Sebuah Catatan Harian: “Elegy III” – Cinta Yang Berlabuh

EA. Inakawa – Madagascar

 

Senja yang letih terasa lambat berjalan dengan gemulai ……….rona malampun belum terlihat sempurna, ada bulan merah saga diatas sana seperti enggan kembali keperaduan di bilik senja, bentuknya bulat besar dan sempurna. Sayang rasanya kalau tak  kuabadikan di sebuah kamera.

Di rumah sepi ini jarum jam dinding kuno peninggalan tentara Kompeni ( itu kata penjual jam kuno yang kubeli di pasar loak 10 tahun lalu ) ….. berdendang nyaring 6 kali. Detik jam kuno itu masih saja mampu berputar dengan patuhnya mengiringi putaran menit demi menit tanpa pernah saling melukai, irama detiknya seperti nyanyian  sendu hati sang pemilik.

Dari balik kaca mata ini kupaksakan membeliakkan mata memandanginya, sungguh…… aku mengagumi jam Kumpeni ini yang begitu antik dengan angka angka romawinya dan di tempat angka 12 itulah kutempatkan sebuah batu Aquamarine sebesar 5 karat pemberian Patricya, setiap memandang nya adalah sama bagiku dengan selalu mengingatnya di tepian perjalanan waktu tanpa lelah.

Dari balik jendela angin bertiup kecil tanpa pelit & lelah menebarkan wewangian bunga kenanga yang kubawa dari Jakarta & kutanam persis di depan jendela apartment.

Di sudut ruang itu ………. nostalgia itu masih saja bergelayut dengan leluasa memutar balikkan semua episode demi episode seperti saling berlomba menempuh sang waktu.

Menerawang di antara kisi kisi jendela dan bayang bayang sekumpulan orang yang sedang asyik bercengkerama, di bibir kolam ikan koi yang di depannya terletak sebuah kursi taman logam seperti ukiran Jepara, ada sebuah jejak yang tidak  pernah pupus dari ingatanku.

Sebagai lelaki pengembara mengingatnya adalah sebuah laku cengeng …..

Sejarah mengenalnya bukanlah sebuah impianku atau ketersengajaan, tapi celakanya untung badan & hati yang bertuah ini tak bisa tidak harus mengakui bahwa dia adalah perempuan yang luar biasa daya pikatnya.

 

Patricya……bagaikan sebuah magnit yang arwahnya melekat erat di alam pikiranku menguasai Amikdala & Cortexon ku, jasadnya bagaikan pengembara yang senantiasa menempel di sekujur tubuh ini. Dan entah oleh karena apa naluriku selalu membuka jendela hati untuk tidak pernah menolak kala iya masuk mengetuk kerinduan di kanvas cinta, sungguh ini bukanlah sesuatu yang biasa atau luar biasa untuk dikomentari, percintaan ini sebuah anugerah Tuhan yang kadang membuat kita menjadi lemah dalam ketakutan untuk dilupakan dan kehilangan.

Sebuah laku cinta yang aneh menurut Patricya dan lebih anehnya kami berdua tetap mempertahankannya, sebuah anugerah Tuhan bagaimana mungkin harus kami tepiskan, barangkali bentuk rasa ini lebih kuat dari kuatnya sebuah ideologi NKRI yang tak pernah habis digunjang ganjingi dari ORBA sampai kasus Nazarudin saat ini, kami tak pernah berbicara tentang sebuah opini rasionalitas, jujur cinta yang kami rajut nyaris tidak ada aura politik kotor seperti permainan para elite politik yang pintar pintar bodoh itu.

Seusai pertemuan terakhir di Ethiopia kami kemudian bertemu kembali di Antanarivo……temu jumpa & tatap mata kali ini masih sama dengan rekam jejak pertemuan sebelumnya, tak ada dusta DAN tak ada sebuah laku khianat yang kami perbuat, beningnya mata kami berdua adalah saksi kejujuran yang tak perlu kami persoalkan dalam tanya & buang waktu…..pertemuan ini begitu sangat membahagiakan 2 hati yang merindu ini.

