Menjadi Tua

Anwari Doel Arnowo

 

Hari ini tanggal 19 Juli, 2006 saya menemukan sebuah brochure, sebuah handbook serta handout bertulisan “for older Adults” yang bisa didapatkan dengan gratis dari perpustakaan umum dan diterbitkan oleh Pemerintah Canada.  Isinya penuh gambar dan petunjuk bagi  para orang tua yang hidup di Canada; saya kutip bagian-bagian penting yang berguna untuk kita semuanya. Orang tua yang dimaksud tidak harus berstatus warganegara Canada akan tetapi siapapun yang sudah masuk kategori tua yang bertempat tinggal secara resmi di negeri ini.

Sebenarnya pada umumnya program ini termasuk dengan apa yang  disebut: Physical Activity Guide to Healthy Active Living.

Ada beberapa  topic yang dimuat di dalamnya, antara lain adalah:

Why should I be active? Mengapa saya harus aktip ? Aktivitas fisik adalah salah satu dari hal-hal yang terpenting bagi kita dalam memelihara kesehatan fisik dan mental dan kualitas hidup dengan menuanya usia.

Berjalan kaki, menggeliat (stretching) dan menjaga seluruh urat dan otot dalam keadaan prima akan memberikan kepada kita kemampuan untuk mandiri.

Ketidak-aktifan fisik akan membuat tubuh kita mengalami penuaan yang lebih cepat.

Fakta-fakta di bawah ini menunjukkan bahwa:

  • Orang dewasa yang sudah tua sebanyak enampuluh persen tidak aktif
  • Duduk dan berbaring untuk waktu yang lama adalah penyebab memburuknya kondisi kesehatan yang serius (penemuan World Health Organisation)
  • Ketidak-aktifan menambah kondisi menurunnya kekuatan tulang, kekuatan otot, ketahanan jantung dan paru
  • Ketidak-aktifan amat rentan terhadap kesehatan seperti halnya orang yang menghisap rokok.

Apakah hidup aktif itu?

Tetaplah aktif sesuai selera:

  • di rumah
  • di sekitar lingkungan
  • di antara teman-teman
  • di sepanjang jalan menuju ke tempat kegiatan aktif itu sendiri.

Menurut data di atas, sepanjang saya ingat, di dalam masyarakat Jawa dan Indonesia pada umumnya, secara sadar banyak praktek yang tidak sejalan dengan anjuran-anjuran di atas. Seorang senior harus dilayani, bahkan banyak yang secara sadar seorang senior amat senang dilayani oleh juniornya.

Seorang Bapak atau Ibu, bukan hanya Nenek dan Kakek, akan dilayani malah dengan hormat pula oleh anak-anaknya. Tidak akan dibiarkan seorang senior menyapu membersihkan rumah atau mencuci pakaian. Kesadaran tentang “kesalahan” semacam ini biasanya datang amat terlambat. Terbukti banyak orang yang terkena keadaan stroke amat sulit untuk memperoleh kesembuhan, karena tidak siap untuk aktif.

Biasa dilayani, oleh pembantu atau oleh anak dan cucu, tiba-tiba menjadi tidak berdaya dan oleh dokter dan paramedic malah diharuskan untuk aktif. Maka saya selalu mengingatkan bahwa seseorang yang terkena keadaan stroke, dianjurkan agar dibiarkan saja kalau memang bisa memasang bajunya atau pakaian dan lain-lainnya sendiri, memasang tali sepatunya, membuat minumannya sendiri atau mengambil bukunya sendiri. Jangan dibantu. Yang tidak dianjurkan adalah agar tidak mengerjakan pekerjaan berbahaya, seperti menyalakan kompor untuk masak. Pada saat-saat seperti inilah para penderita ini seakan-akan merasa tidak menerima bantuan dalam arti “dilupakan” karena sudah cacat!

Tanpa disadari maka timbulnya rasa amarah, akan menambah parah penyakitnya.

Marah sudah jelas akan menyebabkan tekanan darah tingginya yang bertambah, dan itu membuat kondisi si penderita akan lebih parah. Mengapa seorang penderita stroke dipakai sebagai topic?

Saya menyebut orang yang stroke dengan istilah terkena keadaan  stroke, karena stroke itu bukan penyakit, dan stroke sebenarnya  adalah akibat (merupakan muara) dari penyakit-penyakit.

Keadaan stroke itu memenuhi syarat sebagai contoh yang sesuai  amat relevan untuk mengaktifkan orang tua, justru bagi yang masih sehat  agar tidak diserang stroke dan bagi yang sudah terlanjur kena  stroke, agar supaya mempertahankan kondisi tidak menjadi lebih buruk.

Untuk diketahui bahwa orang tua yang biasa dan sehat saja, mengalami perubahan negative dari banyak sudut pandang, dari  segi physic ada penurunan kemampuan. Dari segi mental juga  banyak penurunan kemampuan, seperti kemampuan mengingat,  kemampuan berfikir dan tentu saja juga dalam kemampuan yang  memerlukan kecerdasan. Para penderita stroke mengalami apa  yang disebut dengan perubahan perilaku (change of behaviour). Yang dulunya penyabar menjadi cerèwèt dan isi pembicaraannya  kurang atau tidak masuk akal.

Sebaliknya mungkin sekali akan   menyebabkan terjadinya perubahan dari seorang yang extrovert  (terbuka / blak-blakan) menjadi orang yang introvert (condong mejadi pendiam / menjadi pemalu / menjadi seorang yang a sosial). Change of behaviour yang seperti begini justru membahayakan  kesehatannya, karena tidak mau lagi bergaul dengan teman dan sanak saudaranya, tendensinya seakan-akan ingin masuk dan bersembunyi didalam gua yang paling dalam; yang demikian itu malah membuat kemungkinan untuknya menjadi sembuh semakin kecil. Sesuai data yang  ada, apabila seseorang kena keadaan stroke, dan dia mau menjalani  upaya penyembuhan dengan benar, dia masih mungkin sekali untuk dapat hidup lebih dari tiga puluh tahun.

Hidup yang produktif pun bisa terjadi, menjadi pelukis, mengarang essay dan  cerita pendek. Malah ada yang bisa menciptakan lagu serta  bermain musik dengan sempurna. Seseorang yang sudah terlanjur menderita stroke harus menyadari bahwa sembuh seratus persen hampir tidak mungkin terjadi. Sembuh yang tertinggi di dunia IPS (Insan Pasca Stroke) ini hanya  mencapai sembilan puluh persen saja.

Dalam keadaan seperti ini dia bisa mengemudi mobil sendiri atau bahkan bekerja di kantor secara terbatas sesuai keadan physicnya.

Tetapi bagi yang belum diserang stroke, orang tua yang menjalani hidup lebih aktif dapat dianggap melakukan pencegahan segala macam penyakit termasuk penyakit yang menyebabkan stroke tersebut, misalnya cholesterol yang tidak seimbang dan tekanan darah tinggi serta kadar gula darah yang tinggi. Hal terakhir ini dapat dikerjakan apabila yang bersangkutan bersedia menerapkan sikap disiplin yang sempurna tetapi santai, tidak tegang.

Begitulah, seorang yang lanjut usianya harus aktif akan tetapi santai. Di Indonesia terkenal istilah SERSAN yang artinya Serious tetapi Santai. Yang disebut aktif tidak selalu identik dengan serious akan agak mirip dengan rajin, tetapi disiplin berkelanjutan. Yang kurang sedap dilihat dan dipandang adalah seseorang yang sakit, akan tetapi berputus asa demikian rupa, sehingga selalu menyebut kapan dia mati. Tentu saja dengan menggunakan kata-kata terselubung kapan dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Terhadap yang begini dianjurkan untuk dijawab dengan tegas dan tuntas dan mungkin akan kedengaran sedikit “kurang ajar”, yakni dengan mengatakan bahwa berpikir dan berharap seperti itu adalah pemikiran negatip. Kalau yang bersangkutan adalah orang  beragama, katakan saja imannya perlu dikuatkan dan tidak sekali-sekali meragukan Yang Maha Kuasa. Atau katakan saja dia telah tidak membangun semangat kebersamaan. Semua orang yang dicintainya menginginkan kesembuhan dan atau perbaikan kesehatan, akan tetapi si penderita sakit, dengan tega mengecilkan arti upaya penyembuhan oleh orang-orang sekelilingnya dan yang jelas-jelas telah menunjukkan cintanya.

Orang-orang sekelilingnya harus berupaya agar lebih mencintainya dan menunjukkannya dengan jelas, tidak cukup dengan sekedar mengucapkan kata-kata saja, agar sipenderita sakit mengubah sikap mentalnya menjadi positive, yaitu ingin mencapai kesembuhan. Bukan hanya sekali dua kali saya menganjurkan kepada orang-orang sekeliling sipenderita sakit, kadang-kadang harus “sedikit” diberi shock therapy atau terapi kejut. Hanya orang yang mencintainya dan orang yang terdekat dengan dia patut melakukannya.

Research telah menunjukkan bahwa hidup aktif telah menuntun manusia untuk dapat mengurangi risiko-risiko seperti disebutkan dengan berikut:

  • penyakit jantung koroner
  • terjatuh dan melukai badannya sendiri
  • kegemukan yang berlebihan
  • tekanan darah tinggi
  • serangan awal penyakit gula darah
  • kerapuhan tulang / osteoporosis
  • serangan stroke
  • tekanan mental / depressi
  • kanker usus
  • kematian dini

 

Kita tidak pernah terlalu tua untuk menjadi manusia yang aktif

Sebagian besar orang mengatakan bahwa mereka bertambah kemampuan fisiknya, daya tahannya dan kelenturan badannya, sejak mereka menjalani hidup aktif, termasuk mereka yang telah mencapai usia di atas sembilan puluh tahun. Dalam waktu singkat mereka akan merasakan kondisi lebih baik dan bergerak merdeka serta leluasa.

Hal-hal di bawah ini patut direnungkan:

  • makin banyak anda bergerak makin nyaman anda rasakan
  • makin banyak orang lanjut usia yang aktif mendapatkan rasa kemandirian dan rasa kebugaran seperti orang muda
  • makin banyak manusia aktif yang memperoleh perpanjangan rasa merdeka di dalam dirinya

 

Semua orang dapat memperoleh manfaat dari ke-aktif-annya

Orang yang mempunyai keterbatasan fisik bahkan yang kronis sekalipun dapat memperoleh manfaat dari hidup aktif.

Menambah tingkat keaktifan physic semampunya, akan menciptakan keadaan yang menunjang untuk melawan dan menolak effek negatip dari sesuatu penyakit, bahkan ketidak mampuan physic sekalipun.

Berapa nilai keaktifan yang harus dilakukan seorang lanjut usia?

Sebagian besar hari yang ada dalam satu minggu harus diisi dengan kegiatan routine sekitar 30 sampai 60 menit setiap kali. Tingkat ke-aktif-an tidak boleh dipaksakan seperti biasanya pada waktu masih muda. Harus selalu diingat bahwa sekarang sudah bukan orang muda lagi. Kalau ini dilakukan dengan teratur maka rasa badan sehat dan bugar akan terasa timbul segera. Bukankah ini semua tidak terlalu sukar untuk dilakukan? Kurun waktu tiga puluh atau enam puluh menit sebaiknya di bagi menjadi sepuluh menit setiap bagian dan lakukanlah dengan tanpa berhenti.

 

Kisah Jason

Usianya 68 dan dia baru mendapat serangan jantung ringan dan “terikat erat” di kursi duduknya. Dokternya bersikeras agar dia meningkatkan kegiatan fisiknya lebih banyak. Awalnya Jason bereaksi dengan ketakutan kalau-kalau yang seperti itu akan menyebabkan serangan jantung ulangan. Jason kemudian mengikuti Cardiac Rehabilitation Program (Program Rehabilitasi Jantung). Kata Dokter: ”Mulailah dengan perlahan dan tambahlah sedikit demi sedikit. Anda akan merasa lebih baik dan otot-otot di jantung  akan bertambah kuat dan akan lebih banyak pekerjaan yang ingin anda selesaikan, akan bisa dilaksanakan.”

Hanya berlangsung beberapa bulan, Jason sudah mengendarai sepeda trail dan berenang. Malah dia memilih naik tangga daripada menggunakan mesin lift.

Dokter terbaik adalah si penderita penyakit sendiri,

terutama dalam kedisiplinan menjaga kesehatan

 Anwari Doel Arnowo

Tuesday, July 19, 2006

 

21 Comments to "Menjadi Tua"

  1. T.Moken  15 July, 2011 at 09:43

    Pak Anwari, Selain yang disebutkan di atas, pola makan juga harus dijaga. Menurut dokter saya, umur antara 40 dan 50 thn, penyakit mulai berdatangan. Kurangi garam dan gorengan, banyak makan sayur (dark leafy green untuk mengurangi keriput dan pikun) dan buah-buahan. Thanks sudah mau berbagi, Pak Anwari.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.