Psikiater

Ki Ageng Similikithi

 

“Horas bah. Lamo nggak basuo boss”. Saya menyapa dan menyalaminya dengan hangat.  Kami bertemu untuk  rapat di salah satu RS Jiwa di Jawa tengah di tahun 1998. Dr. Sus, seorang psikiater menjabat direktur di sana, semenjak  dua tahun sebelumnya.

Dia memandang saya dengan tatapan aneh waktu itu. Mungkin pangling dan kaget. Karena selama hampir delapan tahun tidak bertemu.  Tetapi menjawab. “Horas bung. Ketemu di sini, silahkan duduk”.  Saya merasa agak aneh. Reaksinya  terasa agak dingin dan asing. Dia senior saya waktu menjalani pendidikan dokter.  Kami sempat akrab ketika sama sama ko skap di bagian Psikiatri. Orangnya tampan dan kalem. Seorang pemain band,  tokoh mahasiswa populer di kampus.  Isterinya  dokter seorang ahli anak yang cantik. Selama beberapa tahun sebelum menduduki jabatannya sekarang Dr. Sus bertugas sebagai direktur rumah sakit jiwa di luar Jawa.

Pagi itu rencana akan menandatangani kerja sama penelitian dengan rumah sakit yang dipimpinnya.  Saya berangkat dengan tim lengkap   dari Yogya. Saya lihat tim  sponsor dari Jakarta juga sudah hadir lengkap di ruangan. Jam menunjukkan sudah lewat jam 1100. Rencana rapat mulai jam 11. Dr. Sus nampak gelisah, bolak balik melihat ke arah pintu depan. Seperti ada seseorang yang dinanti nanti. Kadangkala dia menatap saya. Tatapannya  aneh. Kadang2 menggelengkan kepala, mungkin ada sesuatu yang mengganjal dalam benaknya.

Saya tanya ke salah satu staf, mengapa acara belum juga mulai. Jam satu kebetulan ada janji mau ketemu  dengan teman lama di lapangan Tidar. Staf saya berbicara sebentar dengan  staf Dr. Sus. Kemudian datang ke saya, memberitahu kalau Dr. Sus masih menunggu seorang teman dokter dari Yogya, Dr. Santoso. Saya terhenyak. “ Ya saya ini orangnya”. Staf tersebut nampak terkejut. Lalu kembali memberitahu Dr. Sus, jika yang ditunggu sudah hadir.  Saya memang sudah tilpon dia beberapa hari sebelumnya, mengatakan jika saya akan datang sendiri, saat penanda tanganan kerja sama.

Setelah diberitahu oleh stafnya, Dr. Sus memandang saya dengan tajam dari seberang ruang. Dia menggeleng gelengkan kepala dan langsung mendekati saya.  “Dancuk, tak enteni wiwit mau sampeyan”. Saya ketawa dan menyalaminya. “Saya sudah di sini hampir setengah jam”.  “Lha sampeyan ndadak bilang horas bah, pangling saya. Saya kira pasien saya”. Batin saya menggerutu, teman lama kok dikira pasien. “Sori ya pak, ada pasien saya  mirip sampeyan, selalu bilang horas bah setiap kali datang periksa”.  Kami ketawa bebas. Seperti jaman waktu ko skap di bagian jiwa dulu.

Acara penanda tanganan berlangsung singkat dan lancar. Hanya pas  pidato menyebut nama saya, dia nampaknya tak dapat menahan geli.  Berhenti sejenak, menahan tawa dan menggelengkaan kepalanya. Mungkin geli karena peristiwa pertemuan barusan. Dalam acara makan siang kami sempat ngobrol.“Anda psikiater hebat bung. Masih main musik aktif”. Dia mengingatkan saya saat tentamen waktu akhir ko skap, gurubesar almarhum yang kami hormati bercanda mendamprat  saya. “Mas kalau ada dua orang saja seperti sampeyan jadi psikiater di Yogya, separoh penduduk Yogya bisa malah jadi gila semua”. Saya ingat Dr Sus saat tentamen di tahun 1974, bisa menjawab semua pertanyaan dengan lancar dan meyakinkan.  Sehabis makan siang saya pamitan. Tim saya dan timnya Dr. Sus masih bertemu membicarakan masalah teknis dan koordinasi  penelitian.

Meski ada insiden konyol tersebut, hubungan kami tetap baik.  Saya memang mengaguminya sejak mahasiswa  dulu. Dia aktifis mahasiswa penuh kharisma dan gemar main musik. Peristiwa konyol itu mengingatkan saya sewaktu ko skap psikiatri di tahun 1974 dulu. Kami berempat tugas di rumah sakit Pugeran Yogyakarta. Dia suka cerita yang aneh aneh. Suatu siang sebelum pulang Dr. Sus bercerita. Dia masih ko as waktu itu. Belum jadi dokter. Belum jadi psikiater. “Ki membedakan perilaku psikiater dengan pasiennya kadang kadang sulit. Inilah buktinya”.

Seorang psikiater senior  secara rutin melakukan konsultasi dengan pasien pasiennya tiap hari di kamar dokter di rumah sakit. Di depan ruang dokter tadi ada sebuah ruangan kosong yang belum terisi. Rencana akan dipakai untuk ruang periksa juga. Suatu hari dia melakukan konsultasi psikiatriknya. Secara urut pasien datang ke kamarnya beraturan.

