Menonton Zomer Carnaval di Rotterdam

Nunuk Pulandari

 

Berawal dari percakapan telefoon dengan Birrutte seminggu yang lalu. Dia mengatakan:” Ibu, ik ga mijn verjaardag niet op 30 juli vieren maar een dagje eerder.” (saya tidak merayakan ultah tgl 30. Tapi diajukan satu hari) Lalu saya menanyakan:”Waarom? Wat is er dan?” Dia hanya menjawab bahwa pada hari lahirnya, 30 juli tahun ini, ada Zomer Carnaval di Rotterdam. Dan yang lebih penting lagi bahwa mereka, teman-teman dan juga adiknya dan partnernya masing-masing serta lainnya yang hadir, semua akan menonton Carnaval bersama.

Dan berbekal informasi ini, Sabtu kemarin jam 10.45 pagi saya dan konco ngajeng berangkat bersepeda ke Rotterdam untuk menonton Zomer Carnaval yang dimaksudkan.

Foto1. Di salah satu sudut pengkolan jalan sepeda.

Sesungguhnya cuaca hari Sabtu kemarin tidak terlalu bersahabat. Matahari sangat sungkan untuk menampakkan dirinya. Di kejauhan tampak gumpalan awan yang menandakan akan turunnya sang hujan. Temperatur pagi itu, jam 11.00 pagi tidak lebih dari 15-17 derajat Celcius. Cukup dingin karena tiupan angin. Hanya angin di pagi itu agak sedikit bersahabat karena berhembus dari arah belakang kami. Memang terasa seperti ada dorongan tenaga ekstra sehingga lajunya sepeda seperti lebih enteng. Dan kaki-kaki  terasa lebih ringan mengayuh pedal sepedanya.. Ketika saya memikirkan tentang semua itu, tiba-tiba konco ngajeng mengingatkan bahwa jangan lupa kalau nanti kembalinya kita harus bekerja keras karena harus  mengayuh sepeda sambil melawan datangnya  angin. Yang tentunya akan menjadi lebih berat mengayuh pedal sepedanya  dan menjadi agak lambat laju sepedanya…. … Huuuuuuhhhh. Dalam hati hanya berdoa:”Semoga arah angin akan berbalik mengikuti arah tujuan pulang” …Ha, ha, haaaa…

Foto2. Konco ngajeng dengan sabarnya sedang menunggu saya membuat foto seekor reiger (burung bangau)  yang tidak biasanya bertengger di atas pohon. Lihat foto 3.

Dalam perjalanan bersepeda ke Rotterdam kali ini, kadang disertai dengan hujan rintik yang juga turut  mem“basahi” kepala dan punggung kami. Sempat kami berteduh dibawah pohon yang sangat rindang diantara rimbunnya kehijauan yang ada. Tetapi tidak lebih dari 5 menit kami sudah melanjutkan acara bersepeda ke Rotterdam, meskipun kadang tetesan halus air hujan masih terasa jatuh menetes di wajah kami.

Foto 3. Burung Bangau bertengger di dahan pohon menyongsong sinarnya sang surya yang tak kunjung merekah.

Jarak perjalanan sebanyak 16 – 17 ½  km, yang harus ditempuh dengan bersepeda untuk ke Rotterdam dari Zoetermeer, memakan waktu totaal  kurang lebih, 85 menit. Itu sudah diselingi dengan dua atau tiga kali istirahat pendek, tidak lebih dari 5-6 menit setiap kalinya. Setiap plus minus 5- 6 km saya selalu merasa haus dan harus minum air putih. Kadang kalau tersedia bangku untuk duduk-duduk di sisi jalan, seperti di sekitar Zestienhoven luchthaven ( lapangan terbang)  van Rotterdam,  kami berhenti, dan kami dudu,  minum air putih sambil mengamati lajunya pesawat yang akan terbang landas dan juga mendarat di jalur pacu yang melintang di depan kami.

Foto 4. Salah satu pesawat yang sedang mengambil jalur untuk lepas landas.

Menontoni cukup tingginya frekwensi jarak pesawat yang lepas landas dan mendarat  yang silih berganti di lapangan pacu Rotterdam, terkesan seolah di Belanda tidak ada permasalahan yang telah menimbulkan krisis hampir dalam semua bidang.

Menyeberangi  jembatan Rotterdam West, di bawah jembatan kami melihat sederetan woonboten di salah satu kanaal kecilnya, dengan berbagai tipe rumah kapalnya. Sebagian woonboten itu ada yang mempunyai tempat bersandar (tetap)  tetapi sebagian ada juga yang tidak mempunyai tempat bersandar tetap di sana. Artinya woonboten  yang tidak memiliki tempat bersandar tetap, di perairantersebut hanya dibolehkan  bersandar untuk beberapa hari di tempat sandar umum. Di setiap kanaal atau perairan yang ada selalu disediakan tempat sandar tetap bagi Kapal / Woonboten yang tidak mempunyai ijin sandar tetap. Karena itu pula setiap kali harus berpindah dari satu lapak ke lapak lain yang memang tersedia bagi umum.

Memiliki sebuah rumah kapal adalah sebuah pilihan seperti kalau kita akan membeli sebuah rumah atau mobil. Harga, bentuk dan materinya bisa disesuaikan dengan kemampuan financiel calon pemiliknya. Rumah kapal ini kadang terdiri tidak hanya dari satu tingkat tetapi juga lebih dari  dua tingkat. Sampai dua tahun lalu salah seorang teman kami mempunyai sebuah rumah kapal di Delft. Sayang sekarang sudah dijual…Jadi tidak bisa secara detail memberikan contoh interieur dalam kapalnya.

Foto 5.  Sederetan woonboten di batas kota Rotterdam.

Tinggal  di sebuah woonboot adalah satu pilihan gaya hidup yang tidak termasuk murah di Negeri Belanda. Memperhitungkan ada dan tidaknya tempat bersandar yang tetap,  letak lokasi, kota dimana woonboot berada, bentuk, jenis material, membayar sewa tempat sandar dll dll, sangat mempengaruhi harga sebuah woonboot. Kalau kita ingin membeli sebuah woonboot yang berharga di atas 400.000 Euro , saya kira bukanlah masalah yang sulit. Karena banyak woonboten yang bertingkat dua atau tiga dengan penataan yang sangat menarik yang harganya mungkin lebih dari kepala 4. . Banyak woonboten yang berharga diatas 200.000 Euro tetapi juga ada yang berharga sekitar 65.000 Euro. Tinggal memilih saja sesuai dengan ketebalan dompet kita.

Melanjutkan perjalanan, setelah lampu lalu lintas menyala hijau kami meninggalkan woonboten tersebut dan mengayuh sepeda menuju Pusat Kota Rotterdam. Dalam jarak yang masih tertinggal, kira-kira 5km lagi dari Rotterdam,  terlihat di depan mata awan yang begitu kelabu sedang mengiringi kami menuju Pusat Kota Rotterdam. Seperti yang tampak dalam foto 6.

Foto 6. Sebagian kecil awan yang sangat  kelabu di  langit saat itu.

Memasuki rotonde Pusat Kota Rotterdam, meskipun awan begitu kelabu menggantung di langit,  dari semua arah  nampak berdatangan para penonton carnaval. Tentu dengan semangat yang terlihat begitu menggelora. Juga ketika barisan Carnaval di ujung jalan secara perlahan sudah mulai  bergerak, tampak berbagai “ungkapan” kegembiraan dan kebersamaan di wajah para peserta dan penontonnya. Bahkan ketika hujan rintik mulai turun ke bumi tidak seorangpun yang sudi beranjak untuk meninggalkan tempatnya berdiri/ duduk.

Di sepanjang jalan yang dilalui Carnaval, nampak betapa padatnya lapisan para penonton yang hendak menyaksikan gerakan Salsa, Samba dan goyangan pinggul para pesertanya….Dengan sedikit tersenyum, dan melihat dengan mata yang penuh memelas, saya mencoba untuk menembus berjubelnya barisan itu. Dan akhirnya dengan agak sedikit desak mendesak,  saya bisa menjepret beberapa foto untuk sekedar menyegarkan mata ketika melihat tayangan di Lap Top .

Foto 7. Para peserta carnaval sangat bersemangat untuk bergoyang pinggul..

Dalam Carnaval itu, nampak bahwa hampir setiap peserta bergoyang menggerakkan anggota tubuhnya mengikuti tabuhan drum yang terdengar dari lagu yang ada. Tidak seorangpun terlihat ragu untuk bergoyang dalam mengungkapkan rithme yang mengalir dalam tubuhnya. Irama musik yang sangat nyaman untuk mengiringi gerakan tarian Salsa, atau goyangan pinggul dan tubuh atasnya yang kadang memang mengundang untuk mengikutinya, banyak sekali diperdengarkan. Juga di sana sini di antara penontonnya terlihat ada yang tergerak untuk melenggangkan kakinya mengikuti irama lagu yang didengarnya.

Banyak di antara pesertanya yang masih ada di bawah umur. Dalam hal ini mereka biasanya ditempatkan di atas Mobil-mobil hias yang mengikuti di belakang rombongan kelompoknya masing-masing.

Foto 8. Beberapa anak kecil yang sudah cukup mahir meliukkan tubuhnya.

Pada kesempatan berparade ini juga diadakan pemilihan Ratu dan Raja peserta Carnaval. Tetapi sayang saya masih belum sempat melihat hasil akhirnya sampai saat ini.

Foto 9. Setiap orang boleh ikut parade. Pun peserta yang sudah tidak muda lagi.

 

Foto 10. Reog van Holland sedang menunjukkan kemahirannya bergoyang kaki/ pinggul.

 

Foto 11. Anggota Reog van Holland

 

Foto 12. Nymphe (?) nan menghijau

 

Foto 13. Ratu Nymphe di kedinginan salju.

 

Foto 14. Berbagai mahkota dari banyak perkumpulan diperlihatkan di sini.

 

Foto 15. Salah satu peserta sedang membetulkan “kiwir-kiwirnya”.

 

Foto 16. Putri Duyungnya  Noord Zee,  Belanda

 

Foto 17. Hijaunya daun muda

 

Foto 18. Olah tubuh yang membuat mereka tidak merasakan dinginnya udara di Rotterdam

 

Foto 19. Sang Jago dengan para betinanya.

 

Foto 20. Bunga dan bunga

 

Foto 21. Ungunya ungu

 

Foto 22. Sepanjang jalan  tersedia warung makan byar pet

 

Foto 23. Bier tidak pernah dilupakan

Dalam Carnaval tentu tidak pernah dilupakan kebutuhan pengisi perut dan obat pelepas dahaga. Di sepanjang jalan tersedia semuanya dan bisa dimiliki setiap orang setelah dia menukarnya dengan lembaran atau koin E. Meskipun menurut saya cukup mahal (2 sampai 3 kali harga aslinya), banyak diantara pengunjungnya yang memanfaatkan persediaan ini.

Tersedianya team kesehatan dengan segala peralatannya, lengkap dengan pasukan Helikopterya yang berkeliling tidak jauh dari tempat itu, membuat orang tidak perlu was-was ketika ada penonton yang pingsan atau mabuk berat.

Juga kehadiran pak Polisi, seolah membuat setiap orang yang hadir di sana merasa aman. Meskipun ketika saya lewat di sana ada orang yang sedang melaporkan karena kehilangan dompet beserta isinya.

Sayang sekali tanpa terasa jarum jam telah berputar menuju ke angka 04.15 sore. Kami segera meninggalkan Rotterdam menuju Zoetermeer…

Tot weer schrijven. Matahari pagi ini bersinar cukup terang. Dan hembusan sang bayu hampir tidak terasa di kulit..Hanya terdengar suara kriuk, kriuk yang berasal dari dalam perut pemiliknya. SELAMAT BERPUASA. Nu2k.

 

115 Comments to "Menonton Zomer Carnaval di Rotterdam"

  1. nu2k  12 August, 2011 at 01:10

    Mbak SU, kalau mau salam yang pakai doeit… Namanya salam tempel bukan salam doe doei…..Ha, ha, haaaa haaaaa… Selamat berhappy ria… Itu khan maksudnya bersilang commentaar di Baltyra….Senang-senang sambil belajar dan berha ha hi hi…Lhawong hidup sudah banyak urusan kok, kalau di baltyra juga rebet ya sayang khan… Kapan kita ontspannendnya….Orang Belanda mengatakan:”Relaxte mensen hebben geen zorgen en voelen zich rustig”. Orang-orang yang relax tidak banyak pikiran dan merasa hidup ini tenang…Itu khan yang kita cari….. Semua “tercukupi” (relatief) , apapun yang kita inginkan bisa dicapai…Terus mau apa lagi…Kalau belum cukup juga, kita lihat orang-orang yang hidupnya ada dalam penderitaan dan berkekurangan.. Terima kasih, saya masih bisa berha ha hi hi dengan anda semua… Hartelijk dank. Nu2k

  2. SU  11 August, 2011 at 11:02

    Selamat siang Ibu Nunuk. Saya happy

    Hahaha……disesuaikan ya kostum dengan masa krisis. Itu salam en doe doei artinya sambil salam dikasih doeit ya Bu? Hihihihi…..bercanda ya…..

    Bye

  3. nu2k  10 August, 2011 at 23:24

    Mbak SU, baru muncul lagi? Happy-happy saja, khan? Irit bahan atau masa resesi.. Ha, ha, haaa Sesungguhnya hari itu sangat dingin karena banyak angin dan hujan gerimis. tapi mungkin karena mereka selalu berdansa jadi temperatus badan tetap menunjukkan angka yang “tinggi” ya..
    Selamat bersantap malam atau selamat beristirahat???

    Salam en doe doei, Nu2k

  4. SU  10 August, 2011 at 22:16

    Duh meriahnya. Kostumnya begitu warna warni banget dan irit bahan. Hihihi.

  5. Lani  5 August, 2011 at 11:31

    MIMIN YANG MUMET TERUS ke hawaii juga ketemu bu lani ..

    pingin liat pantai hawaii
    +++++++++

    mari……mari……..monggo saja klu mo menyambangi saya yg tinggal di paradise……..hehehe…….pantai2nya waaaaaah clegukkkkkkk wis…….klu ke HAWAII bawa partner/doi ato apa ajalah sebutannya………..klu sendirian paittttttt………wakakaka……..

    nanti bs belajar hula……pakai baju yg kiwir2 apa bikini……ini satu keharusan………dimana-mana da pantai, jd tinggal diplotrok-ke baju luarnya…….ambyuuuuuuuuuuur……..segerrrrrr……..menikmati sunset tiap sore…….nah itu perlunya pasangan bs gandengan……dst……dll……..heheh wah bakal semakin mumet si mimin………

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.