Ibu-ibu dan Tupperware

Juwita Setiono – Sydney

 

Ibu-ibu mana yang tidak ‘serr’ bergetar hatinya jika diberitahu ada produk baru Tupperware. Berita ini akan segera menjalar ke seluruh anggota eksklusif kotak plastik penyimpan makanan ini.

Dalam hitungan menit, Tupperware Party sudah bisa dipastikan hari, tanggal, jam dan lokasinya. Jaman sekarang kan ada BlackBerry Messenger (BBM), sarana komunikasi yang sedang populer saat ini, praktis  dan ‘real-time conversation’. Dengan BBM kita bisa membentuk ‘Group’ dan di sana para anggotanya bisa mengirimkan pesan singkat (atau panjaang.. seperti artikel, tergantung keperluan) ke sesama anggotanya.

Tentu saja ibu-ibu pengguna produk Tupperware membentuk Group BBM: “Containers All-In” dan saya termasuk salah satu anggota Group beranggotakan 30 members ini.

Beep…

£ina:   Kumpul, yuk… Produk baru!

Lina adalah ‘party organizer’ atau lebih dikenal dengan sebutan: Agen produk Tupperware.

Ñôvi: Jumat sore, di rumahku, gimana?

€мма: Ikuut…

Devi: Asiikk…..

Juwi: Aku belum pasti, nanti aku kabari lagi ya…

£ina:   Ahh, nggak asik loe!

 

Lalu… Beep… Beep… Beep, sepanjang hari itu Group “Containers All-In” tidak berhenti membahas acara apa saja yang akan berlangsung di Tupperware Party  hari Jumat nanti.

Memang acara ‘party’ bukan hanya untuk berjualan kotak plastik, tetapi juga menjadi anjang tukar menukar resep masakan dan kue-kue. Biasanya langsung dipraktekkan satu resep kue. Hasilnya langsung disantap dan juga disisihkan untuk anggota keluarga di rumah. Tentu saja dengan disimpan di kotak plastik ini.

Saya yang sudah terlanjur dicap “Nggak asik” tidak ikut meneruskan berBBM-ria. Saya memang pengguna kotak plastik penyimpan makanan ini, tetapi saya tidak fanatik sampai harus ‘branded’, merk Tupperware. Dan kenyataan ini tidak bisa didiskusikan di Group BBM, karena saya bisa dicap “Nggak loyal” dan “Lain kelas”

Bagi pengguna fanatik, slogan ini berlaku: Tupperware All-In. Seperti teman-teman saya ini, di lemari dapurnya tidak ada produk container lain selain produksi Tupperware.

 

The Genesis of plastic containers

Bertahun-tahun lalu, sekitar tahun 1946, seorang inventor bernama Earl Tupper menciptakan sebuah kotak ajaib yang terbuat dari bahan yang ringan, tahan lama, lentur, tidak berbau dan tidak beracun. Terciptalah kotak plastik penyimpan makanan yang pertama dan diberi nama: Tupper Seal.

Produk ini tidak laku di pasaran. Lalu pada tahun 1950an, seorang ibu rumahtangga bernama Brownie Wise bergabung dengan Tupper Corporation dan memperkenalkan cara penjualan dengan konsep ‘Party’.

‘Party’ ini diadakan oleh seorang agen dan di acara ini peserta ‘party’ bisa melihat dan menyentuh produk-produk baru dan di akhir acara kumpul bersama ini, peserta akan memborong kotak plastik ini. Konsep penjualan yang sukses karena secara naluri, ibu-ibu tidak mau kalah saing: “Tidak akan dibiarkan ibu Novi memiliki koleksi Tupperware yang lebih komplit dan uptodate dibanding koleksi saya.”

 

Koleksi

Jaman sekarang ini yang dimaksud ‘Tupperware’ bisa saja kotak plastik ‘container’ bukan merek TUPPERWARE, bahkan tidak harus dalam bentuk kotak. Ada berbagai macam bentuk dan ukuran. Kalau kita membeli satu set, biasanya terdiri dari 5 pieces atau bahkan lebih.

Kotak yang lebih kecil ditaruh di dalam kotak yang sedikit lebih besar. Lalu ditaruh lagi di kotak yang agak besar. Lalu ditaruh di kotak yang lebih besar dan paling besar. Bersusun-susun. Sangat praktis. Menghemat tempat menyimpan.

 

Kolektor

Kotak ‘branded’ dengan ‘non-branded’ tentu saja lain. Kotak ‘branded’ bisa mencapai harga $390 per set. Sedangkan produk lain yang dibeli di ‘Dollar Shops’  seharga $5 – $15/sets.

Di mana letak perbedaan lainnya? Di kualitas, tentu saja. ‘Branded’ containers tahan lama, tidak lekas ‘retak’, bentuknya tidak berubah biarpun sudah puluhan kali masuk microwave-mesin cuci-microwave. Tutup dan kotaknya pas, rapat sehingga untuk menyimpan kerupuk dijamin tidak akan menjadikan kerupuknya melempem.

Letak perbedaan yang lain, di “kelas”. Maksudnya Level pemilik kotak ini, ada Level atas dan Level bawahan. Level atas adalah untuk pemilik kotak yang berharga puluhan sampai ratusan dolar. Sedangkan Level bawahan adalah pemilik kotak yang seharga ‘Dollar Shops’ saja. Ini bukan menunjukkan level ekonomi seseorang lho… tetapi lebih kepada kepribadian pemilik kotak tersebut.