Temu janji dengan Patricia bukanlah sesuatu yang mudah, aku harus transit 2 malam pulang dan pergi melalui South Africa, untung saja tidak ada flight yang tertunda, sudah jadi langganan SA Air selalu delay dan kemudahan lain sejak terjadi kudeta di Madagascar, setiap orang bisa datang dengan bebas tanpa membayar Visa dengan ijin tinggal max 1 bulan.

Seusai mandi dan bersih diri ………. kami mulai berbincang mesra.

Di lobby Hotel Colbert Antananarivo banyak hal yang kami diskusikan tentang semua hal….. pekerjaannya sebagai UNV & kisah petualangan di seputar Bumi Afrika ini selalu tersambung pasti dengan pengalamanku yang juga membangun pengembangan bisnis di Bumi Afrika yang sama, tak habis daya tarik & daya khayal yang begitu beragam dibualan kami sepanjang pertemuan 2 pekan berjalan.

Cuti wisata yang kami lalui menjadi saksi ….. betapa kami saling merindu dendam.

“Tersenyumlah duhai malam yang menyepikan diri ……………….

Kami jelajahi sisa malam dengan berbagai menu makanan, satu hal yg sama selera kami tak pernah berbeda, Patricya selalu terlihat rakus menikmati menu Prancis  canard laqui, masakan itik muda yang di-steamed dengan hiasan wortel serat, belum lagi menikmati Lobster & kentang bakar dengan saus tiram. Di Madagascar ada sajian minuman air rebusan Citronnelle (daun serai yang direbus dengan tambahan  madu liar) madu liar di Madagascar umumnya digiling bersamaan dengan sarangnya, kemudian dipanaskan dan sarangnya akan larut menjadi madu dengan rasa manis pahit dengan citra liar yang luar biasa khas Afrika ….sungguh ! Di setiap detik kebersamaan ini tak ada persoalan pelik yang kami diskusikan, merajut cinta berbenang sutra alam & makan……lagi dan makan lagi, bercanda dan tertawa tanpa lelah.

Di sebuah kesempatan kugiring ia membuka Baltyra.com….Patricya tau kalau aku senang menulis yang ringan-ringan, keperkenalkan beberapa nama para penulis kondang yang ada di luar sana, kapan senggang aku akan bergabung katanya.

Akupun sesaat teringat kalau 2 pekan lagi Baltyra akan memasuki ulang tahun yang ke 2.

 

“KASIH  YANG BERLABUH …..

Pertemuan kali ini bukanlah sesuatu yang tanpa rencana, tak kudustai kerinduanku kadang melebihi kilat cahaya, aku tak ingin larut tanpa sebuah jejak pejantan tangguh, atau seperti petualang yang tersesat di alang-alang hutan liar di sudut hutan perawan buntu sebuah pertanda tak mampu pulang ke rumah, aku tak ingin seperti itu…..

Kesepakatan terakhir di sela gelak & tawa kami via telepon adalah melaksanakan pernikahan secara sipil di Antananarivo, pertimbangan tempat ini kami sepakati mengingat sejarah Madagascar pernah di bawah koloni Prancis & di sini juga ada Embassy Prancis & Indonesia yang akan membantu proses pernikahan kami. Terus terang keputusan ini kami ambil tanpa merasa perlu meminta pendapat Menteri Hukum & HAM, Patricya memang terluka dalam kerinduan, tapi tidak teraniaya olehku sehingga tak ada cacat yang harus iya laporkan tentang kelakuanku.

 

Di antara merdekanya sebuah rindu yang melepas…..

Patricya mengingatkanku untuk tidak meninggalkannya kembali, dengan ber-urai airmata iya ber ucap : kujunjung dalam marwahku sebagai perempuan Prancis, apapun keputusanmu kau adalah jejakaku satu satunya yang sangat kusayangi, pembiaran atas waktu ini terlalu sia sia bagiku, aku sesungguhnya tak sekuat seperti para wanita Napoleon Bonaparte (Josephine istri pertama Napoleon ) yang kau kisahkan padaku atau seperti cerita tentang pasukan perempuan tangguh di Africa barat “The Dahomy Amazone” yang mampu mengalahkan pasukan Prancis.

 

Terlalu banyak waktu yang sulit kulewati tanpa kau di sisiku…..

Sampai bulan letih sekalipun aku tak berharap kau akan menghindar lagi Ivan…..secepatnya nikahi aku sebelum waktu senja menjeput siang dan menelannya menjadi gelap, aku selalu gamang & takut dalam kegelapan dan sendiri…..aku bukanlah perempuan belia lagi, aku membutuhkan kasih sayangmu seutuhnya, kau boleh mengitung delapan tahun x 365 hari = berapa hari….. selama itulah aku tak pernah lelah memikirkanmu Ivan.

Akupun tak sanggup hati membiarkan perempuan bergelar Phd ini terlantar dalam penantiannya selama 8 tahun berpeluhkan rindu, Patricya adalah perempuan yang paling tahan & teruji dalam penyiksaan bathinnya…..dan luar biasa malah ! Repotnya wanita memang selalu ingin dimengerti, capek dehhhhhhhhhh.

Aku tak tau apakah semua perempuan yang bekerja sebagai Peace Keeper bermental sama dengan Patricya, berapa banyak ada wanita yang sama di luar sana, aku tak tau sejujurnya…..barangkali salah satu ada di Kona – Hawai sana.

Di sesaat kami terdiam dalam keheningan ………. saling memandang dengan buah pikir yang buram tercekat, irama nafas & desah tangis yang tersisa bagaikan irama musik klasik pengantar tidur, sepotong choklat “After Eight” kuselipkan di bibir kecil mungil yang selalu mengundang hasrat itu, dasar rakus iya makan dengan lahapnya….begitulah Patricya, seduka & secita apapun yang namanya choklat tak pernah ia tepis dari tanganku. Ia teramat lihay dan pintar dalam memilih choklat kegemarannya, ia tau persis setiap sensasi berbagai jenis choklat dan ironisnya selalu saja coklat yang kubeli bahkan yang kusembunyikan sekalipun mampu ia habiskan, tanpa perasaan.

Aku meneguk sesaat tea citronelle yang bergulakan madu liar Afrika yang masih tersisa, masih terasa hangat karena tersimpan di sebuah gelas keramik China dari zaman dinasty Ming yang kubeli dari sebuah pasar loak di Uganda, tangkainya pernah patah karena saling rebut dengan Patricya dan kusambung kembali dengan lem Alteco…..ada rasa lelah yang terbayar di tenggorokanku, segar dan wangi, sesuatu yang selalu ia sukai kala menciumku …………………………………..tidak berbau tembakau katanya.

Duh Gustiiiiiiii………………selalu terkulai kalah aku dalam rengkuhannya, iya penjelajah ruang & waktu khayal yang exotis tak mengenal rasa penat kala berciuman.

Air mata bahagia Patricya masih mengalir & tumpah di atas bed cover merah jambu di kamar hotel Colbert ini, aku membisikkan tentang sebuah janji untuk selalu menjaga & melindunginya, janji seorang anak adam dari benua Asia, yang kata Patricya berbeda dengan Pria Perancis pada umumnya…..bangganya aku terlahir sebagai insan Indonesia.

 

Tak ada waktu yang terbuang dan tersisa percuma…..sebuah cincin perkawinan yang sudah lama kupersiapkan kutunjukkan di keheningan malam ini, di antara derai air mata yang menetes menimpa sepasang logam mulia yang kemudian kering dan mengkristal, iseng saja air mata itu kujilat dan rasanya asin bercampur wewangian parfum Opium…..aku suka sekali menikmatinya dalam mata setengah terpejam.

Cincin ini luar biasa indah, kubuat tidak sebagaimana lazim & biasanya sebuah cincin perkawinan, yang di atasnya kutahtakan  4 buah batu mulia…sebuah batu Ruby & Moon stone sebagai batu kelahirannya, sebuah batu Yellow saphir sebagai batu keberuntungannya &  batu Emerald symbol kasih sayangku kepadanya, sebuah symbol kasih sayang & kekuasaan yang sempurna dari “Alexander Yang Agung” ketika melangsungkan pernikahaan perdananya, begitu kata & saran seorang peramal China yang pernah tanpa sengaja kubertemu di dalam pesawat dari Johanesburg menuju Hongkong, berikan kepada pasanganmu batu yang sesuai di bulan kelahiran & keberuntungannya, cintamu akan kekal dan abadi di perkawinanmu.

 

Malam ini, perempuan Gemini ku Matanya teramat bening & cantik sekali di permukaan, auranya luar biasa menampilkan berbagai inner beauty nya…..rambut nya yang pendek tertata rapi mendekati bentuk poni yang lucu, lucu kataku karena aku yang mengguntingnya dan konyolnya guntingnya tumpul lagi, bentuk ujung alisnya yang tipis terlihat sama persis dengan ukiran kalung amethys yang menghiasi lehernya.

Duhai Patricyaaaaaaaaaaa bidadari Prancisku yang rupawan, si janda kembang yang klasik & puitis tidak terlalu tinggi tapi tak juga terlalu pendek dalam ukuran idealku, kalau Patricya sedang berdiri kureka reka tingginya sedikit lebih dari Mbak Dewi Aichi yang lagi berdiri di dapur, tapi tak juga lebih pendek dari Ci Lani yang sedang memetik bunga di halaman gereja. Aku percaya tentang sebuah mistery jodoh kalau ia terlahir dan ada untuk ku & aku terlahir dan ada untuknya pula.

 

Berjalan di pelukan sisa embun malam Tananarive…..

Pagi yang cerah, Jum’at 15 July 2011 menyusuri seputar kota Antananarivo atau disebut juga sebagai Tanah 1000 laskar pejuang yang gugur dalam mempertahankan kemerdekaan pada masa penjajahan Perancis, sambil menyusuri jalan setapak di trotoar Tananarive bergandengan tangan sembari makan roti burger kami singgah sejenak di museum kereta api depan Tana Plaza…..ber photo sesaat di depan miniatur Kereta Api kuno peninggalan Perancis, museum KA ini merupakan titik nol antar lintas kota.

Selepas itu jalan kaki di kesejukan pagi dalam suhu 10 derajat celcius semakin mempererat genggaman tangannya di jemariku…..kami melangkah menuju kantor Commune Urbaine “BORIBORINTANY” di seputar avenue Soarano, berbekal dokumen apa adanya yang sudah kami persiapkan di hari sebelumnya kami mendaftarkan diri untuk melakukan pernikahan sesuai hukum catatan civil Malagassy.

Yang menarik…..dari komentar petugas catatan sipil Antananarivo selama ini belum pernah terdaftar sebuah pernikahan sipil antara Indonesia & Prancis di Madagascar, artinya sepanjang usia kemerdekaan Madagascar pada 26 Juni 1960 selama 51 thn baru ini terjadi…..Maha Besar Tuhan yang mempertemukan kami di bingkai warna yang berbeda dan sepaham, malah ! Sangat …..

Bisa jadi perjalanan 2 insan ini lebih dahsyat dari kisah asmaranya Banowati & Arjuna.

Tak ada proses yang dipersulit dalam persiapan ini…..2 hari kemudian kami sudah melaksanakan & tercatat resmi sebagai pasangan suami istri, hadir sebagai saksi seorang karib dari KBRI Antananarivo Bapak Ronald Kadarusman, dan dari pihak Patricya hadir seorang saksi teman karibnya Lucas  yang bertugas di Embassy Prancis di Madagascar.

Rasanya malu hati juga kalau pernikahan ini tanpa sebuah acara Nikah Tamasya…..

Tertanggal 23 July Sabtu malam minggu kami mengundang beberapa karib terdekat yang tak lebih dari 25 orang, semuanya hadir di rest La cactus…..Patricya yang lebih menyelesaikan semua urusan ini, aku hanya berdiri sebagai penyandang dana saja di belakangnya, selalu saja iya mampu menyelesaikan semua pekerjaannya dengan happy ending yang bagus & sempurna di antara alunan musik/lagu Je t’aime yang dilantunkan Chemene Badi & La Fabian.

Sebuah moment terbagus & terindah dalam kehidupan kami, penyematan sepasang cincin pernikahan kami ulangi kembali di depan para sohib yang hadir semua berdecak kagum dengan keindahan bentuk cincin yang kupersiapkan buat Patricya, semua berdoa atas kebahagiaan kami…..semoga TUHAN menyempurnakan perkawinan ini dengan anak anak buah kasih & cinta kami. Melanggengkan pernikahan ini seperti kesetiaannya Queen SHEBA dari Ethiopia terhadap KING Solomon. Semoga takkan pernah ada luka dan saling menyakiti diperjalanan waktu dan usia perkawinan kami.

Di pertengahan hari ini, tepat pukul 12 malam acara nikah tamasya ini tersudahi dalam peluk & cium persahabatan para sohib, kami pamit untuk naik ke peraduan…..malam.

Sunyi malam di bumi Africa ini adalah mistery mata hantu yang mengundang lolongan anjing serigala hutan dan hyna, ada kengerian di luar batas kota Tananarive ini….tapi tidak di kamar hotel ini.

 

Di kamar ini, di keheningan sejuk malam yang memaksa orang segera naik ke peraduan ada kami berdua yang tidak lagi takut dengan perpisahan, dalam kasmaran……dalam hangat selimut yang selaras di redup lampu kamar, sesayup masih terdengar gesekan ranting pohon tua Jokorondo menyisir debu siang di bubungan hotel, gemericik air mancur dari kolam ikan yang keluar dari patung bocah perempuan kecil bertelanjang dada yang pipis seolah sambil berlari, air pipisnya jatuh berserakan tak tentu arah seperti senada denting piano ivory yang melantunkan Bethoven malam, di kamar ini pula kurasakan sebuah aura atas kehadiran Dewi Kwan Im sang dewi kasih sayang sebagai saksi yang turut merestui pernikahan kami, barangkali iya tahu kalau di darahku masih mengalir titisan leluhur dari Tiongkok, di malam yang sangat teramat sejuk dan melelahkan………………………melelahkan sekali, ter-ulang & mengulang kembali “CINTAKU YANG BERLABUH.”

Salam setepak sirih sejuta pesan :

Antananarivo – Madagascar

2 Agustus di Dua Ribu 11

EA.INAKAWA

 

Cerita sebelumnya:

Sebuah catatan harian : “E L E G Y“

Sebuah catatan harian : “E L E G Y“ II

 

Note Redaksi:

Congratulations!! Selamat atas pernikahanya, Baltyra ikut berbahagia dan merasakan setiap jengkal perjalanan EA Inakawa dalam dua artikel sebelumnya sampai yang ini menemukan “The Last Port”. Congratulations!

 

 

103 Comments to "Sebuah Catatan Harian: “Elegy III” – Cinta Yang Berlabuh"

  1. ilham  11 October, 2011 at 04:51

    Wah akhirnya happy ending juga. Pantas agustus kemaren saya telpon Bung Enakawa unreacheble, rupanya sedang honey moon di Tananarive. Mewakili warga Indonesia di Bukavu – Uvira dan sekitarnya, mengucapkan selamat berbahagia. Ditunggu kisah-kisah berikut lainnya. Salam dari Tanganyika.

  2. EA.Inakawa  18 August, 2011 at 16:08

    @ Mentor Haris : Terima kasih Mentor Haris atas apresiasinya,kasihan dia terlalu lama menunggu wkwkwkwkw salam hormat

  3. Lani  18 August, 2011 at 13:37

    99 ya…ya……ya……..mo dibilang apa aja suka2 deh…emank gitu yg aku rasakan…….hehehe pengakuan dosa nih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.