‘The Next Rock Star’ dan Indonesia?

Theresia Astrid Wulaningsari

 

Dari Hollywood ke YouTube     

Sebelum menuliskan artikel ini, kamar saya dipenuhi dengan suara musik yang hampir terus menerus saya putar berulang-ulang, sehingga saya bisa menghirupnya seperti udara dan membuat rongga dada saya dipenuhi perasaan-perasaan yg membuncah. Entah mengapa lagu  satu ini selalu berhasil menyematkan energi ke hari-hari saya yang tak selalu mulus.

Saya jatuh cinta pada pendengararan pertama sejak musik ini menjadi soundtrack (sekaligus teaser trailer) film independen yg sukses di Hollywood, berjudul “500 Days of Summer”, yang disutradarai Marc Webb diperankan oleh Joseph Gordon-Levitt and Zooey Deschanel. Film komedi romantis yang mengklaim dirinya’bukan film cinta’ ini menceritakan hubungan asmara antara seorang laki-laki yang jatuh cinta dengan seorang perempuan yang tidak mencintainya, film ini digarap dengan sangat unik tanpa harus klise dengan tema sejenisnya.

Film yang meraup keuntungan 60 juta dollar dari modal 7,5 juta dollar ini disebut-sebut sebagai salah satu film terbaik 2009 dengan begitu banyaknya award yang diterima & nominasi Golden Globe Award untuk kategori Film Terbaik & Pemeran Pria Terbaik.

Ada bagian di dalam film ‘500 Days of Summer’ ini dimana musik yang membius itu masuk dan mengiang-ngiang di kepala saya selama beberapa hari setelah menontonnya, di awalannya sekilas saya pikir lagu itu milik grup entah Radio Head atau U2. Musik satu ini mencuat di saat saya sudah beranak satu dan tidak punya lagi lagu favorit dari genre alternatif rock (sekalipun dikatakan alirannya ‘post punk revival’). Lagu itu berjudul “Sweet Disposition”, dibawakan oleh sebuah band asal Australia bernama The Temper Trap.

Namun sebuah musik yang baik akan tetap dikenali sebagai musik yang bagus oleh penggemar musik jenis manapun (setidaknya saya), musik The Temper Trap ini seperti gabungan antara U2, Radio Head dengan musik era 80-an, dengan kekuatan vocal falsetto yang sophisticated, mengingatkan saya akan vocal penyanyi funk / R&B macam Prince , Earth Wind & Fire, bahkan Daniel Sahuleka!

Lagu tersebut saking menghipnotisnya laris digunakan untuk iklan-iklan komersial di penjuru dunia dari mulai Chrysler, Peugeot 3008, Toyota Yaris, Diet Coke, O2, Sky Sport, dll. Hingga saya mencoba mendown-load video klip mereka di YouTube, klip versi Inggris (mereka punya 3 versi klip) yang telah dilacak oleh 6,7 juta orang di seluruh dunia ini samar-samar menampilkan siluet dari vokalis yang ternyata berwajah Asia… Buat anda yang sudah mengetahui informasi mengenai band ini mungkin tidak terkejut, tapi buat saya yang kuper (kurang pergaulan), hal ini sungguh sebuah kejutan manis…

Karena itu saya terus melacak video-video mereka, berikutnya yang telah membuat saya sangat terkejut & merinding ketika menyaksikan video penampilan The Temper Trap di Festival Glastonbury Juni 2010. Sebuah ajang musik raksasa (dari tahun 1970) yang diadakan di kota Glastonbury di Inggris, mirip Woodstock di Amerika, pesta musik 3 hari dengan harga tiket £185 yang di tahun 2010 itu dihadiri oleh 135.000 penggemar musik yang datang dari berbagai belahan bumi, dengan semarak warna warni benderanya masing-masing, mendirikan ribuan tenda, membawa serta segala atribut dan keunikan manusia-manusia di dalamnya.

Dan kalaupun grup favorit saya juga muncul di sana bukanlah suatu keanehan karena mereka memang band hebat. Dengan lebih dari 10 panggung yang berdiri di sana dengan masing-masing bintang kelas dunia yang berpentas (mungkin di saat bersamaan), lautan manusia memilih memadati panggung tempat The Temper Trap tampil, seolah tersihir oleh komposisi yang keluar dari jiwa keempat punggawanya, terutama suara yang keluar dari mulut sang vokalis yang ternyata berkulit sawo matang…

Apa yang saya maksud (walau kita sama-sama hanya nonton di Youtube) harus dirasakan sendiri oleh anda yang membaca… (tolong tonton ini hingga habis!)

 

The Temper Trap

Siapakah The Temper Trap? Siapakah kang mas ‘alien in England’ yang suaranya menghipnotis orang-orang dari berbagai belahan dunia itu?  Ternyata orang asli Menado! Made in Indonesia (akhirnya saya mengerti dari mana asalnya cengkok Indonesia Timur dalam suaranya)! Sang frontman sekaligus gitaris, pemimpin dan pendiri grup band-nya, pencipta tembang-tembang hits seperti “Sweet Disposition”, yang mampu membuat penggemarnya histeris kala menyaksikan setiap penampilannya, bernama Dougy Mandagi.

Bernama asli Abby Rai Chrisna Mandagi, adalah seorang pemuda asal Menado yang dibesarkan di Indonesia, sempat berpindah ke Hawai, lalu kembali ke tanah air tinggal di Bali. Darah seni mengalir dalam keluarganya, terutama dari ayahnya yang penggemar berat musik country dan seorang gitaris. Saat kecil Dougy sering ikut paduan suara gereja bersama paman dan bibinya, serta sempat membentuk band dengan sepupu-sepupunya. Ternyata lingkungan keluarga yang dipenuhi musik tersebutlah yang tak sengaja membentuk musikalitas Dougy yang mempengaruhinya saat berkarir di dunia musik.

Usia 19 tahun Dougy merantau ke Australia, untuk mengambil kuliah jurusan fashion merchandise and marketing (dengan background 4 tahun berjualan jeans & T-shirt di Bali), merasa tidak cocok ia lalu hidup sebagai pelukis potret di jalanan di Melbourne.

Saat pertama kali Dougy datang ke Australia, ia bersahabat dengan Jonathon Aherne (bassis) yang sangat ingin belajar main gitar, Dougy mengajarkannya beberapa chord, dan berdua mereka sering memainkan lagu-lagu macam Weezer. Dougy bertemu dengan Toby Dundas (drummer) ketika sama-sama bekerja di sebuah toko pakaian, baru diketahui bahwa Toby adalah seorang ‘kamus musik berjalan’, bertiga mereka berlatih gila-gilaan & membentuk sebuah band (2005). Toby mengajak serta teman bermain skateboard masa kecilnya yang telah bermain gitar dari usia 12 tahun, Lorenzo Sillitto, akhirnya dengan komposisi ‘3 Australia dan 1 Indonesia’ ini mereka mulai berkeliling memperdengarkan musik mereka pada khalayak luas.

Hingga untuk pertama kali industry musik yang lebih besar melirik band tersebut saat tampil di Musexpo di London (Oktober 2008), dan setelah penampilannya di South by Southwest (Maret 2009), BBC memasukkan The Temper Trap dalam Top15 Sound of  2009. Di bawah pimpinan Dougy, band ini telah menghasilkan satu kumpulan single dan sebuah album ‘Condition’ (Juni 2009) yang diproduseri Jim Abbiss (produser Bjork, Massive Attack, The Verve, dan Arctic Monkeys), melakukan tour keliling Australia, Amerika, Eropa, dan Asia (pernah mampir juga ke Indonesia) dengan tiket selalu sold out, menyambangi venue & festival bergengsi dan mendapat banyak penghargaan seperti ARIA Award 2010, APRA Award 2009, dll. Bahkan di tahun 2011 ini mereka mendapat nominasi di ajang BRIT Award yang bergengsi itu.

