Dalam Kegelapan Ada Keindahan

Ki Ageng Similikithi

 

Manusia Homo sapiens secara alamiah  tak suka kegelapan. Dalam temuan temuan purba kala selalu ditemukan  perapian yang  dulunya digunakan untuk  penerangan, penghangatan dan masak memasak. Para pujangga  sejak dahulu kala, menggambarkan kegelapan sebagai  lambang kesedihan dan kekacauan.  Hanya suasana remang remang yang sering dikaitkan dengan suasana romantis dan cinta sepasang anak manusia. Tak sampai gelap. Dalam dunia  asmara, gelap hanya dikaitkan dengan  perselingkuhan.

Saya terbiasa dengan kegelapan. Karena dibesarkan di suatu desa di Ambarawa di tahun limapuluhan dan enampuluhan. Belum ada listrik waktu itu, penerangan hanya dengan lampu petromaks. Jika waktu tidur tiba, penerangan diganti dengan lampu teplok. Sering tanpa penerangan demi keamanan. Kalau ada maling masuk, dia tak akan melihat apa-apa. Tetapi ada penyair yang pernah merangkai puisi. Hanya dalam gelap orang dapat melihat bintang bintang di langit. Ada keindahan dalam kegelapan.  Keindahan yang hening dan dalam.

Awal tahun sembilanpuluhan di Amsterdam. Saya menghadiri kongres sedunia farmakologi. Penyelenggaranya kebetulan teman satu klik. Sama-sama generasi farmakolog klinik yang dibimbing oleh Folke Sjoqvist  (Karolinska) dan Sir Michael Rawlins (UK), tokoh-tokoh generasi pertama dan kedua  di Eropa Barat.  Hubungan kami cukup erat selama bertahun-tahun. Saya mendapat berbagai keringanan untuk menghadiri konggres tersebut.

Kantor saya memesan suatu hotel, relatif murah dan memadai. Hanya agak kaget ketika masuk (check in) ternyata hotel tersebut  satu kamar bisa ditempati oleh beberapa tamu.

Fasilitas kamar lumayan, ada dua bed, satu single dan satunya double. Hari pertama, aman-aman saja. Saya sendirian dan menggunakan tempat tidur tunggal. Hari kedua, jam sembilan malam, masuk pasangan dari Polandia. Agak kikuk, tetapi kami saling ngobrol sampai tengah malam. Sang pria, seorang pilot maskapai penerbangan dari Eropa Timur, adalah teman ngobrol yang sopan, hangat dan bersahabat. Sang pacar kelihatan pendiam, dengan penampilan cantik dan seksi. Kami sepakat mematikan lampu biar bisa tidur nyenyak.

Hari kedua, seusai menghadiri acara konggres, saya kembali ke hotel.  Habis makan malam sengaja tidak ke kamar, tetapi melihat TV pertandingan bola World Cup, antara Cameroon yang dibintangi oleh Makanaky lawan Netherland.  Masuk kamar lewat tengah malam. Hati-hati sekali jangan sampai berisik mengganggu pasangan pilot sama pacarnya, sang pramugari. Saya langsung tertidur lelap.

Belum lama terlelap ketika saya dikejutkan oleh suara gaduh seperti orang berkelahi. Reaksi saya langsung bangun secepatnya dan melacak arah suara. Ternyata suara hiruk pikuk itu datang dari tempat tidur seberang. Kadang diselingi dengan jeritan-jeritan tak karuan. Atau desah napas yang memburu. Tak terlihat apa-apa, oleh karena gelap. Ada sinar remang remang menerobos masuk, tetapi tak membantu penglihatan saya sama sekali.

Hanya kadang-kadang saja saya merasa ada gerakan kaki yang  menyeberang dan menggetarkan tempat tidur saya. Entah kaki sang pilot atau si pramugari. Tak relevan untuk diverifikasi. Saya kembali berbaring dalam kegelapan yang temaram. Mendengar dan menikmati suara-suara dua anak manusia yang bercinta.

Dalam gelap ternyata bisa mendengar mereka asyik bercinta. Bukan kegelapan yang hening tetapi penuh suara berdesah bersahutan. Batin saya mengeluh tanpa daya. Ngono ya ngono ning mbok aja ngono.  Paginya bangun agak siang. Sudah lewat jam tujuh pagi. Kami bertemu di kantin di lantai dasar. Sang pria bilang kalau mereka sudah dapat hotel yang  murah dan nyaman. We will not disturb you anymore with our physical exercise. Saya hanya bilang, enjoy your vacation.

Dua puluh tahun lewat, awal dua ribu sepuluh. Nyi didiagnosis menderita tekanan bola mata meninggi (glaucoma). Tidak boleh tidur dalam gelap. Harus pasang lampu sepanjang malam, supaya tekanan  bola mata tak meninggi. Sejak lama memang dia tak bisa tidur dalam gelap. Kami selalu berselisih prekara lampu tidur. Ketika masih muda dia pernah mengeluh, katanya saya bosan  melihat wajahnya saat tidur. Terpaksa harus pakai lampu, walaupun hanya samar-samar.

Sekarang kami sudah sepakat, mulai tidur pakai lampu. Jika salah satu sudah tidur, kami boleh pindah kamar. Saya meneruskan tidur dengan lampu mati atau Nyi meneruskan tidur dengan lampu menyala terang.  Hak azasi pasangan manula. Tak ada desah memburu. Sudah terlalu tua untuk bergelut dalam kegelapan. Demi transparansi harus pasang lampu.  Good governance and transparency in bed. Edan, prinsip transparansi dan keterbukaan di bidang politik kok sampai ranjang.

 

Salam damai

Ki Ageng Similikithi

Manila, 18 Juli 2011

 

98 Comments to "Dalam Kegelapan Ada Keindahan"

  1. matahari  29 July, 2011 at 18:53

    Tulisan yg sangat bagus dan menarik….

  2. Lani  26 July, 2011 at 15:34

    KI……..komentar NIA betooooooool banget, yg suka tutul…….tutul………diraba-raba…….meraba raba…….itu aki buto…….dia ahlinya KI………..tp dia jg punya senjata pamungkas……POKOK-E AKU ORA MELU2……..

  3. Lani  26 July, 2011 at 15:30

    KI waduuuuh ndak bs disembuhkan sec total? hanya bs penyembuhan sementara dan hrs tekun berobat trs????? bbrp hr yl saya berbicara dgn salah satu pastor yg saya kenal di HONOLULU, yg punya teman katanya baru saja operasi laser krn glaucoma…….dan hasilnya baik2 aja……..apakah maksudnya dgn berjalannya wkt, akan balik lagi ya penyakitnya????

  4. nia  26 July, 2011 at 15:26

    hehehe.. Ki Ageng melempar pancingan lg… ada ditutul2 dan diraba2 dlm gelap hehehe…
    klo ini ahlinya Buto yg mengaku anteng dan pendiam…

  5. Ki Ageng  26 July, 2011 at 15:24

    Salam damai,

    Setelah komentar/diskusi agak serius dgn Lani ttg glaukoma, dan dgn Dewi Aichi ttg Nyai Loro Kidul kok terus mampet diskusinya ya?

    Padahal Nyai Loro Kidul itu juga glaukoma, maka suka tidur di tempat gelap, dan sangat menikmati kalau di tutul tutul dan diraba raba dalam gelap

  6. Ki Ageng  26 July, 2011 at 15:20

    Mungkin memang ada faktor keturunan walau tidak 100 %. nampaknya tidak bisa disembuhkan. Hanya dengan pengobatan agar tekanan bisa dipertahankan rendah terus. Dulu waktu kita masih di pendidikan sering lihat operasi untuk mengurangi tekanan, tetapi sekarang tidak lagi dianjurkan. Juga harus dihindari obat2 tetes mata yang dapat meningkatkan tekanan. Harus pengobatan terus menerus. NYI pernah saya periksakan dulu jika ada glaukoma, dibilang normal Akhir2 ini mengeluh sering menyempit lapangan pandangan satu sisi mata. ternyata glaukoma. Ya sekarang hanya harus tekun pengobatan

  7. Lani  26 July, 2011 at 13:33

    KI komentar 89…….trimakasih udah dijawab……..jd tdk diketahui penyebab GLAUCOMA? kata dokter mata saya, krn keturunan? trs apakah bs disembuhkan?

  8. Ki Ageng  26 July, 2011 at 10:10

    Mitologi Nyai Loro Kidul itu lebih didominasi imaginasi pria. Tak sesuai dengan kesetaraan gender. Cerita2 rakyat ttg Nyai Loro Kidul selalu dikaitkan dengan penampilan dan seksualitas bayangan pria pria Jawa sejak jaman dulu kala. Tidak pernah mitos mitos itu menceritakan kegagahan Nyai Loro Kidul dalam membela kebenaran, memberikan kemakmuran seperti mitos Dewi Sri. Agak mengehrankan ok sejak abad ke 7 atau ke 8 di Jawa sudah mengenal ratu (raja perempuan) berarti waktu itu masyarakat telah mengakui peran wanita setara dengan lelaki. Sejak kapan mitos Nyai Loro Kidul muncul ? Tidak jelas. Mungkin bersamaan dengan munculnya kerajaan2 Islam yang biasanya sangat didominasi pria

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.