Ifan, Gengsi dan Tarawih

Yeni Suryasusanti

 

“Kenali sifat anak untuk menentukan metode yang tepat dalam mendidiknya.”

Kutipan diatas mungkin sudah sering teman-teman baca dari tulisan-tulisan tentang parenting.

Ya, dengan mengenali beberapa sifat dasar Ifan, saya dan suami mengalami beberapa kemudahan mendidik Ifan dalam hal agama.

Mungkin seperti Bunda dan (mungkin juga seperti) Ayahnya heheheh… Ifan memiliki sifat “gengsi” yang cukup tinggi.

Oke, sifat “gengsi” yang terkontrol akhirnya kami gunakan untuk hal baik dalam mendidik Ifan.

Saat Ifan belajar puasa ramadhan, “gengsi” Ifan untuk tidak dibilang “belajar” puasa membuat Ifan tidak melewati proses “belajar” puasa setengah hari dengan pahala belajar pula, dan langsung puasa penuh “seperti orang dewasa” dengan pahala puasa penuh di usia TK B.

Saat itu pula, “gengsi” Ifan untuk tidak hanya mendapatkan lapar dan haus saja membuat Ifan mulai menjalankan shalat 5 waktu :D

Saat mengajari Ifan untuk shalat tarawih, saya menyampaikan bahwa shalat tarawih plus witir secara umum ada 2 macam : 11 rakaat dan 23 rakaat. Keluarga kami dan mesjid di komplek rumah kami selama ini menjalankan yang 11 rakaat. Mengenai pelaksanaannya, biasanya kami menjalankan 2-2-2-2-2-1, namun pernah pula menjalankan 4-4-3.

Saat belajar tarawih, “gengsi” Ifan untuk dibilang “belajar” tarawih membuat Ifan memilih untuk melaksanakan tarawih dan witir langsung 11 rakaat “seperti orang dewasa” agar mendapatkan “pahala shalat tarawih” bukannya “pahala belajar shalat tarawih” seperti yang akan didapatkan oleh anak yang tarawih tapi bolong-bolong rakaatnya, karena saya pernah menyampaikan kepada Ifan bahwa tarawih yang bolong-bolong rakaatnya bukanlah shalat tarawih melainkan “belajar shalat tarawih” :D

Ramadhan tahun ini, Ifan belum putus tarawih. Biasanya di mesjid komplek rumah kami, atau di mesjid dekat rumah mertua dan kakak ipar saya saat kami buka puasa disana. Saat hujan deras disertai angin minggu lalu, Ifan shalat tarawih bersama saya di rumah :)

Selama bulan ramadhan, saya selalu mengusahakan menemani Ifan berbuka puasa di rumah. Jika ada acara buka puasa di luar rumah, maka saya akan mengajak Ifan ikut bersama saya. Terkadang, ada sedikit kendala jika acara buka puasa tersebut tidak menyertakan acara tarawih bersama.

Karena tidak rela tarawih Ifan yang belum putus menjadi bolong, saya dan Ifan membuat kesepekatan bersama, jika acara buka puasa bersama tidak ada acara tarawih bersama, maka sesampainya di rumah maka Ifan akan tarawih bersama saya.

Hal ini terjadi saat buka puasa bersama moderator dan gank rusuh NCC, akhirnya Ifan baru tidur jam 22.00 WIB setelah menyelesaikan tarawih bersama saya setelah sampai di rumah :)

Sabtu, 21 Agustus 2010 yang lalu, saya diundang acara Buka Puasa Bersama Paskibara 78. Saya mengkonfirmasikan kehadiran saya bersama Ifan setelah memastikan dengan adik-adik panitia bahwa ada shalat tarawih bersama bagi yang ingin menjalankan.

Sebelum berangkat, saya menyampaikan bahwa Ifan boleh memilih, shalat tarawih bersama kakak-kakak paskibra di mesjid SMU 78 atau di rumah bersama saya setelah kami pulang nanti (mungkin karena selama ini saya tarawih sendiri di rumah sambil menjaga Fian dan pengasuh Fian yg tarawih di mesjid, Ifan tidak mempertanyakan kenapa saya tidak tarawih bersama paskibra di mesjid SMU 78 hehehhe…).

Pada saat salah satu adik Paskibra 78 mengumandangkan adzan Isya, seperti biasa Ifan langsung berlari menuju mesjid, sementara saya bersama instruktur dan pembina Paskibra 78 masih terlibat percakapan panjang. Sekitar 20 menit kemudian tiba-tiba terdengar panggilan melalui microfon mesjid, “Kepada kakak-kakak dan anggota Paskibra 78 yang ingin menjalankan shalat tarawih, ditunggu kehadirannya di mesjid SMU 78.”

Lho, dari tadi belum mulai shalatnya? Sempat kami saling bertanya, namun kemudian meneruskan diskusi di salah satu ruangan (duh, ini contoh yang buruk, jangan ditiru ya :D)

Pukul 20.00 WIB hujan turun dengan deras. Mendengar saya sempat tercetus khawatir dengan Ifan yang masih di mesjid, salah seorang senior yang sempat melongokkan kepala ke ruangan tempat berbuka puasa, menyampaikan kepada saya bahwa saat itu Ifan sedang bermain kartu “cangkul” dengan adik-adik Paskibra saya. Saya pun kaget, dan segera memburu ke ruangan tersebut, dan sedikit terpukul saat mengetahui Ifan benar di sana, bukan di mesjid.

“Ifan, nggak shalat tarawih di mesjid? Mau tarawih di rumah bareng Bunda ya?” tanya saya.

“Ifan udah shalat tarawih, Bun,” sahut Ifan santai. Ha? Saya sempat terperangah.

“Kapan? Sama siapa? Itu yang tarawih masih kedengaran…” tanya saya beruntun.

“Ifan tadi tarawih sendiri, Bun. Abis, yang lain ditungguin lama banget nggak pada ke mesjid. Ya Ifan tarawih duluan aja…” sahut Ifan cuek.

Saya makin kaget. Ada pula sedikit rasa nggak percaya. “Ha? Tarawih sendiri? Ifan tarawih berapa rakaat coba?”

“11 rakaat, tapi 4-4-3… biar cepat…” sahut Ifan lagi

“Ifan baca surat apa aja coba?” tanya saya masih agak menyangsikan :D

“Al Baqarah dari Alif Lam Mim sampai Khatamallah, Ayat Kursi, Al Qariah, At Takatsur, Al Maun, Al Qadr, Al Humazah, At Tin….dst” Ifan menyebutkan satu demi satu surat pendek yang dibacanya.

Saya pun terdiam. Al Baqarah ayat 1 – 7! Sedangkan saya sendiri rasanya hanya ayat 1 – 5 yang lancar hafalnya duh…. malunya pada diri sendiri :(

“Oh… oke deh kalo gitu… Bunda seneng banget Ifan udah bisa tarawih sendiri, walaupun sebenarnya untuk laki-laki lebih baik di mesjid dan juga berjamaah ya Fan, kecuali jika sedang hujan…” kata saya akhirnya.

“Oke deh Bun, sekarang kan sedang hujan…” sahut Ifan sambil tertawa lebar :D

Kog bisa Ifan memutuskan untuk shalat tarawih sendiri? Tak putus saya berpikir hingga sampai di rumah.

Kemudian saya ingat, bahwa saat tarawih bersama saya, Ifan pernah meminta menjadi imam. Tapi karena Ifan belum akil balig saya tidak mengizinkan, namun dengan memberikan alasan, “Rakaatnya banyak, jadi bacaan suratnya kan banyak juga Fan, emang Ifan udah hafal banyak?”

Saya lupa bahwa meskipun tidak begitu suka membaca Al Qur’an, tapi Ifan suka menghafal Qur’an dan saat perayaan khitanan awal Juli yang lalu Ifan sudah membuktikan hafal 13 surat pendek dari At Takatsur hingga An Nas. Belum lagi mengingat Ifan telah hafal ayat kursi sejak usia 4 th dan ternyata Ifan sudah hafal At Tin, Al Qadr, Al Qariah, Al Baqarah 1 – 7…

Ya Allah… maafkan saya yang telah menganggap rendah kemampuan putra saya sendiri…

Yup, mungkin “gengsi” yang mendorong Ifan mengambil keputusan untuk mencoba shalat tarawih sendiri :D

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al Furqan : 74)

Ya Allah, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau karuniakan kepadaku juga kepada ibu bapakku, dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berikanlah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (Al Ahqaf : 15)

 

Jakarta, 24 Agustus 2010

Yeni Suryasusanti

 

Ilustrasi: tulangpatin.blogspot.com

 

18 Comments to "Ifan, Gengsi dan Tarawih"

  1. Yeni Suryasusanti  5 August, 2011 at 11:58

    ilhampst : hehehe…. jangankan yg belum hapal, yg udah pernah hapal aja kalo nggak pernah dipake jadi bacaan shalat bisa lupa lagi kog
    Amin, semoga kita semua menjadi lebih baik

  2. ilhampst  5 August, 2011 at 11:41

    Terimakasih artikelnya Mbak Yeni, jadi ada bayangan nanti kalau melatih anak-anak. Tapi yang pertama orang tuanya dulu melatih diri. Saya merasa masih harus banyak belajar. Juz ‘Amma aja masih bolong-bolong hafalnya
    Insya Allah lepas Ramadhan kita semua bisa menjadi jauh lebih baik kadar iman dan ketakwaannya. Selamat berjuang

  3. Daisy  5 August, 2011 at 09:40

    @Mbak Yeni: waduh berat, istikhoroh dulu hehe

  4. Neng Rani  4 August, 2011 at 21:52

    hahaha Pak EA bisa aja….. IYa mbak, mari kita nikmati hidup ini apa adanya

  5. Dewi Aichi  4 August, 2011 at 21:37

    Ha ha ha..Pak EA tau ajaaaaaaaa..

  6. Dewi Aichi  4 August, 2011 at 21:36

    Neng Rani….tapi nikmati saja hidup, karena semua ini memang harus kita perankan….nanti disaat kita pulkam, rasanya pasti luar biasa enak..karena luapan rasa rindu kita tercurah saat kebersamaan.

  7. EA.Inakawa  4 August, 2011 at 21:28

    Neng,kalau mbak DA tarawih kita mah uda tau belangnya…..cuma 2 didepan REHAT lanjut 2 dibelakang,selesai

  8. Neng Rani  4 August, 2011 at 18:32

    Sama mbak Dewi Aichi, rindu sholat tarawih berjamaah juga neh, trus abis itu pada ngebakso rame-rame hehehe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *