Kelas Baru Izza

Wesiati Setyaningsih

 

Malam semakin larut. Tapi Izza belum tidur. Aku masih berkutat dengan laptopku di sebelahnya. Tadinya dia minta dicarikan lagu reflection dari you tube. Sudah aku carikan, ternyata masih belum bisa tidur juga. Lama-lama aku lihat matanya memerah. Aku tanya “kenapa?” dia tak menjawab. Mulutnya mulai mecucu. Sepertinya sebentar lagi dia akan menangis.

Aku tanya lagi pertanyaan yang sama. Tak mau juga dia menjawab, malah air mata segera menggumpal di kedua matanya dan mulai meluncur turun. Aku biarkan dia mengusapi mata dan pipinya.

Aku tanya lagi “kenapa?” untuk ke sekian kalinya.

Keluar kalimat dari mulutnya

“Aku nggak ingin Denis pindah kelas,” katanya sambil mewek.

Baru aku paham. Entah kenapa dia tidak mengatakannya siang tadi ketika dia cerita kelasnya dioplos. Ceritanya begini. dulu, SD di sekitar tempat tinggalku terdiri dari dua sekolah yang dijadikan satu. Jadi dalam satu sekolah ada dua kepala sekolah. Maka kalo dikatakan kelas A dan kelas B, tiap kelompok itu punya guru dan kepala sekolah masing2. akhir-akhir ini sekolah-sekolah itu dijadikan satu, dengan satu kepala sekolah. kebijakan yang cukup baik dari kepala sekolah SD Izza yang baru, tidak cuma gurunya yang dioplos, guru kelas-kelas A bisa mengajar kelas-kelas B begitu juga sebaliknya, tapi  juga anak-anaknya.

Kalau dulu waktu Dila sekolah, dia bisa sekelas dengan anak yang sama selama enam tahun, di kelas tiga ini kelas Izza dioplos. Padahal Izza sudah sekelas selama 2 tahun. Tak heran dia sedih harus berpisah dengan salah satu teman dekatnya.

Aku jadi ingat, pagi-pagi ada murid yang datang menemui. Katanya, minta gimana caranya bisa pindah kelas karena di kelas dia yang sekarang ada teman yang diemin dia. Aku cuma bisa bilang, fokus aja ke pelajaran. Enggak usah mikirin yang enggak peduli sama kamu. Dan lagi cuma dua orang yang katanya mendiamkan dia. Masih ada 30 anak lebih yang tidak mendiamkan dia. Jadi, kenapa repot?

Jadi itulah yang aku ceritakan pada Izza.

“Jangankan kamu, muridnya mama aja pada mengeluh begitu. Pengen sekelas sama ini, sama itu. Tapi kan enggak bisa gitu..”

Izza terperangah. Airmatanya surut. Dia tidak menyangka anak-anak SMA yang besar-besar itu juga mengalami hal yang sama dengan dia. Aku ceritakan pada Izza bahwa sejak kemarin status murid-muridku di fb sudah menulis tentang ‘kelas yang enggak enak’, ‘teman yang enggak enak’, dan semacamnya. Aku bilang pada Izza, sedih itu biasa. Karena dia sudah lama berteman dengan denis. Tapi toh hidup harus jalan terus. Sudah bagus kepala sekolahnya mengoplos kelas-kelas. Karena anak-anak jadi kenal satu sama lain. Tidak seperti mbak dila yang dulu tidak begitu mengenal temannya dari kelas A karena dia di kelas B. Aku bilang, itu bagus karena dia jadi punya banyak teman. Seketika Izza jadi tenang.

Begitulah, ternyata Izza juga harus belajar tentang menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, dan aku senang dia belajar sejak dini. Tidak ada yang tetap dalam hidup ini. Selalu berubah. Kalau kita terpaku pada satu situasi, pada satu kondisi, kita tidak akan maju. Kita akan berhenti pada satu titik ketika situasi berubah. Kita tidak paham bahwa situasi yang berubah itu adalah pengalaman baru yang harus dijalani. Tuhan mengirim kita di dunia ini untuk mengalami banyak hal. Seperti Tuhan membuat banyak musim di dunia ini untuk kita untuk kita alami. bukan untuk dihindari.

Akhirnya Izza tidur dengan tenang malam itu. Besoknya dia masih cerita tentang teman-temannya yang dari kelas berbeda di tahun sebelumnya. Mengeluhkan mereka yang berbeda dengan teman-temannya yang lama. Aku cuma bisa bilang, dia harus menerima. Hidup memang cuma harus diterima, kok. Dan mengalir bersama kehidupan memang yang terbaik. sepertinya begitu…

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

12 Comments to "Kelas Baru Izza"

  1. SU  24 July, 2011 at 21:01

    Oh saya salah mengerti. Tak pikir di oplos itu di mapras. Ternyata dicampur toh? Jaman saya memang kelasnnya dicampur berdasarkan prestasi tahun pelajaran sebelumnya.

  2. Dj.  24 July, 2011 at 21:01

    [email protected] Says:
    July 22nd, 2011 at 15:01

    om DJ :
    dioplos… mirip2 kata bensin oplosan… artinya campuran….
    kalo bensin itu dicampur minyak tanah = bensin oplosan…

    kalo kelas oplosan… berarti kelas A dicampur ama B :p
    *semoga bener*

    Hahahahahahahaha…..
    Aplosan = campuran…
    Tapi kalau memang mirip dengan bhs Jerman yang ABLÖSEN, itu artinya digenti sementara.
    Bukan campuran hahahahahahaha…!!!

    Terimakasih Pampres….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.