Enaknya Menjadi “Bangsawan”

Fire – Yogyakarta

 

Pernah waktu baru masuk kuliah, seorang teman cerita apa bedanya masa di SMA dengan kuliah. “Sukanya, pertama nggak adalagi upacara bendera tiap Senin. Kedua, nggak perlu lagi pake seragam. Nah, yang ketiga, sekarang derajat kita sudah naik menjadi bangsawan …”

Lho apa hubungannya kuliah dengan bangsawan? Tapi ini sama sekali nggak ada kaitannya dengan urusan ningrat atau darah biru. Soalnya, bangsawan yang dimaksud adalah “bangsane tangi awan”. Kalo artinya kurang lebih, “macam orang yang biasa bangun siang” Jadi kalo dia nggak ada kuliah pagi bisa bangun lebih siang.

Tidak seperti waktu di SMA selalu masuk jam tujuh pagi, kalo telat, harus siap segudang alasan untuk berurusan dengan guru BP. Memang di kuliah kadang berbeda tergantung dosennya, ada yang telat 5 menit, pintu dikunci, tapi ada juga yang nggak peduli mahasiswa mau masuk kelas jam berapa. Nah, mahasiswa yang sering masuk telat kalo kuliah pagi itulah, memperoleh gelar “ke-bangsawanan-nya” …. wakakakak……

Jadi untuk jadi bangsawan nggak usah repot-repot nunggu panggilan dari kraton ini itu ataupun dari Buckingham, wah kadohan …….. berat di ongkos ….. Apalagi kalo mesti mempersunting putri kraton , wah bagai pungguk merindukan bakwan ….wakakkaka….

Tapi berurusan dengan teman yang tergolong “bangsawan” ini kadang bikin suntuk juga. Misal kemarinnya sudah janjian pagi-pagi sekali kita datang ke tempat kost-nya, digedor-gedor nggak bangun-bangun. Yang jelas kita sudah harus niteni, kalo dengan “para bangsawan”, jamnya harus disesuaikan dengan “tradisi” mereka. Apalagi kalo malamnya habis begadang. Sudah “bangsawan” tidurnya “mbathang” pula. Benar-benar keturunan “ningrat” tulen alias “neng-ratan” (jalanan), wakakak ….

Berbicara soal bangsawan, ternyata keluargaku waktu kecil juga termasuk “keluarga bangsawan”, hihihi…… Tentu saja tidak tiap hari, hanya setiap hari Minggu atau libur saja. Seringnya ngumpul di satu kasur bareng-bareng, sambil ngulet. Ternyata momen tersebut sangat berguna untuk keakraban keluarga. Itulah indahnya jadi “keluarga bangsawan”, hihihi …. Terus gelar ke-bangsawanan-nya apa? Ya, bikin sendiri, misal KGPAMD, tentu saja KGPA yang ini bukan Kanjeng Gusti Pangeran, karena lengkapnya adalah “Kalo Gue Pengin Adus Makan Dulu”, hihihihi …..

Bagi “keluarga bangsawan” ini ada istilah “mbangkong”, yaitu memperpanjang tidur. Sayangnya sekarang di jaman modern ini makin banyak gangguan untuk bisa melestarikan tradisi mbangkong sekeluarga. Belum-belum sudah ada panggilan ponsel, fb, twitter, dsb. Jadi banyak kendala bila suatu “keluarga bangsawan” akan “nguri-nguri” budaya mbangkong. Tidak seperti dulu dimana telpon masih jarang yang punya, dan TVRI juga mulai siaran nggak pagi banget. Mbangkong sekeluarga yang versi orisinil tentunya adalah “do nothing” selain berkumpul seluruh anggota keluarga, bukannya sambil sibuk update status apa njawab sms.

Baiklah teman-teman, apakah ada yang gemar menjadi “bangsawan”?

 

About Fire

Profile picture'nya menunjukkan kemisteriusannya sekaligus keseimbangannya dalam kehidupan. Misterius karena sejak dulu kala, tak ada seorang pun yang pernah bertatap muka (bisa-bisa bengep) ataupun berkomunikasi. Dengan tingkat kreativitas dan kekoplakannya yang tidak baen-baen dan tiada tara menggebrak dunia via BALTYRA dengan artikel-artikelnya yang sangat khas, tak ada duanya dan tidak bakalan ada penirunya.

Arsip Artikel

50 Comments to "Enaknya Menjadi “Bangsawan”"

  1. ilhampst  5 August, 2011 at 11:31

    Dari dulu sampai sekarang terbiasa bangun pagi, mbangkong terjadi kalau capek sekali saja. Selain dibiasakan ortu, juga dari dulu sampai sekarang tinggal selalu dekat masjid hahaha…
    Teman satu kontrakan juga doyan mbangkong, sering heran koq bisa ya pada bangun jam 9 pagi tiap hari? Mentang2 jam kantor gak mengikat )

    Terimakasih artikelnya Mas Fayer

  2. Dj.  5 August, 2011 at 00:11

    Mas Fire….
    Matur Nuwun mas….
    Dj. benar sangat menikmati artikel anda…
    1. Karena singkat.
    2. karena gaya anda menuliskan nya dengan bahasa yang sangat sederhana…!!!

    Kami juga, setiap hari Sabtu dan Minggu, selalu jadi Bangsawan.
    Ingat saat anak-anak masih kecil-kecil, mereka datang kekamar kami dan membangunkan kami.
    Tapi kami, dengan adanya anak-anak di tempat tidur kami, malah jadi guyonan….
    Tapi sekarang, kalau sudah lewat jam 11:00, maka si dewi yang suka teriak…
    Kalian tidak mau bangun…???
    Sarapan sudah siap…!!! hahahahahahaha….!!!

    Salam Bangsawan dari Mainz…

  3. Nuchan  4 August, 2011 at 22:09

    Itsmi Says:
    August 4th, 2011 at 14:19

    Nuchan, lari yah, pengecut kau hahahahaha.

    Hahahhaha ya kaburlah..takut ditimpuk sama Itsmi hahhaha

    Jadi kalau saya berkomunikasi di Indonesia, sering di lihat sebagai orang kasar…. Problemnya di tambah lagi karena saya aslinya orang Indonesia, coba kalau saya orang berkulit putih, lain kan citranya. Oleh karena itu adik adik saya tidak senang ke Indonesia karena bahasa Indonesia mereka sangat minim….dan sangat kaku…..

    Iyah iyah kayaknya orang Batak juga kalau pake bhs Indonesia terdengar kasar banget sih hahhaha
    Coba tanya Mas JC yg pernah di Sumatra hehhehee Suaranya orang Batak juga rada keras..kalo ngomong berapa DB ya Mas hahhahhaa….tapi kayaknya hatinya sih baik hahhahhaa..maksudnya?(tetap muji sendiri hahhaha)

    Btw, Itsmi khan sudah lama tidak di Indonesia hahhaha jadi nga papa kalo kurang lancar bhs Indonesia hehhehe tapi bagus khan Itsmi sudah berusaha menggunakannya di Baltyra…jarang lo orang yg sudah lama di luar masih suka bhs Indonesia hahahhahha…

    Yah udah biar bhs Indonesianya masih kurang bagus tapi Itsmi harus tetap semangat belajarnya hehhehhe..Tuch di Baltyra ada guru bhs Indonesia Mbak Dewi Aichi hahhahahhaa..kaburrrrr

  4. Dewi Aichi  4 August, 2011 at 18:00

    Itsmi, saya tetap menerapkan apa adanya, kultur dan budaya yang ada pada saya sejak lahir, dimanapun saya berada saat ini, beda dengan anak saya, seandainya nanti anak saya memanggil gurunya (karena hanya tau kamu dan aku, misalnya), ya saya kasih tau, kasus anak saya lain, bukan tidak mau menyebut nama gurunya denga bu atau pak, tapi karena ketidaktauannya saja.

    Saya kira jarang sekali yang melakukan “memanggil orang tuanya sendiri dengan nama” walaupun saya mengenal beberpa teman disini, memanggil bapak ibunya dengan nama, tapi karena panggilan sesaat, seperti dalam acara santai keluarga. Tetapi pada dasarnya, sehari-hari memanggil denga papae atau mamae.

  5. [email protected]  4 August, 2011 at 16:58

    waduh…. nggak tuh
    tiap pagi bangun jam 7.30-8.00…. liburan sabtu minggu kadang lebih pagi….
    karena di pikiran, ini hari libur, jangan disia2kan buat tidur…. hura2 di hari libur :p

    terkecuali kalo lagi abis clubbing…. atau pulang malam….
    nah bisa deh tidur ampe jam 9-10

  6. GC  4 August, 2011 at 15:21

    hahaha..sy bangsawan khusus hari sabtu dan minggu saja

  7. Itsmi  4 August, 2011 at 15:20

    Begitu, juga saya waktu di SD, guru kami panggil nama dan sekarang kebanyakan anak, bicara dengan ortu pakai kamu kecuali yang kaum konservatif sekali itu baru pakai anda. tapi grup ini hampir hilang….atau sudah antik….

    tapi, kamu sebagai orang jawa yang feodalisme masih kental bagaimana ? karena saya kira kalau sudah lama tinggal di luar itu juga tidak gampang…… apalagi kalau sudah tau bahwa panggilan yang memposisikan orang itu relatif….

  8. Dewi Aichi  4 August, 2011 at 14:48

    Ismi, terus kasus anak saya ketika usia 5 sampai 7 tahun, karena sejak usia 7 bulan hingga 7 tahun hidup di Jepang, mendadak pindah ke Jogja di akhir tahun 2006, saya sekolahkan di Jogja, anak saya mulai beradaptasi, dan belajar beerbahasa Indonesia, di lingkungan sekolah berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Jadi anak saya sekaligus belajar dua bahasa dalam waktu bersamaan.

    Anak saya sering diperingatkan oleh gurunya, agar memanggil pakai nama bu Ani, bu Siti, Pak Raden, misalnya begitu. Terapi anak saya susah, setiap memanggil siapapun hanya dengan sebutan “kamu , aku” , bahkan dengan bapak ibu saya juga sering, kalau ngomong begini misalnya, “mbah uti….kamu mau ke mana?” , untuk anak saya bisa dimaklumi, untuk anak anak yang lahir dan besar di Jogja, itu tidak sopan.

    Untuk anak saya, susah diperbaiki, sama siapa saja begitu, walau saya sudah mengajarinya.

  9. Itsmi  4 August, 2011 at 14:40

    Dewi kalau famili saya tau dan mengerti,
    Adik saya yang bungsu, waktu dia ke Belanda umur belum setahun, lebih gawat lagi.
    Problem dia tambah parah karena nikah dengan orang Belanda…. jadi kalau ke Mall, sering di lihat sebagai pelacur….. dan jelas di goda terus hahahahah

    Dewi, saya mengerti kamu, orang yang begitu biasanya tidak berisi, jadi bentuk itu sangat penting…. begitu juga dengan kata kata sapaan….

  10. Edy  4 August, 2011 at 14:39

    Fire; Wah aku dari trah mana ya..trahserah deh wkwkwk

    Btw, bab bangsawan itu, jadi ingat saat kul kul di babarsari dulu, dengan konco kost2an suka guyonan…mbesok kalau sudah married kita tetap jadi ‘lebih bangsawan ‘ ya, maksudnya dibangunkan oleh istri dengan aroma kopi kayak iklan kopi jadul itu lho.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.