Antara Aku, Sakit dan Mantan Guruku

Ida Cholisa

 

Menjelang kemo 4 aku mengalami pendarahan melalui hidung dan tenggorokan selama dua hari. Setelah dirujuk ke dokter THT, diketahui bahwa aku mengalami pecah pembuluh darah di bagian hidung yang mungkin disebabkan batuk berkepanjangan ataupun karena efek kemo.

Oleh sang dokter lubang hidungku disedot dengan menggunakan alat penyedot. Tak terkatakan betapa sakitnya. Tak hanya itu, sebuah tampon pun dimasukkan ke dalam lubang hidungku untuk menyumbat darah yang terus mengalir. Sesudahnya, aku harus menjalani rawat inap untuk mendapatkan infus untuk menghentikan pendarahan.

Dua botol infus berisi cairan anti pendarahan pun masuk ke dalam tubuhku. Tiba botol berikutnya, hingga kemudian datang sang suster dan mengatakan bahwa aku bisa langsung menjalani kemo 4. Duh, bagaimana rasa “nikmatnya”. Sudah hidung sakit bukan kepalang, mulut susah menelan, tubuh harus diam berbaring selama berjam-jam untuk menjalani kemoterapi.

Sebuah ritual yang terasa sangat menjenuhkan, dan sesudahnya menyakitkan! Aku jalani pengobatan kemo tersebut dengan perasaan campur-aduk. Ironisnya, kemo berlangsung sangat lama. Lain dari biasanya. Tetes cairan infus kemo seolah bergerak sangat lambat, hingga membuat para suster kebingungan. Mereka memintaku untuk membuat suntikan infus baru untuk melancarkan infus kemo yang berjalan sangat lambat. Aku menolaknya, karena yang kutahu pengobatan kemo sangat berbahaya.

Akhirnya, jadwal pengobatan kemo molor hingga 9 jam! Harusnya selesai pukul 10 malam, ternyata baru kelar pukul 7 pagi. Sebuah perjuangan yang sangat melelahkan. Selesai kemo, aku dirujuk ke bagian THT. Di sanalah tindakan menyakitkan kembali aku alami. Tampon yang telah tiga hari dimasukkan dalam lubang hidungku akan segera dikeluarkan. Bergidik aku melihat alat-alat yang telah dokter persiapkan. Disuruhnya aku berbaring di ranjang dengan video dan teropong serta berbagai alat yang sangat menyeramkan.

“Tahan ya, Bu. Ini memang sakit. Tarik nafas, keluarkan lewat mulut…”

Sambar gledek! Aku menjerit, menyebut nama Allah, sungguh sangat sakit! Ternyata tampon belum keluar. Disuruhnya aku menarik nafas kembali. Astaghfirullah, tiba-tiba jebrooooot…., tampon ditarik dengan cepat hingga meninggalkan rasa sakit tiada tara. Sungguh lebih sakit dari malam pertama.

Ampuuuun…..! Tak cukup di situ saja penderitaanku. Diteropongnya semua lubang hidungku, dan nampaklah semua organ dalam hidungku melalui layar monitor video. Kemudian dokter mngambil alat kembali, dan memintaku untuk menahan rasa sakit kembali. Serrrrr….., sebuah alat penyedot pun menyedot sisa lendir yang ada di bagian dalam hidungku. Sungguh, kocar-kacir diriku…

Aku kembali menjalani pengobatan melalui infus. Malamnya, aku pun pulang. Lemah lunglai tubuhku. Perjalanan terasa lama dan melelahkan. Hingga tiba di rumah, aku seakan tak memiliki tenaga, dan ambruklah aku kemudian. Efek kemo mulai bekerja. Meriang, mual dan muntah serta segala rasa mulai menjalar. Hingga lima hari aku terkapar tanpa daya dan tenaga. Tak seperti biasanya aku mengalami efek seperti ini. Semakin ke sini, efek kemo semakin tak terkendali.

Hingga kemudian…., masuklah SMS di hapeku;

“Alhamdulillah, saya dah nyampe di Bogor.”

Aku melompat. Betapa girang rasa hatiku. Sontak terbang seluruh rasa sakitku. Sebenarnya, siapakah pengirim SMS tersebut? Beliau adalah mantan guru SMA-ku, yang khusus datang untuk menjengukku.

Seolah mendapat suntikan energi, aku bangkit dari tempat tidur. Seluruh ruangan telah dibersihkan. Suamiku telah memasak rendang. Aku pun segera berdandan. Dalam sekejap lenyap seluruh gambaran tentang diriku, di mana sebelumnya aku pucat tak berdaya, tiba-tiba berubah segar tiada tara.

Menjelang Ashar sang Guru pun datang. Kami berpelukan. Lama sekali. Pertemuan yang sangat mengharukan. Mata guruku berkaca-kaca. Berulangkali ia mengelus pipiku, dan berkata padaku, bahwa ia datang khusus untuk mendoakanku.

Hatiku berrendam rasa. Bahagia, suka, gembira, semua lebur menjadi satu. Bagaikan mimpi aku bertemu kembali dengan mantan guruku, setelah puluhan tahun tak pernah bertemu. Aku bahagia, sangat bahagia.

Menjelang maghrib sang Guru pun berpamitan pulang. Sesungguhnya aku ingin beliau menginap, tetapi karena kesibukan beliau, maka beliau tak bisa memenuhi permintaanku. Beliau berjanji akan datang kembali jika aku telah sehat, dan akan memenuhi keinginanku untuk kubawa keliling kota.

Kedatangan sang Guru telah menyembuhkan sakit pasca kemoku. Aku menjadi sehat, hingga kemudian beberapa hari sesudahnya dokter memberiku jadwal operasi. Sungguh sebuh pertemuan yang membawa sejuta kebaikan dan kemenangan…

Ya, aku telah mampu melawan sakitku, dan pergulatan bersama operasi telah berhasil aku lalui. Beberapa hari sebelum dan sesudah operasi, sang Guru pun mengirim SMS padaku, serta menanyakan keadaanku, sembari mendoakanku.

Kini aku telah sehat kembali. Luka operasi masih terbalut perban, tetapi aku telah banyak beraktivitas tanpa beban. Dua hari ke depan aku mesti kontrol kembali, dan minggu depan mesti menjalani kemoterapi yang kelima. Mudah-mudahan aku mampu melewati serangkaian pengobatan nan melelahkan dan menyakitkan ini, hingga kesembuhan total pun mampu aku dapati.

Ada doa Ibuku, suamiku, anak-anakku, sahabat-sahabatku, serta murid-muridku. Terlebih, ada doa mustajab guruku, ya, doa Sang mantan Guru SMA-ku…

Semua akan baik-baik saja. Semoga kesembuhan berpihak padaku, hingga mampu kembali aku bertemu sang mantan Ibu Guru…***

 

Bogor, Januari 2011-

 

14 Comments to "Antara Aku, Sakit dan Mantan Guruku"

  1. Dj.  21 July, 2011 at 23:14

    Mbak Ida…
    Ada Firman yang mengatakan….
    Bila enkau memiliki iman sebesar biji sesawi pun, maka engkau akan bisa berkata kepada gunung, agar dia berpindah kelaut……

    Semoga cepat sembuh total…!!!

  2. atite  21 July, 2011 at 21:50

    mbak Ida, gak kabayang perjuanganmu… membayangkan saja sy sdh ngilu!
    sy mencoba ingat2, siapa guru2 sy dulu yg bs membawa efek sperti mbak Ida ceritakan itu… dipikir2 kayanya gak ada, ha3x… mbak Ida sungguh beruntung!
    salam…

  3. T.Moken  21 July, 2011 at 19:25

    Semoga Ibu Ida selalu kuat dalam menjalankan segala pengobatan.

  4. [email protected]  21 July, 2011 at 16:08

    perempuan pasti lebih kuat…. apalagi pas membawa bayi 9 bulan booo…. gue ngangkat ponakan 9 menit aja tangan pegel2… :p

    weeeh… tenang ci lani, ku akan selalu beri perhatian… :p *gaya banget gue ya*….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.