Historical Sites of Indonesia (2)

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

6. Jalan Imam Bonjol No.1 Jakarta. “Piano Man”

Hanya sekitar 2 jam baru tiba dari Rengasdengklok karena “diculik” pemuda militan, sekitar tengah malam pukul 23.00, Soekarno dan Hatta datang ke rumah sahabatnya yang juga petinggi penguasa Jepang, Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol no. 1. Di sana sudah banyak berkumpul para tokoh nasional dari berbagai golongan dan kaum muda. Di tempat itu mereka menyusun naskah proklamasi yang akan dibacakan besok paginya. Setelah draft disusun, lalu dibacakan Soekarno dan diketik. Ditandatangani naskah itu oleh Soekarno dan Hatta di atas piano.

 

7. Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. “Here Comes the Sun”

Indonesia satu-satunya negara yang kemerdekaannya diumumkan sangat sederhana, tanpa persiapan matang dan hanya di beranda rumah pribadi. Namun di situlah semua peristiwa dan nasib bangsa Indonesia dimulai. Bagaikan matahari yang terbit menerangi kegelapan selama lebih ratusan tahun.

 

8. Jalan Taman Pejambon 6 Jakarta. “The Day After Tomorrow”

Hanya pada hari 17 Agustus 1945, Indonesia menjadi negara tak punya apa-apa. Tak punya presiden, konsititusi, tentara, parlemen dan sebagainya. Namun sehari setelah itu, semua perangkat penting kenegaraan ditetapkan untuk menatap masa esok yang lebih jelas.

 

9. Cikini Menteng “Guess Who’s Coming to Dinner”

Setelah dipilih secara aklamasi sebagai presiden di sore hari bulan puasa 18 Agustus 1945, Soekarno pulang malam hari sebagai seorang presiden. Lima jam sebelumnya dia datang sebagai warga negara biasa. Dalam perjalanan pulang dia kelaparan dan memanggil tukang sate. Panggilan kepada si tukang sate itu menjadi perintah pertamanya secara langsung kepada rakyatnya.


 

33 Comments to "Historical Sites of Indonesia (2)"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  11 August, 2011 at 19:55

    Nggak ah atid. Biasa aja tulisan ini. Isinya juga lebih lengkap di luar dan dibuku-buku sejarah dan buku tulisan orang. Cuma penyajian ini agak aneh dan unik biar mau dibaca orang.

    Sengaja saya memakai judul-judul terkenal agar mudah dikenali. Kebetulan sama dengan ide cerita yang say tulis,

    Makasih ya Tid.

    PS: Piano jelas udah gak ada…. Tapi yg ada cuma imitasinya aja. di bawah tangga gedung tersebut.

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  11 August, 2011 at 19:53

    Terima kasih selogiri, tulisan saya dianggap seperti vetsin glutamat… hahahaha…

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  11 August, 2011 at 19:52

    Paspam..kalau yang manggil, “Bang satenya 500 tusuk..” Pasti Nyi Blorong yang beli…. hahahaha….inget Suzanna..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *