Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Amerika Serikat – On the way to the next PIGS Status?

Monday, 8 August 2011

Viewed 2296 times, 3 times today | 41 Comments |

Mpek Dul – Belanda

 

Akibat dari hutang dan defisit anggaran belanja nasional dari negara ini yang semakin berlarut-larut, dan dikawatirkan serta diragukan apakah ada kemungkinan untuk dapat mengatasi nya jika tidak ditindak tegas, maka Moody’s dan Standard & Poor (S&P) beberapa minggu yang lalu telah memberikan peringatan negatip kepada pemerintah AS berhubung dengan keadaan keuangan Amerika Serikat akibat terlau besarnya defisit anggaran belanja negara. Mereka akan mengawasi perkembangan ini baru akan memberikan penilaian kemungkinan down grading status triple A saat itu.
Sabtu kemarin S & P telah menurunkan status kemampuan kredit AS satu tingkat dari triple A ke AA+.

Ini berarti bahwa kemampuan AS dalam mengatasi persoalan krisis sedikit “diragukan” dan membawa akibat yang sedikit negatip dalam bidang keuangan negara.

Para anggauta konggres dari Partai-partai Republik dan Demokrat sudah berbulan-bulan mendiskusikan tentang penghematan dan kondisi sampai dimana batas kredit negara ini boleh dinaikkan. Menurut hukum telah ditentukan batas maksimum sebenarnya telah dicapai di bulan Mei yang lalu, tetapi pihak demokrat ingin menaikkan batas ini dengan syarat bahwa semua ini harus diatasi dengan kenaikkan pajak.

Tetapi seperti biasanya pihak Republikan tidak menyetujui  kenaikkan pajak dan ingin agar fasilitas-fasilitas dan subsidi dalam bidang sosial dan kesejahteraan rakyat harus dikurangi atau dihapus (sehingga dengan demikian banyak rakyat yang sudah miskin dan kurang mampu akan lebih mengalami kemiskinan lagi).

Setiap detik hutang AS semakin menanjak melebihi batas sehingga sangat membahayakan kemampuan untuk dapat membayarnya kembali. Amerika harus sudah mengambil tindakan tegas sebelum 2 Agustus mendatang, karena di bulan september, menurut perhitungan Moody’s dan Standard & Poor (S&P) “di atas kertas” sudah tidak ada uang lagi di kas untuk membayar semua pengeluaran-pengeluaran umum lagi (kecuali dengan mencetak dan mengedarkan uang baru lagi).

Standard & Poor’s telah memberikan penilaian down-grading mereka, sedangkan Moody’s dan Fitch masih tidak merubah status AS, maka dengan demikian AS telah kehilangan status Triple A yang dimiliki negara ini, satu status tertinggi dalam bidang kemampuan mendapatkan kredit.

Hal ini berarti jika Amerika harus hutang lagi di pasaran bebas, maka suku bunga yang harus dibayar adalah jauh lebih tinggi dari tarip normal nominal, berhubung dengan risiko yang sangat tinggi. Faktor yang ikut membahayakan dan tidak dapat disangkal yaitu, bahwa badan-badan pengawas di atas ini mempunyai pengaruh yang besar sekali di dunia keuangan dan terhadap para investor besar, karena penilaian dari organisasi-organisasi ini sering dipakai oleh para investor besar sebagai satu patokan mengenai risiko pemberian kredit kepada negara dan perusahan-perusahaan, sehingga penilaian yang mereka berikan akan dapat menggoncangkan dunia moneter.

Satu hal yang jelas dan tidak dapat disangkal adalah bahwa mereka sendiri juga di masa lampau sering membuat kesalahan yang besar sekali. Kritik yang terbesar yang diberikan kepada para credit evaluators ini adalah karena tidak melihat atau salah memperhitung kan bahaya yang mengancam Lehman Brothers di akhir tahun 2007sehingga menyebabkan terjadinya krisis moneter mondial yang semakin parah di tahun di awal tahun 2008.

Status kredit yang lebih rendah berarti suku bunga yang harus dibayar untuk obligasi negara akan naik. Banyak produk keuangan (mortgage loan, asuransi, kredit konsumsi) yang dikoppel dengan suku bunga karena dinilai rendah risikonya. Para ahli moneter internasional dan internasional ekonomi berpendapat bahwa perkembangan demikian ini juga akan  membawa akibat besar sekali untuk seluruh dunia.

Tidak lama sesudah Moody’s dan S&P memberikan peringatan mereka, nilai US$ langsung merosot, dan harga emas naik. Sebetulnya AS sudah mempunyai ‘outlook negative’ demikian ini sejak tahun 1995. Dengan mengeluarkan obligasi negara (state treasury bond) yang terakhir sejumlah US$ 72.000.000.000 berarti pemerintah telah mencapai batas kemampuan kapasitas sekitar US$ 150. 000.000.000.000 (US$ 15 trillion).

President Obama dan menteri keuangan Timothy Geithner (lahir di New York City, Master dalam bidang internasional ekonomi, lulusan Johns Hopkins University School of Advanced International studies, mantan president dari Federal Reserve Bank of New York. Di masa anak-anak dan remajanya melewatkan sebagian besar hidupnya di luar negeri Rhodesia, Zambia, India dan Thailand, bahkan SMA nya lulusan International School Bangkok, Thailand.

Dia pernah beberapa tahun belajar bahasa Mandarin di Peking University dan Beijing Normal University, dan juga bahasa Jepang), telah memperingatkan Congres AS, jika hal ini tidak ditindak dengan tegas, maka ada kemungkinan negara AS menurut status dunia keuangan akan bangkrut. Kementerian Keuangan telah memperhitungkan bahwa keungkinan menaikkan batas hutang sampai akir 2012 hanya masih sekitar US$ 2 trilliun.

Menurut Watson Institute for Internationale Studies of Brown University in Rhode island, sejak tahun 2001 saat mana AS mencetuskan gagasan “War on terror” sejak tahun 2001, ketika  presiden Bush mulai ikut berperang di Irak, Afghanistan dan Pakistan telah menghabiskan beaya sekitar US$ 4 trilliun. Bukan persoalan national health insurance atau para gelandangan homeless yang memakan ongkos-ongkos keuangan dan menjadi beban atau penyebabnya.

Di samping itu keborosan-keborosan dari pemerintahan president Bush Sr dan Jr adalah karena memberikan fasilitas-fasilitas merendahkan pajak untuk orang-orang kaya di AS, sedangkan ekonomi mengalami stagnasi dan tidak diberi stimulasi, sehingga perkembangan ekonomi hampir nihil.

Presiden dari bank sentral Ben Bernanke telah menekankan betapa pentingnya AS mengatasi hal ini, karena penilaian status yang lebih rendah yang diberikan oleh badan-badan penilaian kemampuan kredit ini tidak saja akan membawa bencana krisis ekonomi dan moneter AS yang baru dan lebih susah untuk diperhitungkan akibatnya, tetapi juga reputasi AS sebagai negara yang dapat dipercaya di bidang kredit akan diragukan oleh dunia luar.  Apapun yang terjadi hal demikian ini harus dihindari dan ditindak betul-betul.

Seperti yang telah saya tuliskan di atas, semua rencana yang berhubungan dengan kenaikan pajak ditentang oleh partai Republik yang mempunyai mayoritas dari kursi di Konggres AS, terutama dari pihak ultra konservatif Paul Ryan yang lebih cenderung meluncurkan gagasan yang a sosial dengan menghapuskan semua bentuk subsidi yang diberikan dari pemerintah kepada rakyat jelata di bidang jaminan minimum kesehatan (meskipun lebih dari 45 juta penduduk AS tidak mempunyai jaminan kesehatan nasional yang minimum) dan ingin agar pajak untuk para jutawan harus diturunkan lagi.

Sedangkan Obama dan Timothy berniat menaikkan pajak untuk golongan yang setahunnya berpendapatan tinggi, di atas US$ 250.000. Biasanya di kalangan para CEO dari perusahan-perusahaan multi nationals, terutama di bidang oils- dan chemical industries (termasuk obat-obatan).

Apa yang diluncurkan oleh pihak partai Republik adalah satu logika yang susah dipahami, karena memperhitungkan para penganut serta pendukung partai ini. Dengan kata lain, partai ini hanya menekankan kepentingan sendiri. Mereka rupanya tidak menyadari bahwa pemasukkan keuangan terbesar dari pemerintah itu berasal dari pelbagai pajak-pajak sehingga memungkinkan membeayai pengeluaran publik/umum,  karena pemerintah tidak mungkin memproduksi barang-barang untuk dijual seperti para usahawan dan industriawan.

Hanya orang-orang yang berpendapatan tinggi yang lebih mampu untuk membayar pajak lebih banyak  dan bukan orang-orang miskin para gelandangan yang tidur di bawah jembatan dan yang tidak mempunyai jaminan kesehatan minimum apapun. Pengurbanan kehematan apa yang masih harus dipikul kelompok ini?

Bukankah Amerika selalu memacukan, meneriakkan hak-hak azasi manusia dan menekankan pentingnya keadilan sosial?

Menurut juru bicara Jay Carney, rencana dari Ryan tidak realistis karena pada hakekatnya semua beban akibat dari hutang yang disebabkan oleh para jutawan yang rakus, pemilik modal dan orang-orang yang berpendapatan tinggi yang boros, di masa lampau. Mengapa mereka  menerima keringanan tanggungan beban dalam bentuk potongan pajak?  Mengapa beban ini harus ditanggung oleh orang-orang tua, orang-orang yang sakit, cacad, dan lemah lainnya, sedangkan mereka yang mempunyai bahu lebih besar ?

Memang di masa jabatan presiden Ronald Reagan tahun 80-an, banyak pajak yang diturunkan radikal, pada awal mulanya mendapat kritik kanan dan kiri, karena dinilai sebagai seorang bekas bintang layar putih yang tidak mengerti seluk beluk dunia per ekonomian.

Menurut Reagan, bukan warga penduduk atau konsumen yang lebih penting, melainkan para jutawan sebagai para investor yang potensial yang harus lebih dipentingkan den diberi pelbagai fasilitas pajak dan penaman modal, sehingga dengan demikian mereka dirangsang untuk menanamkan modal dan memberi lowongan kerja serta memungkinkan pemasukan pajak hasil dari keuntungan yang didapati perusahaan-perusahaan.

Meski teori yang dikenal sebagai “Reaganomics” dalam 8 tahun akirnya berhasil menciptakan 18 juta lowongan kerja, akhirnya  keuangan AS dari hasil pemasukkan pajak, akibat dari fasilitas pengurangan pajak yang diberikan, ternyata tidak seperti apa yang diharapkan dan diperkirakan semula, sehingga dengan demikian hutang negara dan defisit anggaran belanja semakin besar. The beginning of the end dengan masa top nya di waktu Bush Sr dan dilanjutkan oleh Jr.

Selain itu suasana dan keadaan perekonomian, stabilitas politik dan moneter dunia di sekitar tahun 80an adalah tidak sama, bahkan jauh berbeda dengan keadaan di saat ini. Sejarah harus dipelajari agar tidak terulang.

Saya sendiri tidak mengerti mengapa para jutawan AS tidak mau menyadari hal ini dan merasa bertanggung jawab dan mengapa partai Republikan banyak mendapat dukungan. Mungkin dalam bidang politik orang-orang di negeri ini masih banyak yang naïve dan kolot pandangan hidup dan kesadaran sosial mereka.

Di pihak lain perlu saya tambahkan bahwa selama pengangguran di AS masih tinggi sekali seperti saat ini (hampir 10% dari penduduk yang mampu bekerja), dan selama perkembangan ekonomi masih lemah sekali, aspek menaikkan pajak adalah satu tindakan yang betul-betul harus dipertimbangkan dan jangan diterapkan begitu saja tanpa ada imbangan lainnya (a.l. dengan membendung inflasi, menghemat pengeluaran negara, terutama dalam bidang persejentaan).  Di masa resesi (depresi), menaikkan pajak adalah alat yang dapat mematikan perkembangan ekonomi. Dengan defisit anggaran belanja negara (public debt) sekitar US$ 1,5 trilyard (US$ 15 trillion) yang mendekati  10,8% dari GDP (di samping neraca perdagangan AS yang juga negatip), pada hakekat nya AS mendekati status Spanyol yang berjumlah 11,2 %, Yunani (13%), Irlandia (12,5%).

Anggaran belanja AS dalam bidang persenjataan setiap tahunnya sekitar US$ 500 miljard. Hanya Jepang yang mempunyai public debt yang jauh lebih tinggi dari AS, tetapi dapat mengatasi hal ini dengan pemasukkan dari hasil export industri berat dan perkembangan ekonomi, karena Jepang mempunyai surplus neraca perdagangan dengan luar negeri sedangkan Amerika tidak saja mempunyi defisit anggaran belanja dalam negeri tetapi juga mempunyai negative saldo dalam perdagangan dengen luar negeri, di samping itu beaya dalam bidang militer jauh untuk Jepang lebih kecil sekali.

Bandingkan dengan negara-negara E.U yang termasuk top Denmark 2.0%, Swedia 2,1%, Finlandia 2,8%, Jerman 2,5%, Nederland, Belgia, Austria, Hungaria hanya sekitar 3,2%, Perancis  4,7%.

Sayang sekali Congres AS didominasi oleh partai Republik karena kursi yang diduduki mereka lebih banyak dari partai Demokrat sehingga semakin sulit untuk president Obama dan Timothy Geithner untuk mengambil tindakan yang tegas. Inilah aspek negatip dari satu demokrasi dimana yang kuat berhak menentukan hidup dan mati mereka yang lemah. Istilah yang di masa lalu dikenal sebagai “jungle law”. Demokrasi, hak berbicara bukan otomatis  selalu berarti adanya satu keadilan sosial.

Akibat dari perkembangan-perkembangan di atas dan tidak memungkinkan diambilnya tindakan tegas pemerintah akibat dari diskusi yang bertele-tele di Congres ini, nilai mata uang US $ kian hari kian merosot, kehilangan kepercayaan dunia moneter dan saat ini sudah lebih rendah dari Frank Swiss. US $ 1 hanya sekitar SF 0,82 atau € 0,69. Di kalangan dunia moneter international telah dikenal istilah “dead kiss for dollar” untuk US$.  Nilai mata uang US$ telah menurun 32% dibandingkan AUS$,  23% terhadap Swiss Frank (SF), 19% terhadap Can $ dan 13% terhadap Kroon Norwegia.

Komisi Uni Europa (kabinet Eropa) sendiri telah bersatu untuk mencegah, mengatur dan menindak tegas agar ketiga badan-badan penilaian kredit AS Moody’s, Standard & Poor’s dan Fitch Rating agar tidak mempunyai kekuatan yang begitu besar dan sewenang-wenang dalam memberikan analisa mereka yang dapat membahayakan sekali stabilitas ekonomi dan moneter dunia, karena saat ini kekuatan mereka bersuara terlalu besar sekali, meskipun organisasi-organisasi ini tidak mengenal latar belakang politik ekonomi, kebudayaan dan moneter E.U.

Di E.U sendiri ada sekitar 30 organisasi yang sama dan juga sangat potensial sekali, dan lebih canggih, namun tidak banyak mendapatkan perhatian dunia keuangan, karena masih adanya dominansi peranan AS dalam bidang moneter.

Dengan demikian Eropa berharap dapat memberikan imbangan yang lebih realistis. Lebih dari 70% dari negara-negara EU sampai saat ini mempunyai status triple A di bidang kredit, termasuk negara-negara mini yang tidak berarti seperti Nederland dan Luxemburg. Sampai saat ini hanya ECB masih meragukan apakah mungkin organisasi-organisasi ini di Eropa dapat dipersatukan dalam memberikan analisa mereka, mengingat latar belakang dan perbedaan kebudayaan negara-negara EU yang terdiri dari 27 negara.

China Dagong Global Credit Rating (大公国际资信评估有限公司) telah memperhitung bahwa ada kemungkinan Moody’s akan menurunkan status kemampuan kredit AS dalam jangka tidak lama. Dagong, Moody’s of China akan menurunkan status AS, jika tetap tidak ada perkembangan yang mengarah ke perbaikan sesudah 2 Agustus mendatang. Menurut badan ini, “banyak faktor-faktor yang meragukan kemampuan AS untuk membayar kembali hutang mereka (kecuali dengan mengedarkan uang baru), sementara ini tidak akan ada perubahan”.

Bulan November 2010 Dagong telah merendahkan status AS dari AA ke A ketika bank sentral AS mengumumkan programa ini dikenal dengan nama Quantitative Easing (QE). Satu istilah muluk pengganti “Mengedarkan uang baru”mempompa uang sekitar US$ 600 milyar dalam ekonomi Amerika, sedangkan Moody’s, Standard & Poor’s, Fitch masih tetap memberikan status triple A dua tingkat lebih tinggi dari status yang diberikan Dagong  kepada AS sampai sekarang.

Dagong mempunyai pengaruh yang sangat tinggi dan kuat sekali dalam penilaiannya karena China adalah kreditur AS, pemegang obligasi negara (Treasury bonds) terbesar dengan jumlah US$ 1.300 miljard dollar, disusul Jepang.

Pertanyaan selanjutnya adalah: Bagaimana Obama harus menindak perkembangan ini sebelum  2 Agustus 2011 nanti?  Di masa lampau China dan Jepang masih bersedia memberikan bantuan dalam bidang pemberian kredit, namun sekarang kedua negara ini sudah menyatakan tidak menyukai “bubur hijau greenbacks” lagi dan tidak mau membeli Obligasi negara (Treasury bonds) Amerika.

PIMCO ( Pacific Investment Management Company, LLC), satu perusahan investment fund management and solutions AS (terbesar di dunia) yang didirikan oleh William H. Gross, (dikenal sebagai Bill Gross) dan Mohamed A. El-Erian (sekarang CEO PIMCO) bermarkas besar di Newport Beach, California, telah menjual semua Treasury bonds US, sebagai satu tanda kurang percayanya kemampuan AS untuk mengatasi public debt dan risiko yang tinggi.  Perkembangan dalam bidang kredit di Amerika saat ini tidak lain adalah pilihan antara memberantas “penyakit kolera atau pes”. Mana yang harus didahulukan?

Selama anggauta konggres partai Republik tidak mau menyadari perkembangan ini, maka persoalan ini akan semakin berlarut-larut.  Apakah presiden dari partai Republik tahun depan (jika partai ini menang) akan dapat mengatasi hal ini sangat diragukan sekali.

Jangan dilupakan bahwa defisit sekian tingginya ini adalah disebabkan oleh partai Republik di masa Bush Sr dan Jr. hanya saja banyak penduduk Amerika yang hidup dengan illusi dan tidak mau menerima kenyataan ini. Diharapkan agar hal ini tidak terjadi dan diharapkan semoga partai Demokrat menduduki posisi mayoritas di Konggres dan Obama dapat terpilih untuk kedua kalinya.

Mayoritas dari mentalitas rakyat AS pada umumnya sangat boros sekali. Mereka mempunyai pendapat: ”membeli dulu baru menabung” akibat mudahnya mendapatnya kredit atau hutang. Di pihak lain, menurut pendapat seorang wartawan ekonomi dari Newsweek, The Washington Post Robert J. Samuelson bukan karena cara konsumsi Amerika yang menjadi penyebabnya, justru karena negara-negara lain seperti Eropa China dan Jepang yang terlalu banyak menabung sehingga tidak ada pengeluaran konsumtif dan menyebabkan pincangnya neraca perdagangan.

Orang-orang Jepang atau Tionghoa adalah sebaliknya, karena menabung adalah satu keharusan dan hal yang wajar yang dipakai di masa diperlukan. Di dunia moneter internasional AS dikenal sebagai “creditcrunch in the subprime market”,

alias diragukan reputasinya sebagai calon debitur, selain rakyat Amerika dikenal sebagai “big spender” pemboros yang tidak mengenal batas, tetapi sangat menguntungkan negara-negara produsen seperti China. Salah satu faktor penting terbesar yang menjadi ukuran perkembangan ekonomi di AS adalah di bidang perumahan dimana Mortgage penting sekali peranannya. Harga-harga rumah di AS dalam jangka 10 tahun menanjak begitu pesat, jauh lebih pesat dari negara-negara Eropa yang keuangannya jauh lebih stabil.

Saya coba memberikan satu contoh yang sederhana dan mudah untuk dibayangkan: Joe Bagong mempunyai pendapatan sekitar US$ 50.000 (€ 35.000) setahun.Jika Joe ingin membeli rumah sekitar US$ 200.000, maka bank-bank di AS bersedia memberikan kredit sekitar US$ 220.000 karena pertimbangan mereka adalah harga rumah akan naik.

Menurut ukuran Eropa, Joe Bagong hanya mempunyai kemampuan diberi kredit sekitar 3x pendapatan tahunan, dalam hal ini US $150.000 (kekayaan harta pribadi dalam hal ini tidak ikut disangkutkan). Juga hal-hal kredit seperti yang diberikan kepada Joe Bagong tidak mungkin diberikan begitu saja, karena bank-bank memperhitungkan faktor-faktor lain yang dapat berpegang peranan, misalnya apakah dia mempunyai hutang lain, kewajiban menyekolahkan anak-anak, credit card yang dimilikinya dan hutang-hutang lain yang masih belum terbayar lunas dsb.

Karena di Eropa pada umumnya dikenal satu biro kredit registrasi, dimana semua yang saya sebutkan di atas diregistrasi oleh badan organisasi penilain kredit nasional yang didukung  oleh hukum. Jika seseorang pemilik credit card mempunyai jatah harian € 5.000, dan sekali pun tidak digunakan, hal ini akan diregistrasi dan diperhitungkan oleh semua bank-bank dan kreditur sebgai satu faktor “risiko”. Mereka dapat meminta keterangan dari badan ini sebelum mereka memberikan kredit.

Dalam hal ini kredit di AS diberikan tidak berdasarkan atas kemampuan pendapatan untuk membayar, melainkan berdasarkan harga rumah yang diperkirakan akan naik dipasaran bebas dan kekayaan pribadi yang dimiliki saat itu (sedang kan esoknya mungkin sudah dihabiskan semua).

Ini berarti sekitar $ 220.000 – $ 150.000 = $ 70.000 adalah “cheque kosong” karena tidak mempunyai jaminan (dekking). Joe Bagong dalam hal ini menerima fasilitas yang teoritis sangat berbahaya. Jika di satu saat Joe Bagong dipecat dari jabatannya, atau harga rumah-rumah menurun akibat krisis ekonomi, dan hutangnya yang berdasarkan “terms of repayment”, karena dia setiap bulan nya hanya membayar bunganya saja, sehingga hutang masih tidak belum lunas sama sekali, maka Joe Bagong tidak akan dapat melunasi hutangnya lagi, karena pendapatan tahunannya sendiri tidak memenuhi syarat dan mencukupi untuk membayar hutang-hutang ini. Dengan kata lain, hutangnya tetap besar tetapi kemampuan untuk membayar menurun. “creditcrunch in the subprime market”sudah mulai terlihat….

Perkembangan yang memungkinkan pemberian kredit mortgage adalah a.l.

  • Verifikasi data penghasilan pemohon kredit dipermudah a.l. penghasilan mereka tidak diselidiki mendalam. Istilah ini dikenal sebagai low-doc loan dan NO-doc loan.
  • Memberikan kredit yang lebih besar dari jaminan yang ada (piggyback loan), termasuk pemberian kredit berhubungan dengan ongkos-ongkos yang bersangkutan dengan pembelian rumah.
  • Memberikan fasilitas dimana bunga yang harus dibayar hanya perlu dibayar sebagian, dan selebihnya ditambahkan ke hutang utama (negative amortization loan)
  • Memungkinkan pembayaran bunga yang paa awal mulanya lebih rendah dari tarip normal dan sesudah beberapa tahun naik karena diperkirakan penghasilan juga akan naik (step up loan)
  • Kemungkinan pemberian kredit dengan bunga yang variabel (Adjustable Rate Mortgage  atau disingkat  ARM).

 

Hal yang sangat berbahaya adalah perubahan dalam bidang kemampuan kredit dari pemohon kredit (mortgage) yaitu dalam bidang “credit score”, angka-angka yang berdasarkan sejarah kelakuan dan gerak gerik dalam bidang pembayaran hutang dari para nasabah yang hutang (debitur) di masa lampau, apakah dia membayar pada saat nya dsb. Mereka melupakan bahwa kebiasaan kemampuan pembayaran hutang dimasa lampau bukan berarti hal yang sama akan dilakukan atau terjadi dimasa depan. Past performance does not gives guarantee in the future.

Dalam lowongan kerja, memang mobilitas di AS dan frekuensinya sangat tinggi sekali, jauh lebih tinggi dari E.U.  Di Eropa adalah satu hal yang umum jika kita bekerja selama 40 tahun di satu perusahaan, hal ini hampir tidak mungkin terjadi di AS karena pemecatan karyawan sangat mudah sekali.

Secara “kasarnya” bilamana boss tidak menyukai cara berpakaian seorang pegawai dan meragukan kapasitas karyawan itu, alasan ini sudah memungkinkan untuk dipakai memecatnya. Hal-hal kecil yang terjadi saja telah memungkinkan dipakai sebagai alasan untuk memecat seorang pegawai di AS.

Karyawan-karyawan di AS tidak dilindungi oleh hukum yang bersangkutan dengan bidang lowongan pekerjaan seperti di Eropa yang dimana tidak mudah sekali untuk memecat pegawai hanya karena adanya perselisihan perbedaan pendapat atau pandangan. Dengan kata lain mobilitas kerja di Eropa lebih rendah frekuensinya, meski pun ini bukan berarti merugikan, karena frekuensi gelombang perpindahan seorang karyawan ahli ke perusahaan lain juga rendah, sehingga dengan demikian penting untuk kontinuitas  perusahaan tersebut dalam memperhitungkan politik perusahaan yang harus dijalankan dan penting sekali dibidang management.

Jika kejadian di atas itu betul-betul terjadi, maka banyak pemilik rumah harus terpaksa menjual rumah-rumah mereka untuk melunasi hutang. Jika pasaran harga rumah merosot, maka hal ini berarti satu pos kerugian untuk bank, karena hutang pemilik rumah itu masih lebih tinggi dari hasil penjualan rumah yang baik di lelang maupun dijual secara regulir.

Bilamana hal ini masal terjadi seperti yang dialami Fanny Mae, Freddy Mac, maka bank-bank ini sudah berada di dalam kesulitan.

Akibat jeleknya mis management dan stagnasi perkembangan ekonomi di AS menyebabkan banyaknya pengangguran sehingga banyak hutang-hutang yang tidak terbayar lagi dan rumah-rumah harus dijual. Perkembangan demikian inilah yang membawa akibat dari kredit krisis di AS yang dimulai pertengahan tahun 2007, dan bukan penyebabnya. Semua ini disebabkan karena salahnya sistim pemberian kredit dari bank-bank yang bersangkutan akibat dari kerakusan dan risiko yang mereka ambil karena memikirkan mengambil keuntungan sebesar mungkin.

Juga hukum penawaran dan permintaan berlaku juga, karena dengan semakin banyaknya rumah yang ditawarkan untuk dijual, maka para calon-calon pembeli potensial pasif menunggu karena mereka berharap harga rumah dapat menurun lagi, sehingga akibat perkembangan demikian menyebabkan runtuhnya harga pasaran perumahan.

Kesimpulan yang dapat diambil adalah jelas sekali bahwa betapa bahayanya pemberian kredit itu tanpa tidak memperhitungkan kemampuan debitur untuk mengatasi pembayarannya, terutama untuk jangka panjang.

Tugas yang harus dijalankan Timothy Geithner, menteri keuangan AS dan pemenang hadiah Nobel ekonomi Paul Krugman, penganut-penganut Keynesianisme, bukanlah satu hal yang mudah. Harga yang harus dibayar oleh rakyat AS berkat naivitas dan pandangan irasional, emosional para pemilik modal dan jutawan, akibat dari masa lalu adalah sangat tinggi sekali,.

Apakah di masa depan uang US$ masih dapat berpegang peranan di dunia perdagangan internasional, tidak dapat dipastikan.

Bahwa RMB Yuan di satu saat akan merupakan mata uang perdagangan internasional, disamping Euro dan Yen Jepang adalah satu faktor yang harus diperhitungkan, meski menurut analisa saya belum mungkin dalam jangka 50 tahun mendatang. Tidak ada di antara kita yang dapat menyaksikan hal ini. Mungkin anak cucu kita.

Ini adalah satu fakta yang tidak dapat disangkal, hanya saja tidak ada seorang ahli moneter- makro dan ekonom internasional yang dapat meramalkan waktunya. Tidak usah diherankan kalau hari Senin mata uang US$ (sedikit) merosot nilainya di pasaran valas.  Apa yang telah saya pelajari dan perhitungkan berdasarkan fakta-fakta, sekarang rupanya telah menjadi satu kenyataan. Untuk seorang analis moneter ekonom internasional, hal ini adalah satu perkembangan yang “menggembirakan” dalam arti bahwa apa yang telah diperhitungkan dan diramalkan (bukan berdasar bintang-bintang di langit atau dengan resep hocus pocus), telah betul- betul terjadi.

Siapakah S& P, Moody’s dan Fitch ratings itu, saya harapkan akan dapat saya bahas di lain kesempatan, sekarang sudah waktunya makan malam, mau relax dulu, makan nasi pecel dan tempe goreng…..  daaag !

 

 

Sources: 

  • IMF – International Moneter Fund
  • World Economic Outlook (emerging market economies)

Ø   OECD- Economic Outlook advanced economies

Ø   Le plafond légal de la dette publique les Etats – Unis, France

Ø   Die Welt – Germany

  • HLN – Belgium
  • The Washington Post
  • Newsweek

 

Share This Post

Posted by Monday, 8 August 2011 on 08:09.

Categories: Ekonomi & Politik. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

41 Responses to “Amerika Serikat – On the way to the next PIGS Status?”

Pages: [5] 4 3 2 1 »

  1. 41
    atite Says:

    wah, Nev… sy baru tau… jd itu yg dipake motornya Valentino Rossi…? kl gitu mulai besok pagi sy makan bubuk emas biar kl mikir gak telat, huaha3x… tenkyu buat wawasannya ya
    salam…

Pages: [5] 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)