Angklung Kolosal di Washington DC, Memecahkan World Record

Dian Nugraheni

 

Inilah salah satu hari yang aku tunggu, Sabtu, 9 Juli 2011. Suhu udara panas menyengat menyentuh angka 31 derajat Celsius siang ini, ketika ribuan pengunjung dari berbagai negara tumpah ruah untuk menyaksikan Festival Folklife di kompleks sekitar lapangan Smithsonian dan Monumen Nasional di Washington, DC, yang keduanya saling berseberangan.

.

Kedutaan Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, dengan didukung oleh The Indonesia Investment Coordinating Board, alias BKPM, atau Badan Koordinator Penanaman Modal (di Indonesia), telah beberapa waktu ini mempersiapkan Festival Indonesia 2011, “Celebrating Multiculturalism”…, begitu judul acaranya, dan bertempat di kompleks Monumen Nasional, washington, DC.Acara utamanya adalah permainan alat musik Angklung secara kolosal, untuk meraih penghargaan World Record, dan targetnya adalah 5000 peserta.

.

Duta Besar untuk Amerika Serikat saat ini, Dino Pati Jalal, yang dulu pernah menjabat sebagai Juru Bicara Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudoyono, dengan bangga menyampaikan pidato singkatnya, yang mengatakan bahwa multikultural di Indonesia akan menggemakan kebersatuan, kebersamaan, persaudaraan, dan semangat ke seluruh dunia.

.

Pagar besi pendek mengitari lapangan panggung Indonesia, pengunjung dari berbagai negara, yaitu para “bule”, baik bule putih, hitam, coklat…, dan masyarakat Indonesia sendiri dengan rapi mengantri, masuk arena, dan dihitung satu persatu dengan menggunakan alat. Begitu masuk pintu arena, para pengunjung dibagi satu buah Angklung, dan satu buah Selendang untuk perempuan, atau satu buah Ikat Kepala Bali untuk laki-laki.

.

Begitu aku melihat tumpukan Ikat Kepala Bali, aku langsung mengembalikan Selendang yang sudah ada di tanganku,”I dont wanna it, I want this..” kataku sambil menunjuk tumpukan Ikat Kepala.

.

Petugas yang membagi Selendang dan Ikat Kepala, orang-orang Indonesia berjaket doreng berwarna oranye (Pemuda Pancasila?) menjawab, “This for man, and Selendang for woman..”

.

“Yes, I’m a man, not a woman..!” kataku sambil menepuk dada untuk meyakinkan Petugas.

.

Petugas tampak sedikit ingin berdebat,sambil beberapa detik memandangku dengan wajah menyelidik, tapi aku juga tetap ngotot, ini Amerika, Bung..boleh aja aku bilang bahwa aku laki-laki…he2…. Setelah sedikit bersitegang, akhirnya aku dapatkan juga Ikat Kepala yang sudah lamaaa…sekali, aku inginkan ini, dan segera memasangnya di kepalaku. Keyen lah yauw….

.

Begitulah, setelah aku dan anak-anakku berbaur dengan peserta pemain Angklung yang tumpah ruah di depan panggung Indonesia, aku berpikir cepat, bagaimana caranya membunyikan Angklung, bersama-sama dengan ribuan orang, tanpa belajar lebih dahulu, dan menghasilkan suara yang harmoni.

.

Ohh, ternyata di Panggung ada konduktornya, Daeng Ujo, dengan berbusana Jawa Sunda hitam, mengenakan blangkon lurik, dia mengacung-acungkan tangannya, kadang mengepal ke atas, atau jari 4 ke atas, atau jempol ke bawah, dan seterusnya.

.

Ohh.., ternyata juga di angklungnya tertera “nama” yang dicetak pada stiker kecil, yaitu, Kalimantan, Papua, Halmahera, Maluku, dan seterusnya.  Selain “nama” Angklung, juga disertai gambar tangan sebagai kodenya. Misalnya angklung dengan nama Halmahera, kode tangan adalah empat jari ke atas dan satu jari (jempol) terlipat ke dalam. Maka ketika daeng Ujo sang Konduktor memberikan kode tangan seperti ini, pemegang Angklung Halmahera lah yang harus membunyikan. Atau, misalnya Angklung Bali dengan kode tangan tiga jari tertutup, satu jari (Ibu Jari) menunjuk ke bawah, dan jempol lurus ke depan, maka bila Daeng Ujo memberikan tanda ini, maka pemegang angklung Bali lah yang harus membunyikan.

.

Akan terasa rumit kalau pake dipikir apa dan bagaimana membunyikan Angklung ini, aku aja yang orang Indonesia, rasanya ribet harus bagaimana, apalagi para “bule”, pastilah akan merasa lebih ribet lagi. Tapi dengan instruksi singkat dari Daeng Ujo, dan latihan-latihan cepat singkat langsung di lapangan, akhirnya Angklung-Angklung ini berbunyi dengan harmoni yang mengejutkan, luar biasa indah.

.

“Mana Halmahera…?” teriak Daeng Ujo. Maka orang-orang yang memegang Angklung dengan nama Halmahera akan membunyikannya, dan nadanya sama.

.

“Mana Bali…?” kembali Daeng Ujo berteriak, maka orang-orang yang memegang Angklung dengan nama Bali, akan membunyikannya, dan lagi.., nadanya sama dan serempak.

.

Ohh…begitu to..he2…

.

Tibalah dimainkan nada-nada tanpa kata, alias permainan instrumentalia, keyboard, drum, dan angklung mendendangkan lagu Country Roads milik John Denver. Nada-nada mengalir rapi, indah, menghanyutkan. Dan ketika tiba pada reffrein, semua ikut bernyanyi..

.

Country Roads take me home

to the place I belong

West Virginia, mountain momma

take me home, Country Roads….

.

Serasa mengendarai motor besar menyusuri jalanan sepanjang Shenandoah Valley di West Virginia…he2…(bisa naik motor juga enggak, tapi ngebayangin doang kan boleh aja…ya kan…he2…)

.

Waktunya tiba, ketika kelompok Elfa’s Singer yang 4 orang itu mulai mendendangkan lagu, “We are The World’ dari Michael Jackson. Selain diiringi keyboard dan drum, maka suara Angklung pun menyeruak dominan, dengan nada-nada yang keluar secara serempak sesuai dengan kode tangan yang diberikan oleh Daeng Ujo.

.

Dan lagi-lagi, keharuan, semangat, kebersamaan, kebersatuan dalam keragaman menggema ketika para peserta pemain Angklung menyanyikan refrein lagu We are the World.

.

We are the world

we are the children

we are the ones that made the brighter day

so lets start to giving

there’s a chanche we’re making

we’re taking our own life

it’s true we’re make

a brighter day just you and me…

.

Menjelang akhir acara, seremoni ini pun tak kalah menggetarkan dan menimbulkan kebanggan setiap individu yang terlibat dalam permainan musik Angklung kolosal ini, karena petugas dari World Record telah tiba, naik ke panggung, dan mengumumkan bahwa ini adalah permainan Angklung yang melibatkan peserta terbanyak di seluruh dunia, yaitu 5100 peserta. What a amazing…!! Dan siapa pun yang memegang Angklung, menggoyangkannya, menimbulkan bebunyian yang harmonis siang ini, adalah pendukung tercapainya World Record ini…he2…

.

Tampak Duta Besar Indonesia untuk Amerika, Dino Pati Jalal memeluk Daeng Ujo, sang Konduktor di panggung. Uhhh….sooooo sweeetttt… Let’s rock the world dengan semangat keberagaman yang indah penuh kasih sayang dan harmoni dari Indonesia….!! Bravoooooo…. I love You Indonesia….soooo…muchhh….

.

Tak terasa air mata haru mengalir ketika kuletakkan tangan kanan di dada kiri, ketika mengikuti menyuarakan lagu Indonesia Raya yang dipandu oleh seorang penyanyi berkulit hitam dari Indonesia yang ku tak tau namanya, whatever, Indonesiaku…kamu adalah milikku, dan aku adalah milikmu….

.

Washington, DC

Dian Nugraheni

Sabtu, 9 Juli 2011

(Festival Indonesia 2011…keberagaman yang membawa kebersamaan…)

 

Folklife Festival di lapangan Smithsonian…, Washington, DC…

 

Aku adalah anak gembala…ehh, salah, aku adalah salah satu peserta permainan angklung dengan jumlah terbanyak sedunia, terjadi di Washington, DC…

 

Konduktornya Daeng Ujo..sebelah2nya adalah Elfa’s Singer…membawakan lagu We are The World…so touching…

 

Tampak di layar, angka 1 sampai 10 adalah kode dan nama angklung sesuai nada ..seem so complicated but fun…ha2…

 

Cedar dan Alma ceria di tengah panasss….

 

Alfa’s Singer dan Daeng Ujo di Panggung….

 

Horee..record terpecahkan…

 

Mc, Ibu dari World Record, dan Dino Pati Jalal,,,Indonesian Ambassador…

 

Dino Pati Jalal memeluk Daeng Ujo…permainan angklung yang manis dan sangat menggetarkan hati…telah usai…getarnya akan terus terbawa dalam hati…

 

Nyanyi Indonesia Raya…

 

Sertifikat buat Participant pemecah World Record, Permainan agklung dengan jumlah pemain terbanyak, seluruh dunia..he2.terjadi di kompleks Monumen nasional, Washington, DC…

 

25 Comments to "Angklung Kolosal di Washington DC, Memecahkan World Record"

  1. Dian Nugraheni  31 August, 2011 at 04:41

    all my frens di baltyra…terimakasih banyak share komennya.., iyaa, saya nggak sempet rekam ini, tapi saya liat di YouTube ada beberapa yang upload rekamannya..

    Trus soal nama Daeng Ujo ini, saya pun bingung, namanya juga angklung biasanya kan dari Jawa Barat..trus saya sempet dikasih keterangan sama teman saya yang pernah juga ke Saung Mang Ujo, katanya, namanya seharusnya bukan Daeng tapi Deng. Katanya Deng adalah gelar kehormatan ala Sunda…
    tapi terus terang untuk hal ini saya belum telusuri lebih lanjut lagi…dan bagi teman2 yang sudah share komen untuk hal ini, saya ucapkan terimakasih banyak.

    Nama “Daeng” Ujo, -dan seterusnya di DC beliau juga dipanggil Daeng Ujo (dan kayaknya beliau enggak memberi klarifikasi soal sebutan nama ini..he2..)- juga saya temukan di stiker kecil yang menempel pada angklung, di sana ditulisnya, nama beliau juga Daeng Ujo, apakah ini salah ketik (dan berlanjut ke salah cetak stiker), atau bagaimana..he2..nanti2 InsyaAllah saya cari tau keterangannya deh..

    Trus ada sedikit keliru, yang menyanyikan Indonesia Raya, seorang penyanyi lelaki berkulit hitam, ternyata penyayi dari Amerika, dan selanjutnya, seorang perempuan, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia di Panggung, kabarnya, dia ini adalah Putri dari alm. Broery Pesolima yang setau saya memang tinggal di Amerika..(si Mbak ini berkulit hitam, maka saya kira dia penyanyi hitam dari Amrik, kan orang2 Black terkenal pintar nyanyi dan suaranya bagus2…

    Demikian, terimakasih banyak, sekali lagi buat teman2, dan masukannya tetap saya nantikan, buat editing Note ini selanjutnya…

    Salam saya…buat semua warga baltyra…

  2. holil  24 July, 2011 at 20:20

    mbk.. videonya minta tolong kirim dong ?

  3. Anwari Doel Arnowo  23 July, 2011 at 03:38

    Nama Mang Udjo sudah lama saya dengar, tetapi tiga bulan terakhir inilah saya sempatkan dua kali pergi ke Bandung KHUSUS melihat dan mendengarkan langsung di tempatnya. Menginap di Hotel dan hanya pergi ke Mang Udjo. Kalau tidak salah Pa(k) Daeng itu menantunya Mang Udjo almarhum. Saya amat kagum melihat ORGANISASI kelompok ini.
    Sekitar beberapa minggu yang lalu waktu selesai pertunjukan, Pa(k) Daeng ini berbicara bahwa besok (keesokan harinya) rombongannya akan ke New York, sama sekali tidak mengatakan akan mengikuti Rekor Guness ini, dan saya baca di internet ketika mereka (dan dirasakan oleh seluruh orang dan bangsa Indonesia) menang di Washington DC.
    Mereka amat mahir memainkan lagu-lagu Nasional dan daerah-daerah Indonesia, serta lagu Barat dari The BeeGees, Beatles serta lagu-lagu musik klasik. Yang luar biasa adalah bagian yang dimainkan oleh sekelompok yang sebagian besar mojang Periangan yang setiap orangnya memainkan 10 buah angklung. Itu seperti menggunakan sepuluh jari di atas toets piano secara bersamaan, tetapi harmonious. Ini bukan rasa seni yang semabarang pandai, tetapi bisa saya golongkan sebagai delicate, canggih sampai genius, mampu memainkan lagu dan rhapsody serta karya para musikus andal lainnya.
    Terima kasih Pa(k) Daeng !! BRAVO

    Anwari Doel Arnowo p 2011/07/23 – 03:33.

  4. Mawar09  23 July, 2011 at 02:35

    Mbak Dian: artikel yang sangat bagus, terima kasih ya sudah berbagi disini. Seru ya bisa ikut main angklung bersama.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *