Fanatik

Wesiati Setyaningsih

 

Fanatisme, menurut Wikipedia, artinya orang yang meyakini sesuatu dengan membabi buta. itu kata Wikipedia. Mungkin apa yang saya pahami kurang lebihnya sama. Ceritanya, beberapa waktu lalu seorang teman saya tag foto saya. Dia bilang, ‘kamu mungkin lebih cantik kalo tidak pake jilbab’. Respon saya biasa saja. Saya tidak marah. Bisa jadi apa yang dia katakan itu benar. Itu pendapat dia.

Dia agak terkejut dengan respon saya yang biasa saja. Dia bilang, ‘bukannya orang pake jilbab biasanya fanatik?’

Saya pikir dia terlalu menggeneralisas. Tidak semua orang berjilbab fanatik. Ada yang tidak. Dan saya salah satunya.

Entah kenapa saya tidak terlalu peduli lagi dengan perbedaan keyakinan. Apa perlunya? Saya dan apa yang saya yakini, itu urusan saya. Orang lain dan apa yang mereka yakini itu juga urusan mereka. Memang saya juga tidak serta merta seperti ini.

Ada sebuah proses yang luar biasa melalui sebuah kekacauan yang maha dahsyat. seperti yang pernah saya tulis bahwa renovasi rumah selalu memerlukan waktu dimana semua tampak porak poranda. Hidup saya juga sempat begitu. Tapi ternyata semua itu membawa saya kepada titik ini. Siapa yang bisa mengira? Bahkan saya sendiri tak pernah mengira sebelumnya. Saya hanya merasakan, bahwa Tuhan seperti sengaja ‘menjerumuskan’ saya pada suatu yang benar-benar kacau dan tak masuk akal, dengan suatu maksud.

Saya baru saja selesai membaca novel Paulo Coelho. Novel bagus tentang cinta yang tertunda sepuluh tahun untuk disampaikan. Konflik batin karena ketakutan dan keraguan, yang seperti juga selalu menghantui kita dan selalu kita ijinkan untuk menjadi penghuni tetap dalam jiwa kita, menjadi tersangka utama. Awal membaca saya takjub karena buku itu seperti menjadi ilustrasi dari buku the Power of Now yang pernah saya baca.

Tapi lalu buku itu menceritakan tentang banyak hal yang akhir-akhir ini saya pahami, saya percaya dan kemudian saya yakini, bahwa semua orang pada dasarnya memiliki kekuatan yang luar biasa. Mungkin tidak semua orang akan suka novel ini, karena tidak semua orang akan percaya hal ini. Sebagian besar orang terlanjur percaya bahwa kekuatan luar biasa hanya dimiliki orang-orang tertentu dan tidak bisa dimiliki orang-orang lainnya. Sehingga dibutuhkan para pendoa, karena cuma doa merekalah yang diterima, sementara doa orang lainnya tidak.

Well, saya termasuk orang yang sealiran dengan Coelho. Saya percaya semua orang bisa punya kekuatan. Tinggal minta sama Tuhan, maka DIA akan memberi. Selesai. Itulah kenapa saya selalu yakin pada janji Tuhan “mintalah kepadaKU, maka AKU akan memberikannya padamu.” Jadi saya tinggal minta, Tuhan kasi. Selesai.

Dan dalam banyak hal, memang itulah yang terjadi. Saya minta, Tuhan memberi. Entah kenapa masih saja banyak orang yang tak percaya. Tapi itu bukan urusan saya. Saya cuma ingin membahas bahwa Coelho akhirnya membawa ceritanya pada keyakinan yang dia pahami, Katolik.

Dia bicara dalam bahasa Bunda Maria dan Yesus. Dan kekuatan-kekuatan yang didapatkan oleh tokoh dalam novelnya itu juga mendapatkannya dari Bunda Maria. Bukan karena dia ingin pembacanya terbawa untuk meyakini Bunda Maria dan Yesus juga, saya kira. Tapi karena paham itulah yang dia pahami.

Mungkin juga seandainya saya menulis novel, saya akan bicara hal-hal tentang Tuhan Muslim saya, karena itulah yang saya pahami. Itu saja. Tapi setidaknya, karena tidak fanatik, saya percaya pada Coelho. Bahwa kekuatan Tuhan bisa saja diberikan begitu saja pada umatNYA.

Apapun nama yang kita sematkan pada SESUATU YANG MAHA DAHSYAT itu. Bunda Maria, Allah, atau apa saja. DIA akan memberikannya pada manusia. hanya dengan syarat, bahwa mereka yang diberi kekuatan itu harus berani menghadapi berbagai tantangan, karena hal seperti ini sungguh tak biasa. Tak semua orang mau mempercayainya.Tak hanya tak percaya, mereka bisa melakukan apa saja untuk mencerca, menganiaya dan membuat orang-orang yang ‘tak biasa’ ini menderita.

Apa hubungannya dengan fantisme? Well, seandainya saya fanatik, saya tak akan bisa memahami buku itu. Begitu ada tulisan Bunda Maria di situ, maka buku itu segera saya letakkan karena takut iman saya terganggu dan kemudian terkotori.

Seperti anak saya yang selalu mendengar ibu saya menyarankan saya membaca buku-buku Islam seperti yang dibaca ibu saya dan memarahi saya karena membaca buku-buku ‘aneh’ seperti Conversation with God, begitu dia membuka dan membaca begitu banyak kata Bunda Maria dan Yesus di novel itu, dia bilang,

“Kok mama baca buku seperti ini sih? Kan nggak boleh”

Saya bilang, “Kenapa? kan cuma baca…”

Cuma itu yang mampu saya jelaskan. Saya belum mampu menjelaskan lebih jauh untuk anak kelas 3 SD. Biar dia sementara diracuni  oleh berbagai fanatismu dulu sampai dia bosan. Baru nanti akan saya jelaskan. :D

Kalau saja saya seperti ibu saya, saya pasti tak akan membaca buku-buku bagus seperti yang sudah saya baca. Dan mendapat begitu banyak pengetahuan bermanfaat. Saya tak akan terus berteman dengan teman saya yang bilang saya lebih cantik tanpa jilbab saya. Karena saya pasti sudah marahan sama dia dan berkuranglah satu teman saya. Jadi saya cuma berpikir, seandainya saya fanatik, apa yang bisa saya dapat? Pasti tak banyak.

 

Ilustrasi: onmilwaukee.com

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

35 Comments to "Fanatik"

  1. Linda Cheang  12 August, 2011 at 10:11

    aku baru baca, nih. tap[i yang jelas fanatik yang berlebihan bisa bikin puyeng kepala orang-orang, makanya ada front-front teu puguh sam[pe yang mengangap menyebar teror itu adalah jalannya yang direstui untuk membela Tuhan.

    Lha? Tuhan itu tidak perlu dibela, koq.

  2. Dewi Aichi  12 August, 2011 at 08:37

    pak A….ha ha..komennya….gimana tuh Wesiati, dirimu yang menggoda A?

  3. pak A  12 August, 2011 at 07:16

    makin di baca dirimu makin menggoda….sip

  4. wesiati  12 August, 2011 at 03:51

    sumangga pak DJ…. senang saja saya…

  5. Dj.  12 August, 2011 at 00:23

    SU….
    Terimakasih untuk kesaksiannya….

    Hanya orang yang peka mata hatinya, dia bisa mendengarkan bisikan Roh Kudus.
    Doa adalah komunkasi dua belah pihak…..
    Kalau kita tidak ( belum bisia ) mendengar lawan bicara kita, maka kita harus berpikir…
    Dengan siapa kita berbicara…..
    Doa, tidak sama dengan mantera….!!!

    1. Doa, kita naikan denganrasa gembira, rasa sedih dan keyakinan akan jawaban dari apa yang kita naikan.
    Kalau kita sudah bisa merasakan atau melihat hasil dari doa kita, maka baru kita bisa bilang, bahwa kita berkomunikasi dengan TUHAN yang hidup. ( bukan tuhan bikinan manusia , tapi TUHAN yang menciptakan manusia ).
    Dj. pikir baik-naik sebelum mengucapkan ( menaikan ) doa, kalau doa kita dikabukan, bisakah kita menggunakan dengan baik….???
    Olehnya TUHAN mengajarkan kita doa Bapa Kami, yang isinya seperti…
    ” berilah kami hari ini makanan kami yang secukunya ”
    Tidak berlebihan, tapi kalau kita lihat di kulkaas kita, kita memiliki makana yang sudah berlebihan.
    sedang dbalik sana, masih banyak saudara kita yang kelaparan.
    Dimana tanggung jawab kita dengan doa yang selalu kita naikan….???

    2. Sedang mantera adalah perintah…
    Bolehkan kita memerintah TUHAN….???
    Kok seoleh-olah TUHAN itu kacung kita….
    Ucapkan saja ayat ini, ucapkan saja firman ini….!!!
    Kalau kamu ucapkan ayat ini, pasti aman deh…!!!
    Ayat ( firman ) TUHAN, dipakai sebagai jimat….!!!
    Seolah-olah, kita bisa mengendalikan TUHAN….!!!
    Memang manusia sangat hebat, maunya memerintah, sampai TUHAN juga diperintahnya……

    Walau ada Firman yang tertulis…
    Mintalah, maka akan diberi….
    Cari, maka engkau akan mendapat
    Tapi, apakah kita mampu mempertanggung jawabkan apa yang akan kita dapat.
    Olehnya TUHAN tidak seenaknya mau memberi apa yang kita minta, kaena TUHAN tau akibatnya.

    TUHAN tiidak pernah menjanjikan kekayaan yang berlimpah, banyak mobil, banyak uang, atau punya pesawat pribadi.
    Tapi Dia menjjanjikan, akan memberikan kekuatan, bisa badai melandamu.
    TUHAN tahu kebutuhan anak-anakNya, dia tidak akan membiarkan kita menjadi anak yatim.

    Olehnya, sebelum berdoa dan minta sesuatu….
    Jalankan hukumNya, seperti…
    Kasihilah sesamamu manusia, seprti dirimu sendiri….!!!
    Bisa atau tidak…???
    Bisakah kita mengasihi orang miiskin , atau orang sakit yang kotor dan bau…???
    Maukah kita membagii milik kita kepada mereka yang kekurangan…???
    Itulah, mengapa TUHAN JESUS, mengatakan…
    Lebih mudah seekor onta, masuk kelubang jarum, daripada orang kaya, masuk kedalam kerajaan sorga.

    Maaf Su….
    Lha ini Dj. kok malah ngoceh panjang sekali…..
    Sudah ah, berhenti dulu, sebelum dijitak mbak Wesiati….
    Maaf..maaf…maaf….!!!

    Salam manis dari Mainz…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *