Catatan Tentang Ibu

Kurnia Effendi

 

Sebagai ungkapan terima kasih kami kepada seluruh handai tolan dan sahabat yang telah memberikan kekuatan kepada kami melalui doa dan penghiburan, saya mempersembahkan puisi-puisi ini.

 

TUBUH IBU

Malam memasang jubah sunyi, ketika tubuh ibu menjelma

rumah dengan banyak kamar. Detik berjatuhan serupa merjan yang

lepas dari ikatan. Bergulir menjauh, merepih bunyi yang tak sungguh

sampai pada telinga. Seiring gumpalan waktu yang diseret maut,

satu per satu benda-benda dalam tubuh ibu pamit:

pankreas, ginjal, empedu, hati, peparu, batang otak, dan jantung.

–Seperti penjaga yang menunaikan tugas, satu demi satu

ruang dalam tubuh ibu memadamkan lampu.

 

Gelap itu sampai ketika pagi memercikkan cahaya matahari

Tubuh ibu bercakap-cakap dengan mesin yang seolah serbatahu

Di ambang pintu, malaikat telah menunggu. Napas yang tersisa pada

serabut kusut di balik dada ibu mulai dilepas terbang. Dan doa

berenang pada genangan udara, meraih tepi, yang

membatasi antara terjaga dan mati suri.

 

Kini ruh beringsut dari jemari kaki ke lutut, dari paha ke perut, dari

dada ke rambut. Meninggalkan suhu yang menyusut. Selembut

kasihnya sepanjang tujuh puluh satu tahun, tak terhindar rasa sakit

saat meninggalkan raga tempatnya berdiam. Kernyit sejenak di antara

kedua mata ibu merupakan isyarat perpisahan.

 

Aku tak pernah tahu, ke mana ruh itu pergi: utara atau tenggara

Ia menjauh dari tubuh ibu mungkin dengan rasa pilu yang

dititipkannya kepadaku

Slawi, 10 Juli 2011

 

 

SAKIT IBU

Seakan berbekal rindu, jarum itu mencari vena ibu. Terlindung daging

yang menggembung, permainan petak umpat pun berlangsung seru.

Di ujung pencarian itu, nutrisi mengalir dari tabung ke dalam lambung

melalui jalan terselubung. Mata ibu memandang murung pada botol

bening yang menggantung. Ia merasa, di sana cadangan ruh terkurung

 

Berhari-hari diarak sunyi: perjalanan tak menemukan rute untuk kembali

Bersimpang-simpang rasa sakit, perempatan yang tak memberikan

pilihan ketenteraman. Ketika batuk semalam suntuk, ibu melihat rongga

dadanya diangkat dan memberi wujud persegi. Ah, siapa hendak membuat

tulangan cor beton untuk melindungi paru-parunya yang rapuh?

 

Digilir oleh mata yang terantuk kantuk, nyalang dalam gamang, kubah

malam disangga oleh kecemasan. Berulang kali ibu terbungkuk oleh runcing

batuk yang menembus dari ambang dada hingga ke balik punggung.

“Di sini,” kata ibu meraba rusuk. “Makhluk itu bermukim. Bermusim-musim.”

 

Tetes cairan bening memasuki labrin, dipandu darah menyusuri

lorong-lorong sakit ibu. Tetes cairan merah memasuki arteri ibu, mengganti

darah yang mengambil paksa hemoglobin hingga surut. Di ruang

penghabisan, albumin dan putih telur disajikan melalui jalan tak lazim.

Sakit itu mungkin tak lagi singgah pasa syaraf ibu. Semua berpacu

tanpa ibu tahu. Ibu sudah membisu dengan wajah sayu

Slawi, 10 Juli 2011

 

 

RUMAH IBU

Di rumah ini, kenangan seperti orkestrasi. Bebunyian ditabuh

bergantian dan bersamaan: masa kecil yang disemai oleh duka

kehilangan ayah, pertumbuhan yang dikawal perempuan perkasa,

ambang dewasa yang memacak sepasang kaki sendiri, sampai

usia merayapi angka-angka besar.

 

Rumah ibu telah jadi sarang: berkasih dan selisih paham, bercinta

dan saling berprasangka, namun selalu memberi obat kedamaian

Dibeli dari uang belasungkawa almarhum ayah, perlahan berubah

Langkan terbuka diganti pintu jendela, pohon belimbing wuluh

Tersisih oleh lantai beton dan kucing tinggal bergenerasi di rumah ibu

 

Rumah tetangga kian rapat mengepung, sanitasi melingkar bingung.

Teman sebaya berangsur renta, anak-anaknya menjadi pengembara

Sedikit demi sedikit hilang pelipur lara, rindu tinggal seuntai kata

Singgah di rumah ibu merupakan sisa perhitungan matematika

 

Setelah ibu tiada, mungkin rumah ibu jadi pusaka. Atau terlunta?

 

Slawi-Jakarta, 11 Juli 2011

 

 

12 Comments to "Catatan Tentang Ibu"

  1. Dewi Aichi  9 August, 2011 at 17:44

    Innalillahi wa innaillahi rajiun…semoga ibunda mas Prasodjo Chusnato Sukiman bahagia di sisi Allah SWT, semoga mas Chus tabah dan ikhlas…doa kami untuk mas Chus sekeluarga

  2. Dewi Aichi  9 August, 2011 at 17:40

    Setelah ibunda mas Kef alias Kurnia Effendi kini saya dan semua teman turut berduka yg sangat dalam atas wafatnya Emak tercinta ibunda sahabat kita Prasodjo Chusnato Sukiman, semoga khusnul khotimah, segala dosa almarhumah smg diampuni,. dan almarhumah Emak tercinta ditempatkan bahagia di sisi Alloh sebagai penghuni jannatunna’im.

Terima kasih sudah membaca dan berkomentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)