Ratu Kidul Tak Berkenan?

Ki Ageng Similikithi

 

“Ketiwasan Gus, gawat gawat gawat. Nyai Loro Kidul marah luar biasa. Calon mantu Kanjeng Ratu diambil, sudah tiga hari tidak kembali”.

Awal tahun tujuh puluhan. Sore hari yang panas. Pak Djo, pembantu tua di pondokan Gerjen Yogya, tiba tiba datang menemui saya. Saya baru saja pulang dari praktikum anatomi di Mangkubumen. Capai dan pusing bau mayat campur formalin. Saya belum jelas apa maksudnya, dia masih nyerocos terus, bahkan isterinya ikut nimbrung.

“Nyai Loro Kidul tidak berkenan karena tidak diaturi sesaji. Ditinggalkan dalam persiapan acara perkawinan agung minggu depan”.

Saya masih belum dhong dan menjawab sambil lalu.

“Saya tak kenal Nyai Loro Kidul. Apa hubungannya dengan perkawinan agung putri Kanjeng Ratu ?

“ Gus jangan berlagak pilon. Calon mantu kanjeng Ratu hilang sudah tiga hari. Pamitnya hari Minggu kemarin ke Parangtritis. Sampai sekarang beritanya ramai di koran. Nyai Loro Kidul tersinggung berat”.

Saya memang tidak mengikuti rutin berita koran. Anak kos tak mampu lengganan koran. Kemudian pinjam koran tetangga sebelah. Memang ramai diberitakan, baik oleh koran lokal maupun nasional, jika calon mantu Kanjeng Ratu, hilang tak berbekas sudah beberapa hari ini. Mestinya sudah harus mulai masuk karantina, dipingit. Dia seorang insinyur lulusan perguruan tinggi terkenal di Semarang. Berpenampilan nggantheng dengan brengos gagah seperti intel. Sudah bekerja dengan karier gemilang di salah satu perusahaan umum milik pemerintah.

Banyak spekulasi berkembang di masyarakat tradisional Yogya tentang peristiwa mengejutkan itu. Ada yang katanya melihatnya waktu di Parangtritis, sang calon menantu, kencing dilaut. Nyai Loro Kidul yang menjadi pacar gelap raja-raja Jawa, demikian terbuai melihat sang burung emas, lalu menariknya ke istananya di laut selatan. Kebanyakan percaya, seperti pak Djo, kalau telah ada kekilafan memberi sesaji, sehingga sang Ratu Kidul, tersinggung dan ngadat.

Lupa wartawan mana yang kemudian membeberkan apa yang sesungguhnya terjadi. Dia melakukan penelitian secara mendalam dan mewawancarai banyak saksi yang layak dipercaya. Ternyata sang calon menantu, menghilang pergi bersama kenalan barunya, seorang peragawati yang rumah tinggalnya juga dekat kampung Gerjen. Tak bisa disalahkan. Seminggu lagi akan kawin dengan putri Kanjeng Ratu, seumur hidup harus setia tanpa reserve. Kapan lagi mau bersenang senang sama seorang peragawati selebriti?

Kebiasaan yang umum di dunia kotemporer dengan istilah bachelor party (http://en.wikipedia.org/wiki/Bachelor_party), untuk memperingati kebebasan di malam malam terakhir bagi sang burung. Seminggu kemudian dia memang kembali, tak banyak berita yang menyebutkan pengakuan sebenarnya. Cerita wartawan itu yang melaporkan kalau sang calon menantu rupanya bersembunyi di Tasikmalaya. Bukan Nyai loro Kidul yang tinggal di sana. Tetapi sang peragawatilah yang ada di sana. Maaf tak bermaksud menyinggung siapa-siapa…

 

Salam damai,

Ki Ageng Similikithi

Manila, 25 Juli 2011

 

 

22 Comments to "Ratu Kidul Tak Berkenan?"

  1. nu2k  8 August, 2011 at 04:12

    Dimas Alfred, saya mulai percaya hal-hal yang berbau “misteri” setelah berkali-kali mengalami, melihat dan berbicara sendiri seperti yang tertulis dalam artikel saya di Baltyra, pada awal tahun ini. Kebetulan juga ada salah satu oom saya (adik ibu) yang mempunyai kelebihan dalam hal itu. Oom saya dulu Kepala Pajak di Sumut bersama-sama dengan Pak H. sebagai Kapolrinya. Keduanya sudah alm. Oom saya seorang haji ( termasuk sederhana) yang juga sering melakukan tindak tirakatan dan meditasi untuk mengasah dan mempertajam “indera ke enamnya”.
    Saat saya “sering” mengalaminya saya masih bisa berkonsultasi dengan beliau. Saya juga pernah ikut ke rumah salah satu “eyang guru” yang bertempat tinggal di Yogya. Saya masih ingat ketika saya masuk kerumah “eyang guru” ini, begitu saya diperkenalkan, langsung beliau mengatakan bahwa saya tidak boleh makan pisang kepok putih, tidak boleh makan banyak garam dan harus berpuasa pada hari pasaran( senen, pon, wage, kliwon, legi, pahing) kelahiran saya (dari jam delapan malam sampai jam delapan malam hari berikutnya). Dan sebaiknya pada hari Selasa dan Jum’at dilakukan puasa mutih/ ngadem. Setelah oom meninggal saya tidak terlalu serius lagi menjalankan semuanya. Hanya kalau memerlukannya saya melakukan lagi “rituil” tersebut. Jammer. Gr, Nu2k

  2. Linda Cheang  7 August, 2011 at 18:34

    ya, begitulah…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *