Gelisah Si Semprul

Dwi Klik Santosa

 

TEMBEM : Dudukmu tenang nampaknya, tapi mukamu kusut begitu. Sepertinya kau sedang serius memikirkan sesuatu?

SEMPRUL : Ya, sesuatu yang belum tentu kau suka.

TEMBEM : Alah, jangan begitu. Paling-paling kau sedang memikirkan perempuan yang semampai seperti apa kata Rendra dalam naskah Mastodon dan Burung Kondor. Yang cerdas dan berisi, sehingga kapan saja mampu mendukung dan menghidupkan gairah itu untuk bergerak dan terus bergerak… hahaha … Kau berselera ingin jadi Jose Karosta, sang penyair itu rupanya . .. Atau jangan-jangan, sebentar lagi, kau akan bilang, “hai, dengarkan, sebentar lagi bukuku akan terbit .. dan lalu, lalu .. demi pertemanan, aku pun kau suruh beli. Begitu, bukan?”

SEMPRUL : Huh … tidak selalu begitu .. kau dengar, tidak selalu begitu …

TEMBEM : O, ya ….

SEMPRUL :  Ya, aku sedang memikirkan sesuatu. Mungkin hal yang aneh dan belum tentu kau akan tertarik dan nyambung …

TEMBEM : Ah, kau ini. Sedang mikir apa sih?

SEMPRUL : Kebudayaan Indonesia.

TEMBEM : Kebudayaan Indonesia?

SEMPRUL : Sebuah Revolusi. Revolusi kebudayaan.

TEMBEM : Woooow! Apa yang kau pikirkan dengan revolusi kebudayaan?

SEMPRUL :  Sesuatu yang sederhana saja. Sesuatu yang tak sulit sebenarnya dalam konsep kata-kata … tapi selalu saja pelik dan rumit … apalagi dalam pencernaan sepertimu …

TEMBEM : Waaaaa … baiklah, baiklah .. kuakui, tema-tema begitu, mungkin aku kurang begitu suka. Tapi aku siap mendengar  …

SEMPRUL : Kau bayangkan. Jika banyak orang, atau sebagian besar orang di Indonesia ini, suka bersikap, berpikir dan bertindak dengan hal-hal yang baik …. Yang sejalan dan sehati. SEJATI, sebagaimana dikata Rendra. Yaitu sebagai yang bersenyawa antara roh dan badan itu ke dalam kesatuan.  … Yang menjadi guru, menjadi guru yang baik. Yang berdagang, berdagang yang baik. Yang menjadi dokter, menjadi dokter yang baik. Yang menjadi polisi menjadi polisi yang baik. Yang menjadi pemerintah, menjadi pemerintah yang baik. Yang menjadi ulama atau pendeta, menjadi ulama atau pendeta yang baik. Yang menjadi seniman, menjadi seniman yang baik. Pendeknya ketika semuanya itu serba baik-baik dan proporsional pada tempat dan kontribusinya masing-masing, pastilah semuanya akan baik …..

TEMBEM : Hadewww …. Yaiyalah ..  sudah pastilah akan begitu…

SEMPRUL : Tetapi kenapa melulu tidak bisa begitu? Bukankah kebanyakan dari kita adalah para terpelajar dan sejak kecil diajari agama … Kontekstual seperti apa kata Rendra. Bahwa pengetahuan jika belum diamalkan, dan mampu menghasilkan manfaat, belum bisa disebut ilmu …. Dan jika seseorang telah mengerti dan memahami akan makna tujuan ilmu pengetahuan, tapi dalam prakteknya melulu dan gemar kilaf … demi kuasa, demi uang, demi status melulu … maka, begitulah pengingkaran itu melandasi semua kemunafikan ini …

TEMBEM : Tapi, begini, Bung. Hal-hal yang menyedihkan itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Di belahan bumi manapun, yang baik-baik dan ideal seperti yang kau maksud itu ndak pernah ada contohnya. Dalam sejarah bangsa manapun, kegoblokan, kemunafikan, kebangsatan, kejahatan dan kesemenaan itu seperti sudah menjadi seni tersendiri yang integral dalam hidup …. Jadi Revolusi Kebudayaan seperti apa yang kau maksudkan … Sudahlah, jangan terlalu serius …

SEMPRUL :  Huh! … Teori-teori, betapa mudah dipelajari. Tapi jiwa-jiwa yang asih, mumpuni dan hampa pamrih dalam memberi betapa susah mencari …. Tapi saya percaya, sebagaimana dikatakan Rendra, siapa yang gerak, laku dan pikirnya seirama dengan laku jalannya alam, niscaya kelak ia akan menemukan. Semoga jiwa-jiwa itu masih ada dan bermekaran. Seperti hakekat rumput teki, yang tak kenal mati di sepanjang musim. Di musim kemarau, ia akan tahan dari kepanasan, dan di musim penghujan, ia akan tetap tinggal dan tumbuh disitu, tak hanyut oleh banjir.

Dan, begitulah ia akan terus bersemai, berkembang, menularkan pertumbuhan untuk meneriakkan perubahan. “Wahai, mari bekerja keras dan saling memberikan keteladan menuju prestasi …..” Begitulah, jiwa-jiwa yang bergelora tidak akan menunjuk-nunjuk atau memamerkan seolah-olah kelebihan pada dirinya, dan selantang-lantangnya berteriak “akulah layak menjadi pemimpin”.  ….. Tapi mari percayai, alam yang murni serba geraknya akan memilihkan sendiri … budi dan daya akan memantik kreasi-kreasi itu menjadi optimisme dan dinamisasi.

Tidak perlu lagi berkhianat, menjual harga diri kepada orang-orang asing yang parlente tapi munafik itu ….. yang datang bagai dewa, memamerkan sekian gebyar dan sorga-sorga yang semu itu … dan tapi, pelan tanpa terasa, menghisap kekayaan kita yang tak ada duanya …. emas mutu manikam jamrud khatulistiwa …… dan harga diri anak bangsa!

 

Pondokaren

8 Juli 2011

: 20.oo

 

6 Comments to "Gelisah Si Semprul"

  1. J C  25 July, 2011 at 12:47

    Memang sempruuuulll bener kalau gitu…

  2. Dj.  23 July, 2011 at 22:18

    Mas santosa….
    Terimakasih untuk artikelnya…
    Ada tertulis…
    Roh memang penurut, tapi daging lemah.
    Kemauan roh, berlawanan dengan kemauan daging….!!!
    Olehnya berdoalah agar kemauan daging bisa sama dengan kemauan roh.
    Salam sejahtera dari Mainz.

  3. bagong julianto  23 July, 2011 at 16:34

    Mas DKS….

    Bangsa kita umumnya menjadikan Pemimpin (=Presiden), sebagai patron/role model……
    Kalau pemimpin hanya sibuk berwacana terus, sia-sialah mandat yang telah diterimanya.
    Kemenangan mutlak dalam Pemilu yang lalu menjadi buku hampa yang bertuliskan: GAGAL!

    Suwunnn..

  4. nu2k  23 July, 2011 at 16:03

    Bung Dwi, situasi dan kondisi yang belum merata dalam hampir semua bidang membuat langkah-langkah menuju perbaikan yang ada menjadi terseok-seok. .Lagi pula semakin hari bukannya semakin membaik tetapi justru semakin rumit dan ruwet jalan yang harus dilaluinya. Kalau diumpamakan sebagai benang, usaha untuk menguraikan kusut masutnya gulungan benang yang ada tidak akan pernah berhasil hanya dengan mengurai titik keruwetannya saja.. Diperlukan sebuah gunting yang supeeeerrrr besar dan tajam untuk kadang mengguntingnya disana dan disini sampai semuanya teruraikan… Tapi setelah terurai rapih apakah ada kelos benang yang kuat untuk menggulung benang itu agar tidak kusut masut lagi…. Satu tanda tanya yang besar….Selamat berweekend dari Belanda yang cuacanya sudah mulai tidak ramah lagi….Angin tidak bersahabat lagi sehingga tidak bisa bersepedahan di hari ini… Groeten, Nu2k

  5. Nuchan  23 July, 2011 at 13:54

    Hai Dwi…saya suka artikel ini..tidak terlalu satire..tapi sebenarnya satire…hehehhee..untuk anak bangsa yg mengkhianati dan menjual negerinya demi segumpal mamon ..yg pada akhirnya mamon itu tak memberinya apa-apa, hanya kesia-siaan belaka.. akhirnya kita hanya akan berakhir pada sepetak tanah 2X2M..Meskipun ditempatkan di San Diego Hills..tetap saja 2X2M hahahhaha…Ma kasih Dwi…

  6. James  23 July, 2011 at 13:38

    E e n

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.