Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

“Merdeka”

Friday, 29 July 2011

Viewed 4680 times, 2 times today | 131 Comments |

Itsmi – Belanda

 

Note Redaksi:

Sepertinya tidak perlu lagi “selamat datang” kepada Itsmi…haha…hanya selamat bergabung (menjadi salah satu penulis) lebih tepat. Baltyra.com dan seluruh pembacanya sangat menghargai akan jawaban “tantangan” untuk menuliskan pemikiran Itsmi dalam bentuk artikel.

Bila kita mengatakan kepada seseorang bahwa kita mempercayai jembalang, maka pikiran orang akan mengatakan, “kamu saatnya ke psikiater”. Mungkin juga mereka menganggap ada sesuatu yang salah di otak kita. (Jembalang adalah hantu tanah yg konon kadang-kadang mewujudkan dirinya sebagai lembu, rusa, kerbau, dsb-Admin).

Namun bila kita mengatakan percaya pada Allah atau Tuhan, hal itu dianggap normal dan bukan masalah. Siapapun yang mengatakan bahwa dia orang yang beragama, maka orang itu dipandang sebagai orang yang baik. Setidaknya dapat diandalkan atau dipercaya.

Sejak manusia lahir, sejak itu dia hidup dalam tradisi. Keyakinan orang tua dan leluhur diteruskan pada anak-anak serta keturunannya. Keyakinan tradisional itu biasanya tidak ada dasarnya. Mungkin saja pada suatu hari ada orang yang berpikir tentang hal ini. Misalnya tentang tuhan-tuhannya bangsa Mesir atau Yunani yang sudah ribuan tahun dianut dan akhirnya dipercaya sebagai sebuah kebenaran.

Orang yang percaya dengan alasan-alasan yang sangat sederhana melalui rangkaian cerita ribuan tahun, inilah yang dinamakan tradisi.

Orang yang mempercayai tradisi secara mutlak (buta) bisa mengandung resiko besar. Contohnya saja mempercayai komunisme, sebuah ajaran tergolong masih baru. Tuhan dari ajaran ini adalah Karl Marx dengan buku sucinya “Das Kapital”. Sedang rasul mereka adalah orang Rusia yang bernama Vladimir Lenin. Bulan Oktober mereka anggap sebagai kejadian penting dalam sejarah kaum komunis. Mereka memperingatinya setiap tahun. Diulang-ulang dari tahun berganti tahun.

Mereka menjanjikan sebuah kebahagiaan untuk semua orang, bila kaum diktator proletariat terjadi, seperti munculnya Adolf Hitler. Janji itu adalah seribu tahun masa kemakmuran.

Kebenaran mereka adalah kebenaran duniawi, karena mereka tidak akan pernah berhenti hingga semua orang belum menjadi dan menganut paham komunis. Begitu juga dengan agama. Surat-surat yang dikirimkan Nabi  Muhammad kepada kepala negara di sekitarnya selalu diakhiri dengan salam “aslim taslam’. Artinya bila Anda menyerah tidak akan dibunuh. Bisa juga diartikan untuk masuk Islam maka Anda akan selamat.

Agama Islam yang tidak mengenal abad pencerahan seperti agama Kristen, kritik dianggap sebagai serangan atau musuh. Dengan tujuan supaya orang diam. Ini sama dengan negara negara totaliter, kritik berarti  “exit”. Negara yang berdasarkan Sharia kritik sama dengan berkamikaze.

Jadi tidak heran negara yang berdasarkan agama hanya dibimbing oleh sekelompok kecil dalam masyarakat. Tidak menerima situasi berarti berdosa karena tidak mau bersyukur. Biar sudah sengsara harus berterima kasih. Karena Allah atau Tuhan akan memberihkan imbalan di Surga.

Seharusnya  orang yang agak sedikit berpikir rasional dengan kemajuan-kemajuan seperti sosial sain bisa berkesimpulan bahwa tanpa agama dunia menjadi lebih tentram dan tidak menerima lagi kebodohan-kebodohan yang dipikirkan di jaman dahulu kala.

Seperti terhadap wanita sampai sekarang tidak boleh membimbing sebuah misa. Ini sebenarnya konsistensi dari campuran kecemburuan, tidak berdaya dan ketakutan pria pada wanita, dengan pemikiran ini wanita ditekan dengan “buku-buku suci” dan menentukan tempat wanita di dunia. Paus lebih cepat memberikan lampu hijau untuk Pastur menikah dari pada wanita dibolehkan pemimpin misa.

Atau contohnya agama mempengaruhi politik untuk mengimplementasikan hukum pornografi. Ini bertujuan menguasai seksual orang karena seks itu inti dari manusia.  Mengontrol seksual orang berarti juga kekuasaan.

Sekarang kita sudah di tahun 2011, manusia masih percaya dengan cerita dongeng  yang sudah lebih dari 2000 tahun yang lalu, ini dikarenakan agama memberikan tradisi pada tulang punggung dan pembenaran.

Oleh karena itu orang yang beragama, apabila di kritik, merasa sangat kecewa karena dengan meningkatnya pengetahuan dia tidak bisa berargumentasikan kepercayaannya. Bedanya dengan orang ateis, biar ada orang menyatakan bahwa Tuhan itu ada, dia tidak akan tersinggung atau apabila orang beragama katakan pada seorang biolog bahwa evolusi teori itu hanya kepercayaan, dia tidak akan tersinggung juga karena dia bisa berargumentasikan begitu juga seorang ateis.

Suatu pandangan yang dibentuk dari diri sendiri itu seiring waktu perjalanan seseorang menuju kedewasaan, ini sebagai proses yang normal dan memberikan identidas pribadi  dan bukan dari orang tua yang mengajarkan moral mereka kepada kita. Beragama atau tidak.

Banyak orang kesulitan untuk mengedepankan identitas pribadi dan pandangan. Mereka merasa prima dengan keadaan ini dan menyesuarakan pandangan-pandangan yang lalu untuk dalam hidup selanjutnya dan tentunya tergantung terus karena perubahan itu perlu kekuatan. Jadi dengan ketergantungan dia merasa aman dalam kepalsuan.

Berpikir yang benar dan mendalam, dalam hidup sehari hari dan mengambil tanggung jawab itu hal yang tidak mudah, jadi dengan mudahnya  menerima Tuhan yang tidak bisa didefinisikannya dan tentunya yang serba bisa.

Seperti agama Katolik, dimana hari Senin sampai Sabtu hidup sesuai dengan kehendaknya (semaunya)  karena toh hari Minggu bisa berlutut kepada Pastur yang mempromosikan dirinya sebagai orang yang memberikan maaf untuk orang yang mau bertobat. Tentu dia sebagai wakil Tuhan di dunia.

Untunglah dunia sekarang sedang berubah, kebanyakan orang bisa pergi ke sekolah dan dengan berpendidikan bisa mengembangkan diri dan akhirnya mempunyai pendapat dan berpikir lebih mendalam. Dimana akan terjadi kesadaran bahwa Tuhan  / Allah atau Agama itu irasional dan hanya khayalan.

Kesadaran berarti juga berani mengambil tanggung jawab pada diri sendiri dan pada lingkungan dengan hidup mandiri dimana penguasa tidak bisa lagi memanipulasi dengan kepercayaan atau apapun. Itu baru Merdeka.

 

Share This Post

Posted by Friday, 29 July 2011 on 09:25.

Categories: Opini. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

131 Responses to ““Merdeka””

Pages: « 14 … 11 10 9 8 7 6 [5] 4 3 2 1 »

  1. 50
    J C Says:

    Itsmi, ada beberapa versi negara paling bahagia, memang Bhutan pernah masuk dalam top list, beberapa referensi:

    http://www.oneworldeducation.org/reflections/bhutan-worlds-happiest-country

    http://www.reuters.com/news/pictures/slideshow?articleId=USRTR28N51#a=1

    http://images.businessweek.com/ss/06/10/happiest_countries/index_01.htm

    Di mana pun dan yang mana pun referensinya, membuktikan bahwa tidak semata-mata negara yang tidak mengenal agama yang menjadi paling berbahagia.

  2. 49
    Handoko Widagdo Says:

    Itsme, sekali lagi dikau memakai data statistik yang mengukur kebahagian dari asumsi-asumsi bahwa kalau hal-hal yang dikau sebutkan itu terpenuhi, maka mereka akan bahagia. Apa bedanya dengan orang bergama yang kalau semua aturan tuhan dipenuhi maka mereka akan bahagia? Dikau hanya mengganti indikatornya saja.

  3. 48
    Itsmi Says:

    GendhukNdesa, berbuat baik itu juga harus di pikirkan apa artinya karena baik untuk kamu bukan berarti baik untuk orang lain….

  4. 47
    Itsmi Says:

    Han, saya tidak tau kamu ambil informasi dari mana bahwa Buthan negara paling bahagia.
    Yang saya pakai itu dari Prof Veenhoven penelitiaan kebahagiaan sudah kira kira 25 tahun dari Belanda karena dia kalau saya tidak salah dalam bidang meneliti kebahagiaan termasuk pionir. Juga saya ambil dia karena factor factor yang di pakai seperti emansipasi wanita, orang bebas pilih profesi atau kalau dari factor masyarakat seperti ketimpangan social ketidaksetaraannya, work-life-balance dan layanan public, juga yang untuk saya penting kesehatan. Seperti kesehatan di Belanda, yang tentukan apa yang perlu di lakukan itu Dr dan bukan asuransi

  5. 46
    Handoko Widagdo Says:

    Itsme, negara dengan rangking kebahagiaan tertinggi adalah Buthan dimana mereka sangat percaya pada agama. Bagaimana anda menerangkan hal ini?

  6. 45
    Handoko Widagdo Says:

    Lha iki GendhukNdesa muridnya Syeh Siti Jenar sudah muncul dengan gagasan manunggaling kawula gusti.

  7. 44
    GendukNdeso Says:

    Kalau mau mencari Tuhan sebaiknya carilah dalam diri masing². Tidak perlu mencari dimana-mana atau kemana-mana. Selama kita mempercayai diri sendiri, selama itu pula kita mempercayai Tuhan. Dan menurut saya sih tidak perlu beragama untuk mempercayai Tuhan. Tuntunan yg ada dalam kitab suci manapun kadang bertentangan dengan apa yg kita percayai atau fikirkan. Tetapi kadang kita tidak bisa menolak atau mengubahnya. Karena pasti akan dipandang sebagai manusia yg membangkang atau tidak percaya Tuhan dll. Tidak perlu menjadi orang suci bagi orang lain, jika dalam hati dan otak banyak yg bertolak belakang dengan kenyataan yg ada. Jadi intinya, berbuat baiklah terhadap sesama dan lingkungan.

  8. 43
    Itsmi Says:

    Rya, berapa dalampun saya gali, untuk orang beragama seperti kamu tetap datar atau hanya teriakan,
    biar pakai argumentasi apapun.

    Dalam hidup saya, saya tidak perlu di tuntun……
    saya akui tidak gampang karena problem yang di temukan harus di cari di diri sendri….
    Begitu juga dengan mengisi hidup….

  9. 42
    Itsmi Says:

    Nuchan, Nuchan, senang dengan sensasi yah hahahah
    sebentar kamu bisa berjumpalitan sampai celana basah lagi hahahahah

  10. 41
    Itsmi Says:

    Iwan, menurut kamu apa artinya eksistensialisme ?
    tolong terangkan supaya diskusi bisa jernih dan tidak melayang….

Pages: « 14 … 11 10 9 8 7 6 [5] 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)