Historical Sites of Indonesia (1)

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 menyimpan banyak jejak dan ingatan yang tak mudah dilupakan. Setiap tempat di mana pun yang memiliki kaitan dengan nilai sakral 17 Agustus 1945 akan selalu dikenang. Bahkan banyak dipugar dan ditandai dengan monumen. Padahal kejadian yang berlangsung di tempat itu mungkin hanya sekian menit, sejam atau beberapa hari bisa juga bertahun-tahun.

Ada banyak tempat tersebar di mana-mana yang mengandung nilai sejarah bagi bangsa Indonesia, yang berkaitan dengan keberadaan negara ini, rumah bersama kita semua.

 

1. Gedung parlemen Jepang, Tokyo. “Big in Japan”

Di gedung ini pada 7 September 1944, Perdana Menteri Jepang Kuniaki Koiso berpidato di depan. Isi pidatonya sederhana, yaitu negeri pendudukan Jepang yang berada di Hindia Timur (yaitu Indonesia) akan diberi kemerdekaan “dikemudian hari”. Entah kapan. Pidato bagai bola salju dan akhirnya mencapai puncaknya di Jumat Legi pagi hari di beranda rumah Soekarno di Cikini, pada 17 Agustus 1945. (Gedung parlemen Jepang.jpg)



2. Gudang Pintu Air. “A Little Help from My Friends”

Ibu Fatmawati, istri tokoh nasionalis Soekarno punya ide menarik. Negerinya sudah dijanjikan kemerdekaan meski entah kapan. Ia memiliki inisiatif membuat bendera Merah Putih untuk dipakai entah kapan dan untuk apa. Atas pertolongan sahabatnya Shimizu, seorang propagandis Jepang di Indonesia, Fatmawati mendapat bahan untuk membuat bendera. Kain diitu didapat atas pertolongan Shimizu dan diantarkan oleh Chaerul Basri, sahabat Fatmawati. Bahan kain itu, kemudian menjadi bahan bendera pusaka Sang Saka Merah Putih yang sakral dan sarat dengan simbol darah dan nyawa bangsa ini. (Gudang Pintu Air.jpg)



3. Hiroshima – Nagasaki. “Little Man”, “Fat Boy”

Dua kota besar di Jepang mendapatkan kehancuran fisik, jiwa dan moral. Hiroshima dan Nagasaki dijatuhkan bom atom oleh Amerika Serikat. Katastrofi ini memicu rangkaian kekalahan dan kemunduran kekuatan Jepang di mana-mana yang sedang menjajah. Kekalahan itu dirasakan juga di Indonesia, yang segera mencari cara agar bisa merdeka selekas mungkin tanpa campur tangan Jepang. (Hiroshima Nagasaki.jpg)


 

4. Da Lat, Vietnam. “Saigon Kick”

Hari-hari menegangkan terjadi pada pertengahan Agustus 1945. Secara rahasia, Soekarno, Mohammad Hatta dan dr. Radjiman Wedyodiningrat serta dokter pribadi Soekarno, dr. Soeharto, pergi ke Da Lat, 100km dari Saigon, Vietnam. Di sana mereka bertemu bos Jepang yang menguasai Asia Timur dan Selatan, termasuk Indonesia. Selain membentuk sebuah panitia untuk persiapan kemerdekaan Indonesia, sang bos juga menyerahkan keinginan merdeka rakyat Indonesia di tangan orang Indonesia sendiri. (Da Lat.jpg)


 

5. Rengasdengklok, Jawa Barat. “A Little House in the Prairie”

Tanpa diduga, selama seharian pada 16 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta tidak terlihat sama sekali di Jakarta. Tak seorangpun yang tahu pasti. Mereka berdua ternyata diculik oleh sekelompok pemuda dan di bawa ke Rengasdengklok, Jawa Barat. Tujuan agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di kota kecil itu tanpa ada embel-embel buatan dan bantuan Jepang. Niat itu gagal, Tapi niat merdeka justru berhasil di hari berikutnya dan bukan merdeka di Rengasdengklok. (Rengasdengklok,jpg)


 

31 Comments to "Historical Sites of Indonesia (1)"

  1. Dewi Aichi  10 August, 2012 at 05:18

    Hi hi….ngakak….apanya yang diproses?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.