Malam Ini Aku Ingin Bercerita Kepadamu

Fahri Asiza

 

Apakah kau masih ingat tentang anak manusia yang kuceritakan tempo hari? Ya, malam ini aku kembali ingin menceritakan tentangnya, tentang apa yang terjadi dengannya hari ini. Sungguh si anak manusia cukup terkejut dengan sebuah pembelajaran yang didapatkannya hari ini.

Sejak kemarin, ada seorang Jenderal yang ingin bertemu dengannya. Biar kujelaskan dulu, Jenderal yang kumaksud ini benar-benar jenderal dalam arti yang sebenarnya, pangkat yang tinggi di sebuah jajaran kepolisian, dan biarlah beliau kupanggil dengan Pak Jenderal dalam ceritaku tentang kehidupan si anak manusia.

Mari kuteruskan ceritaku ini. Si anak manusia cukup terkejut karena panggilan itu. Dia mulai berpikir ada apakah gerangan? Akhirnya dia menutup jalan pikirannya dan menunggu esok hari. Maksudku, hari ini.

Ya, sore tadi, di bawah hujan yang mulai menipis, si anak manusia itu berjumpa dengan sang Jenderal. Untuk berjumpa dengannya, tetap ada prosedur seperti biasanya. Melapor pada seorang ajudan yang jelas-jelas seorang “anggota”, menunggu, lalu diantar ke ruangan sang Jenderal. Sebelum memasuki ruangannya pun, harus menunggu lagi, ditemani seorang sekretaris yang cantik setelah itu barulah berjumpa dengan sang Jenderal.

Seperti yang dikenalnya, sang Jenderal tetap bersikap saklek, tegas dan tanpa basa-basi. Suaranya mencerminkan wibawanya, sikapnya mencerminkan kedisplinannya. Lalu pembicaraan terjadi, kadang serius dan kadang bergurau. Kadang terdiam dan kadang tertawa lepas. Dalam hal ini jelas sang Jenderal melepas atribut kejenderalannya.

Dengan ditemani cemilan, permen dalam toples terbuka dan beberapa gelas air putih, si anak manusia menikmati perbincangan itu. Sesekali sekretaris sang Jenderal muncul menanyakan sesuatu. Lalu tibalah pada pembicaraan yang sangat serius, tentang sebuah kerja yang memang harus ditangani dengan serius pula.

Karena dia terlatih berpikir cepat, ketika ditanya tentang sebuah gagasan apakah yang menarik untuk dikerjakan saat ini, dalam dunia bisnis yang carut marut, dalam balutan hukum yang semrawut dan dalam lingkaran politik yang terkadang ikut turut, si anak manusia bisa menjawabnya dengan cepat. Ide tiba-tiba mengalir saja, dengan fasihnya si anak manusia menuturkan gagasannya. Tapi seperti yang kuceritakan tadi, sang Jenderal selalu tegas dan si anak manusia beberapa kali tergagap-gagap dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan dengan cepat dan mantap. Sejenak beberapa kali si anak manusia harus bisa berpikir dan meluruskan pikirannya agar tak terjadi salah ucap.

Beberapa kali terjadi “debat” yang cukup menarik. Sang Jenderal seperti seorang penyerang yang siap menghantam, sementara si anak manusia seperti seseorang yang harus bertahan. Sekitar dua jam perbincangan itu terjadi dan… sang Jenderal tertarik dengan gagasan itu. Padahal, itu hanya sebuah gagasan yang entah bagaimana caranya si anak manusia dapat menuturkannya, lengkap dengan sisi sarana sebuah bisnis, dari sisi untung ruginya.

Lepas Magrhib, pembicaraan benar-benar selesai. Si anak manusia pun berpamitan. Sebelum dia meninggalkan ruangan tiba-tiba sang Jenderal berkata, “Ri, ingat! Kalau rencana ini gagal, harus dihentikan. Jangan memanfaatkan nama saya dan jangan coba-coba melakukannya biar rencana ini berhasil.”

Si anak manusia tertegun. Sungguh tertegun. Sang Jenderal punya nama besar, punya reputasi, tapi untuk sebuah bisnis, dia tak mau memanfaatkan segala “fasilitas” yang dimilikinya. Dia lebih rela merugi, dan bila rencana ini gagal, itu semata-mata karena dirinya dan si anak manusia.

Sepanjang perjalanan pulang, di sela-sela kemacetan, si anak manusia terus berpikir dan berpikir. Bukankah zaman sekarang ini segala sesuatu memanfaatkan “fasilitas”? Ah, rupanya masih ada pembesar di negeri ini yang berpikir untuk tidak memanfaatkan itu, dan dia seorang jenderal! Satu ucapannya yang paling membuat si anak manusia cukup menggigil, “Kalau bisnis ini hanya untung satu atau dua juta perhari, mendingan kita tidur aja.”

Dan tentang “fasilitas” tadi, si anak manusia jadi berpikir lagi. Apakah dia pernah mempergunakan “fasilitas” dalam bisnis-bisnisnya? Bisa jadi ya, bisa jadi pula tidak.

Mengapa kutuliskan cerita tentang anak manusia ini? Karena aku selalu memegang teguh, dalam sebuah bisnis, merugi itu bukanlah masalah besar, dan aku menganggapnya sebagai sebuah pengalaman. Tapi dari ucapan sang jenderal tadi kepada si anak manusia, aku jadi lebih berpikir lagi, bahwa persiapan dan kesiapan melakukan sesuatu, khususnya dalam berbisnis dan umumnya dalam bidang apa pun, harus benar-benar sangat matang, tidak setengah-setengah dan teruslah selalu fokus.

Ini sekelumit ceritaku tentang si anak manusia… barangkali memang sebuah cerita yang tidak begitu berarti.

Hormatku buatmu, Jenderal…

 

salam

Mutiara Duta

18 July 2011

 

16 Comments to "Malam Ini Aku Ingin Bercerita Kepadamu"

  1. EA.Inakawa  1 August, 2011 at 04:18

    @Mbak dewi…iya nich keliling terus,capek jd orang marketing di afrika,ini lg di Madagascar mau shattle company,salam hangat kembali ( barusan pemanas nya dihidupin eheheh )
    @Ci Lani ….. di Madagascar masih jam 12 malam,sejuknya 10 derj celc,dingin sekaliiiiiiiii yaaa sepertinya Ci Lani sama Ko JC sami sami hobynya ehehehe asyikkkkkkkkkk

  2. Dewi Aichi  1 August, 2011 at 02:52

    Kalau Lani pasti hobbynya melu melu, termasuk melu melu kenthir wkwkwkw

  3. Dewi Aichi  1 August, 2011 at 02:50

    Pak Inakawa apa kabar di Kinshasa? Semoga selalu sehat, kalau bertapa jangan lama-lama, cape he he he….salam hangat dari Tumpuk Artati, eh dari saya maksudnya….

  4. Lani  1 August, 2011 at 02:35

    EA belon tidur ya?????? emank jam brp? heheh……..ORA MELU2 itu mmg hobby aki buto…….bukan hobbyku lo ya hehhe

  5. EA.Inakawa  1 August, 2011 at 02:28

    Mbak Dewi….itu mah bukan hoby yang dipelihara sama Ko JC….ora melu melu emang kembaran nya eheheh kalau Ci Lani bener ora melu melu hoby nya ….peace !

  6. Lani  1 August, 2011 at 01:38

    DA, AKI BUTO : ora gumun……….ora kagetan……..mmg gitulah aki buto kita……..senengnya nglempar pancing njur ditinggal mlayuuuuuuuuu…………njur kebelet emboh kebelet opo wakakak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.