Tumpuk Artati (1)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Ada seorang gadis yang cukup ajaib tinggal di kecamatan Jebres (baca: Jèbrès) Solo Utara. Gadis itu baru mau lulus SMU, berkulit gelap, tinggi 156 cm berat 64 kg. Gadis itu dikarunia Tuhan, rasa percaya diri yang maha dahsyat. Ia merasa ditakdirkan sebagai super model atau setidaknya artis. Sebenarnya gadis ini asli dari Boyolali, namun sejak kelas 2 SMU ia tinggal bersama budenya di Surakarta. Ialah Tumpuk Artati, gadis ajaib yang memiki rasa percaya diri di atas rata-rata gadis seusianya.

****

Orang tua kandungnya hanyalah keluarga sederhana di Boyolali, terdiri dari 3 bersaudara dan Tumpuk anak paling tua. Adiknya Sumiati Aryani dan Ratmi Mulyati masing-masing berusia 13 dan 10 tahun. Tumpuk yang merasa dirinya titisan Putri Solo kerap berlaku semena-mena. Misalnya singkong rebus buat bertiga, dihabiskan dia seorang. Jatah susu adik adiknya dia minum lalu ditukar air cucian beras …. Singkatnya Tumpuk tidak bisa diatur. Ibunya sempat curhat sama tetangganya …”Tumpuk susah diatur Mbak Yu, apa karena saya dulu ngidam liat lokomotif ya ?” ….

 

Akhirnya sejak masuk kelas 2 SMU Tumpuk ikut Budenya yang juragan batik di Surakarta. Kebetulan Bude Tami nggak punya anak. Dan Tumpuk benar benar jadi kacang lupa kulitnya. Dimanja Budenya yang kaya, membuat Tumpuk yakin dia memang ditakdirkan jadi super model. Satu yang ga hilang dari diri gadis berusia 17 tahun itu, yaitu norak.

*****

Tumpuk sejak di Surakarta menjadi sok eksis, dari teman-teman sekelasnya ia mengenal internet dan berlanjut Facebook. Tumpuk kebanyakan gaya, semua yang ada di dirinya berdasarkan penilaiannya sendiri, itu sisi buruk terlalu percaya diri. Maka jadilah sebuah akun di FB atas nama Tumpuk Artati namun berisi data yang menyesatkan. Misalkan kegiatan, ia menulis modeling, padahal itu hanya khayalan dia pribadi. Dan tanpa ampun, ia upload potret diri dengan berbagai gaya.

Dan hadirlah seorang pemuda dari kota Bogor yang ga tau buta atau mabok, begitu tertarik pada sosok Tumpuk yang bagai buntelan batu bara … Wall to wall menjadi ajang saling ‘berbicara’ …. Cowo itu memakai nama Usman Bogor …..

UB : thx ya cantik, kamu ada di mana sih ?? Mau donk kenalan

TA : gw ada di Surakarta nih kota di mana gadis gadis ayu berasal, kapan donk ke sini ? Biar menjadi saksi kecantikan gw ?!

UB : aq takut, takut jatuh cinta hehehe, abis keliatannya kamu cantik banged siihhh…

TA : hihihi iya sih, terlalu cantik ternyata ga enak yaa ?? Capek nolak cowo-cowo deehh, tapi yaa udah sihhh resiko orang cantik…

Itu sedikit ke-PD-an Tumpuk saat berbincang, yang pasti info menyesatkan itu ditelan bulat-bulat oleh Usman yang rada kuper. Tumpuk sama sekali tidak merasa bersalah, perasaan cantik itu tumbuh kuat saat neneknya berbicara padanya, beberapa tahun lalu 2 hari sebelum meninggal karena sakit ….

“Puk, mrene cah ayu, mbah arep mesen nasehat wae, kowe iku ayu, manis, cantik … Jogo diri yo nduk …” (Puk, sini anak manis, mbah mau pesen nasehat aja, kamu itu ayu, manis, cantik … Jaga diri ya nak …) …. Ujar nenek sambil membelai kepala Tumpuk.

“Setidaknya kowe iku cantik koyo ….” (Setidaknya kamu itu cantik bagai …) — pembicaraan terputus karena nenek batuk hebat, lalu diberi obat oleh ibunya Tumpuk dan tertidur, kalimat yang belum usai itu bagai misteri, padahal tadinya nenek ingin berkata” …. Bagai burung hantu, yang selalu menyapa di kala bulan bersinar” namun karena tak terucapkan, Tumpuk salah tanggap” pasti bagai Putri Keraton Solo” begitu pikirnya ke-GR-an, maklum saat itu Tumpuk masih ABG, masih labil berat. Dan anggapan ‘Putri Solo’ itu terus digenggamnya” ga mungkin Mbah bohong sama aku” itu yang ada dibenak Tumpuk Artati hingga kini.

Siang itu Tumpuk ingin membeli sendal yang sedang ‘in’ di Jakarta, sendal ‘Crocs’ dan dia segera menulis di status FB-nya ….”Ihhhh akhirnya ada waktu luang nih, jadi bisa SHOPENG di MOL … Blanja gitu loch, duhhh ga sabar dech gweh” (WARNING : segala ucapan Tumpuk bukan salah penulisan, namun itulah adanya Tumpuk yang sok di semua hal plus ALAY)

Seketika itu juga banyak komen dari kawan-kawannya :

Cowo Dusun : “Emang sibuk apa sih ? Sampe ga sempet blanja ???”

Tumpuk Artati : “Sibuk perawatan tubuh donk, kan gwe calon model”

Rubyem : “Puk, aq titip es Magnum tho …”

Tumpuk Artati : “Iyaa ciiinn, kalo ga kemaleman yooo, abisan kalo udah belanja sukak lupa pulang kikikik”

Djamal Madiun : “Lha pean ngadek opo ndodok ?? (Lha kamu berdiri apa jongkok ??)”

Tumpuk Artati : “Dasar rai gedek, yoo ngadek thoo, aku iki duwur asline … Dasar rai bedes (dasar muka gubuk, ya berdiri donk, aku ini aslinya tinggi … Dasar muka monyet)”

Usman Bogor : “Aduhhh beli sendal apa ciii”

Tumpuk Artati : “Itu lho …. Sendal ‘FROG’ …. Kan lagi model gitu loch, ga pake rasanya ga eksis”

Rubyem :”Sendal ‘FROG’ iku piye ????”

Tumpuk Artati : “Yem, pancen rai-mu iku turunan susah, lha kuwi sendal seng koyo karet, sing warna warni … Ndesoo (Yem memang tampangmu itu keturunan sengsara, lha itu sendal yang kaya karet, yang warna warni …. Udik)”

Itulah sepenggal kehebohan di status FB Tumpuk siang itu, yang dijawab Tumpuk saat perjalanan ke Mall. Solo Square di depan mata, Tumpuk penuh percaya diri, kulit yang legam tak menghalanginya memakai ‘hot pants’ warna shocking pink, kaos ketat warna merah (membuat tubuhnya seperti monster lemper) sepatu canvas warna kuning dengan kaos kaki putih selutut, sangat menusuk mata dan korban mode, tapi Tumpuk adalah Tumpuk semua hanya dinilai dari sudut pandangnya sendiri.

*****

Matanya tertuju ke sebuah toko sepatu, dengan sok anggun dia masuk ke dalam toko, jelalatan memandang display yang ada … Seorang lelaki penjaga toko berwajah tampan mendekatinya ….

Pramuniaga : “Sore mbak ….”

Tumpuk : “Mau ngapain lo ? Naksir ya ? Deketin gw lagi, asli gw mbengok (teriak) lhooo”

Pramuniaga : “Mba’e stress yo ? Lha tugasku takon karo kowe, lha aku kerjone ngelayani pelanggan (mbak kamu stress ya ? Lha tugas aku tanyain kamu, lha aku kerjanya ngelayanin pelanggan)”

Tumpuk : “Ohhh maaf yo mas, abis aku trauma digodain cowo-cowo …” . Jelas Tumpuk sok manja

Pramuniaga : “Iyoo mbak, ati-ati banyak orang iseng. ……..(pramuniaga ganteng menatap Tumpuk dari ujung rambut ke ujung kaki, tak yakin Tumpuk jadi sasaran cowo-cowo), oh iya mau cari apa ya ?”

Tumpuk : “Uuuuuhhhh mas nakallll” (sambil sok mukul-mukul manja ke dada Pramuniaga,” koq embak ciii, aku kan maci kecciiiiiiillll, panggil aja aku .. Cyiummmpuuukkk”

Pramuniaga : (Menahan malu diliatin orang secara dia ganteng dan Tumpuk jelek)” ehem iyaa Mbak Cium … Ehm …” (Salah tingkah)

Tumpuk : “iiiihhh nakalllll, koq cium, cyumpuk (sok bule cadel ala Cinta Laura – Tumpuk bicara sambil memonyongkan bibir merasa sensual, walo lebih mirip pantat ayam) hmmm mas, aq mau beli sendal FROG dwonk”

Pramuniaga : “Ehemm … Sendal FROG ?? Ga ada ya Cyum merek gitu ?? Modelnya gimana ya Cyum ? (Tiap mengucap ‘Cyum’ ia ikutan monyong”

Tumpuk : “Ndesoooo !!!! Iku lho sing koyo karet akeh warnae (udiiiiiik !!!!! Itu lho yang kaya karet banyak warnanya”

Pramuniaga : Sok batuk nahan tawa “ooohh wealahh, iku jenenge CROCS …. Sing iki tho (ooohh ya ampun, itu namanya CROCS … Yang ini kan) ??? (Sambil nunjuk kesebuah rak)”

Tumpuk : “Itukan bacanya FROG …. Kamu ga bisa bahasa inggris koq sombong tho, aku ni kursus lho udah 2 tahun”

Si Pramuniaga tak menjawab, pembeli adalah raja, akhirnya setelah sejam lamanya Tumpuk menjajal, akhirnya dibelinya dua sendal, warna ungu dan merah terang. Rasanya tidak sabar untuk memakainya keliling kota Solo, maklumlah, itu sendal mahal.

*****

Dari toko sepatu, Tumpuk merasa lapar, dia SMS Rubyem “Nyong ! Kancani aq maem yoo, mrene nyusul, tak enteni saiki (Nyong ! Temenin gw makan ya, sini nyusul, gw tungguin sekarang” dan ajakan itu bagi Rubyem adalah bagai menang undian, makan enak … Secara Tumpuk duit jajannya gede. The Bizztro Solo dipilih Tumpuk, ia memesan makanan” Mas, gw mesen MERLION STIK donk ….”Ujar Tumpuk sambil memoles bedak warna putih ke wajahnya yang keling, wajah itu terlihat makin abu-abu.

Waiter melongo …”Maksud Mbak, SIRLOIN STEAK ya ??” Jawabnya sambil siap mencatat.” Ihhh norak, itu bacanya MERLION tauk !!! Gw kan kursus Inggris udah 2 tahun” ujar Tumpuk sok aksi, dia memang kursus sudah 2 tahun, tapi selalu di BASIC 1 karena ga lulus-lulus. Si Waiter berlalu, gak lama Rubyem nongol ……..” Hiii Rubyyyyy” pekik Tumpuk over acting, seolah bertahun-tahun tak jumpa Ruby.

Di muka umum iya menyapa Rubyem dengan RUBY bukannya YEM seperti saat di rumah, gengsi alasannya.” Ruby jelalatan liat daftar menu …” Puk … Aku koq ora nemu pecel ndeso yaa ??” Ujar Rubyem menelusi daftar menu dengan jari telunjuknya yang bogel.” Dasar cah ndeso … Mana ada, ini resto mahal gituu loohhh” ujar Tumpuk kini memoles blush on warna pink-berry di kedua pipinya. Ruby akhirnya pasrah ikutan pesan MERLION STIK seperti Tumpuk. Ruby menatap wajah Tumpuk sambil terbelalak “Puk, kowe loro opo ? Koq rai-mu ungu kabeh ??? (Puk, kamu sakit apa ? Koq muka kamu ungu semua)” …. Tumpuk kesal ….”Dasar ndesit !!! Ini namanya blas on, yang make cuma anak gaul (ndesit = desa tapi lebih desa lagi)” ujar Tumpuk tersinggung. Namun sebenarnya Rubyem nggak salah, warna pink-berry yang dipakai Tumpuk berubah jadi ungu karena kulit Tumpuk legam, warna itu hanya pantas bagi yang berkulit putih.

bersambung…

 

Ilustrasi: http://qistinasatriavi.blogspot.com

 

54 Comments to "Tumpuk Artati (1)"

  1. Evita Marcondes  18 January, 2014 at 01:22

    wkwwkk…aku nggak brenti ngakak baca serial ini….mengingatkanku pada salah satu temanku wkwkwkwkkw

  2. Dewi Aichi  25 June, 2013 at 22:51

    Ha ha ha ha ha ha…modyar aku ngakak ra uwis uwis dielingke Usman Bogor, aku milih Jamal Madiun wae lah Jawa katrok …

  3. Matahari  25 June, 2013 at 21:48

    Elnino…terimakasih info nya…saya belum pernah dengar ada nama Tumpuk..he he

  4. elnino  25 June, 2013 at 21:44

    Matahari, di Jawa nama Tumpuk itu lumrah dipakai untuk wanita. Ada teman sekolahku, ada sodara tetangga yg pake nama Tumpuk. Di Jogja malah ada peyek legendaris yang bentuknya bukan tipis lebar tapi seperti kepalan gitu, namanya peyek mbok Tumpuk. Kebetulan bentuk peyeknya seperti tumpukan kacang n tepung, hehe… Jadi Tumpuk ini memang nama orang, bukan kondisi atau kata kerja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.