Level atas: Biasanya orangnya rapi dan posesif. Semua koleksi kotaknya disimpan tersusun rapi, tidak ada satu kotak pun yang hilang tutupnya bahkan jumlah kotak di lemari dapurnya dia ingat. Yang besar ada 15 pieces, bundar dengan tutup merah ada 7 pieces, persegi dengan tutup biru ada 10 pieces, dan seterusnya. Koleksinya penuh satu rak lemari.

Level bawahan: Biasanya orangnya lebih rileks dan easy-going, cenderung semrawutan. Koleksi kotak penyimpannya bisa ada di lemari dapur bagian atas, di lemari bagian tengah dan di kolong lemari. Entah berapa jumlah koleksi kotaknya? Mungkin 15 pieces atau 9 pieces dan tidak semuanya lengkap dengan tutupnya. Entah kenapa masih saja disimpan kotak yang sudah tidak ada tutupnya?

Sama-sama kolektor kotak ‘container’, seharusnya persahabatan mereka serasi dan aman, ya? Bisa saling mengirimkan makanan, dengan kotak persegi bertutup biru. Saling mengirimkan kue, dengan kotak bundar bertutup warna merah.

Ahh, ternyata tidak!

Gara-gara kotak ini juga saya nyaris memutuskan hubungan persahabatan dengan salah seorang members Group BBM “Containers All-In”

Ceritanya, teman saya ini ‘level atas’ dan saya ‘level bawahan’. Ya, saya tidak peduli, kalau kotak saya hanya seharga $5 dan tutupnya tidak terlalu pas sehingga untuk menyimpan kerupuk cepat melempem. Biar saja, wong kerupuk belum melempem sudah habis saya kremus kok, hehehe…

Setelah ‘party’ hari Jumat yang saya tidak ikut itu, keesokan harinya Lina mengirimkan satu kotak cupcakes. Sambil bercerita betapa sukses ‘party’ yang dia adakan dan “Nyesel kamu nggak ikutan, Juwii..” (“Biar saja”, sahut saya dalam hati) Katanya ibu-ibu memborong produk baru. Lina memang agen yang sukses.

Sore harinya Beep… Ada pesan BBM masuk. Saya ‘scroll’ ke nama pengirim dan baca.

£ina:   Sudah habis cupcakes –nya? Kotaknya besok saya ambil di tempat kerjamu ya…

Juwi: Aku lagi cuti seminggu. Mau ambil ke rumah?

£ina:   Ya tunggu saja deh L

Malam hari… Beep!

£ina:   Aku perlu lho kotaknya

Juwi: Iyaa… Nanti segera aku kembalikan

Keesokan harinya… Beep… Beep…

£ina:   Gimana?

Juwi: Apanya ya?

£ina:   Ya kotak ‘container’ ku. Aku perlu

Juwi: Kan aku sudah bilang…

 

Tidak jadi saya teruskan dan tidak saya ‘send’. Saya tekan ‘End Chat’ dan tidak saya gubris lagi BBM-nya sepanjang hari itu. Urusan kotak saja sampai ditagih 3 kali sedangkan kartu kredit saya yang belum lunas saja tidak ditagih bertubi-tubi seperti itu oleh bank.

Saya merasa teman saya yang satu ini tidak percaya sama teman. Dipikir saya akan ‘nilep’ kotaknya mungkin? Hampir saja saya ‘Delete’ PIN-nya, karena apa gunanya memiliki teman tanpa dasar ‘trust’?

Tetapi saya konsultasi dulu dengan anggota Group ‘Containers All-In’ yang lain dan teman saya bilang: “Ibu-ibu memang begitu kok sama containers-nya.” Yang dimaksud “begitu” adalah: sangat posesif, persis seperti definisi ‘Level atas’ yang saya sebutkan tadi.

Sejak kejadian tersebut, saya kapok menerima kue-kue yang dikirim dengan kotak plastik. Kuenya saya mau, tetapi saya kapok ditagih kotaknya secara bertubi-tubi. Lain kali dibungkus kertas koran saja, biar kuenya saya habiskan dan bungkusnya langsung masuk ke recycle bin.

Persahabatan saya di Group BBM ‘Containers All-In’ tetap terjalin. Acara ‘party’ bulan depan katanya bakalan lebih heboh karena akan ada diskon 10%. Nah, kesempatan bagi saya untuk membeli kotak baru untuk pengganti kotak yang sudah hilang tutupnya.

Rekan Baltyra pasti punya kotak ‘tupperware’. Apakah punya pengalaman pribadi dengan kotak dan pemiliknya? Bagaimana ceritanya, apakah berakhir dengan aman?

 

Salam,

Juwita

 

63 Comments to "Ibu-ibu dan Tupperware"

  1. Juwita  28 July, 2011 at 16:59

    Ibu Nunuk, iya betul… betul… betul… Ya sampai sekarang saya tetap mengasuh Kolom 20/20.
    Salam kangeen..

  2. nu2k  28 July, 2011 at 16:48

    Apakah ini mbak Juwita dari AU yang kalau nggak salah jadi pengasuh 20 for 20 atau apalah duluuuu.. Dulu khan nggak ada fotonya…. Jadi ya nggak tahu, hanya namanya saja… Gr. Nu2k

  3. Juwita  28 July, 2011 at 16:37

    Thanks again for your appreciations

    Iyaa.. email Yahoo-ku udah gak active lagi, sekarang pakai: [email protected], setting-nya lebih ringkas, jelas dan padat (persis iklan di Google ads, hehe…

    Salam dari Sidnee

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.