Candi Gedongsongo

Handoko Widagdo – Solo

 

Candi Gedongsongo terletak di lereng Gunung Ungaran, tepatnya di Bandungan, Ambarawa. Sesuai namanya, komplek Candi Gedongsongo  (gedong = bangunan; songo = sembilan) terdapat 9 candi. Candi yang merupakan peninggalan Wangsa Syailendra ini masih berdiri tegak, meski beberapa masih berupa reruntuhan.

Memanfaatkan liburan sekolah yang tinggal seminggu, saya bersama keluarga mengunjungi candi Gedongsongo. Dengan mengambil base-camp di salah satu hotel di Bandungan, kami meluncur naik ke puncak Gunung Ungaran. Jarak dari Bandungan hanya sekitar 7 km saja.

Untuk mengunjungi semua candi diperlukan waktu yang cukup banyak. Namun, dengan naik kuda Anda hanya memerlukan waktu dua jam saja. Sewa kuda juga sangat murah. Hanya Rp 50.000 saja sudah bisa berkunjung ke semua komplek candi.

Jangan khawatir kelaparan di komplek candi ini. Sebab tersedia cukup banyak rumah makan di komplek wisata Gedongsongo. Atau jika anda tidak mau makan yang berat-berat, jagung bakar juga tersedia. Bagi anda yang suka joging, anda bisa menginap di penginapan yang berada di dalam komplek. Harga sewanya hanya Rp 1,5 juta sudah bisa dipakai untuk 3 keluarga.

 

Bandungan, Akhir Juni 2011

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

129 Comments to "Candi Gedongsongo"

  1. Handoko Widagdo  21 September, 2011 at 17:49

    Apa maksudnya plus-plus Mas Arief? Apakah plus tahu dan plus susu?

  2. Arief Masbu  21 September, 2011 at 17:41

    Bandungan terkenal dengan tempat wisata yang Plus-plus.Dari Motel,Vila,Hotel kelas melati sampai bintang 2 menjamur disitu.Kulinernya yang terkenal Tahu Serasi,susu kedelai,sate kelinci dan masih banyak lagi

  3. Handoko Widagdo  8 August, 2011 at 06:38

    Lani, lha yen sing asli wis ilang ngglundung ya diganti dengan ronce saja

  4. Lani  7 August, 2011 at 10:35

    HAND ya beda dunk, gelung dan ronce……ronce kan cm kalung lei bukan gelung sing ngglundung kuwi mau……

  5. Handoko Widagdo  6 August, 2011 at 16:47

    Apakah gelungnya sudah ketemu Mbakyu Nu2K? Kalau belum ketemu bisa pinjam roncenya Lani

  6. nu2k  2 August, 2011 at 18:06

    Dimas Handoko, commentaar nomor 109, sing kapiran sing tugasé nyulut meriamé… Salah-salah tangané dhewe sing kesundhut sisan……ha, ha, haaaaa. Dimas Handoko, ndhék mau aku wis rampung lehé tapa wuda ngudhar gelung… Lha sakiki jik nggoleki gelungé sing ngglundhung mbuh nang ngendhi… Ha, ha, haaaaaa… Rewangi toch dimas mabkyunya yang satu ini…..Ha, ha, haaaaa… kus, kus, kus… (eeeehhhh jik wulan poso, olih ora ngirim kus, kus, kus??) Nu2k

  7. Lani  31 July, 2011 at 13:49

    HAND wah, pasti lupa ndak ikut mendoakanku????? jd NEV cm lewat Solo doank? ndak bs kopdar dunk……

  8. Handoko Widagdo  31 July, 2011 at 13:42

    Lani, aku di Solo bersama anak dan istri. Baru balik dari gereja. Sayangnya gak jadi ketemu sama Victor Arya karena dia hanya lewat Solo kurang dari 4 jam.

  9. Lani  31 July, 2011 at 13:30

    HAND : ya, kamu guru sejarah no 2 buatku wes……..ini lagek di SOLO?????? opo wis mabur balik ke JKT?????

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.