Pasien pertama, seorang pria, setelah selesai konsultasi,  keluar dari ruangan. Sebelum pergi pasien itu menengok kamar kosong didepan kamar periksa dan menggeleng-gelengkan  kepalanya. Seolah ada sesuatu yang aneh di sana. Sang psikiater heran, ada apa kok pasien sepertinya  melihat sesuatu di kamar sana.

Pasien kedua, seorang wanita, begitu keluar  ruangan selesai konsultasi, pasien juga menengok kamar kosong, lalu menggeleng-gelengkan kepala dengan jelas. Seolah ada sesuatu yang membuatnya kaget dan heran. Sang psikiater mengamati dengan penuh tanda tanya.

Pasien ketiga, seorang wanita begitu keluar ruang periksa, juga menengok kamar kosong di seberang, dan menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah penuh dengan tanda tanya dan rasa kaget.

Sang psikiater, tak bisa menahan rasa ingin tahunya. Ada apa kok pasien pasien ini selalu menggelengkan kepala keheranan melihat ruang di depannya. Dia berdiri dan keluar mengecek ada apa di kamar seberang. Ternyata dia tidak menemukan sesuatu. Hanya ruang kosong. Dia berpikir. “Dasar orang gila, tak ada apa apa kok geleng-geleng kepala”. Dia menggerutu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum kembali ke kamar periksa. Tiba tiba saja semua pasien yang sedang menunggu untuk konsultasi dengan sang psikiater, ramai ramai berdiri, berebut menengok kamar kosong itu. Lalu serentak menggeleng-gelengkan kepalanya.

Saya ingat kami tertawa tergelak gelak mendengar cerita Dr. Sus waktu itu. Namun insiden konyol  di tahun 1998 itu tak pernah mengurangi rasa hormat dan kagum saya pada teman-teman saya  yang berkarier di bidang psikiatri. Saya selalu mengagumi mereka. Merekalah ujung tombak kesehatan jiwa di Indonesia.  Hanya jika ingat cerita Dr. Sus dan kisah konyol di rumah sakit jiwa itu, saya tak bisa menahan geli dan secara tak sadar menggelengkan kepala saya.  Edan ketularan psikiater aku. Moga moga teman teman psikiater saya tidak marah membaca cerita ini.

 

Salam damai, Ki Ageng Similikithi

Manila 10 Juli 2011

 

15 Comments to "Psikiater"

  1. DS  19 July, 2011 at 14:09

    ki….horas…..kalo di manado artnya saat……horas menulis…

  2. Ki Ageng  19 July, 2011 at 13:47

    @ Pak Djoko. Walaupun teknologi diagnostik dan pengobatan telah maju pesat, tetap saja faktor manusia masih pegang peran utama. Banyak variasi antar manusia dalam interpretasi gejala dan temuan temuan pemeriksaan. Apa lgi pemeriksaan psikiatrik. Waktu belajar dulu malah sering bingung sing edan ki pasiene apa doktere ya?
    @ Bu Nunuk. Terima kasih. Sayang saya tak bisa menemui Bu Sonya sebelum beliau pulang. Saya nggak tahu kalau ada musibah itu. Salam damai.
    @ Probo. Kalau geleng2 kan karena musik. Kalau manthuk manthuk bisa karena ekstasi lo.

  3. probo  19 July, 2011 at 11:35

    saya sering geleng-geleng kepala, kalau mendengar musik…apa lagi musik iringan tari, gelengan kepala bisa tambah gila……

  4. nu2k  19 July, 2011 at 04:29

    Kangmas Budi… Ehhh salah, Ki Ageng, selamat bertemu lagi.. Ha, ha, haaaaa, tertawa saya baca commentaar kangmas no.10…Tetapi saya nggak pakai geleng-geleng kepala lho ya… ha, ha, haaaa…
    Ki Ageng, begitu saya lihat nama Ki Ageng muncul, saya jadi ingat nama teman yang kita bicarakan bersama tempo hari. Sonya, namanya. Saya kira dia tidak sempat menyelesaikan masa jabatannya di Manila. Dia sudah kembali ke Jakarta karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan.

    Ditunggu cerita lanjutannya.. Doe doei en welterusten, Nu2k

  5. Dj.  19 July, 2011 at 02:28

    Terimakasih Ki…..
    Kok ya sama, dokter Neurolog, yang periksa Dj. saat ada penyempitan ditulang leher C6 / C7, namanya juga dokter Süß ( Suess ).
    dari 7 dokter yang periksa Dj. termasuk kaka Dj. di Surabaya, dia yang yakin itu penyempitan dan sudah harus dioperasi. Karena lengan kanan dj. sudah sedikit lumpuh. Setelah Kernspindtomograpy, baru pada percaya.
    Setelah operasi dengan menggunakan tulang pinggul, yang dpakai sebagai paku, maka hanya 3 hari saja sudah keluar dari rumah sakit. Hanya beberapa hari lagi dengan penyangga leher.

    Salam manis untuk keluarga dirumah Ki…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *