Cerita Liburan 1: Labuan Bajo, Here I Come

Anastasia Yuliantari

 

Rencana liburanku ke Labuan Bajo bisa dikatakan maju mundur. Sudah lama direncanakan tapi kelihatannya sulit dilaksanakan. Ketika hal ini aku ceritakan pada seorang teman, dia menganjurkan agar aku membulatkan tekad untuk meninggalkan segala kesibukan dan berlibur tanpa beban pekerjaan. Masalahnya tak semua pekerjaan bisa ditinggalkan. “Kamu sudah menyatu benar dengan budaya Manggarai, ya?” Maksudnya? “Belum apa-apa kata pertama yang dilontarkan adalah: Masalahnya.” Karena yang mengatakan adalah orang Manggarai aku menyambutnya dengan tawa gelak.

Setelah liburan benar-benar tiba, aku tak juga berniat pergi. Banyak alasannya, antara lain harus mengikuti suami ke kampung. Memang bukan aku yang pelesiran ke kebun, tapi sebagai seorang istri mendukung dari belakang adalah keharusan. Hal ini berdasarkan pengalaman, bukan karena petuah dan anjuran.

Lalu sebuah telepon di tengah malam membuatku membulatkan tekad untuk pergi. Suami akur-akur saja karena kebetulan ada special occasion yang membuatnya tak bisa menolak. Maka bersukarialah diriku. Walau hanya berbekal sebuah ransel tak mengapa, yang penting acara keluyuran bisa berlangsung.

Tepat tengah hari kami pergi. Masing-masing menyandang sebuah ransel perlengkapannya sendiri. Melihat tujuannya ke pantai kami hanya mengenakan jeans belel, kaos oblong, dan sandal jepit. Rasanya sayang bila sepatu bagus kemasukan pasir ketika ingin berkelana menyusuri pantai. Tak lupa pula topi dan sunglasses. Bukan hanya untuk gaya, tapi dua benda itu memang sungguh dibutuhkan demi kesehatan dan juga kecantikan. Tanpa tutup kepala di bawah terik matahari selalu membuatku pusing. Sementara sunglasses membuat mata tak perlu memicing dan pangkal hidung berkerut. Memicing dan mengerut tanpa terasa menurut pakar kecantikan mempercepat timbulnya kerut, dan jelas aku tak ingin segera memiliki kerut-merut itu.

Perjalanan menuju Labuan Bajo selalu menyenangkan. Secara sugestif hal itu mendekatkanku dengan asalku walau masih harus sejam terbang menggunakan pesawat. Rasa senang membuat hati terasa hangat, puas, sekaligus penuh harap. Selain itu, setelah berbulan-bulan di daerah dingin rasanya sangat menyenangkan bisa menggunakan pakaian yang aku suka tanpa perlu bingung memikirkan jaket dan payung bila mendadak turun hujan. Ya, Ruteng tak mengenal musim untuk mngumpulkan awan di langitnya dan menurunkan hujan sekehendak hatinya. Seperti sekarang, saat menuliskan catatan ini, hujan sedang turun. Hujan di bulan Juli? Ya, walau sajak Sapardi Djoko Damono tentang hujan di bulan Juni sudah menunjukkan suatu peristiwa yang nyaris mustahil.

Setengah perjalanan sangat kunikmati. Kelokan jalan selalu menghadirkan perbukitan hijau dan lembah yang keabuan. Di beberapa tempat tampak penjual jeruk sedang duduk di lapak-lapak mereka tanpa hendak menjajakan dagangannya. Walau sekarang musim jeruk, tak banyak yang diperdagangkan. Mungkin akibat cuaca tak menentu pohon jeruk tak banyak berbuah, sama halnya dengan komoditas perkebunan lain seperti kopi dan coklat. Dalo sebagai salah satu sentra jeruk juga tak tampak menguning dengan buah yang matang di pohon seperti tahun kemarin. Beberapa pohon hanya menghasilkan buah kecil-kecil yang matang sebelum waktunya. Ah, perubahan cuaca dan musim memporak-porandakan banyak hal.

Setelah mendekati Lembor, tubuhku mulai limbung. Bila tak dalam kondisi fit, mabuk adalah hal yang pasti terjadi padaku. Bukan mabuk sampai muntah, namun justru pusing dan sakit perut yang menyerang. Bila sudah demikian tak banyak lagi keindahan yang bisa kunikmati. Setiap saat yang kutanyakan pada Max adalah berapa lama lagi akan sampai di Labuan. “Mungkin setengah jam lagi, dear.” Jawabnya tenang. Ah, aku sudah sangat pusing dan perut melilit, nih. “Ya, tahan saja to. Kita nyanyi-nyanyi saja.” Ah, mana bisa mabuk disuruh menyanyi, sih?

Untunglah tak berapa lama sampailah kami di hotel langganan kami setiap pergi ke Labuan. Walau telah memesan tempat sebelumnya tetap ditanyakan berapa lama menginap. Ada masalah apa lagi? “Besok ada rombongan datang dari Jawa, jadi kamar-kamarnya harus kami sesuaikan.” Ya sudah, kami menginap tiga hari. “Kartu Identitasnya bisa kami minta?” Tanya resepsionis. Aku dan Max saling tunjuk dan kemudian sama-sama menyadari kalau tak ada seorangpun membawa kartu identitas.

“Kami deposit saja, deh.” Kataku memutuskan setelah petugas front desk itu tak juga surut meminta keterangan.

Kunci sudah di tangan. Sambil menuju ke kamar yang ditunjukkan petugas, Max nyeletuk, “Wah, kalau tiba-tiba ada pemeriksaan KTP seperti di acara laporan kriminal di TV itu bisa bahaya kita, dear?” Apa sebab? “Nanti dikira kita pasangan selingkuh, nih yang langsung digerebek petugas.” Haaa??? Enak aja. “Lha, kan tak ada identitas.” Ujarnya sambil tertawa.

“Ga usah khawatir,” Kataku. “Aku hapal tanggal lahirmu sampai alamat rumah dan nama orang tuamu.”

“Apa hubungannya?”

“Di TV tuh, pernah aku lihat mereka ditanya tanggal lahir dan tempat tinggal pasangan. Karena memang selingkuh atau sedang sial mereka tak dapat menjawabnya. Ya, bermasalah jadinya.”

“Sok tahu, ah!”

Biar saja dikatakan sok tahu, aku sudah ingin membaringkan diri di kasur untuk meredakan sakit kepala dan perut mulas karena mabuk. Setelah itu bolehlah memesan segelas ice lemon tea sambil menikmati pemandangan kapal nelayan yang pulang melaut diiringi angin senja.

Ah, Labuan Bajo. Here I come.

 

25 Comments to "Cerita Liburan 1: Labuan Bajo, Here I Come"

  1. Linda Cheang  18 July, 2011 at 16:17

    Ayla, aduh, sayang amat kalau plesirannya pakai acara mual-mual, sakit kepala, hiks.. hihihi

  2. Anastasia Yuliantari  18 July, 2011 at 15:02

    Mas JC: yaaaa….harus datang ke IBT, to. Jangan IBB saja…hehehe.

  3. Anastasia Yuliantari  18 July, 2011 at 14:59

    Mbak Hilda: ada beberapa pantai lain yg keren. Tapi yang paling gampang diakses emang Labuan Bajo. Selamat datang di Flores, ya.

  4. Anastasia Yuliantari  18 July, 2011 at 14:56

    Pak Handoko: kapan gatang lagi ke Flores, nih?

  5. Anastasia Yuliantari  18 July, 2011 at 14:53

    Pak DJ: sama-sama Pak. Saya juga selalu menyukai Mainz-nya Pak DJ

    Kembang Nanas: silahkan aja.

    Mbak Nunuk: hahahahha….berat, Mbak. Makanya minta libur suatu waktu….hehehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.