[Serial de Passer] Narti Membuka Rahasia

Dian Nugraheni

 

Astari kecil, mungkin terlalu dini memulai pergulatan hidupnya di belantara dunia. Bagi anak-anak kecil sebayanya, yang hidup normal bersama Bapak Ibunya, mungkin tak akan mengalami hari-hari seberat yang sampai hari ini dijalani Astari.

Tapi, hari-hari berat itulah yang nantinya, akhirnya, akan menahbiskan Astari sebagai perempuan tangguh yang banyak menyimpan memori, dari banyak kejadian, yang kemudian dia definiskan sendiri, apa dan bagaimana harus menghadapi masalah yang timbul.

Seperti kali ini, ketika Astari harus memecahkan masalahnya sendiri, mengapa Menot tiba-tiba mengeluarkan ancaman ketika dia, Witri, dan Entik menyaksikan Ketoprak di Tivi di rumah Bu Sri. Atau, bagaimana bisa Ibu Witri tiba-tiba memberi pernyataan yang meyakini bahwa benar, Astari memang mencuri sandal jepit milik Mbah Karsan.

Sejak saat itu, Witri memang tidak pernah main lagi sama Astari, dia hanya melongok-longok dari jendela depan rumahnya, seperti ingin keluar rumah, tapi tak boleh. Tapi, Entik masih setia bermain dengan Astari. Siang ini juga, sepulang sekolah, Astari dan Entik main pasar-pasaran di halaman rumah Astari yang luas dan rimbun oleh pepohonan. Ada pohon Nangka, beberapa pohon pisang, dan pepohonan sayur-sayuran macam Bayam, Cikla-cikli, di samping, agak ke depan halaman rumahnya.

Sedangkan tepat di halaman depan rumahnya, ada pohon Pepaya Jinggo, ada rumpun Mawar dengan bunga yang tiada henti bermekaran, pohon Bunga Menur, bunganya mirip bunga Melati tumpuk yang sangat harum baunya, yang bertumbuhan liar di sana-sini, bunga Esok Sore, bunga-bunga kecil aneka warna, putih, kuning, merah, dan juga rumpun-rumpun bunga Sri Rejeki dengan dedaunannya yang indah.

Kali ini Astari dan Entik sedang meracik berbagai dedaunan dan bunga-bungaan yang akan digunakan sebagai dagangan di “warungnya”, begitulah kata Astari dan Entik yang sedang main pasar-pasaran. Setelah selesai meracik, seperti layaknya penjual betulan, mereka berdialog, “Wahh, hari ini kok sepi amat yaa, nggak ada satu pun pembeli yang datang ke warungku,” kata Astari.

Entik tertawa, “Yaaa…, warungku juga sepi…, moga-moga sebentar lagi datang pembeli…”

Tiba-tiba, datanglah Narti, gadis kecil ini sedikit lebih tua dibandingkan Astari dan Entik. Kulitnya coklat, rambutnya hitam legam dikepang dua, bibirnya manis, matanya belok, lebar. Astari suka memandang wajah Narti. Dia berlari kecil membawa sebuah boneka plastik yang digendongnya dengan selendang kecil pula, “Bolehkah aku ikutan main..?”

“Tentu saja.., kamu jadi pembelinya yaa, uangnya pakai daun Nangka kering yang warnanya oranye…” sahut Astari cepat. Narti mengangguk, dan segera berlari mencari daun-daun Nangka yang sudah jatuh ke tanah, warnanya oranye indah, mengkilat.

Sesaat kemudian, terjadilah kegiatan jual beli di tempat mereka bermain. Narti membeli rujak di warung Astari, dan kemudian membeli Lupis, jajanan dengan kuah Juruh, gula merah cair, di warung Entik. Mereka tertawa-tawa senang, melupakan segala masalah.

Tapi sejurus kemudian, Astari memandang kepada Narti dengan sedih, ingin mengucapkan kata, tapi tak mampu.Tapi ternyata Narti mengerti tatapan Astari butuh jawaban. Bahkan dia langsung bicara, “Maafkan Menot, adikku yaa, aku sudah dengar ceritanya. Sebenarnya aku pun nggak suka punya adik seperti dia, di rumah, dia pun saangat nakal, aku sering kena tinju dan tendangannya kalau dia lagi ngambek atau marah. Tapi Bapakku diam saja, Ibuku hanya bisa melarang, tapi.., Menot memang begitu…”

Astari mengangguk-angguk, tersenyum tipis, mencoba untuk memaklumi keadaan Menot yang kata Narti, “memang begitu…”.

Tapi ada yang mengejutkan, ketika kemudian Narti melepaskan gendongan pada bonekanya, dan meletakkan dengan hati-hati di tanah, dialasi dengan selendangnya, seolah-olah Narti tak mau “bayinya” kotor atau kedinginan bila hanya digeletakkan begitu saja di tanah.”Kemari, aku kasih tau sebuah rahasia…”

Astari dan Entik kontan mendekat pada Narti, sangat dekat, bertiga membentuk sebuah lingkaran kecil tertutup, untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Narti secara berbisik. “Kamu tau nggak…, Bapakku baru datang dari luar kota, dia membawa barang-barang, banyaaak.., ada radio transistor, ada gelang emas, ada pakaian, ada barang pecah belah, semua bagus-bagus..,” bisik Narti.

Astari refleks bertanya, “Apakah Bapakmu habis belanja di luar kota..?”

Narti menggeleng, dengan lugu dia bilang, bahwa Mbak Min, Ibunya, malah menangis ketika melihat barang-barang bawaan Pak Tris, demikian nama Bapaknya Narti. Pak Tris adalah seorang Bapak muda, perawakan kecil, sangat enerjik, suka tertawa dengan ramah bila berhadapan dengan tetangga, tapi, bila sedang sendirian, Astari sesekali pernah menangkap wajah bengis seperti milik Menot, hanya di wajah yang lebih dewasa.

Sedangkan Mbak Min, Ibu Narti, adalah perempuan lemah lembut, suaranya lirih dan sangat ramah, dia jualan Soto bersantan bening, rasanya sangat gurih, karena sotonya ditaburi Gebing sebagai pengganti Brambang Goreng. Gebing adalah kelapa yang diiris tipis-tipis dan digoreng sampai kering kecoklatan. Astari kadang dibelikan oleh Mbah Lukito, Soto buatan Mbak Min, untuk teman makan nasi.

“Ibuku menangis, dan bilang sama Bapakku agar Bapakku enggak mencuri lagi…” kata Narti, bicara tanpa beban, seolah-olah itu bukan rahasia, meski semula dia bilang, itu rahasia.

Astari terkaget-kaget. Kemudian Narti juga bilang, “Kapan-kapan kalau Bapakku pergi, Ibuku pergi, Menot pergi, kalian aku ajak ke rumahku, untuk melihat barang-barang itu…, aku suka juga sih barang-barang itu, tapi kata Ibuku, itu barang panas, karena itu barang curian…”

Masih juga Narti menambahkan, “Kemaren itu, setelah kalian pulang lebih awal ketika nonton Ketoprak, tak lama kemudian Menot keluar juga, dan diam-diam aku dan mbak Anik, tau kan Mbak Anik, anaknya Pak Suhud, nahh, kami mengikutinya dari belakang, Menot mengambil sandal jepit warna hijau, dan dibawanya ke halaman rumahmu, Astari, di taruh di bawah rumpun Mawar, dan ditumpukin batu-batu biar keliatan tersembunyi. Besoknya, ketika aku tanya hal ini sama adikku, dia marah, aku malah dipukulnya di mukaku, sakit… ” Ketika bilang demikian, Narti mengelus ujung pipinya, dan Astari memang melihatnya ada bekas biru seperti bila tubuh Astari terantuk benda tumpul.Ohh, itu bekas Narti kena pukul Menot….

Tiba-tiba ada suara memanggil, “Nartiiii…, pulang…, bantuin Mamak mencuci piring…!” . Itu suara Mbak Min, Ibu Narti.

Narti terkaget dan bergegas menjawab, “Iya, Maaak…, aku pulang…” demikian teriak Narti sambil menyambar bonekanya. Dia berhenti sejenak sambil berbisik tertahan, “Ingat ya, rahasia, jangan bilang siapa pun…”

Astari dan Entik hanya mengangguk. Diam tak bersuara. Bingung dan kaget dengan berita besar yang disampaikan Narti. Astari memandang Entik, Entik pun menatap Astari, dan berkata, “hiii.., ngeri yaa..”

