Belajar Jurnalistik Tidak Harus di Kelas Modern

Ratman Aspari

 

Sedikit orang yang memahami arti penting sebuah tulisan dan sedikit pula yang menyadari kekuatan dari tulisan sebagai alat perjuangan. Dengan sebuah tulisan,ide,opini dan kritik tertuang dalam lembaran kertas dan diserap kedalam pikiran pembacanya.

Terserapnya ide dari sebuah tulisan ke pikiran pembaca adalah sebuah hal penting dalam melakukan sebuah pergerakan atau perubahan. Contoh nyata akan kuatnya sebuah tulisan terhadap pergerakan adalah korespondensi Kartini dengan teman-temannya. Surat-surat Kartini menjadi salah satu akan perubahan nasib perempuan di Indonesia.

Begiu pula dengan bangsa Yunani dan Mesir dikenal sebagai bangsa yang besar,karena banyaknya peninggalan yang terdokumentasikan melalui prasasti dan tulisan yang berarti bagi perkembangan peradaban generasi selanjutnya.

Berangkat dari kerangka tersebut diatas, Trade Union Rights Centre (TURC), sebuah lembaga yang konsen terhadap perjuangan kaum buruh, memprakarsai kegiatan Pelatihan Jurnalistik Untuk Aktivis Serikat Buruh, dengan tema “Media sebagai Bedil Perjuangan

Sebanyak 16 orang wakil dari organisasi serikat buruh yang ada di Jabodetabek, ikut dalam pelatihan jurnalistik yang digelar di kantor pusat TURC, Pejompongan, Jakarta Pusat, Sabtu (06/08).

Wini Angraeni, wartawan Majalah SWA dan anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Cabang Jakarta, sebagai pemateri/nara sumber dalam pelatihan tersebut. Beberapa materi yang disampaikan,antara lain teknik dasar penulisan dan praktik, penulisan hard news dan sofnews, dan berbagai hal lain yag terkait dengan penulisan.

”Kalau bisa pelatihan seperti ini bisa terus berlanjut, rasanya tidak cukup untuk satu kali pertemuan ini saja, perlu ada kelanjutannya,” tutur Sukitman salah satu peserta dari Serikat Buruh Muslimin Indonesia.

Sementara itu Happy Rayna Stephany dari TURC selaku penanggung jawab pelatihan mengatakan, maksud dan tujuan pelatihan ini untuk membagikan pengetahuan dasar-dasar jurnalistik yang berguna bagi kepentingan aktivis serikat buruh. ”Selain itu juga untuk menyiapkan calon-calon reporter dari buruh (untuk media komunitas buruh dan Tabloid Lembaran Buruh (LEMBUR),” ujar wanita yang biasa di panggil Phany.

Pelatihan yang digelar selama satu hari di tengah bulan puasa, dengan gaya lesehan dan beralaskan tikar, tidak menyurutkan semangat para peserta. Apalagi sosok dan gaya Wini dalam membawakan materi yang cukup komunikatif, membuat peserta sangat antusias mengikutinya sampai sesi terakhir.

Di sisi lain Risnawati Sinulingga Staff TURC, juga mengatakan, ”Suatu ide atau konsep tidak akan bertahan lama jika tidak diabadikan melalui sebuah tulisan. Ia akan mati terkubur bersama pemiliknya. Oleh karena itu, penting bagi aktivis-aktivis serikat buruh memahami dan tahu tentang dasar-dasar jurnalistik yang kedepannya ilmu ini diharapkan dapat dijadikan alat perjuangan demi kehidupan buruh yang lebih baik, dengan mengembangkan media di serikatnya masing-masing, serta dapat berpartisipasi dan berkonstribusi dalam tabloid Lembur yang diterbitkan oleh TURC. * (ratman aspari)

 

 

15 Comments to "Belajar Jurnalistik Tidak Harus di Kelas Modern"

  1. mimin mumet  11 August, 2011 at 09:39

    jiiiiiaaaaaaaatttttttttttttt…….. siapa bilang saya di illinoiiisss….. ( nah loh ? )

  2. T.Moken  11 August, 2011 at 09:17

    Nggak ngerti Minmut! Apa maksudnya? Aku tinggal di Michigan , anda kan di Illinois.

  3. mimin mumet  11 August, 2011 at 09:12

    michigan apanya minang kabau mbak t moken…. hahahahahhaahahahaahh

  4. T.Moken  11 August, 2011 at 08:03

    Saya setuju dengan pendapat Risnawati S staff TURC sebab di Michigan juga ada koran tentang Labor news.

    Pemimpin setiap district labor selalu memnyampaikan berita tentang kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan. Lalu pada waktu menjelang pemilu calon Presiden maka mereka menulis siapa-siapa saja yang mereka calonkan agar diketahui oleh anggota Union Labor. Dan di footnote tertulis huruf kecil-kecil bahwa ini adalah yang disarankan oleh Partai Buruh (Union Labor). Keputusannya terserah anggota buruh mau pilih siapa.

    Dengan adanya Union Labor maka majikan harus menggaji pegawainya sesuai dengan perjanjian antara ketua Partai Buruh dengan pimpinan suatu perusahaan termasuk fringe benefit pegawai.

  5. Dj.  11 August, 2011 at 03:33

    Mas Ratman….
    Terimakasih untuk liputannya….
    Semoga satu saat BalTyRa juga akan bikin latihan…..
    Salam Sejahtera dari Mainz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.