RUU BPJS vs Terapi Rel

Sumonggo – Sleman

 

Orang miskin dilarang sakit, orang miskin dilarang mati. Begitu pemeo yang sering terungkap. RUU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) terancam mengalami kebuntuan. Pemerintah dan DPR belum menemui kata sepakat. Memang kisah BPJS ini tidak sefenomenal cerita mengenai penangkapan teroris bom, atau senyaring “nyanyian si burung Nazar” yang membuat banyak petinggi partai meriang.

Seandainya saja sakit bisa ditunda. Jangankan bagi yang tidak memiliki surat-surat komplit baik dari Jamkesmas, Jamkesda, dan semacamnya, bagi yang telah mengurusnya dengan segenap perjuangan pun bukan jaminan bisa bernafas lega bakal memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkannya. Rumah sakit kewalahan karena kelebihan kuota, atau banyaknya tunggakan sehingga rumah sakit terpaksa berutang. Tak ayal pasien miskin pun akan mendapat prioritas terakhir. Wajah masam petugas rumah sakit adalah sarapan harian yang sudah dianggap baku.

Para elite silakan kisruh, rakyat memiliki kreativitasnya sendiri. Kalau suatu saat kita mendapati orang berjemur di rel kereta layaknya di pinggir pantai, mereka bukan sedang berwisata, bukan sedang melakukan percobaan bunuh diri, bukan pula orang sakit jiwa. Mereka merebahkan diri di rel kereta, yang dipercaya sebagai metode baru untuk menyembuhkan penyakit. Dari stroke, saraf terjepit, diabetes, darah tinggi, asma, dan lumpuh. Dari mulut ke mulut kisah kesembuhan itu memancing minat banyak orang.

Kesibukan petugas keamanan PT KAI pun bertambah. Dari dulunya “hanya” sekedar menghalau penumpang yang nekat naik di atap gerbong, sekarang mesti menghalau para “pasien” terapi rel. Dasar otak bisnis orang Indonesia, mungkin sebentar lagi bakal ada yang mengkapling-kapling rel untuk dijadikan “klinik” sebagai lahan bisnisnya. Rel kereta api memang multiguna, bukan sekedar fungsi transportasi, tetapi bisa dijadikan pasar, bisa juga diberdayakan tempat berobat. Luar biasa… Tanpa mesti gembar-gembor ke Guinness Book of Record, negeri kita berpotensi untuk memiliki klinik terpanjang di dunia.

Orang mesti menantang maut untuk memperoleh layanan kesehatan. Mungkin buat mereka birokrasi untuk bisa memperoleh layanan kesehatan secara layak di negeri ini jauh lebih menakutkan ketimbang resiko terlindas kereta api. Belum lagi bila tertimpa kasus malpraktik. Lha wong mau berobat biar sembuh, eh kok malah dipenjara gara-gara curhat-nya diperkarakan?

Kalau begitu pemerintah tinggal memasyarakatkan saja terapi rel ini. Selanjutnya kesejahteraan  warga sekitar rel juga bisa meningkat, dengan dampak ikutannya di antaranya:
– persewaan tikar (untuk keluarga pasien yang menunggu)
– persewaan payung/tenda
– penjual makanan-minuman
– parkir motor
Nah, begitu kan lebih mudah bagi pemerintah ketimbang pusing-pusing memikirkan bagaimana layanan kesehatan bagi warga negaranya.

Bagaimana, ada yang tertarik untuk mencoba terapi rel? Asal jangan sampai karena keenakan lalu ketiduran di atas rel. Nuwun.

 

 

Link berita:

http://www.tribunnews.com/2011/07/21/ingin-bunuh-diri-tapi-penyakit-malah-sembuh

http://www.tribunnews.com/2011/07/20/terapi-di-rel-kereta-api-terasa-di-surga

http://megapolitan.kompas.com/read/2011/07/21/0455496/Kapan.Terapi.Rel.Rawabuaya.Dimulai

http://www.tribunnews.com/2011/07/21/teguran-pihak-stasiun-tak-mempan-usir-warga-terapi-rel

http://rimanews.com/read/20110720/35336/rel-kereta-rawabuaya-berkhasiat-coba-dech

 

23 Comments to "RUU BPJS vs Terapi Rel"

  1. Sumonggo  27 July, 2011 at 05:17

    Pak Iwan: erot-is sudah menjadi hak ciptanya mak erot
    Mbak Guru Probo: nanti di Solo wisata muter-muter dengan bis tingkat Werkudoro he he …
    Linda Cheang: memang karena kepepet ya terpaksa kreatif
    Mbak Dewi Aichi: asal gelindingan baksonya tidak tertukar saja, lho?

  2. Dewi Aichi  26 July, 2011 at 21:56

    BU gucan…ayoooo….Mas Sumonggo yg mbayar

  3. Dewi Aichi  26 July, 2011 at 21:52

    Pak Iwan….ngapain repot repot nganterein Pak Iwan ke tukang pijet erotis? Mbok sini tak pijitin sendiri….lebih erotis rasanya wkwkw….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.