Astari masih terdiam, hanya mengangguk tanda setuju dengan kengerian Entik. Pandangannya jauh ke depan menatap sesuatu yang belum terdefinisi. Tapi setidaknya, dalam hatinya merasa lebih ringan, ada lagi orang, yaitu Narti dan Mbak Anik, begitu kata Narti tadi, yang telah menguatkan, bahwa pencuri sandal Mbah Karsan bukan dirinya, tapi Menot sendiri.

Tinggal Witri yang dipikirkannya, Astari sayang pada temannya yang satu ini, sebenarnya, tapi dia tak tahu apa yang terjadi dengan Witri sehingga Ibunya berpendapat bahwa Astarilah yang mencuri sandal jepit itu.

Kembali Astari memikirkan Pak Tris, kalau benar demikian, ternyata, mereka bertetangga dengan seorang Pencuri. Tapi, bila Bapaknya adalah Pencuri, apakah anaknya, Menot, juga harus menjadi Pencuri…, itu yang terlintas dalam pikiran Astari. Dan dia merasa ngeri. Pencuri sama dengan melakukan tindakan yang merugikan, tidak baik, dan mungkin juga mereka bisa kejam, bisa memukul orang, atau apa lah…Astari tak mampu mengatakan jenis kekejaman yang mungkin saja terjadi, hanya satu rasa yang ada saat ini, ngeri..seperti kata Entik.

Bayangan-bayangan buruk yang mengkhawatirkan melintas-lintas cepat di otak Astari. Tiba-tiba Astari sangat ingin menjauh dari semua itu. Apa yang harus dilakukannya..? Mungkin, pindah rumah adalah paling tepat yang harus dilakukan. Pindah rumah..? Ke mana ? Perkara besar, Astari tau itu tidak mudah…

 

Salam “Pembuktian”

Kisah selanjutnya, “Astari menemukan Farah yang meminjaminya buku-buku cerita…”InsyaAllah, semoga masih tetap bisa menuliskan lanjutan cerita ini.

 

Virginia,

Dian Nugraheni,
Sabtu, 21 Mei 2011
(Sabtu yang hangat….)

 

8 Comments to "[Serial de Passer] Narti Membuka Rahasia"

  1. Dewi Aichi  17 July, 2011 at 22:38

    Nev….komen no 2 wkwkwkkkkww….ha ha ha ha…hi hi hi….tau aja ahhh

  2. Dewi Aichi  17 July, 2011 at 22:37

    Narti membuka rahasia, Lani dan Anoew membuka baju(mau mandi ceritanya), aku membuka pintu dan jendela, Donald membuka cadar, JC, Iwan , Ilham, Mea membuka mulut masing-masing untuk makan mie,

  3. probo  15 July, 2011 at 16:02

    dian…makaish ya…….

    semoga menot bukan Buah apfel jatuh tidak jauh dari pohonya.
    tapi buah yang digondol kalong…..jatuh jauh -jauh dari pohonnya

  4. Dj.  15 July, 2011 at 15:47

    Buah apfel jatuh tidak jauh dari pohnnya.
    Itu pepatah orang Jerman.
    Tapi tidak mutlak, kalau buah apfelnya di gondol kalong, jatuhnya bisa jauh sekali.
    Hahahahahahahaha…..!!!
    Terimakasih mbak Dian dan salam manis dari Mainz.
    Ditunggu ceritanya sampai Astari besar.

  5. J C  15 July, 2011 at 14:08

    Waduuuuuhhhh…si bapak ternyata berprofesi sebagai maling…

  6. Lani  15 July, 2011 at 12:16

    kang Anu……kang Anu…..dimanakah dikau gerangan? semua temanmu disini wis melung2 koar2 tp msh mingslep saja dirimu…….kang Anuuuuu…..tangi kang…..dikangeni lo

  7. nevergiveupyo  15 July, 2011 at 10:59

    abseenn….

    dulu astari sering dicontek di sekolah oleh temennya (yang ngasih testimoni kalo Anoew minjemin buku ke astari)
    hehehehe

  8. Dewi Aichi  15 July, 2011 at 09:22

    Dulu Astari sering dipinjami buku sama Anoew, waktu sekolah..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *