The Sky is the limit

Nunuk Pulandari

 

Cuaca yang tidak terlalu bersahabat pada hari-hari terakhir ini membuat saya teringat akan beberapa foto’s  yang menggambarkan indahnya “lukisan” awan di angkasa luas yang pernah saya buat.  Hampir dari semua foto-foto berikut ini saya buat di pagi hari. On the way ke tempat pekerjaan demi melanjutkan hobby saya, menulis sebuah buku. Lucunya kalau saya mengingat kembali kapan foto ini saya buat, jawaban yang ada bukan saat yang saya tanyakan tetapi justru bayangan suasana ketika  saya kebetulan  agak malas bangun paginya. Jadi justru karena kemalasan saya, malah saya dihadiahi fenomen alam yang tertuang dalam keindahan bentuk lukisan/ gambaran di langit dengan  aneka ragam lukisan keindahan awannya.

Foto 1: matahari yang sedang mulai menampakkan sinarnya nun jauh di sana.

Atau mungkin saya tidak boleh berprasangka bahwa itu sebuah hadiah bagi kemalasan tetapi sebagai iming-iming agar saya lebih rajin lagi bangun pagi. Dan mengerjakan semuanya dengan suka rela dan penuh kegembiraan.

Saya kira sesungguhnya tak seorangpun yang dengan suka rela bersedia untuk bangun pagi, setiap hari. Termasuk di dalamnya saya sendiri. Hanya dengan alasan yang cukup kuat seseorang akan bangun bagi dan mempersiapkan diri untuk misalnya: berangkat ke tempat kerjanya, atau mengantar anak ke sekolah atau karena keperluan yang mendesak lainnya. Empat hari dalam seminggu saya mau tidak mau harus selalu bangun cukup pagi. Keadaan ini kadang menimbulkan rasa bosan. Belum lagi kalau cuaca tidak bersahabat. Dingin yang menusuk kulit karena tiupan angin yang cukup keras. Seperti di hari-hari terakhir sejak dua minggu lalu.

Foto 2: indahnya langit yang melatar belakangi sinar kemerahan, merekahnya sang surya.

Irinya mendengar cerita di telefoon kalau cuaca di Brussel tetap hangat atau cuaca di Scotland tetap panas. Sedang di Belanda justru dalam dua minggu di bulan Juli ini tidak ada satu haripun yang benar-benar disinari matahari. Belakangan ini hanya ada mungkin ½ X 2 hari yang cukup cerah. Sisanya hujan dan angin di sepanjang hari… Dan brrrrrrrrr, dinginnya.

Tetapi hujan yang turun sepanjang hari disertai angin di Negeri Belanda memang sangat terkenal. Suatu  keunikan iklim yang hanya dimiliki Belanda di antara negara-negara di Eropa yang mempunyai empat musim. Belanda secara umum memang mempunyai 4 musim tetapi  bagaimana perwujudan sesungguhnya dari cuaca di musim yang berlaku sangat tidak mungkin untuk diprediksi dengan tepat. Kadang di musim panas seperti kali ini, di pagi hari matahari telah bersinar dengan cemerlangnya. Sayangnya  beberapa jam kemudian langit dengan tiba-tiba menjadi  kelabu dan ditutupi  awan yang terlihat dipenuhi dengan beban air yang berat.  Dari kejauhan awan ini nampak bergulung-gulung berjalan cepat menutupi cerahnya cahaya sang surya. Turunlah hujan deras yang hampir selalu disertai hembusan angin yang cukup keras. Keadaan ini hampir selalu berlangsung sepanjang sisa harinya. Dan  yang sering kali juga terjadi, keadaan ini disertai dengan bunyi gelegar halilintar dan kilat yang menyambar.…Wouuuw, tidak ada salahnya gordijn rangkap yang tebal selalu bergantung di balik jendela.

Foto3: cerahnya sang surya yang kadang mengelabuhi para pemirsanya.

Huuuu, dalam keadaan yang seperti ini dapat dirasakan betapa dinginnya udara yang ada. Kadang sampai terasakan seolah  menggigit telinga dan ujung hidung.. Belum lagi kalau jari-jari tangan dibiarkan telanjang sepanjang waktu sambil memegangi stang sepeda tanpa sarung tangan atau harus memegang erat sang payung… Waaaahhh, menjadi merah dan kakulah ujung jari yang ada…

Pertama kali menginjakkan kaki di Belanda pada tahun 1975, untuk sebulan lamanya saya tinggal di sebuah keluarga di Oegstgeest sebelum pada akhirnya harus tinggal di Studente.


Foto4: sinar sang surya sedang menyeruak menembus gelapnya  alam sekitarnya.

Huisvesting. Di Vliet 13 Leiden. Hampir setiap kali saya akan berangkat ke kuliah, entah naik sepeda atau naik bis, ibu kost selalu mengatakan: ”Nunuk, heb je je paraplu bij je. Vergeet het niet, hoor”. Nunuk kamu bawa payungmu. Jangan lupa lho. Sekali dua kali membawa payung tetapi hujan yang dinantikan  tetap  tidak turun. Apalagi melihat cerahnya sang surya, rasanya memang tidak akan turun hujan di hari itu. Demikian juga di hari-hari berikutnya. Hal ini memberikan effect yang menyebalkan karena  setiap kali membuka tas selalu terlintas pikiran: “Achhh, sia-sia membawa payung yang hanya memberati tas saja”.

Foto5: sinarnya sang surya yang cukup menyilaukan mata, muncul dengan begitu saja di depan mata…

Juga terpikirkan  bahwa sangatlah tidak masuk akal untuk tetap membawa paying, sementara hujan tidak pernah turun. Jadi setelah payung sempat menemani saya selama beberapa hari, pada suatu hari saya tinggalkan dirumah. Tentunya dengan diam-diam. Dan ketika ibu kost menanyakannya saya hanya mengatakan: “Ja, ik heb hem in mijn tas” Ya, saya membawanya di tas saya. Tentunya dengan mata yang tidak berani menatap pandangan ibu kost. Dalam hati hanya berbisik: ”Ibu kost toch tidak akan mengeceknya”.

Foto 4, di atas sempat saya ambil dari balik jendela pesawat dalam perjalanan kembali ke Belanda. Ketika terbangun dari tidur ayam, karena di dalam pesawat saya tidak pernah bisa tidur nyenyak. Di pagi hari dan di depan mata terpampang merahnya sinar sang surya yang sedang menembus lapisan awan yang sangat tebal….Indahnya….. Perlahan tetapi pasti merahnya sang surya akan berganti dengan sinarnya yang keputihan untuk menyinari dunia yang ada di bawahnya…..

Sampai pada suatu hari ketika kebiasaan tidak membawa payung sudah menjadi rutinitas. Dalam perjalanan menuju ke Perpustakaan di Rapenburg, Leiden, tiba-tiba ketika saya sudah berjalan separuh jarak ke halte bis terdekat, tanpa diduga turun hujan dengan sangat derasnya…Hujan yang sebetulnya tidak diduga akan turun, melihat indahnya sinar sang surya.

Foto6: sinarnya sang surya akan segera menghilang ditelan awan hitam yang sedang memburunya

Di tengah turunnya hujan yang cukup deras saya berusaha untuk berlari menuju ke halte bis itu. Tetapi meskipun saya sudah berlari ternyata  terutama celana panjang dan rambut  tetap menjadi basah kuyup. Dan itu semua karena payung yang ditinggalkan di rumah. Sekilas tentu saja tersirat penyesalan mengapa tadi tidak membawa payung… Achhh, nasi sudah menjadi bubur….

Sambil menunggu bis datang, timbul kebimbangan dalam hati untuk memilih apakah akan tetap  melanjutkan perjalanan ke perpustakaan  dengan pakaian yang basah atau kembali pulang untuk berganti pakaian dan mengambil payung dengan resiko terlambat setengah jam untuk mulai baca-baca dan menekuni mata kuliah yang ada..Dan kemungkinan mendapatkan teguran dari ibu kost: ”Mengapa payungnya kamu tinggalkan”…. Akhirnya dengan celana panjang dan rambut yang cukup basah saya melanjutkan perjalanan dengan naik bis menuju ke Rapenburg, di Leiden….Ketika supir bus mengecap strippenkaart saya dia mengatakan:”Verschrikkelijk met zo’n weer heh,  meisje” (Menyebalkan cuaca yang demikian ya gadis kecil) … Waduuuh, waktu itu saya memang baru 22 tahun.

Foto 7: awan yang mengandung butiran air, nampak mulai menggunung menunggu jatuhnya menyirami bumi.

Saya sendiri saat itu hanya ngedumel dalam hati: “Huuuuuhhhh, salah siapa”: Terdengar bisikan itu berkali-kali….

Foto kelima sempat saya ambil ketika sedang menunggu datangnya kereta yang akan melintas jalan raya yang harus saya lewati. Suatu pemandangan yang sangat indah dan menakjubkan. Nampak di depan mata saya seolah nun jauh di sana sedang terjadi kebakaran yang super hebat dengan cahayanya yang sangat terang benderang. Tetapi dari belakang mobil saya, seolah tergulung awan hitam yang seakan-akan hendak memadamkan terang benderangnya sinar yang ada. Ketika saya melihat fenomena ini yang terlintas dalam pikiran saya hanyalah:” Terima kasih telah Kau berikan sesuatu pemandangan alam yang begitu indah, sementara saya sedang malas untuk keluar melakukan pekerjaan saya”.

Foto8: terangnya pagi yang sedang menjelang

Bila musim gugur sudah mulai menjelang, datangnya perubahan pergantian gelap dan terangnya hari-hari, sering disertai dengan permainan warna yang muncul di langit nan terbentang luas. Sehingga dalam keremangan cahaya sang surya yang sangat tipis menyinari bumi yang begitu luas seringkali hanya  tampak gulungan awan yang berwarna kelabu..Dengan berbagai nuansanya .. Hanya di pagi hari kalau sedang beruntung bisa terlihat sinarnya sang surya yang kemerahan, kekuningan, seolah hanya ingin menyinari selapisan kecil alam yang ada.  Untuk saya  tidak pernah ada rasa bosan untuk sesering mungkin menangkap bentuk / figure  yang terpampang dalam  lukisan-lukisan awan melalui camera kecil yang selalu menyertai saya. Kemanapun kaki ini melangkah setelah meninggalkan pintu rumah….

Seperti yang anda semua ketahui, Negeri Belanda mempunyai iklim yang sering disebut dengan nama Zeeklimaat. Iklim Laut. Negeri Belanda memunyai iklim laut karena terletak di sekeliling lautan. Sebuah wilayah dengan iklim laut mempunyai musim hujan yang lama dan juga memiliki angin yang bertiup sangat keras. Sesungguhnya temperatur di wilayah dengan iklim laut, hampir selalu stabil. Banyak hujan dan dingin yang nylekit di kulit…..

Foto 9: Intipan sang surya yang menyertai turunnya tetesan sang hujan, meninggalkan pancarannya yang indah.

Perbedaan temperature musim panas dan musim dingin tidak terlalu besar. Tetapi karena hembusan angin yang deras, tentunya mempengaruhi temperatur yang ada.. Menjadi sangat dingin.

Anda bisa bayangkan, sesungguhnya saat ini di Belanda baru satu bulan memasuki musim panas. Tetapi selama bulan Juli ini, mungkin baru satu atau paling banyak 2 hari, sang surya mau memunculkan dirinya… Sisanya  dimanapun anda berada di Belanda hanya terlihat warna yang kelabu, kelabu dan kelabu… Kadang dengan selingan kecil fenomena alam seperti yang terlihat dalam foto 9.

Keadaan cuaca seperti yang kita hadapi saat ini merupakan ciri khas datangnya musim gugur.

Atau biasanya juga dikenal dengan nama “pergantian musim gugur”. Dalam kehidupan sehari-hari menyambut datangnya musim gugur ini tidak terlalu banyak terdapat kegiatan. Banyak dari keluarga yang mempunyai anak kecil, sedang menjalankan liburannya di negara-negara bermusim panas.  Jalan-jalan raya tidak lagi terlalu padat dan  jauh berkurang jumlah deretan  file’snya  yang panjang.. Kadang sangat lenggang di pagi hari..

Foto10: indahnya permainan alam  di pagi hari, di musim pergantian Zomer-Herfst

Tetapi kalau kita perhatikan dengan lebih seksama, seiring dengan pergantian musim ini juga membawa perubahan yang besar bagi para penghuninya. Mereka dalam bulan Juni masih sering bersapa ria dengan para tetangga sebelah menyebelah. Dan mereka juga masih banyak menebarkan senyumnya serta rajin memperlihatkan keramahannya. Dalam bulan Juli yang cukup kelabu ini, para penghuninya lebih banyak tinggal di dalam rumah. Dan bila muncul di luar rumah, mereka sangat mahal menebarkan keramahan dan senyumnya. Kadang terkesan bahwa mereka tidak mengenal lagi siapa yang ada di depannya.

Foto 11: Suatu lukisan awan yang seolah mernunjukkan betapa galaunya  kegiatan yang ada yang dapat menghasilkan nuansa warna yang beragam.

Kalau saya sedang berada di jalan raya dan memperhatikan para pengemudi lainnya, nampak seolah mereka sama sekali tidak menaruh perhatian akan indahnya sang surya yang sedang memainkan perannya bersama dengan awan yang mengelilinginya. Dan  bentukan lukisan awan yang menyertainya seolah menjadi sia-sia belaka.. Achhh, mungkin mereka memang sudah jenuh dengan kegiatannya di hari itu sehingga enggan untuk memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Atau mungkin saya yang terlalu mengagumi fenomen alam yang terjadi di muka mata saya….

Foto 12: sekilas sinarnya sang surya yang berhasil menembus awan.

Memang berkendaraan dalam cuaca yang penuh dengan hembusan sang bayu,  kadang cukup memerlukan perhatian yang lebih seksama. Hembusannya yang cukup keras sering kali  memang bisa menggoyangkan laju kendaraan yang ada. Terasa goncangannya di kemudi  yang sedang ada didalam genggaman tangan yang sekaligus memberikan tanda bahwa kita harus menggunakan kecepatan yang tidak terlalu berlebihan ketika sedang melaju.

Foto 13: Lukisan fenomen alam di antara tingginya rerumputan yang ada.

Sembulan sinarnya sang surya, walaupun kadang sangat minim, kadang sudah cukup untuk lebih memberikan arti bagi kehidupan di sekitarnya. Karena dengan datangnya musim gugur juga mengisyaratkan pada kita semua bahwa setelah musim gugur tiba tentu akan datang musim dingin. Dan untuk menyambutnya kita harus mempersiapkan diri mulai dari sekarang.

Foto 14: Sang Surya sedang mulai menampakkan dirinya dengan keelokkannya yang luar biasa.

Sinarnya sang surya yang mulai menampakkan diri dalam menyambut hari yang baru. Yang diharapkan  akan dipenuhi dengan keceriaan dan kebahagiaan bagi para penduduk yang mendapatkan sinarnya….

Ik hoop dat jullie hen mooi zullen vinden en geniet er maar. Groeten en 3 kusjes van het verre westen land, Het kikkerland, Nederland… tot andere keer, Nu2k

 

85 Comments to "The Sky is the limit"

  1. nu2k  6 August, 2011 at 04:10

    Kangmas DJ, tahun 69, saya masih di SMA II Bandung. Baru mulai naik gunung tahun 1974-an.. Jadi kangmas itu angkatan di atas saya….Kalau di Belanda naik gunungnya setinggi 300 meter…Ha, ha, haaaa…Tapi nek wis suwe ninggalké Londho yo kangen ki kangmas…. Jadi yaaa, musim dingin di Belanda, kita merantau seperti burung yang sudah mulai beterbangan menuju ke Selatan ; nach kalau musim panas di belanda kita balik lagi merantau ke Belanda… ha, ha, haaaa… Welterusten…gr. nu2k

    *Maaf disambi macem-macem dan ada tamu juga*

  2. Dj.  6 August, 2011 at 02:20

    Mbakyu NU2K…
    Tahun `69 Dj. juga sering naik Gunung, ikutan Wanadri, dibawah bimbingan mas Iwan Betet, karena adiknya ( si Roy ) teman main Dj.
    Tapi baru beberapap kali naik Gunung Tangkuban Perahu.
    Ingat, saat pertama kali tidur di gedung Pemancar TVRI Hahahahahaha…!!!
    Hanya satu tahun dan pindah ke Makassar, jadi tidak pernah naik gunung lagi..

  3. nu2k  6 August, 2011 at 01:13

    Dimas Inakawa, mijn beste. Hallo, hallo.. Terima kasih sudah menyempatkan membacanya. Lhooo dulu naik gunung dengan kelompok mana? Mapala? Wanadri atau lainnya? Saya dulu beberapa kali sempat naik gunung spt Gn Gede, Pangrango ikutan kelompok Mapala. Badil, Mas Santoso, Mas Ompong, Totje, alm. Alex, alm.S.H,Gie (adik teman masku), mbak Ker (dubes di Argentina, Joyce Marulam, mbak Wati ….dll… Kebetulan kenal juga. Pernah naik bersama dengan Kasino Indro cs….Whalah, whalah, ruameeeenya dan yang namanya tertawa tak pernah ada hentinya… Achhhh…

    Memang berat berangkat jam setengah 4 pagi, sepanjang jalan diiming-imingi tulisan “Ada bakso, 1km lagi” . Sudah begitu semangatnya naik ke atas… Nggak tahunya dibohongi… Wel, kita bisa masak telur di panasnya mata air yang mengalir…Masih ingat?…Terus sorenya bisa lihat betapa indahnya matahari terbenam dilihat dari puncak gunung Gede, Pangrango, Ciwiday (dengan adik dan mas)….

    Kalau sudah pernah mengalaminya kita betul-betul bisa merasakan betapa agungnya Sang Pencipta. Tentunya dimas Inakawa juga sudah berkali-kali pernah menikmatinya…. Er zijn geen woorden genoeg om uit te drukken hoe mooi het is om van de top van een berg naar de omgeving te kijken….. Oooo, saya jadi lyris…Op dat punt delen wij elkaars ervaring.

    Baru setelah turuuuuuuunnnnn, keesokan harinya terasalah betapa sang dengkul dan betis yang minta dipijiti…Ha, ha, haaaa

    Waaahhhh sekarang semuanya tinggal kenangan.. Wel sangat indah…..Salam, selamat beristirahat.. Nu2k

  4. EA.Inakawa  6 August, 2011 at 00:20

    Mbak Nunuk,saya baru sempat baca artikel ini……tentang suasana alam dan langit diatas sana,saya paling senang melihatnya,dulu ketika masih kuliah saya suka naik gunung cuma karena ketagihan melihat kala Matahari mau terbenam & kala Matahari akan terbit….luar biasa INDAH nya Nikmat TUHAN ini,ketika melihat photo langit di artikel ini saya jd kangen lagi eheheh senang membaca artikel dari Belanda ini. salam hangat

  5. nu2k  1 August, 2011 at 03:48

    Jeng Lano, goedemorgen. Sudah lari pagi? Aq baru masuk rumah. Ada tamu ponakannya temanku yang sedang meneliti di Acta Amsterdam. Dia kaakchirurg di Jakarta…Piyé kabaré jeng… Walaaahhh, aq kok podho gelem toch yo jeng, ngomong sing ora-ora…Nuwun sewu aé, aq lewat ngetan waé lah., nang Mainz terus nang Kona….. ha, ha, haaaa. Gr. nu2k

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *