Cantik, Ya Cantik (1)

Yuni Astuti

 

“Kau tahu? Dia sangat cantik…” katanya dengan antusias. “Cantik?”
“Ya.”
“Secantik apa dia?”
Matanya menerawang, jauh…. “Secantik…. bintang!” Namun segera ia meralat ucapannya. “Tidak! bukan bintang, sebab bintang hanya tampak pada malam hari.”
“Lalu?” kejar wanita yang memainkan penanya di atas meja kerja, sementara kawannya, lelaki yang bercerita tentang wanita cantik itu terus menerawang.
“Aku melihatnya di depan gedung DPRD! Saat ia berjalan membawa spanduk aksi… uhhh luar biasa! Aku mengabadikannya di kamera, kamu mau lihat? Ah! Mengapa???!” Ia menggeleng lemah ketika wanita itu menjawab tidak.
“Dia sangat…..cantik!”

Wanita yang mukanya sudah merah itu tiba-tiba beranjak dari kursinya. Menuju meja resepsionis untuk ngobrol dengan Mbak Sofia.

Lelaki yang semangat bercerita itu hanya menatap wanita itu, Arnalia dengan heran. Tak biasanya dia begitu murung…

Lelaki yang memakai jaket hitam itu mengejar Arnalia ke meja resepsionis, “Ar, kamu kenapa? cemburu ya mendengar ceritaku?”

“Apa? Cemburu? Maaf, aku tak ada waktu untuk bermain dengan perasaan anak ingusan macam itu.” katanya, tanpa ekspresi.

“Benar?” sang lelaki meyakinkan. “Aku bisa menebak isi hati wanita, lho Ar.”

“Oya? Aku tak tertarik. Maaf ya! Aku harus ketik berita. Deadline jam 4!” ujar Arnalia sambil menunjuk jam tangannya, menuju meja kerjanya.

Sang lelaki menatapnya dalam-dalam.

***

Seminggu kemudian….

Sang lelaki sedang membaca koran harian di sofa depan resepsionis, saat seorang wanita memasuki kantor redaksi koran tempatnya bekerja. Wanita itu yang dilihatnya seminggu yang lalu, saat ia sedang meliput unjuk rasa mahasiswa di DPRD. Wanita itu, adalah yang tercantik dalam pandangan Iqbal.

Ia segera menghampiri wanita yang mengenakan kerudung hitam dan bergamis pink polos. Ia menanyakan honor menulisnya.

“Oh, Mbak menulis di kolom pembaca ya?” tanya Iqbal.

Wanita itu tersenyum.

Setelah ia menyelesaikan urusannya, ia pamit pulang. Segera Iqbal menanyakan siapa namanya, dan di mana alamatnya. Tahulah ia bahwa wanita cantik tadi bernama Ayudya. Alamat rumah dan nomor HP-nya pun kini dalam genggamannya. Arnalia melihat kejadian itu, hanya bisa mendesah panjang. Lelah.

Iqbal menangkap sekilas bayangan Arnalia mengintipnya dari balik dinding. Ia tersenyum sendiri.

“Bal, mana hard news-nya?” saat Iqbal hendak duduk ke meja kerjanya sendiri.

“Lha, urusanku itu…” Iqbal menangkap ada kesan mengada-ada pada diri Arnalia agar bisa berbicara dengan Iqbal. Hard news punya Iqbal bukan urusan Arnalia. Akhir-akhir ini sejak Iqbal bicara tentang wanita cantik itu, Ar menjadi pendiam dan lekas marah jika disinggung sedikit.

“Ya, sudah! Aku cuma mengingatkan!” lantas Ar menuju kamar mandi. Terdengar guyuran air tanpa ampun. Iqbal tersenyum geli.

“Dasar wanita…!” gumamnya sembari menyalakan komputer. Mulailah ia tenggelam dalam lautan kata. Hilang dari realita sejenak.

***

Hampir dua minggu identitas tentang si cantik mengendap dalam dompet Iqbal. Tak tersentuh, tak terjamah. Ia seakan lupa pada pesona wanita itu. Sibuk dengan urusannya sendiri. Mencari berita, mewawancarai narasumber, dan menuliskannya hingga menjadi makanan sehari-hari tiap pagi penduduk kota.

Sejenak ia ingin menghubunginya, sekadar kirim SMS atau telepon untuk menyambungkan tali cinta, barangkali saja ada kesempatan. Namun waktu untuk melakukan itu rasanya tak ada. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya.

“Bal, aku mau pergi!” kata Ar pagi itu, sambil membereskan barang-barangnya.

Iqbal langsung berjingkat, “Ke mana?”

“Simbokku di kampung nyuruh aku pulang. Kasihan, beliau sudah sepuh.”

Iqbal duduk kembali, “Kapan pulang ke sini lagi?”

Ar menggeleng. “Tidak!”

“Maksud kamu…. selamanya menetap di sana???” pekik Iqbal kaget.

Ar tak bereaksi, ia meneruskan saja pekerjaannya. Hingga semuanya beres, ia pun siap untuk berangkat.

“Secepat ini?? Tak ada kabar sebelum ini Ar!” ujar Iqbal.

Ar melangkah ke pintu, “Jaga dirimu!”

“Ar!” Iqbal mengejar, namun Ar menghilang di balik pintu. Bersamaan dengan itu, air matanya diterbangkan angin. Ar berusaha menghilangkan segala perasaan yang bercampur aduk di hatinya. Ia sebenarnya ingin menetap lebih lama di kota hujan ini, menjadi jurnalis seperti yang sejak dulu diidam-idamkannya. Namun sejak dokter memvonisnya dengan penyakit kanker otak, ia seakan hendak kehilangan hidupnya. Ibunya di kampung berkali-kali memintanya pulang, namun Ar terlalu asyik dengan kehidupannya.

“Ar! Kasih aku kabar, Ar!” teriak Iqbal saat Ar sudah naik angkot menuju Baranangsiang. Ar tak menjawab, dan itu tak butuh jawaban.

“Kau tahuuuu… dia sangat cantik….” kata-kata itu terngiang dalam gendang telinga Ar. Hatinya gundah. Sebab ketika Iqbal mendakwa wanita itu cantik, bahkan sangat cantik, Ar merasa inferior. Ia merasa tak ada apa-apanya dengan wanita manapun di dunia ini sebab ia lagi-lagi merasa, ajalnya sudah demikian dekat.

“Iqbal, dia memang cantik…sangat cantik….” serta merta airmatanya menetes satu-satu. Ia tertawa lirih, bahkan ia tak mengajukan surat pengunduran diri pada Pemred. Ia merasa gila.

 

Ilustrasi: http://wallpaper-s.org

 

13 Comments to "Cantik, Ya Cantik (1)"

  1. Yuni Astuti  15 August, 2011 at 10:27

    wah mbak dw, kok gambarnya itu siiihhh? ganti dong mbak, sesuai gambaran di cerpennya. berjilbab, berkerudung, anggun. gitu mbak/….

    heheheeee

  2. Dj.  8 August, 2011 at 00:16

    Bung Inakawa…..
    O..gitu ya, yang tahan bantingan dan tidak bisa pecah…???
    Hahahahahahaha…..!!!

  3. EA.Inakawa  7 August, 2011 at 23:36

    Pak DJ : tertawa geli saya dikeheningan malam Antananarivo tentang “WANITA bagaikan telur mentah…..kalau yang matang sepertinya ada tuh di Kona ehehehehe salam sejuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.