[Family Corner] Ketika Buah Hati Ingin Belajar Mandiri

Yeni Suryasusanti

 

Sebenarnya kata “mandiri” terlalu “hebat” untuk menggambarkan maksud saya, namun terus terang saya belum menemukan kata lain yang lebih tepat untuk menggambarkan cerita tentang kemandirian yang saya maksud hehehe…

Cerita ini saya awali dengan nostalgia pengalaman saya sebagai seorang anak yang beberapa kali harus pindah kota mengikuti Papa yang bekerja sebagai PNS, sehingga tidak asing dengan travelling dan cukup terlatih beradaptasi karena terbiasa memulai pertemanan baru sebagai anak baru di sekolah yang baru.

Saya juga sangat beruntung memiliki orangtua yang dengan bijaksana melepaskan saya ketika saya ingin “belajar mandiri”…

Ketika saya berusia 4,5 tahun, saya masuk TK “0 Kecil” – demikian kami dulu menyebutnya – dengan usia yang setahun lebih muda dari seharusnya karena saya kesepian di rumah sedangkan kedua kakak saya sudah bersekolah :D

Merasa “sudah besar”, Ibu pernah bercerita bahwa saya hanya bersedia diantar dan ditunggui pada minggu-minggu pertama sekolah. Setelahnya, saya tidak mau ditunggui bahkan diantar. Kebetulan jarak sekolah dan rumah kami memang tidak jauh, seingat saya hanya sekitar 100 – 200 m berjalan kaki. Dan tentu saja, ketika itu rasa aman masih biasa kita rasakan karena kejahatan seputar penculikan dan pelecehan anak tidak semarak yang terjadi pada masa kini.

Pengalaman yang masih saya ingat dengan jelas adalah ketika nenek buyut saya sedang mengunjungi dan menginap di kediaman kami saat itu (di kota Pontianak, Kalimantan Barat).

Karena keinginan nenek, Ibu meminta saya mengizinkan nenek untuk mengantarkan saya ke sekolah.

Malas ribut dengan Ibu jika saya mentah-mentah menolak, saya mengizinkan nenek mengantar saya, namun begitu sampai separuh jalan, saya menyuruh nenek untuk pulang dan berkata bahwa saya malu diantar ke sekolah karena sudah besar. Ketika itu usia saya 5 tahun :D

Selain itu, masa kecil saya diwarnai dengan kesan betapa menyenangkan perjalanan liburan mengunjungi keluarga di lain kota. Saya akrab dengan para sepupu baik yang langsung maupun yang tidak langsung, karena Papa dan Ibu terkadang membawa kami untuk liburan dalam rangka silaturrahmi :)

Pada waktu liburan kelulusan SD (saat itu kami tinggal di Palembang), saya meminta perjalanan pertama saya tanpa didampingi orangtua : perjalanan Palembang – Dumai dan Pekanbaru untuk mengunjungi sepupu jauh saya dari keluarga Ibu.

Saya masih ingat Ibu dan Papa bertanya, “Neni berani pergi sendiri?”

Saya menjawab, “Berani kog… Kan naik pesawat aja, diantar dan dijemput pula.”

Ketika itu saya naik penerbangan Pelita rute Palembang – Dumai, dan berencana pergi ke Pekanbaru bersama Oom dan sepupu saya untuk mengunjungi keluarga lain disana. Kebetulan salah seorang Oom saya bekerja di maskapai Pelita di Bandara Dumai.

Jika dipikir saat ini, saya sangat menghargai bagaimana papa dan Ibu saya bisa tetap terlihat tenang melepaskan putri bungsu mereka yang baru berusia 11 tahun melakukan perjalanan sendiri, sedangkan kakak-kakak saya – seingat saya – tidak pernah meminta hal serupa :D

Saya ingat Ibu menitipkan saya pada Pilot dan Pramugari, dan berpesan agar saya jangan turun dari pesawat tanpa didampingi. Namun ternyata saya memang tidak perlu khawatir, karena sebagai petugas Oom saya bisa langsung menjemput saya ke tangga pesawat hehehe…

Tetap saja, perjalanan pertama itu sangat berkesan, karena saya merasa dipercaya sebagai seorang anak, meskipun anak bungsu yang selama ini sering dianggap anak bawang hehehe…

Perjalanan itu mengawali hobby saya travelling sendiri dan menjalin pertemanan dengan orang sama sekali belum pernah saya temui :)

Liburan kenaikan kelas 2 SMA (ketika itu kami sudah tinggal di Jakarta), saya kembali meminta travelling sendiri dan diizinkan berangkat ke Yogyakarta naik kereta api untuk mengunjungi salah seorang sahabat saya yang kebetulan ayahnya adalah teman Papa saya juga. Saya diantar ke stasiun Gambir dan dijemput di stasiun Yogyakarta. Liburan itu kembali menjadi pengalaman yang menarik bagi saya :)

Ketika saya kelas 2 SMA, di awal semester genap, Papa dipindahtugaskan ke Jayapura, Papua (saat itu Irian Jaya).

Ibu yang bekerja sebagai guru harus menunggu kenaikan kelas baru bisa pindah “ikut suami”, sedangkan kami tidak ada yang ikut pindah karena kakak pertama saya sudah kuliah, kakak kedua saya sudah mau tamat SMA, sedangkan saya tanggung untuk ikut pindah karena sudah mau naik kelas 3 SMA.

Sungguh suatu puncak kebahagiaan bagi saya ketika Papa menawarkan saya berlibur ke Jayapura ketika kenaikan kelas, perjalanan sendiri dengan kapal laut Umsini selama 7 hari. Sementara Ibu masih di Jakarta karena mengurus pendaftaran kuliah dan mencari kost untuk kakak kedua saya.

Saya rasa, ketika itulah kecintaan saya pada laut bermula :)

7 hari di laut tidak membuat saya bosan. Saya menghabiskan waktu dengan bersosialisasi baik dengan penumpang maupun crew kapal, menatap laut dari pinggir pagar kapal, atau sekedar membaca Kho Ping Hoo di Kabin jika cuaca sedang tidak bersahabat :D

Kapal bersandar di setiap pelabuhan (Surabaya, Makassar, Manado, Ternate dan Biak) selama 2 – 5 jam sehingga saya dan teman-teman baru saya sempat berjalan-jalan sebentar di seputar pelabuhan.

Ketika kapal tiba ditujuan, kami semua sudah seperti teman lama rasanya heheheh…

Saya ingat, ketika mendengar saya akan berangkat naik kapal laut selama 7 hari tanpa didampingi, Oom saya menelepon Papa, marah.

Saya kebetulan ada di ruangan itu, dan sampai sekarang kata-kata Papa sangat membekas di benak saya, “Ketiga anak saya perempuan semua. Saya harus bisa mengajarkan mereka untuk mandiri karena saya tidak akan bisa selalu mendampingi mereka setiap saat.”

Setelah itu Oom saya meminta berbicara dengan saya, berusaha menakut-nakuti agar saya menyurutkan niat berangkat sendiri.

“Nanti bahaya kalau kapal tenggelam, nanti diganggu orang”, dst… gertak Oom saya.

Dengan agak nyeleneh saya jawab, “Uwa, kalau memang udah ajal mah dimana aja bisa meninggal. Naik mobil dan kereta api bisa tabrakan, naik pesawat bisa jatuh. Baca bismillah aja Uwa, didoain aja Insya Allah Neni baik-aja…”

“Huh, kamu dan Papamu sama aja,” gerutu Oom saya, dan kata-kata itu bagi saya merupakan pujian tertinggi karena bagi saya Papa sangat luar biasa :D

Berpuluh-puluh tahun kemudian saya mengingat semua pengalaman saya belajar mandiri, dan saya kembali bersyukur sedalam-dalamnya karena memiliki orangtua seperti Papa dan Ibu saya.

Karena pernah merasa betapa besar arti kepercayaan mereka bagi saya dulu, saya juga belajar melepaskan Ifan yang ingin belajar mandiri.

Ketika Ifan naik kelas TK B, terinspirasi dari lagu yang dinyanyikan oleh Happy Holly Kids – serial TV Anak yang cukup nge-top saat itu – yang syairnya :

“Aku anak yang berani
Pergi sekolah sendiri
Walau tanpa mama papa
Aku tetap tidak takut
Sebab aku anak yang berani…”

Ifan meminta diizinkan untuk sekolah tanpa diantar pengasuh dan ditunggui. Sebelum itu, Ifan berangkat sekolah naik ojek langganan bersama pengasuhnya.

Ingat betapa hal itu merupakan hal yang mendebarkan sekaligus membanggakan, saya berkata, “Oke. Bunda senang Ifan mau belajar mandiri. Tapi bunda minta waktu 1 minggu untuk mempersiapkan segalanya.”

Saya menceritakan kepada Kepala Sekolah dan Guru mengenai keinginan Ifan belajar mandiri dan meminta dukungan dan pengawasan dari seluruh aparat sekolah.

Saya meminta komitmen dan mendoktrin ojek langganan yang sudah cukup lama saya kenal – yang rumahnya juga masih termasuk dekat karena berada di pinggir komplek perumahan tempat kami tinggal, mengenalkan ojek langganan tersebut kepada seluruh guru, penjaga sekolah dan satpam dengan pesan agar jangan mengizinkan Ifan dijemput oleh orang lain selain sang ojek langganan. Ifan pun tidak luput dari pesan-pesan sponsor, seperti jangan lupa pamit dulu kepada Guru sebelum pulang agar bisa diawasi siapa yang menjemput, dan melaporkan kepada Guru jika bukan ojek langganan yang mencoba menjemput. Dan Ifan pun memulai pengalaman mandirinya yang pertama :)

Ketika masuk SD, Ifan kembali bersekolah didampingi pengasuh karena anak-anak yang ramai pulang sekolah terlihat tidak terlalu terawasi. Saya tidak berani menggunakan ojek langganan karena pengawasan yang kurang ketat. Baru setelah Ifan kelas 3 akhirnya saya memutuskan menggunakan jasa Antar Pulang Sekolah yang memang dikelola oleh Yayasan Pendiri Sekolah :)

Liburan kenaikan kelas tahun ini, akhirnya Ifan (yang tahun ini akan berusia 11 tahun) mengukir sejarah travelingnya sendiri :)

Seperti yang sudah sering dilakukannya tanpa saya dan suami, Ifan berangkat berlibur ke Lembang dan Bandung ke rumah orangtua dan kakak saya.

Papa dan Ibu saya mengunjungi kami di Jakarta, dan Ifan ikut mereka saat pulang ke Lembang dan berlibur di Bandung selama seminggu. Masalahnya, liburan kali ini Papa dan Ibu saya tidak bisa mengantarkan Ifan hingga sampai di Jakarta kembali karena ada acara yang harus dihadiri, sedangkan saya dan suami ingin Ifan sudah berada di Jakarta pada tanggal 29 Juni 2011 karena kami akan berangkat ke Lampung pada tanggal 1 Juli 2011 untuk acara pernikahan keluarga suami.

Jika Ifan ingin tetap ke Bandung, maka Ifan harus berani pulang sendiri.

“Ifan berani pulang naik X-Trans sendiri?” tanya saya memastikan.

“Berani kog,” jawab Ifan mantap.

Cara Ifan menjawab mengingatkan saya akan diri saya sendiri dulu :)

Akhirnya, alhamdulillah Ifan selamat sampai di Jakarta. Ibu dan Papa saya menitipkan Ifan kepada supir X-Trans seperti dulu Ibu menitipkan saya kepada Pilot dan Pramugari :D

Ifan pun bercerita dengan bangga bahwa dia sudah berani pulang sendiri dari Bandung hehehe….

Jadi jika ada yang bertanya kepada saya, “Kapan saat yang tepat untuk melepaskan anak belajar mandiri?” dan “Bagaimana kita tahu bahwa mereka sudah siap?”

Maka seperti dalam film Finding Nemo saya akan menjawab, “Ketika mereka meminta,” dan “Mereka yang tahu bahwa mereka sudah siap”.

Jangan menghalangi kemandirian buah hati kita dengan alasan khawatir. Tugas kita sebagai orangtua adalah mempersiapkan jaring pengaman – bukan kurungan – semaksimal mungkin, kemudian berdoa dan menyerahkan penjagaan anak-anak kita ke tangan pemilik sejatinya : Allah Swt…

 

Jakarta, 12 Juli 2011

Yeni Suryasusanti

http://yenisuryasusanti.blogspot.com/

 

10 Comments to "[Family Corner] Ketika Buah Hati Ingin Belajar Mandiri"

  1. Yeni Suryasusanti  18 July, 2011 at 11:24

    JC, iya ya, biasanya ibu2 yg suka nggak tega ngelepas anak wkwkwk
    Oom DJ, betul, di LN anak2 sepertinya lebih mandiri ya… mungkin karena pengaruh juga nggak ada pengasuh dan asisten rumah tangga
    Daisy, hayo, mau dipinang? hihihihi
    Kembangnanas, betul, dulu aku daftar, ujian dan mengurus pembayaran kuliah sendiri. masih inget naik bis bawa uang 3 juta di tas pinggang hihihihi… ah, udah lewat 19 th

  2. kembangnanas  16 July, 2011 at 22:04

    aku pikir skr sangat berbeda dg jaman sekolah dulu, keknya dulu cari sekolah aja bapak ibu dah ngelepas sendiri buat ndaftar kemana, tp skr keknya emak bapaknya yg sbuk nyariin informasi buat anak2nya mw sekolah dimana. apa itu artinya skr kemandirian anak sdh mulai hilang ya? ato orang tua yg gk percaya utk melepas anak2nya?

  3. Daisy  16 July, 2011 at 11:32

    Wah, Ifan kereeen

  4. Dj.  15 July, 2011 at 16:27

    Mbak Yeni….
    Terimakasih untuk kisahnya….
    Jujur, dari pengalaman sendiri, kalau ttg. kemandirian, orang Asia jauh dibelakang, dibanding orang Eropa.
    Kalau melihat istri mendidik anak-anak, kadang malah Dj. yang tidak tega…..
    Sejak bayi sudah tidur sendiri, sedikit besar, ya sama, jam 20:00 langsung kekamar sendiri dan tidur, tanpa ba..bi..bo…
    Sekolah tanpa diantar-jemput,( jalan kaki, pulang pergi ), tanpa uang jajan, bawa roti, air minum dari rumah.
    Sejak kecil tau menghargai uang, karena umur 12 tahun sudah bisa antar koran dihari Sabtu, untuk uang saku.
    Sudah sedikit lebih besar, kalau beli sesuatu yang diinginkan, harus nambah sendiri dari uang sakunya.
    Contohnya, kami bisa membelkan sepatu seharga € 50,- kalau ia ingin yang lebih bagus dan bermerk yang harganya € 65,- yang € 15 harus nambah sendiri. Disitu anak-anak juga molai mikir.
    Kadang mereka sendiri yang berkata, punya uang sekian, tapi harga barsang sekian, bisa ditambahi…???
    Kadang Dj. yang tidak tega.

    Pernah ada mahasiswa yang main kerumah, dilihat malah masih seperti kanak-kanak yang belum mampu untuk hidup sendiri. Juga ada, bahkan banyak yang sudah coba beberapa bulan dan akhirnya pulang.

    Kemarin, anak ragil yang kuliah kira-kira 200 Km dari rumah telpon.
    Dj. nanya, apa perlu uang..???
    Dia jawab, tidak, hanya ingin tau, apa ada suratnya yang datang dirumah…??
    Dengar kata uang, kakanya yang kebetulan ada dirumah kami, langsung menyahut….
    Saya U Dewo ) sudah sering menawari, kalau perlu uang, kasi tau dan dia akan kirim.
    Tapi sampai sekarang belum pernah dia telpon tentang uang….

    Nah ya, lain lubuk, lain pula ikannya….
    Salam Damai dari Mainz…

  5. J C  15 July, 2011 at 14:07

    Bener sekali Yeni, kadar kemandirian jamanku dulu jelas beda banget sama jaman sekarang…dan untuk masalah kemandirian, cukup jarang seorang ibu bisa seperti Yeni. Kebanyakan seorang ibu lebih kuatir melepas anak mandiri ketimbang bapaknya. Pengalaman pribadi sih, dulu mama susah banget melepas aku ke sekolah naik sepeda sendiri, papa yang iya saja… sementara aku yang nekad juga

  6. Yeni Suryasusanti  15 July, 2011 at 12:25

    DA, thanks

    Linda, betul, beda generasi beda cara, beda anak pun beda kemandiriannya

    SU, kakak saya juga pernah ngomel karena papa lebih percaya saya utk “urusan luar”. ternyata kepercayaan itu juga pengaruh dari karakter. saya galak, kakak saya lemah lembut, jadi papa khawatir di ganggu orang heheheh

    Never, terima kasih kembali, semoga kelak dipercaya membesarkan titipan Tuhan

  7. nevergiveupyo  15 July, 2011 at 11:19

    wow… sharing yang luar biasa…. kalimat ini : mengingatkan saya akan diri saya sendiri dulu sungguh bermanfaat bagi saya… semoga akan selalu saya ingat baik2.. mengingat jika anak saya (nantinya, jika diberikan kepercayaan membesarkan titipan Tuhan) mirip dengan saya.. dan saya tidak membaca serta mengingat ini.. dijamin … hancur lebur lah rumah…
    haturnuhun pisan euy teh neni

  8. SU  15 July, 2011 at 10:53

    Saya dilarang berkemah, dilarang ke disko sebelum 17 th, dilarang nyebrang sendiri sampai lulus SD. Tapi kepada adik2, ortu lbh memberi byk kebebasan.

    Saya sependapat dg Linda bhw beda generasi, beda pula cara berkomunikasinya, beda pula cara kemandiriannya.

    Anak2 saya yg masih 7 dan 4 tahun level kepercayaan dirinya dan mandirinya berbeda sekali dg jaman saya kecil dulu.

  9. Linda Cheang  15 July, 2011 at 09:43

    Mbak Yeni, saya justru bingung dengan beberapa sikap kerabat saya yang tidak mengizinkan anak-anaknya pergi sendirian untuk jarak yang tidak seberapa jauh, lebih karena kuatir yang sangat berlebihan dan tidak ada alsannya.

    Satu hal yang amat jelas buat saya : beda generasi, beda pula cara berkomunikasinya, beda pula cara kemandiriannya.

  10. Dewi Aichi  15 July, 2011 at 09:23

    mba Yeni tulisannya ciamik, ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.