Pernikahan Campur

Nunuk Pulandari

 

Teman-teman di Baltyra, kali ini saya ingin menuliskan tentang beberapa perbedaan yang telah memungkinkan timbulnya benturan-benturan dalam suatu pernikahan campuran. Pernikahan campuran antara wanita Indonesia dan pria Belanda.

Neneknya pernah berkata sebelum dia memasuki gerbang pernikahan: ”Suatu pernikahan yang sukses dapat engkau samakan dengan memenangkan undian besar dalam suatu permainan loterij ”. Ibu saya juga pernah mengatakan: ”Dengan dua jiwa secara bersamaan keluar dari pintu yang sama, salah satunya akan tertahan/ terkait di pintu ”.  Seorang teman wanita mengungkapkan: ”Dua orang kapitein tidak dapat menjalankan fungsinya dalam sebuah kapal yang sama ”

Pepatah pertama mengatakan bahwa berhasil atau tidaknya suatu pernikahan sangat dipengaruhi oleh adanya faktor “Geluk ”. Faktor keberuntungan. adanya faktor ‘geluk’ sangat penting. Kalau sedang beruntung kita akan mendapat hadiah yang besar tetapi kalau kita tidak beruntung, musnah dan melayanglah uang kita. Dalam suatu pernikahan berlaku “hukum ”yang sama.

Kalau kita beruntung maka pernikahan kita akan berjalan dengan aman dan tenteram. Tetapi hal yang bertentangan akan terjadi kalau nasib kita jelek. Yang dimaksudkan oleh ibu teman saya dan teman wanita, dalam ungkapan kedua dan ketiga adalah bahwa sebaiknya dalam suatu pernikahan hanya ada satu orang yang berhak untuk menentukan / mengambil keputusan akhir, walaupun sebelumnya telah dibicarakan bersama tentang hal yang ada. Dalam hal ini pada awalnya saya berpikir: ”Saya setuju dengan pendapat kalian ”. Tetapi tidak lama kemudian saya berubah pikiran: ” Tidak, saya toh tidak setuju dengan pendapat ini.

”Saya bertanya pada diri sendiri apakah dalam hal ini, betul-betul hanya ada satu orang yang boleh menetukan, tidak adakah jalan keluar yang lain. Misalnya suatu jalan keluar yang juga memberikan kesempatan pada pihak wanita untuk turut menentukan dalam mengambil keputusan akhir. Dan saya juga bertanya-tanya apakah karena adanya pertanyaan seperti ini maka timbul kegagalan dalam pernikahan yang pernah saya jalani. Achhhhhh. Maar daar gaat dit verhaal niet over. Achhhh, cerita ini tidak akan membahas tentang hal itu.

Kita semua mengetahui alangkah tidak mudahnya untuk mensukseskan kelangsungan suatu pernikahan. Yang jelas untuk menuju kesuksesan dalam menjalankan pernikahan sangat banyak diperlukan energi dan pikiran yang tidak ada habis-habisnya. Sukses atau tidaknya suatu pernikahan, tidak pernah berlangsung dengan sendirinya. Harus ada usaha-usaha dari kedua pihak (terutama).

Banyak faktor mempunyai pengaruh yang besar bagi berhasil atau tidaknya suatu pernikahan. Faktor latar belakang budaya, sosial dan ekonomi memainkan peran penting dalam suatu pernikahan. Adat istiadat, kebiasaan, pendidikan, pengalaman, energi, waktu dan kesehatan para pelakunya sangat mempengaruhi kelanggengan/ keberhasilan suatu pernikahan. Baik itu pernikahan campuran atau “bukan ” pernikahan campuran. Yang saya maksud dengan pernikahan campuran dalam artikel ini adalah suatu pernikahan yang terjadi antara dua personen dengan dua nationaliteiten yang berbeda. Dalam hal ini pernikahan antara orang Indonesia dengan orang Belanda. Secara specifiek: Pernikahan antara seorang wanita Indonesia dengan seorang pria Belanda.

Dalam beberapa artikel yang saya baca, seperti artikel dari Sinar harapan beberapa waktu yang lalu, banyak diungkapkan tentang jenis-jenis kekerasan yang terjadi dalam suatu pernikahan campuran. Hal ini telah menyebabkan karamnya suatu pernikahan campuran.

Acara sungkeman yang masih tetap dilakukan dalam banyak upacara pernikahan (pernikahan Putri & Michael)

 

Dalam pernikahan entah itu campuran Belanda-Indonesia atau campuran dari dua suku yang berbeda, kemungkinan timbulnya tindak kekerasan dapat saja terjadi. Kekerasan yang timbul menurut artikel yang ada biasanya dilakukan oleh pria Belanda terhadap wanita Indonesia. Dan para wanita Indonesia yang ditampilkan memainkan peran sebagai korban tindak kekerasan.

Yang tidak diungkapkan dalam pembahasan lanjutannya adalah latar belakang mengapa para pria Belanda tersebut telah melakukan tindak kekerasan. Dan mengapa wanita Indonesia mau menerima tindakan kekerasan itu. Kalau kita tidak kritis dan hati-hati dalam membaca artikelnya, mungkin kita akan mendapat suatu gambaran yang salah. Gambaran yang salah baik mengenai para pria Belanda maupun mengenai wanita Indonesia. Tetapi bila kita dengan baik mempelajari dan mendalami latar belakang pernikahan yang ada, kita secara jujur dapat mengerti mengapa kekerasan ini dapat terjadi dalam pernikahan campuran tersebut.

Tiga hal penting dari tindak kekerasan yang ada, menurut saya dapat terjadi karena :

1.Perbedaan latar belakang sosial – ekonomi yang besar.

2. Tidak adanya komunikasi yang baik antara kedua partner.

3. Tidak tersedianya waktu yang cukup luang untuk saling mengenal dan mengerti pada paska sebelum pernikahan.

Saya tergolong pada kelompok penentang nomor satu akan adanya tindak kekerasan dalam kehidupan berkeluarga. Puji Allah, telah Engkau jauhkan hal-hal ini dari kehidupanku. Amen. Suatu ilustrasi berikut ini (benar-benar terjadi dan saya mendapatkan infonya dari sumber-sumber yang dapat dipercaya) memang tidak dibenarkan secara hukum. Tetapi sebagai manusia yang tidak pernah sempurna, kita akan bisa mengerti mengapa sampai terjadi tindak kekerasan dalam suatu pernikahan campuran Belanda-Indonesia berikut ini.

Seorang wanita Indonesia menikah dengan pria Belanda. Wanita ini mengalami tindak kekerasan dan melarikan diri ke KBRI. Pihak KBRI mencoba untuk mencarikan jalan keluar bagi keduanya. Dengan memanggil baik si pria maupun si wanita. Dari penuturan si pria, setelah dia meminta maaf, terungkap latar belakang mengapa telah terjadi tindak kekerasan tersebut. Dengan keterbatasan yang ada, karena si pria sudah pensiun, setiap bulan dengan sejumlah uang yang cukup besar untuk hitungan Indonesia masih selalu dikirimkan ke Indonesia, untuk membantu kehidupan keluarga pihak wanita di Indonesia.

Sementara kebutuhan keluarga (hanya dari pensiun saja) di Belanda, tetap dipenuhi . Status si wanita karena keterbatasan bahasa dan kemampuan yang ada dinyatakan tidak layak bekerja, oleh pihak yang berwenang. Tetapi apa lacur, si wanita semakin hari semakin merongrong dan selalu minta lebih banyak, dan lebih banyak lagi uang untuk dikirimkan ke Indonesia. Uraian yang diberikan pihak suami mengapa dia tidak bisa mengirim lebih banyak lagi , tidak juga bisa diterima dan tidak dimengerti oleh pihak wanita. Hal ini lama kelamaan menjadikan pemicu adanya tindak kekerasan dalam keluarga tersebut. Sebagai jalan keluarnya berpisahlah keluarga itu dan wanita itu kembali ke daerah asalnya di Indonesia

Contoh lain. Seorang wanita Indonesia yang cantik telah menikah dengan seorang Belanda yang pernah tinggal di Indonesia. Mereka mempunyai seorang anak. Karena faktor kemanusian (seperti yang banyak terjadi pada orang Belanda) perbulannya juga selalu dikirimkan sejumlah uang untuk keluarga yang ada di Indonesia.Yang juga menjadi masalah bagi pasangan ini adalah apabila ada tamu berkunjung kerumah mereka. Si wanita selalu menyibukkan diri di dapur. Atau dia selalu berada di sudut ruangan, di dekat boks anaknya. Seolah dia selalu bersibuk ria dengan anaknya.Dia hampir tidak pernah turut bergabung atau turut berbincang-bincang dengan tamu-tamu yang ada.

Juga kalau kami diundang makan (pria itu teman baik saya sejak di Jakarta), entah mengapa setelah selesai makan sampai kami pulang dia tidak mau duduk bersama kami… Entah karena merasa rendah diri atau karena adanya alasan lainnya. Saya pada saat itu disudutkan dalam posisi yang serba salah. Hal-hal seperti ini tentu sangat menyukarkan posisi suami di mata teman-temannya dan di lingkungannya. Dan akibatnya beberapa tahun kemudian, tentu anda tahu. Perceraianpun terjadi.

Dan kalau saya melihat lebih jauh lagi saya dapat mengatakan bahwa penyebab utamanya adalah adanya gap dan perbedaan latar belakang sosial-economi dan adat istiadat yang besar dari kedua pelaku pernikahan itu. Komunikasi yang tersendat-sendat karena ketidak piawaian si wanita dalam berbahasa Belanda atau bahasa Inggris, mempercepat proses ketidak serasian dalam berumah tangga. Kesenjangan yang timbul karena perbedaan pendidikan dan adat istiadat, mempersukar bertemunya kedua titik dalam pernikahan itu.

Kita semua tahu bahwa meskipun ada berbagai macam perbedaan latar belakang antara orang Belanda dengan orang Indonesia, kita tidak dapat mencegah atau melarang adanya pernikahan campuran ini. Dan terutama selama hubungan antara Belanda dan Indonesia masih tetap berlangsung, kita tetap akan melihat adanya pernikahan campuran ini.

Sebenarnya pernikahan campuran (dalam skala yang lebih kecil) dapat kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari. Banyak terjadi pernikahan campuran antara dua suku yang berbeda. Tentu dalam pernikahan campuran ini juga terjadi benturan-benturan. Sebagai hasil akhir uga ada yang membuahkan nilai baik yang positif dan ada yang negatif.

Kita semua mengetahui bahwa di Belanda juga banyak terdapat adanya pernikahan campuran yang solide. Tanpa adanya tindak kekerasan atau perilaku yang berlebihan dari para pria Belandanya. Kita semua juga tentunya tahu bahwa secara psychologie baik pada orang Belanda maupun pada orang Indonesia dapat terjadi tindak kekerasan apabila seseorang tidak dapat meyakinkan atau memberikan pengertian pada lawan bicaranya melalui kata-kata. “Tindak kekerasan dalam hal ini merupakan suatu ungkapan ketidak berdayaan seseorang dalam berkomunikasi ”. Satu jalan akhir yang merupakan luapan keputus asaan yang tidak dapat terungkapkan dengan kata-kata. Hal ini saya baca dari satu artikel yang diungkapkan dalam salah satu koran yang ada di rumah.

Suatu perbedaan latar belakang sosial-ekonomi yang berlebihan memegang peran penting akan timbulnya tindak kekerasan dalam suatu ikatan relasi. Dalam hal ini kedua pemeran utama dalam pernikahan selain tidak dapat berkomunikasi dengan baik juga ditambah dengan berbedanya gaya hidup yang ada. Sebagai akibatnya diantara mereka berdua sukar untuk menjalin adanya rasa saling mengerti. Mereka tidak dapat saling bertukar informasi, dan terlalu sedikit kemungkinan untuk saling mengenal baik dalam hal adat istiadat dan kebiasaan mereka masing-masing.

Mencari jalan keluar untuk mencegah adanya tindak kekerasan atau untuk menyelesaikan masalah yang ada dengan memberikan jalan alternatief bukan hal yang jelek. Alternatie-alternatief seperti:

Meluangkan waktu yang lebih banyak lagi bagi masing-masing untuk dapat saling mengenal dengan lebih baik akan cara berpikir dan mengerti ide-ide yang dipunyai; memberikan waktu lebih banyak lagi untuk mewujudkan adanya suatu relasi yang didasarkan pada rasa saling mengerti yang kuat.

Suatu kenyataan yang ada dalam pernikahan campuran ini adalah bahwa banyak dari para wanita Indonesia yang dikemudian hari harus datang ke Negeri Belanda dan menjalani kehidupan dinegeri yang asing ini. Hal ini akan berarti bahwa mereka harus menyediakan waktu dan energi yang lebih banyak lagi dalam mempersiapkan perannya demi suksesnya perkawinan campuran itu. Suatu tugas yang sangat berat dibandingkan dengan peran yang harus dimainkan oleh para pria Belandanya. Para wanita ini tidak hanya harus mempelajari adat dan istiadat serta kebudayaan penduduk Belanda tetapi mereka juga harus bisa mengerti dan menangkap ide-ide, pendapat-pendapat serta karakter baik pasangan masing-masing maupun orang-orang yang ada di sekelilingnya.

Memiliki pengetahuan tentang apa dan siapa pria Belanda yang akan menikahinya, menurut saya tidaklah salah. Mengetahui bahwa pria Belanda juga mempunyai nilai plus dan minus akan membuat hidup di Belanda lebih nyaman; mengetahui bahwa pria-pria ini biasanya sangat lamban dalam mengeluarkan dompetnya, sangat jarang memberikan cadeau dalam jumlah besar dan tidak banyak memperlihatkan segi romantiek dalam kesehariannya akan membuat kita hidup secara realitas. Memahami adanya faktor-faktor itu akan mencegah terjadinya kekecewaan apabila kita harus menjalankan kebiasaan-kebiasaan seperti “Going Dutch ”atau “ bayar “fifty-fifty ”atau “Kalau gratis saya mau ”.

Memahami bahwa mereka kadang-kadang memerlukan “privacy ” yang di mata orang Indonesia terlalu berlebihan, akan memberikan rasa tidak dikekang dari para pria itu. Pria menurut saya, siapapun dia, paling tidak senang kalau sampai dia merasa dikekang oleh istrinya. Memahami bahwa mereka menganut ideologie “Ik ” dan bukan “Wij ” tentunya mempermudah untuk mengerti mengapa seorang individu dapat mengambil keputusan secara mandiri, tanpa meminta pendapat kita terlebih dahulu. Dan kita dapat menerima mengapa untuk bertamu harus menelepon dulu. Memahami bahwa pria Bekanda percaya bahwa nasib seseorang ditentukan sendiri oleh yang bersangkutan.

Sementara dalam Indonesische levensvisie kita percaya bahwa nasib seseorang sudah ditentukan bersamaan dengan kelahirannya di dunia. Memahami hal ini akan mengurangi kesedihan dan kekecewaan kita apabila kehadiran kita tidak begitu dihargai oleh yang lainnya. Memahami bahwa pria Belanda kebanyakan terbuka/ jujur/ setia, sangat tenggang rasa dan pintar dalam berkomunikasi di tempat tidur (hmmm, penting lho), dan memahami bahwa mereka memberikan kesempatan untuk saling terbuka memudahkan kita untuk berbincang ria dalam segala kesempatan. Memahami bahwa pria Belanda tidak sungguh-sungguh mempunyai sifat enthousiasme, bahwa mereka jarang bisa memperlihatkan segi emosionalnya dan bahwa mereka hanya sedikit/ tidak mempunyai kehangatan, dapat menghindarkan kita dari rasa kecewa karena “dingin ”nya sambutan yang ada. Mengetahui bahwa mereka pekerja keras, percaya pada diri sendiri, tidak bergantung pada orang lain dan bahwa mereka berani bertindak tegas, serius dan rasional mehindarkan kita untuk bepikir bahwa mereka bersikap yang seolah-olah mau menang sendiri.

