Pawai Obor

Faris – Bandung

 

Hallo …

Setiap menjelang Ramadhan, lingkungan rumahku dengan dikoordinir oleh Pengurus Masjid mengadakan pawai obor. Pesertanya anak-anak kecil, dibatasi hingga usia SD. Namun pada kenyataannya, yang ikut tidak hanya mereka saja, tapi juga remaja dan para orang tua.

Obor disediakan oleh RT masing-masing, tiap anak mendapatkan jatah satu obor. Mereka terlihat senang sekali diperbolehkan memegang api. Tentu tetap dalam penjagaan orang-orang dewasa yang menyertainya.

Pawai Obor ini kepala iring-iringannya adalah beduk yang dipukul bertalu-talu oleh Remaja Masjid.

Sedangkan ujungnya adalah rombongan orangtua yang mengikuti anak-anaknya berkeliling kompleks sambil berteriak : Sahuuurrr… sahuuurrr…

Mereka berputar-putar bolak-balik di jalanan perumahan, berkeliling seperti tak punya rasa capek. AKhirnya setelah para orangtua yang mengikuti anak-anaknya kewalahan, diputuskan rombongan yang terdiri atas sekitar 200an anak-anak, belum termasuk remaja dan orangtuanya berhenti di depan masjid. Ceria sekali mereka, apalagi bagi ‘barudak’ kecil. Saat yang dinanti adalah mendapatkan bingkisan snack.

Bagiku, masa-masa seperti mereka memang sangat menyenangkan. Aku mengalaminya sejak kecil, kalau Malam sehari sebelum sholat taraweh, kami berkeliling komplek sambil membawa obor. Sangat berkesan. Bahkan hingga kini setelah kelas dua SMU sekalipun, rasanya masih seru ikut seremonial menyambut Ramadhan.

Ramadhan memang menyenangkan. Hal yang agak sedikit mengganggu, mungkin masih adanya tugas menulis ceramah taraweh kemudian minta tanda tangan kepada khatibnya sambil antri bersama anak-anak kecil, bahkan sampai aku sebesar ini. Hehehe,… sudah terlintas akalku, sepertinya untuk urusan ini nitip saja pada adik-adikku.  :D:D:D

 

18 Comments to "Pawai Obor"

  1. kusnendar  30 May, 2013 at 07:43

    Jika melihat foto di atas keingat masa kecil dulu dan saat takbiran masa kecil saya, saat ini moment seperti itu sudah tidak ada lagi

  2. Mawar09  7 August, 2011 at 07:27

    Faris: terima kasih ya artikelnya. Aku belum pernah lihat secara langsung acara pawai obor. Sepertinya foto No.4 dari atas itu puterinya SAW ya!! jadi aku bisa menebak siapa Faris ini.
    Selamat Menjalankan Ibadah Puasa ya!

  3. Dj.  6 August, 2011 at 16:34

    FMA Says:
    August 6th, 2011 at 16:21

    Bpk Dj : di bandung bambu masih banyak, yang susah malah cari minyak tanahnya.

    Lho masak sih…???
    Kan negara penghasil minyak, kok sulit cari minyak tanah…???
    Aneh juga ya….
    Dj. banyak bikin kerajinan tangan dari bambu, seperti gantungan kunci yang dijual di Saung Mang Ujo.
    Di Mainz, bambu 1Meter sekitar € 4,- ( Rp. 48.000,- ). Tapi yang garus tengahnya +- 7Cm

    Kalau dengar kata Bandung, jadi ingat rumah di Ciumbuleuit dan Cipaganti.
    Kemarin Dj. telpon ke Bandung, karena masih ada kaka yang tinggal di terusan Cigadung.

    Salam Sejahtera dari Mainz…

  4. FMA  6 August, 2011 at 16:21

    Bpk Dj : di bandung bambu masih banyak, yang susah malah cari minyak tanahnya.

    EA.Inakawa (Bapak atau Ibu ? ) : Kalau malam takbiran, dilingkungan saya tidak ada pawai obor, karena sudah pada mudik semua.

    Pak Sumonggo : saya tdk pernah main petasan, pak.

    Om JC : Terimakasih, Om. Masih coba-coba, tapi memang didorong terus sama ummi.

  5. J C  6 August, 2011 at 11:35

    Faris, tulisannya makin mantep saja…like mother like son…

  6. Sumonggo  6 August, 2011 at 09:22

    Hati-hati pegang obornya, jangan sambil main petasan ya …..

  7. EA.Inakawa  5 August, 2011 at 23:45

    Betul Faris,kenangan ini saya alamin juga ketika tinggal di Riung Bandung……senang melihat mereka dengan semangat Lebaran nya berkeliling block perumahan dengan kumandang Takbir,salam

  8. Dj.  5 August, 2011 at 19:04

    Mas Faris….
    Terimakasih untuk ertikelnya….
    Di Jerman juga ada, tapi tidak dengan obor, karena akan mahal di bambunya….hahahahaha…!!!
    Biasanya setiaap lingkungan, mengadakan jalan bersama dengan lampion.
    Setiap anak, dibikinkan oleh orang tuanya, atau beli….
    Kalau di Indonesia didepannya dengan “beduk”, di Mainz dengan pemain-pemain trompet. lagu ” Laterne”
    Kalau tidak salah ingat, Hennie pernah menuliskannya.
    Mereka memperingati, seorang serdadu Roma yang baik hati, dimana dia membagikan separuh dari jubahnya untuk orang miskin yang kedinginan…

    Karena arak-arakannya dijalan raya, maka dipaling depan dan belakang, diawal oleh mobil polisi…

    Salam Sejahtera dari Mainz….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.