Museum Kereta Api Ambarawa

Handoko Widagdo – Solo

 

 

Salah satu lokasi wisata di sekitar Bandungan-Ambarawa yang layak untuk dikunjungi adalah museum Kereta Api Ambarawa. Museum yang dulunya merupakan stasiun kereta ini dibuka sejak tahun 1976, saat dimana perjalanan kereta api yang melewati stasiun ini ditutup.

Stasiun Ambarawa bernama asli Stasiun Willem I dan dibangun pada tahun 1873. Aslinya, stasiun ini menghubungkan Kedungjati (Kabupaten Grobogan) di timur, dan Magelang-Jogja di selatan.

Baik ruangan maupun peralatan per-kereta-api-an masih dipertahankan, seperti tempat penjualan karcis dan ruang tunggu berikut ini.

Beginilah tampang penumpang yang menunggu kereta sambil melamun.

Museum ini juga menyimpan banyak peralatan perkeretaapian yang pernah digunakan pada jaman dulu.

Karena lokasi stasiun ini berada di bukit, maka, roda bergigi pernah dipakai untuk membawa rangkaian kereta memanjat bukit.

Tentu saja sebagai museum kereta api, koleksi utamanya adalah loko-loko kuno yang pernah berjaya di perkereta-apian Indonesia.

Jika uang Anda cukup, Anda bisa menikmati perjalanan kereta dengan menggunakan loko tua menyusuri rel bergerigi dari Stasiun Ambarawa ke Stasiun Bedono. Tapi untuk menyewa kereta kuno ini anda perlu merogoh kocek Rp 2,5 jutaan.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

35 Comments to "Museum Kereta Api Ambarawa"

  1. Handoko Widagdo  3 August, 2011 at 19:54

    Mbakyu Nu2K kalau Kangmas ketemu saja nanti jangan bawa lembaran seribuan ya…tapi bahwa cek 100 EURO

  2. Handoko Widagdo  3 August, 2011 at 19:52

    Pak Sumonggo, lha ora duwe duit….duit… ya jojajan-jojajan

  3. Sumonggo  3 August, 2011 at 07:52

    Pak Han, ikut naik sepur kluthuk, jes …. jes… jes ….. ojojajan …ojojajan….ojojajan ………….

  4. nu2k  2 August, 2011 at 19:57

    Dimas Handoko, kok pakai KW1 segala… Memangnya sudah mau buka Mangga Besar ke 2 ya… ha, ha, haaaa.. Saya pernah sekali ke Mangga dua sama konco ngajeng. Sengaja pakai Trans. Waktu menyeberang jalan dia lihat banyak sekali pengemis dari mulai yang muda sampai yang nenek-kakek. Salah satu hobby konco ngajeng memang mengumpulkan uang seribuan kembalian belanja.. Naaahhh, kalau sedang jalan seperti ini setiap yang dia jumpai dia kasih selembar… Waktu sampai di salah satu anak tangga konco ngajeng melihat ada salah satu nenek tua yang tertidur dengan menengkurapkan kepalanya di atas anak tangga di atasnya. Terus, nggak pakai bu atau pak, konco ngajeng bangunkan itu si nenek ..Dan uang yang digenggamnya dia kasih semuanya ketangan si nenek…. Achhhh, si nenek kaget separuh mati tapi tetap tertawa juga…. ….Saya hanya mesam mesem melihat dia… salam, nu2k.

  5. Handoko Widagdo  2 August, 2011 at 07:28

    EA. Inakawa, Lagu naik kereta api tut…tut…tut itu kan jaman Suharto. Saat Jaman Mega jadi: naik kereta api puan..puan..puan; dan sekarang menjadi: naik kereta api bas…bas…bas…

    Mas Iwan, justru yang di Jatinegara itu yang KW1 karena masih jalan.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.