Open Ending Yang Bikin Gemas

Probo Harjanti

 

Selamat kepada penulis cerpen Sepatu Merah Yang Hilang,  satu cerita yang saya baca dari sebuah majalah remaja dua atau tiga puluh tahun yang lalu. Kalau tidak salah karya Tuti Nonka, kalau saya salah, mohon maaf pada penulis Sepatu Merah Yang Hilang.

Cerpen itu menceritakan  tentang keluarga kaya  yang kehilangan anak perempuannya. Anak tersebut dibawa lari pembantunya yang akhirnya ditemukan oleh keluarga guru  sederhana. Oleh keluarga barunya anak tersebut dipanggil ‘Atik’, karena anak tersebut tidak dapat menyebutkan namanya dengan jelas ketika ditanya. Kata ‘Merilyn’ mungkin sulit untuk diucapkan dengan jelas oleh anak usia balita, hingga akhirnya menjadi ‘Atik’ yang lebih sederhana dan mudah diucapkan.

Dari keluarga kaya raya hidup dalam keluarga sederhana, sehingga ketika sepatu yang baru saja dibelikan hilang menjadi masalah besar bagi keluarganya. Keluarganya tidak mau tahu kalau sepatu tersebut hilang disembunyikan oleh kakak kelasnya yang bandel. Kakak kelas yang berasal dari keluarga kaya raya, tidak tahu bahwa di keluarga lain sepatu adalah barang mewah. Tentunya si kakak kelas tidak pernah menduga sepatu yang disembunyikannya akan berakibat buruk buat si empunya.

Cerita itu menjadi ‘beban’ di kepala saya selama bertahun-tahun karena endingnya yang menggantung, sehingga saya sangat gemas, dan sampai detik ini cerpen tersebut masih melekat di kepala saya. Rasanya saya ingin menemui pengarangnya untuk menggugat kenapa ‘Atik’ dan kakaknya yang sekolah di SMA yang sama dibiarkan tidak saling tahu bahwa mereka bersaudara, saudara kandung malah! Padahal si ‘kakak’ usil yang menyembunyikan sepatu ‘Atik’ sudah datang ke rumah ‘Atik’, sudah bicara dengan orang tuanya. Si ‘kakak’ pun sempat mempertanyakan kenapa si ‘Atik’ sangat berbeda dengan adik-adiknya. Pertanyaan yang tidak pernah dijawab oleh keluarga baru Atik.

Gemas karena keluarga ‘Atik’ yang asli dibiarkan dalam penantian yang tak berujung. Dibiarkan bertanya-tanya tanpa jawaban. Dibiarkan menanti-nanti tanpa kepastian. Gemas kenapa keluarga guru itu tidak mau berterus terang tentang asal-usul ‘Atik. Kenapa sang guru tidak mau mengatakan bahwa ‘Atik’ anak yang ditemukan belasan tahunyang lalu?

Gemas kenapa si ’kakak’ dibiarkan memendam rindu tak terperi kepada adik yang disayanginya. Kenapa kakak beradik itu harus saling bermusuhan. Kenapa ‘Atik’ dibiarkan menerima perlakuan yang berbeda dari orang tua barunya. Kenapa ‘Atik’ harus menderita lebih lama dengan pertanyaan yang terucap tentang perlakuan beda sang ibu.

Bandingkan dengan cerita di sinetron sekarang, jarang sekali cerita sinetron yang mampu membebani kepala bertahun-tahun lamanya. Yang ada justru sering membuat gemas. Karena menyebalkan. Kebanyakan justru menganggap penonton super bego, meski yang dianggap bego nampaknya pada seneng, terbukti yang nonton juga banyak. Dan menjadi pembicaraan ibu-ibu rumah tangga, juga bakul-bakul di pasar.

Pembaca Baltyra saat ini juga sedang menunggu, bagaimana ending si Astari, Jennifer, Tumpuk Artati (untung bukan Timpuk Harjanti, bisa benjol kepala saya), Mulyati, dan beberapa yang lain. Apakah akan memuaskan sesaat, dengan hapy ending, ataukah bakal membebani kepala kita karena ending yang terbuka, atau menggantung? Mari kita tunggu.

 

Jogja 4 Agustus 2011

 

50 Comments to "Open Ending Yang Bikin Gemas"

  1. Dewi Aichi  16 August, 2011 at 05:37

    Bu….wkwkwkw…tak tinggal masak je….maklum bu, puasa, pulang kerja pas buka, tapi ngga ada yang mau di makan , he he….ada sih…cuma foto makanannya Pak DJ.

  2. probo  16 August, 2011 at 05:10

    baru tau…DA dan Mbak Lani nggemesi ya?

  3. Dewi Aichi  16 August, 2011 at 05:03

    Wah lha ini Pak DJ, udah di kruyuk wanita wanita nggemesin

  4. probo  16 August, 2011 at 04:46

    ha’a mbak…..teka dhog njur ungak-ungak baltyra hehehe…kangen
    ndilalah rana lali ra nggawa modem je

  5. Lani  16 August, 2011 at 04:36

    MBAK PROBO waduh baru balik soko SUROBOYO to?

  6. probo  16 August, 2011 at 04:32

    PakDj…jenang sungsum bikinan PakDj……
    maaf semalam langsung saya tinggal tidur, baru saja sampai dari workshop di surabaya

    makasih ya kiriman gado-gado ala Mainz-nya

  7. Dj.  16 August, 2011 at 01:00

    Kok belum bobo…???
    INi Dj. kirim gado-gado, doyang atau tidak…???

  8. Dj.  16 August, 2011 at 00:52

    Hahahahahahahaha…..
    Mana Dewi kenal jenang sumsum….???
    Ini photo bubur, yang lebih jelas….
    Terimakasih untuk doanya ya….
    Dan salam manis dari Mainz…..

  9. probo  16 August, 2011 at 00:43

    makasih PakDj…..besok jenang sungsum ya…biar pulih otot bebayune…..kata orang jawa

  10. Dj.  16 August, 2011 at 00:33

    probo Says:
    August 15th, 2011 at 23:56

    Dj. Says:
    August 11th, 2011 at 23:17

    Nah ya….
    Nunggu dibawah pohon jambu sambil makan bubur kacang ijo….

    maunya bubur ayam kok…..

    Hahahahahahahaha…..!!!
    Dj. sejak kemarin sakit perut dan anak Dj. si Dewi hari ini bikin bubur ayam untuk Dj.
    Sayang, saat dia bikin, Dj. sedang ke dokter, jadi tidak diphoto…..
    Hanya saat mau makan, untung Dj. ingat kamera, karena tau ada yang mau nanya…
    Ini daging ayamnya, dibumbui sendiri dan bakar, setelah itu disuwiri.
    Jalas rasanya juga tambah nendang, hanya sayang saat ambil photo, lupa sausnya…
    Hahahahahahahahaha….!!!
    Silahkan makan, semoga visa tambah sehat dengan bubur ayam…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.