Itsmi – Belanda
Note Redaksi:
Sepertinya tidak perlu lagi “selamat datang” kepada Itsmi…haha…hanya selamat bergabung (menjadi salah satu penulis) lebih tepat. Baltyra.com dan seluruh pembacanya sangat menghargai akan jawaban “tantangan” untuk menuliskan pemikiran Itsmi dalam bentuk artikel.
Bila kita mengatakan kepada seseorang bahwa kita mempercayai jembalang, maka pikiran orang akan mengatakan, “kamu saatnya ke psikiater”. Mungkin juga mereka menganggap ada sesuatu yang salah di otak kita. (Jembalang adalah hantu tanah yg konon kadang-kadang mewujudkan dirinya sebagai lembu, rusa, kerbau, dsb-Admin).
Namun bila kita mengatakan percaya pada Allah atau Tuhan, hal itu dianggap normal dan bukan masalah. Siapapun yang mengatakan bahwa dia orang yang beragama, maka orang itu dipandang sebagai orang yang baik. Setidaknya dapat diandalkan atau dipercaya.
Sejak manusia lahir, sejak itu dia hidup dalam tradisi. Keyakinan orang tua dan leluhur diteruskan pada anak-anak serta keturunannya. Keyakinan tradisional itu biasanya tidak ada dasarnya. Mungkin saja pada suatu hari ada orang yang berpikir tentang hal ini. Misalnya tentang tuhan-tuhannya bangsa Mesir atau Yunani yang sudah ribuan tahun dianut dan akhirnya dipercaya sebagai sebuah kebenaran.
Orang yang percaya dengan alasan-alasan yang sangat sederhana melalui rangkaian cerita ribuan tahun, inilah yang dinamakan tradisi.
Orang yang mempercayai tradisi secara mutlak (buta) bisa mengandung resiko besar. Contohnya saja mempercayai komunisme, sebuah ajaran tergolong masih baru. Tuhan dari ajaran ini adalah Karl Marx dengan buku sucinya “Das Kapital”. Sedang rasul mereka adalah orang Rusia yang bernama Vladimir Lenin. Bulan Oktober mereka anggap sebagai kejadian penting dalam sejarah kaum komunis. Mereka memperingatinya setiap tahun. Diulang-ulang dari tahun berganti tahun.
Mereka menjanjikan sebuah kebahagiaan untuk semua orang, bila kaum diktator proletariat terjadi, seperti munculnya Adolf Hitler. Janji itu adalah seribu tahun masa kemakmuran.
Kebenaran mereka adalah kebenaran duniawi, karena mereka tidak akan pernah berhenti hingga semua orang belum menjadi dan menganut paham komunis. Begitu juga dengan agama. Surat-surat yang dikirimkan Nabi Muhammad kepada kepala negara di sekitarnya selalu diakhiri dengan salam “aslim taslam’. Artinya bila Anda menyerah tidak akan dibunuh. Bisa juga diartikan untuk masuk Islam maka Anda akan selamat.
Agama Islam yang tidak mengenal abad pencerahan seperti agama Kristen, kritik dianggap sebagai serangan atau musuh. Dengan tujuan supaya orang diam. Ini sama dengan negara negara totaliter, kritik berarti “exit”. Negara yang berdasarkan Sharia kritik sama dengan berkamikaze.
Jadi tidak heran negara yang berdasarkan agama hanya dibimbing oleh sekelompok kecil dalam masyarakat. Tidak menerima situasi berarti berdosa karena tidak mau bersyukur. Biar sudah sengsara harus berterima kasih. Karena Allah atau Tuhan akan memberihkan imbalan di Surga.
Seharusnya orang yang agak sedikit berpikir rasional dengan kemajuan-kemajuan seperti sosial sain bisa berkesimpulan bahwa tanpa agama dunia menjadi lebih tentram dan tidak menerima lagi kebodohan-kebodohan yang dipikirkan di jaman dahulu kala.
Seperti terhadap wanita sampai sekarang tidak boleh membimbing sebuah misa. Ini sebenarnya konsistensi dari campuran kecemburuan, tidak berdaya dan ketakutan pria pada wanita, dengan pemikiran ini wanita ditekan dengan “buku-buku suci” dan menentukan tempat wanita di dunia. Paus lebih cepat memberikan lampu hijau untuk Pastur menikah dari pada wanita dibolehkan pemimpin misa.
Atau contohnya agama mempengaruhi politik untuk mengimplementasikan hukum pornografi. Ini bertujuan menguasai seksual orang karena seks itu inti dari manusia. Mengontrol seksual orang berarti juga kekuasaan.
Sekarang kita sudah di tahun 2011, manusia masih percaya dengan cerita dongeng yang sudah lebih dari 2000 tahun yang lalu, ini dikarenakan agama memberikan tradisi pada tulang punggung dan pembenaran.
Oleh karena itu orang yang beragama, apabila di kritik, merasa sangat kecewa karena dengan meningkatnya pengetahuan dia tidak bisa berargumentasikan kepercayaannya. Bedanya dengan orang ateis, biar ada orang menyatakan bahwa Tuhan itu ada, dia tidak akan tersinggung atau apabila orang beragama katakan pada seorang biolog bahwa evolusi teori itu hanya kepercayaan, dia tidak akan tersinggung juga karena dia bisa berargumentasikan begitu juga seorang ateis.
Suatu pandangan yang dibentuk dari diri sendiri itu seiring waktu perjalanan seseorang menuju kedewasaan, ini sebagai proses yang normal dan memberikan identidas pribadi dan bukan dari orang tua yang mengajarkan moral mereka kepada kita. Beragama atau tidak.
Banyak orang kesulitan untuk mengedepankan identitas pribadi dan pandangan. Mereka merasa prima dengan keadaan ini dan menyesuarakan pandangan-pandangan yang lalu untuk dalam hidup selanjutnya dan tentunya tergantung terus karena perubahan itu perlu kekuatan. Jadi dengan ketergantungan dia merasa aman dalam kepalsuan.
Berpikir yang benar dan mendalam, dalam hidup sehari hari dan mengambil tanggung jawab itu hal yang tidak mudah, jadi dengan mudahnya menerima Tuhan yang tidak bisa didefinisikannya dan tentunya yang serba bisa.
Seperti agama Katolik, dimana hari Senin sampai Sabtu hidup sesuai dengan kehendaknya (semaunya) karena toh hari Minggu bisa berlutut kepada Pastur yang mempromosikan dirinya sebagai orang yang memberikan maaf untuk orang yang mau bertobat. Tentu dia sebagai wakil Tuhan di dunia.
Untunglah dunia sekarang sedang berubah, kebanyakan orang bisa pergi ke sekolah dan dengan berpendidikan bisa mengembangkan diri dan akhirnya mempunyai pendapat dan berpikir lebih mendalam. Dimana akan terjadi kesadaran bahwa Tuhan / Allah atau Agama itu irasional dan hanya khayalan.
Kesadaran berarti juga berani mengambil tanggung jawab pada diri sendiri dan pada lingkungan dengan hidup mandiri dimana penguasa tidak bisa lagi memanipulasi dengan kepercayaan atau apapun. Itu baru Merdeka.
Pages: « 14 … 12 11 10 9 8 [7] 6 5 4 3 2 … 1 »
Pages: « 14 … 12 11 10 9 8 [7] 6 5 4 3 2 … 1 »
July 30th, 2011 at 18:59
tulisan Itsme ini sangat memcerahkan. gugutan seperti usalan diatas sering kali muncul pada lautan pemikir feminis. tentu Itsme sendiri adalah seorang feminis. gugatan terhadap praktik kekuasaan paternalistik jelas saja beralasan. prinsip egaliberte yang ingin diangkat oleh kaum feminis mau tidak mau harus bertabrakan dengan tradisi. inilah yang terjadi pada gereja katolik yang diangkat oleh Itsme di atas. justru inilah persoalannya. gereja katolik memang secara ketat mempertahankan tradisi ini. justru karena memang ingin tetap katolik. jika tradisi ini dirombak yang terjadi adlah bukan gereja katolik. tetapi ini tidak berarti gereja katolik ingin menomorduakan/memarginalkan perempuan. konteksnya jelas berbeda.
tentang konsep medeka yang bertalian dengan kesadaran, saya pun harus sepakat dengan Itsme. pada dasrnya memang harus demikian. pemeluk agama harus punya kesadaran akan apa yang dia imani. dalam hal ini, rasionalitasnya berperan dalam mengangkat kesadaran itu. wataqullah ya ulil albab. orang Latin bilang, fiat querens intellectum. dengan begitu, imannya dapat dipertanggungjawabkan.
salam dari Djogja. Huria!!! (bahasa Basque), Merdeka!!!
July 30th, 2011 at 17:22
Waowww…
July 30th, 2011 at 12:59
Alamak Mas Josh dipaksa Itsmi untuk buka universitas terbuka nie…hahhahhaa ..bakalan ada kuliah terbuka deh hahhahaha…

Ngakak2 nie lihat bakalan ada kuliah terbuka….
Itsmi, met wiken juga yah..Nuchan nonton dulu yah…hehhehe…
July 30th, 2011 at 12:56
Nuchan, selamat wikken yang dan menikmati film baru dan saksang…
July 30th, 2011 at 12:55
Jc, kalau saya ikut pemikiranmu, apa sebabnya negara negara yang kamu sebutkan posisi wanitanya masih tertindas ???? coba terangkan….
karena untuk saya berarti terjadi moral mundur
July 30th, 2011 at 12:54
Okay deh kaka..nuchan mau pergi nonton dulu yah hahhahhaa

Janjian mau nonton film baru nie hahhahhaaa….


Itsmi, jangan kabur yah..ladeni tuch komennya si Jaycee hahhahhaha
Emang enak…
July 30th, 2011 at 12:48
Jc, Majapahit itukan sistem kasta, jadi coba terangkan bagaimana emansipasinya ???
Kalau kamu bilang emansipasi di Eropa prakteknya NOL BESAR apakah saya harus ambil serius komentar begini, apalagi dari kamu yang pernah kuliah di Belanda ???
July 30th, 2011 at 12:46
Atau yang ini juga ada:
Concise History and Timeline of the Netherlands
1300s-1400s The French Dukes of Burgundy united the Low Countries
1477 Mary of Burgundy married Maximilian, of the House of Habsburg thus joining the Low Countries with the Habsburg Empire
1516 The Catholic King Charles I of Spain ruled the Netherlands
1519 King Charles I of Spain became Holy Roman Emperor, Charles V
1500s The Protestant Reformation swept through Europe and the Dutch Protestants were persecuted by the Roman Catholics
(http://www.facts-about.org.uk/history-and-events-timeline-dutch.htm)
July 30th, 2011 at 12:43
Itsmi, aku bantu sedikit:
4th cent. AD Barbarian invasions. Saxons settle in the east and Franks in the south.
814 On the death of Charlemagne, the Frankish emperor of the West and conqueror of the Saxons and Frisians, his empire is divided. The Low Countries become part of Lotharingia, squeezed between the German lands and France.
10th century The counts of Holland and Zeeland and the bishopric of Utrecht begin to gain greater control of their own affairs.
1275 Count Floris V of Holland grants “Aemstelledamme” freedom from tolls on travel and trade. The year is regarded as Amsterdam’s official foundation date.
1384 Duke Philip the Bold begins to gain control of the Low Countries for Burgundy.
1421 A storm on St. Elizabeth’s Day breaks dikes along the Maas and Waal rivers, causing a flood that drowns 10,000 people.
(http://www.sacred-destinations.com/netherlands/netherlands-timeline.htm)
Nuchan, kau itu ribut kali pun…sudah lah, ayo kita makan saksang dan arsik saja, biar Itsmi fitness dulu lah…
July 30th, 2011 at 12:40
Halah yakin banget nie ..bakalan lama nie fitnessnya hahhahahhaha