Memahami bahwa kebanyakan pria Belanda suka minuman keras dan dalam pesta mereka hanya mau minum, minum dan sekali lagi minum Masih dalam pesta bahwa mereka hanya mau berbicara, berbicara dan sekali lagi berbicara. Sedang untuk berdansa ria atau berkaraoke sesungguhnya mereka amat sangat malas….Minum dan ngobrol ngalor ngidul adalah pesta besar untuk para pria di Belanda.

Suatu nilai plus akan kita capai bila dalam suatu pernikahan campuran kita mempunyai kemampuan untuk saling me- “relativeren ” dengan baik akan karakter, ide-ide, kebiasaan dan budaya masing-masing. Ketika pernikahan saya dalam situasi yang gonjang-ganjing, seorang yang bijak berkata: ”Pikirkanlah dan renungkanlah dengan baik apa yang akan kamu lakukan dan apa yang akan kamu putuskan.

Pakailah dan gunakanlah waktu yang ada dengan sebaik mungkin sebelum kamu mengambil suatu keputusan. Satu yang juga harus kamu ketahui adalah bahwa kamu dapat dan harus mencoba segala jalan untuk merubah atau memperbaiki pernikahanmu. Tetapi kamu juga harus tahu dengan jelas bahwa “ergens ” di suatu tempat nasib kamu sudah tertera dengan pasti ”.

Ketika saya mendengar kata-kata bijaknya, saya bertanya pada diri sendiri apakah benar demikian bahwa nasib kehidupan saya memang sudah tertera dan terpatri dengan pasti? Untuk berdiskusi ria tentang hal ini dengan beliau, sudah pasti saya tidak punya keberanian. Memang pada waktu yang lampau saya überhaupt tidak banyak mempunyai keberanian untuk berbuat sesuatu. Saya seringkali harus berpikir pada kedudukan saya hanyalah sebagai anak perempuan dalam keluarga dan masyarakat Jawa. Walaupun dalam keluarga kami harus lulus sarjana semua. Yang jelas untuk saya mempertahankan dan melestarikan suatu pernikahan akan lebih mudah bila tidak disertai dengan masuknya orang ketiga didalamnya.

Tetapi kita semua mengetahui bahwa baik dalam pernikahan campuran maupun dalam pernikahan tidak campuran tidak hanya terdapat segi negatiefnya saja. Dalam kedua pernikahan itu juga terdapat segi kebahagian dan kegembiraan. Laten wij daar maar in geloven en er in werken. Marilah kita mempercayainya dan menuju ketitik yang kita harapkan. God bless you. Amen…

 

269 Comments to "Pernikahan Campur"

  1. nu2k  15 April, 2012 at 15:41

    Terima kasih mbak Ayu.. Semoga bermanfaat untuk bahan bacaan dan tambah-tambah informasi..Salam en doe doei, nu2k

  2. Ayu stiekel  15 April, 2012 at 15:05

    Mbak Nuk, menarik sekali ulasan tt pernikahan campur dengan contoh orang belanda. Di tahun pertama pernikahan saya dengan seorang belanda penuh dengan friksi. Apalagi kami tinggal di indonesia dan belum pernah mengenal sebelumnya, saya jadi begitu egois menanamkan pada diri saya bahwa dialah yg hrs ikut aturan di indonesia dan selalu marah bila dia bertindak so dutch.
    Ulasan mbak nunuk membuka mata saya bahwa banyak hal yg saya harus pelajari dan terima sebagai bagian dari hidup saya sekarang. Menyelaraskan western dengan eastern memang menarik untuk dijalani dan dipahami.

  3. Lani  3 August, 2011 at 06:06

    DIMAZ EDY : anak yg tdk doyan pedesss itu meniru sapa ya???? klu ortunya alap2 sama yg pedes2?????? aku mah hrs ada sambel, cabe…….klu ndak kok hambar lo……..mmmmm dasar wong jowo yo……jd lidahnya udah bersahabat dgn sambel walau udah ndak tinggal ditanah jowo……..sdh melekat erat koyok lak-ban

  4. Edy  3 August, 2011 at 01:01

    Lha gimana nggak ngibritt, wong nganti tersedak dan batuk batuk, akhirnya anak2 juga ikutan keluar rumah, selang 15 menit baru masuk rumah lagi. Giliran makan, semua pada nyam nyam….dari 3 anakku, hanya 1 yg nggak doyan pedes.

