dompetnya.

Uit eten met Charles en Willy, di Scheveningen

Dengan berbagai cara mereka berusaha untuk mengumpulkannya dan menyumbangkannya. Dan  kalau hal ini kita perhatikan dengan baik,  kita akan bisa mendapat kesan seolah-olah orang Belanda ingin saling berlomba untuk dapat menjadi pelopornya.  Misalnya dalam hal mengumpulkan dana untuk keperluan humanitair di negara-negara berkembang yang sedang memerlukan uluran tangan.  Orang Belanda akan saling berlomba mengulurkan tangannya untuk menolong sesamanya.

Hal ini terjadi karena pada dasarnya orang Belanda memang memiliki rasa “guilty feeling” yang besar. Sebagai orang Belanda yang sudah mapan kehidupan ekonominya mereka merasa berdosa kok masih ada orang lain yang hidupnya begitu susah.  Dan ini sangat berlainan dengan orang Indonesia dan orang dari banyak negara lain yang lebih memiliki  rasa ”respect” daripada rasa “guilty feeling”. Orang Belanda sangat terikat  pada nilai-nilai “historisch (masa lalu)”, terutama dalam hal yang  dapat merugikan/ membahayakan  kepentingan orang Belanda sendiri.

Tidaklah penting apakah kerugian dan keadaan bahaya yang terjadi pada bangsa lain karena ulah orang Belanda. Yang penting hal itu tidak terjadi pada orang Belanda karena adanya ulah bangsa lain. Misalnya sehubungan dengan kejadian penyanderaan kereta api oleh orang Maluku di Assen dan tentang “permintaan maaf” Belanda pada Indonesia  atau sehubungan dengan peristiwa “wanita-wanita penghibur” Belanda di masa pendudukan Jepang yang lampau. Orang Belanda menuntut ganti rugi dan permintaan maaf pada orang Jepang tetapi orang Belanda sendiri tidak pernah mau mengajukan ganti rugi dan permintaan maaf pada orang Indonesia….Achhh, sejarah, politik, kekuasaan, keangkuhan…

Dalam proses mempersatukan negara Eropa. Terlihat betapa menggebunya peran Belanda di dalamnya. Terasa adanya kepeloporan peran Belanda sebagai nomor satu di banyak bidang. Hal ini tentunya tidak terjadi dengan tanpa mengabaikan maksud kepentingan Ekonomi dan Politik saja tetapi juga terjadi karena orang Belanda tidak bisa melihat dominansi  Amerika dalam segala hal. Kita melihat bahwa Belanda memang “kecil” tetapi dalam sifatnya yang “kecil”ini terdapat banyak sekali sifat-sifat yang “besar”nya tidak terkirakan…….Yang hanya orang luar yang bisa merasakannya.

Orang Belanda sangat individualis dan sangat mementingkan segi “privacy”, hal ini tentunya anda semua sudah mengetahuinya. Sering dalam perkuliahan saya menekankan bahwa kalau seorang Belanda tidak bisa mendalami dan mengerti serta menerapkan cara berpikir dan bertindak orang Indonesia, dia akan  mendapat  banyak hambatan selama tinggal dan bekerja di Indonesia.

Dan yang lebih penting lagi dia tidak akan merasa senang dan betah tinggal di Indonesia. Bagaimana tidak. Coba anda bayangkan. Dimana siiih di Indonesia kita bisa mendapatkan situasi yang betul-betul “privacy” sifatnya. Lhawong di kamar kecilpun ketika kita sedang menunaikan tugas yang satu itu, sering pintu kamar kecil diketuk dari luar karena ada telepon atau ada tamu….Ha, ha, haaa Walaupun sudah diwanti-wanti tidak mau diganggu…..

Banyak orang Belanda yang bila ditinjau dari segi ilmu pengetahuan  memiliki banyak sekali informasi tentang Indonesia. Tetapi dalam prakteknya  mereka belum menggunakan informasi itu sesuai dengan keadaan dan situasi Indonesia di Indonesia yang berlaku. Atau kadang bahkan mereka saking begitu sudah  merasa lebih banyak tahunya tentang Indonesia walaupun dalam kenyataannya mereka belum pernah sekalipun berhubungan dengan orang Insdonesia atau pergi ke Indonesia, mereka berani ngeyel dan selalu ingin menang sendiri….

Mungkin harus eyel-eyelan sama orang dari Yogya ya….Ha, ha, haaa.   Hal ini terjadi karena pengaruh sifat orang Belanda yang sering kali  sangat “eigenwijs”, “sok tahu” dan “koppig” walaupun kadang-kadang pendapat atau pandangan mereka juga bisa salah . Karena hal-hal tersebut diatas sering terjadi benturan-benturan nilai budaya dalam pernikahan antara orang Belanda dan orang Indonesia.

Tentang  interaksi orang Belanda terhadap warga yang non bule atau dengan bule dari negara-negara lain? Dua hal yang sangat  berbeda dalam pengupasannya. Dalam hal ini yang saya ingin sedikit tuliskan adalah  interaksi Belanda terhadap orang non-bule. Dan tentang hal ini pendapat saya adalah sebagai berikut:

Seperti yang anda ketahui Negeri Belanda adalah negeri kecil yang multikultural. Dengan semakin banyaknya pendatang dari negeri-negeri lain yang berdomisili di Negeri Belanda, dengan berbagai macam alasan dan latar belakangnya (terutama karena kepentingan ekonomi atau politik), saya melihat bahwa persepsi orang Belanda terhadap masing-masing pendatang sangatlah berbeda.

Misalnya tentang  istilah “orang asing”. Di mata orang Belanda “orang asing” adalah pendatang-pendatang dari misalnya Marokko, Turki, Afrika, Antilia dan TIDAK dari Indonesia dan tidak dari Suriname. Untuk orang Belanda kalau mereka  berbicara tentang Indonesia maka yang ada dikepala mereka adalah terutama orang Jawa (mereka juga tidak bisa membedakan ciri-ciri yang ada). Ini terjadi akibat dari  perkembangan segi historis di masa yang telah lalu (mereka lebih banyak berhubungan dengan orang Jawa).

Orang Maluku mendapat tempat dan kelas yang lain dan menurut saya (maaf kalau saya salah) orang Maluku tidak selalu mendapat nilai positif di mata orang Belanda. Dalam banyak hal orang Indonesia diperlakukan bukan sebagai orang asing. Orang Belanda sangat memperhatikan kepentingan orang-orang asing ini; mereka menerapkan segala macam cara untuk proses adaptasi dari dua arah; seringkali karena “kelemahan” orang Belanda sendiri proses ini lebih menjurus ke satu arah sehingga kepentingan Belanda sendiri terlupakan; hal ini berakibat negatif bagi kepentingan Belanda.

Hal-hal yang saya sukai dari Orang Belanda dalam berhubungan dengan orang non bule adalah:

Bahwa orang Belanda juga memberikan kesempatan dan fasilitas yang sama  pada orang non bule untuk mengembangkan dirinya semaksimal mungkin. Meskipun setelah hasilnya kita raih dalam kehidupan yang ada kita  tidak akan selalu dapat mempraktekannya. Bagaimanapun juga dalam persaingan yang ada masih banyak factor lain yang turut menentukan berhasilnya perkembangan seseorang.

Bahwa azas demokrasi juga diperlakukan pada orang-orang non bule. Hal ini kadang-kadang dapat berdampak negatief  terutama bila yang bersangkutan tidak mengerti apa itu demokrasi sesungguhnya…. Mungkin seperti terjadinya diskusi di Baltyra akhir-akhir ini.

Bahwa mereka pada umumnya adalah orang yang “netjes” , ulet,  serius dan tepat waktu dalam menghadapi dan menjalankan kehidupan yang ada. Daaaan ini perlu bagi kita.

Dan terus terang saya sangat berhati-hati sekali dalam memilah-milah  kebiasaan dan kebudayaan Belanda yang ada. Hanya hal yang menurut saya mempunyai nilai positief akan saya terapkan dalam kehidupan saya. Terutama sekali hal-hal positief yang bisa digabungkan dengan kepositiefan dari kebiasaan dan kebudayaan Indonesia yang saya miliki dan masih bisa saya jalankan di Belanda. Sisanya  saya simpan sebagai hasil belajar pengetahuan tentang  Belanda.

Dan salah satu hal positief kebudayaan Belanda yang saya gunakan adalah istilah : Kus, kus, kus…Cipika, cipiki, cipika..Siapa siiih yang tidak senang mendapat 3 ciuman mesra meskipun itu hanya di pipinya saja…..Werkt ze en doei…Nu2k…

Buah-buahan ini diambil dari Pasarnya  kangmas DJ., ha, ha, haaa. Selamat mencicipi…

 

180 Comments to "Nilai Budaya Orang Belanda"

  1. adek  28 March, 2014 at 21:11

    Menarik sekali artikel ini. Menambah wawasan tentang kebiasaan org belanda. Ntar kl eike ke londo udh ngerti karakter org sono. Hahah..

  2. nu2k  14 December, 2011 at 13:33

    Senang sekali membaca bahwa isi artikel ini bisa menambah wawasan anda. Meskipun baru dalam tahap menyenangi terong Belanda.. Terong Belandanya dibuat belado saja.. Enak sekali, asal menggorengnya tidak terlalu lama. Hanya setengah matang saja… Ha, ha, haaa.. Salam en goedemorgen, Nu2k

  3. buana  14 December, 2011 at 11:19

    sangat menarik,, membantu menambah wawasan,,kebetulan sedang nyenengin terong belanda,,

  4. nunuk  26 November, 2011 at 20:10

    Mbak Lily, ha, ha, haaaa.. Betapa sudah demokrastisch dan mandirinya wanita Indonesia… Terlihat dari kalimat anda… Jaman dulu mana ada wanita MENGENCANI pria…. Yang ada sebaliknya… Dipertahankan ya mbak, tentunya dengan batas tertentu ya….Bagaimanapun kodrat kita sebagai wanita tidak boleh dilupakan.. Di situ seninya… Selamat, selamat… Wie weet, treffen wij elkaar ergens… Doe doei, nu2k

  5. Lily  26 November, 2011 at 19:44

    Mbak Nuk, terima kasih untuk ulasannya… sangat membantu dalam memberikan wawasan Saya yang saat ini sedang mengencani pria belanda.

  6. Lani  24 July, 2011 at 15:14

    MBAK NUK wadoh jgn2 salah alamat……..aku ora tampa lo mbak…….ya monggo digoleki bek-e msh ada copynya……aku kerja malam ini mbak…….td santap malam gasik jam 5 sore

  7. nu2k  24 July, 2011 at 14:51

    Jeng, lhooooo, lha terus mlebu neng nggoné omahé sopo… Yo wis mengko tak dheleok menéh.. Bak é jik ono arsipé.. Jik nembe masak opo nembe santap malam…. Aq nembé tangi… ha, ha, haaaa…Kus, kus, kus, Nu2k

  8. Lani  24 July, 2011 at 10:58

    MBAK NUK…….endi emailnya? aku ora tampa lo mbak……..met wik-en ya……..

  9. nu2k  21 July, 2011 at 16:38

    Jeng Laniiiii, sudah berangkat tidur ya? Ada e-mail, diwaos dulu ya… Welterusten, nu2k

  10. Lani  17 July, 2011 at 12:18

    mesti panas banget ya? rencana mo kemana hari Minggu setelah kegereja?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.