Sebagai leader, rekan-rekan di dalam band-nya mengakui betapa mereka bukanlah musisi yang sedemikian berbakatnya, namun mereka turut menikmati perjalanan berprosesnya seorang Dougy yang seolah memiliki jangkauan tak terbatas itu. Dougy-lah yang menciptakan jiwa dari semua lagu-lagu mereka. Adapun ia selalu merendah mengatakan bahwa musiknya hanyalah  ‘comotan’ sana sini dari beberapa musisi  berpengaruh seperti Radio Head, TV on the Radio, David Bowie, Prince, dll, yang mereka olah kembali dengan cita rasa mereka.

Band yang dibentuk di Australia tersebut akhirnya memilih menetap di Inggris, jantung musik rock dunia. Dan setelah hampir 2 tahun bekerja keras, tour keliling dunia tanpa henti, di tahun 2011 ini dikabarkan mereka menyepi ke sebuah studio tepi pantai di Spanyol untuk merampungkan album keduanya.

 

Mantra Awet Muda

Sweet Disposition dari The Temper Trap masih terus berhembus di kamar saya, memiliki lirik yang sederhana namun universal, seolah siapapun dapat terhubung dengannya. Disampaikan bagai mantra-mantra yang semakin lama semakin kuat, menyemat energy. Memang tak dipungkiri suara falsetto Dougy-lah yang menjadi roh dari lagu tersebut. Darah saya selalu berdesir-desir setiap kali mendengar kata-kata optimisme yang diulangnya… berpacu dengan kecepatan suara gitar, drum & bass-nya, melambungkan jiwa saya ke suatu tempat tanpa batas… dimana umur saya lebih muda 10 tahun…!

Sweet disposition

never too soon

oh reckless abandon

like no one’s watching you

**

a  moment, a love,

a dream, a laugh,

a kiss, a cry,

our rights, our wrongs (back to **)

just stay there

cause I’ll be comin over

and while our blood still young

it’s so young

it runs

and we won’t stop til it’s over

won’t stop to surrender

Song of desperation

I played them for you

Back to **

 

‘Kang Mas Rock Star Sawo Matang’

Saya memutuskan untuk menulis artikel ini, setelah sebelumnya membaca artikel di Baltyra, tentang pandangan orang luar terhadap orang Indonesia, terutama di barat. Dari pengalaman teman-teman di berbagai belahan dunia, saya bisa membayangkan apa yang dihadapi Dougi Mandagi, ketika wajahnya yang tak dipungkiri betul-betul mewakili ras Melayu, pada saatnya harus tampil di paling depan menjadi magnet memimpin sebuah keramaian, tampil bersinar di hadapan publik yang hampir tak satupun mirip dengannya!?

Dougy bukan sedang tampil dalam ajang pertukaran budaya, atau dalam festival Jazz atau world music dimana para penonton notabene lebih matang dan datang untuk menikmati multikultural tersebut.

Harus diakui hidup di jaman dimana budaya pop menguasai dunia, kita terbiasa dicekoki pencitraan tertentu akan penampakan seorang bintang yang dibuat oleh industri untuk memenuhi selera pasar yang juga dibentuk sendiri olehnya (bahkan manusia super talenta seperti Michael Jackson pun harus menjadi korban!?). Saya rasa music rock walau didaulat sebagai pendobrak kemapanan pun tidak 100% bebas darinya. Menjadi frontman dalam band rock, mau tak mau Dougy didapuk menjadi seorang rock star di panggung, mematahkan ekspektasi para penontonnya yang terbiasa dengan estetika kulit putih dan belakangan juga kulit hitam.

Kehadiran si kulit sawo matang atau  kulit kuning di tengah-tengah itu semua apakah semudah itu dapat diterima? Barangkali perkembangan ini menarik untuk diikuti, walaupun masyarakat yang dihadapi jauh lebih terbuka ketimbang yang dihadapi Jimmy Hendrix di tahun 1967! Itulah keindahan yang membuat saya bergetar saat pertama kali melihat video di atas…

Saya berpikir-pikir, apakah karena saya seorang fans sehingga berlebih-lebihan menilai band ini? Pada akhirnya video Glastonbury di Inggris itu ternyata tidak ada apa-apanya ketimbang video-video berikutnya yang saya temukan. Dalam festival Lollapalooza (Agustus 2010) di Chicago, Amerika Serikat, dimana di saat yang sama hadir pula nama-nama seperti Lady Gaga, Green Day, Soundgarden, Arcade Fire, Blues Traveler, dll (yang saya sebut hanya yang saya tahu), pernahkah anda membayangkan bagaimana perasaan sebuah band menghadapi massa di luar teritorinya dalam jumlah besar dimana hampir seluruhnya ikut bernyanyi & melompat sepanjang lagu??! Yang membuat saya terkejut sebetulnya bukan penontonnya, tapi sikap Dougy yang sedemikian tenangnya… ??! (percayalah, video satu ini lebih layak ditonton…)

Bandingkan dengan apa yang dilakukan Lady Gaga atau penampil-penampil lain dalam event yang sama untuk mendapatkan perhatian dari publiknya (mohon maaf, saya anggap semua di Baltyra sudah cukup dewasa untuk menyimak foto ini)…

(Saya bersyukur The Temper Trap tidak perlu berupaya sedemikian kerasnya untuk mendapatkan popularitas di Amerika).

Dan Dougy, Jonny, Toby, serta Lorenzo  memilih Inggris, negeri asal The Beatles, Queen, The Rolling Stone, The Police, Duran Duran, Radio Head, dan band-band legendaries lainnya, yang barangkali karena sejarahnya telah mendidik masyarakat musiknya memiliki telinga yang lebih kritis dan media yang lebih tajam.

Dougy memang bukan yang pertama dan tidak (belum) sebesar Freddie Mercury sebagai orang Asia pertama di Inggris yang menjadi rock star (kedua orang tua Mercury orang Parsi asal Gujarat), namun penampilan Freddie tak terlalu kontras dengan kebanyakan penontonnya. Masih saja saya melihat beberapa komentar rasis di internet, untunglah presentasenya jauuuh lebih kecil ketimbang respon positif yang diterima band ini. Tampil selalu penuh percaya diri, seperti ada kualitas Jimmy Hendrix kecil di dalam pribadinya, Dougy nampak tak sedikitpun terintimidasi oleh isu-isu apapun.

Kekuatan itu juga tercermin dari penampilannya, sebagai orang Menado (yang konon lekat dengan penampilan glamour) yang pastinya sekarang cukup berlimpah materi, ia tampil santai bersahaja. Sepengamatan mendadak saya, ia paling sering memakai kaos putih longgar, hampir tidak pernah terlihat memakai jaket kulit demi terlihat sebagai rock star sejati (sekalipun gaya Dougy tampak paling flamboyan dibanding teman-temannya yang ‘anak band’ abis), dan boro-boro men-cat rambut, sepertinya ia tidak melakukan apapun dengan rambutnya (seperti penampilan kang mas-kang mas pada umumnya, ha3x…)! Dia tampil menjadi dirinya sendiri, seorang rockstar yang ‘santun’, sebuah pribadi yang lebih memikirkan substansi ketimbang pencitraan diri.

 

Indonesia Disposisi?

Sebetulnya orang-orang di Asia hanya perlu meyakini, bahwa pusat dunia kini pun telah bergeser ke timur. Walau memang keberhasilan-keberhasilan orang Indonesia di luar zonanya, khususnya di bidang yang lekat dengan pencitraan yang selama ini sulit ditembus ras Melayu, tentu membuat perasaan kita sebagai saudara-saudara setanah air ikut melambung. Seperti keberhasilan Anggun C. Sasmi dari Perancis, kendala ‘perbedaan’ itu dengan cerdas dibalik oleh Anggun menjadi sebuah keberuntungan, terlahir sebagai wanita Indonesia dengan segala keanggunan & keeksotikannya, untuk memesona dunia. Atau Sandhy Sandhoro dengan talenta suara yang sangat khas sukses merebut hati penggemar di Jerman dan negeri-negeri di Eropa.

Namun, terkadang tak jarang pula kebanggaan kita sering dinodai dengan rasa nasionalis yang picik, seperti yang kerap dialami artis-artis lokal yang bercita-cita untuk ‘go international’ (yang belum apa-apa sudah terbebani rasa tanggung jawab atau berbagai misi kebangsaan semisal harus memakai batik di panggung, dll),  beban ini sedikit banyak mengganggu fokus seorang bintang untuk bersinar dan untuk menjadi dirinya sendiri. Seperti halnya para atlit, dipuja-puja setinggi langit, begitu ada kesalahan sedikit saja habis sudah dimaki-maki (seolah kita bapak moyangnya!).

Kita harus berbesar hati, The Temper Trap selalu dikenal dunia sebagai band kebanggaan Australia yang kini berkiprah di Inggris, dan dari komen-komen yang saya baca di internet betapa kehadiran band ini menimbulkan rasa nasionalisme orang Australia (bahkan ada yang mengklaim Dougy lahir atau besar di Australia atau Dougy berdarah belasteran).

Kita harus lebih dewasa ketika menyaksikan video di atas, saat menyaksikan wajah Dougy di balik kibaran bendera Australia. Dougy sepertinya orang yang super ‘cuek’ dan tak banyak ambil pusing. Dengan jadwal tour yang sedemikian padat, ia juga tidak memberi porsi lebih kepada penggemar di tanah air, apalagi membebani diri untuk menjadi ‘duta bangsa Indonesia’?

Sebaliknya dalam wawancara di media manapun, dengan natural ia mengatakan bahwa dirinya adalah seseorang yang lahir & besar di Indonesia, dan betapa musik yang ia dengar di masa kecilnya sangat mempengaruhi dirinya sekarang.

Pada akhirnya setiap orang hanya perlu terus berkarya dengan sesuatu yang ia cintai. Karena tanpa banyak ribut pun, bermodal kulit dan garis-garis wajahnya, Dougy sudah menggeser banyak nilai di kepala para penggemarnya di dunia barat maupun timur, tentang apa yang bisa dilakukan oleh seseorang berkulit sawo matang, khususnya orang Indonesia… Bahwa superior maupun inferior dari sebuah bangsa atau ras adalah absurd.

A moment,

a love,

a dream,

a laugh,

just stay there…

cause I’ll be comin over…!

 

Jakarta, 11 July 2011, untuk Baltyra ;-)

 

Sumber :

http://www.thetempertrap.com/

http://en.wikipedia.org/wiki/The_Temper_Trap

http://en.wikipedia.org/wiki/%28500%29_Days_of_Summer

http://www.glastonburyfestivals.co.uk/

http://lineup.lollapalooza.com/past/2010

http://www.interviewmagazine.com/blogs/music/2009-03-16/sxsw-underdogs-the-temper-trap/

http://www.interviewmagazine.com/blogs/music/2010-10-15/temper-trap-music-conditions/

http://bataviase.co.id/node/330893

dan lain-lain

 

62 Comments to "‘The Next Rock Star’ dan Indonesia?"

  1. nevergiveupyo  2 August, 2011 at 13:40

    makasih mbak astrid.. habis ini saya mau nyari gratisan ah… T3…

  2. semut  1 August, 2011 at 22:12

    wah beruntung banget gw nemu situs ini
    bisa tau lebih dalem tamper trap,
    dah sering bgt denger lagunya tp gtw sapa yg nyanyi :hammer:
    baru ketauan setelah td liat fil 500 days of summernya (kuper gw)
    thanks y

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.