  5. Lani  3 August, 2011 at 00:52

    DIMAZ EDY hah????? doyan sambel trasi, tp klu istri nggoreng trasi malah ngibrittttttttt??????? hahahah…..ngekel aku, tenan iki bener lo……aneh men……

    mmg ya dikembalikan tujuan pasangan masing2 baik yg se ras/bukan…….mo dibilang sulit ya bakalan sulit……..tp klu mmg niatnya sama2 mau berhasil ya gampang tuh…….contohnya aku dewe……aku dan almarhum beda…….tp WE’RE AGREE bhw perbedaan jgn dianggap menyulitkan……ato negatif…….tp hrs dipandang dr segi positifnya sebagai menambah warna kehidupan……..pie jal klu udah gitu??????? ndak angel/sulit to????? malah tambah menyenangkan…….saling belajar, saling mengisi…….halaaaaaaah bosone

  6. Edy  3 August, 2011 at 00:46

    Setuju jeng Lani, banyak kok perkawinan campur yang sukses, dibutuhkan usaha yg keras untuk saling mengerti. Lha contoh kecil saja, saya yang doyan sambel terasi saja sempat ngabur keluar kok saat istri nggoreng terasi tsb. Bisa dibayngkan kalo pasangan nya beda negara, apa nggak menggerutu seluruh ruangan bau terasi. Belum masalah2 lain yg…baru menbayangkan saja sudah mumet saya.

  7. Lani  2 August, 2011 at 23:12

    DIMAZ EDY…….menurutku mo menikah dgn suku yg sama, bangsa yg sama, ato bisa lagi dipersempit dgn warna kulit, agama/kepercayaa yg sama ato dgn ras/bangsa lain…….sec umum mmg sama, cm problemnya yg berbeda-beda……..krn latar belakang kultur……kebiasaan……..tp klu mmg mau bekerja sama, mewujudkan agar perkawinan langgeng/harmoni pasti bisa……..buktinya kan udah banyak hehehe……..mmg butuh usaha keras dr kedua belah pihak…….

  8. Lani  2 August, 2011 at 23:09

    MBAK NUK wejangan panjang lebar dr bapak, krn mbak Nuk tinggal di Indonesia dan menikah sama pria Indonesia, ya pas………tp klu sdh tinggal/menetap dan bersuamikan bule lagi……..ah, panggilan pd suami menurutku suka2 yg penting dgn rasa hormat……..bahkan almarhum plg suka panggil aku nama saja, katanya namaku sdh indah…..malah kami ndak pernah pakai spt honey……sweetie pie……sweetheart…….hahaha…….klu manggil dgn julukan gila2an malah iya……..lucu banget klu ingat semua itu…….

  9. nu2k  2 August, 2011 at 17:46

    Ha, ha, haaaa… Oooo aaaallllaaaahhh, itu toch syaratnya. Lha kalau mbak Libanonnya dibelikan mixer yang bisa membuat sambal sendiri rak yo beres semuanya…. Ha, ha, haaaa… Padahal kangmas Eddy hanya mau jadi “Raja kecil” di rumah ya…..Ha, ha, haaaa Bukannya kalau terlahir sebagai laki-laki dalam keluarga Indonesia, dia secara tidak langsung sudah menjadi “Raja kecil”. Semua untuk mas, bapak, eyang kakung, eyang buyut kakung dll, dll.

    Saya jadi ingat. Dulu pernah saya menyapa ayahnya anak-anak dengan mengatakan :”Kamu dong sekarang yang ambil”. Eeeehhh lha dhalah, ayah saya mendengarnya dan terus memanggil saya dan dapatlah saya wejangan yang panjang lebar yang intinya bahwa menurut ayah adalah tidak pada tempatnya kalau saya memanggil “suami” dengan sapaan “Kamu”….. Begitulah pelajaran entah yang keberapa… ha, ha, haaaaa…

    Masih kangen sambal terasi diajeng (jadi muda lagi, suwun ya) Nunuk…. ha, ha, haaaa… gr. nu2k

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.