Suku Asli Wana, Masihkah Terasing?

Hilda Rumambi

 

Di Sulawesi Tengah masih banyak terdapat suku-suku asli (terasing/indegeneous) yang mendiami beberapa pegunungan yang tersebar di beberapa kabupaten Sulawesi Tengah, diantaranya di Luwuk Banggai, Morowali dan Palu sendiri.

Saya bersyukur sekali, pada suatu saat di tahun 2010 diberikan kesempatan untuk bertemu dengan salah satu suku asli tersebut yang mendiami pegunungan Veelbek (moga-moga ngga salah tulis) di lembah Palu. Tidak terlalu jauh dari kota Palu, bisa dicapai dengan kendaraan ke desa pertama sekitar 15-20 menit, lalu mulai berjalan kaki ke salah satu dusun suku asli tersebut.

Menapaki jalan setapak di sepanjang lembah-lembah yang melewati desa Salena-Palu Barat. Menyebrang sungai setelah batas dusun terakhir.

Mendaki gunung selama hampir 1,5 jam dengan ketinggian 700 meter dari permukaan laut, dan di beberapa tempat ketinggian hampir mencapai 90 derajat, menderas keringatku membasahi pakaian yang dipakai, terengah-engah untuk mencapai salah satu tempat suku terasing di WANA salah satu sub-suku Da’a, suku ini tersebar di wilayah Sulawesi Tengah, yang mendiami salah satu lembah gunung ini.

Beberapa kali kami sempat beristirahat di bawah pohon-pohon besar yang rindang, sambil menikmati pemandangan yang indah di depan mata, melihat teluk dan kota Palu dari dua bukit yang berdampingan, benar-benar diri mengucap syukur pada Yang Maha Kuasa karena diberikan kesempatan untuk mengecap indahnya dunia yang diciptaNya…

Karena banyak perhentian, kami akhirnya sudah agak siang sampai di dusun Wana. Dusun ini hanya didiami sekitar 40 kepala keluarga. Namun, tidak seperti yang kuperkirakan di awal pendakian, bahwa aku akan bertemu dengan the “indegenous people” yang tergambar di benakku adalah sekelompok orang-orang jaman primitif/batu yang hanya memakai baju seperti Tarzan dan hidup di pohon-pohon serta tidak tersentuh sama sekali oleh modernisasi. Masih memakai alat-alat sederhana untuk memasak atau bertani, atau at least masih seperti saudara-saudara kita di Papua yang masih memakai koteka begitulah…(mohon maaf ya bukan mau menyinggung saudara-saudaraku yang di Papua yaa..)

Tapi yang kutemui di sana sangat berbeda. Dusun ini sudah terjamah oleh modernisasi dan juga teknologi yang lumayan canggih untuk ukuran desa. Buktinya, hampir seluruh rumah sudah berpijak di tanah (kelihatan rumah-rumah ini masih baru loh..); banyak keluarga sudah mempunyai handphone (dan asiknya lagi, di sini bisa akses telkomsel dengan lancar hehehe), pakaian mereka sudah seperti orang-orang kebanyakan, sudah pakai kompor untuk memasak, dan ada TV dan radio tape, yang paling canggih yang bisa ditemui disana adalah 95% rumah mempunyai solar cell pengganti PLN, sehingga kalau malam kita tidak akan melihat lampu teplok atau obor lagi…tapi lampu pijar…. Tidak ada lagi kelihatan bahwa kelompok atau dusun mereka itu mencerminkan suatu kelompok suku terasing yang memang masih perlu untuk pendampingan dalam pengembangan masyarakatnya…

Agak kecewa sedikit sih melihat kenyataan itu (kenapa ya? Mungkin karena di pikiran kita kalau bicara tentang suku terasing pasti kebanyakan punya gambaran seperti yang disebutkan diatas sebelumnya), tapi setelah bertemu dan berdiskusi dengan masyarakat dusun ini, dengan bapak-bapak, ibu-ibunya, anak remaja dan anak-anak kecil, baru kita merasakan perbedaan yang begitu nyata dalam tata kehidupan sosial kelompok kecil ini.

Suku Wana mempunyai sistem sosial sendiri, adat kesukuannya masih sangat dijaga meskipun sudah ada intervensi dari pemerintah dan tokoh-tokoh agama (dalam hal ini Gereja Bala Keselamatan) yang membina mereka. Sehingga mereka memakai dua hukum selain hukum adat juga hukum positif dari negara, namun hebatnya diantara mereka sendiri jarang sekali dan menurut beberapa orang-orang tua tidak pernah terjadi ada pencuri di antara suku ini ataupun orang-orang yang melakukan kekerasan terhadap sesamanya.

Yang ada malah orang dari luar yang mau mencuri atau melakukan hal-hal tidak terpuji kepada mereka. Karena suku ini sangat taat terhadap pemimpinnya dan menjaga betul adat mereka. Untuk pekerjaan harian, hampir seluruhnya mempunyai ladang di hutan-hutan di belakang gunung itu. Ladang di atas itupun masih ladang berpindah, dan belum memakai teknologi tanam yang semestinya sehingga jika sudah musim tanam, masih banyak terjadi orang-orang suku ini membakar hutan yang akan mereka jadikan ladang pertanian.

Setelah semalaman berinteraksi dengan orang-orang tua di sini, yang semuanya tidak tahu bahasa Indonesia (untung saja ada penterjemah bahasa lokal yaitu orang desa di bawah yang menikah dengan perempuan suku ini) dan mendengarkan mereka bercerita tentang adat istiadat dan perlakuan mereka terhadap anak, maka di siang hari kami berinteraksi dengan anak-anak.

Ada keunikan tersendiri bermain dan bercerita dengan anak-anak di sini. Seperti anak-anak di dunia manapun yang kita temui, anak-anak ini punya perhatian yang lebih terhadap orang-orang baru yang mereka temui. Mereka senang bermain dan tertawa, wajah-wajah polos dan ceria menyambut kami.

Meskipun sering terkendala dengan bahasa lokal yang tidak bisa dimengerti, namun bahasa tubuh dan isyarat akhirnya menolong kami untuk berinteraksi dengan mereka. Ibu-ibu yang mempunyai anak yang lebih kecil terlihat juga antusias mengikuti kegiatan anak-anak yang dilakukan di Baruga. Mereka membantu anak-anaknya dalam permainan dan menggambar.

Menarik melihat bagaimana mereka bersekolah di dusun ini, karena ternyata hanya ada satu bangunan yang masih seperempat permanen yang dijadikan sekolah oleh anak-anak itu. Gurunya hanya ada dua orang dan satu volunteer.

Hanya ada 3 kelas, sehingga biasanya anak-anak dibagi pagi dan siang untuk berbagi kelas. Jam sekolah suka-suka gurunya, kalau mereka tidak ke ladang bisa mulai jam 9 atau jam 10 pagi. Dan urusan seragam, ada anak-anak yang suka memakainya ada yang tidak, senang juga melihat keberagaman dalam hal ini .

Melihat bangunan kelas ini, agak miris juga, karena ternyata kelas-kelas ini tidak mempunyai dinding, sebenarnya bantuan sekolah ini adalah bantuan dari pemerintah, namun sayang tidak sampai selesai mereka membuatnya, entah karena kekurangan dana atau kelelahan membawa bahan-bahan material (katanya semen) dari bawah. Yang jelas, kelas 3 lokal ini hanya ada atapnya saja, tidak berdinding dan tidak berlantai, jadi kalau hujan dipastikan becek sekali. Belum lagi meja belajarnya yang hanya beberapa buah sehingga anak-anak dalam satu meja duduk berhimpit-himpitan.

Yang lebih membuat parah adalah…bangunan sekolah itu persis di belakang jurang yang cukup rawan. Jadi pikirku mengawang pada siapa yang punya ide pembangunan sekolah ini ini, apakah mereka tidak berpikir tentang keamanan untuk anak-anak, dengan membangun sekolah di bibir jurang seperti itu bagaimana nanti kalau ada longsor waktu hujan deras?

Bagaimana kalau anak-anak bermain dekat-dekat jurang, tidakkah itu berbahaya? Konteks mitigasi bencananya benar-benar tidak diperhatikan…. Sekali lagi, sangat disayangkan pembuatan sekolah di dusun ini benar-benar tidak melihat konteks budaya dan sosial masyarakat di sini.

Kadang bertanya, mengapa selalu harus diseragamkan dalam membuat satu sekolah, harus permanen…harus 6 kelas berjajar kalau bisa (untung ini hanya 3 hehehe), harus ada bangku, kursi lengkap, padahal bisa saja kita membangun pondok-pondok kecil di sekitar dusun ini dan itu menjadi sekolah anak-anak ini.

Seperti sekolah alam, tidak perlu pakai bangku dan meja, pakai saja apa yang ada disekitarnya, lebih alami bukan? Atau dibuat sekolah dalam bentuk Baruga (pendopo untuk tempat pertemuan) yang lebih kontekstual untuk anak-anak itu, daripada buat bangunan sekolah yang setengah-setengah.

Setelah bercerita dengan gurunya dan juga teman-teman yang mendampingi masyarakat di wilayah ini, agak terkejut mengetahui masalah pendidikan yang dihadapi oleh anak-anak ini. Ternyata dari sejak adanya dusun ini, anak-anak yang lulus dari SD saja dibawah 10 orang, dan untuk tahun ini saja, mungkin yang ikut UAN hanya 5 anak, dan yang mau melanjutkan sekolahnya ke SMP lebih kecil lagi, mungkin hanya 2 anak…kebanyakan anak-anak SD yang mengikuti UNAS tidak lulus dan membuat adik-adiknya akhirnya malas untuk ikut UNAS saking susahnya ujian itu.

Sedih mendengarnya, padahal di dusun ini ada sekitar 80 anak dan remaja. Remaja di atas 12 tahun sudah tidak sekolah lagi karena menurut mereka SMP sangat jauh apalagi untuk berjalan kaki. Bagaimana masa depan anak-anak ini kalau SD saja mereka banyak yang tidak tamat, apalagi SMP….terlebih SMA? Informasi dari teman seperjuangan sampai saat ini yang tamat SMA baru 1 orang dan dia itulah salah satu guru yang mengajar di sekolah SD itu…luar biasa!

Dilema dimasyarakat, yang masih menganggap sekolah tidak penting karena untuk mereka makan minum untuk hari bisa terpenuhi itu sudah cukup, hari esok dan permasalahannya tidak perlu dipikir hari ini. Anak-anak tidak perlu sekolah karena sudah ada alam yang menyediakan ladang untuk mereka menjadi petani.. Benar, hidup begitu sederhana bagi mereka, kadang terhinggap dalam pikiran, apakah kita ini yang membuat hidup malah menjadi lebih kompleks ya? Who knows…

Satu hal lagi yang membuatku agak tercengang di sini, ternyata Wana bukan lagi wilayah yang benar-benar terisolir dan tidak terjamah oleh pemerintah, malah kebalikannya, wilayah ini paling banyak mendapatkan bantuan, entah itu dari pemerintah maupun dari lembaga-lembaga sosial, agama dan LSM lokal maupun internasional. Apalagi kalau menjelang Pemilu atau Pilkada, orang-orang tua di sini bilang, banyak pejabat-pejabat yang ingin naik (tapi hanya segelintir yang benar-benar sampai kemari) pada saat kampanye.

Predikatnya sebagai suku terasing ternyata membawa berkah tersendiri bagi warganya. Rumah-rumah mereka, solar cell yang ada hampir di setiap rumah, dan sekolah yang masih setengah jadi, juga MCK 3 unit (yang sudah rusak kelihatannya), 2 buah sumur pompa, yang semuanya merupakan bantuan.

Jadi, apa yang salah? Akankah kita melihat kembali bantuan-bantuan yang diberikan itu sebenarnya benar-benar yang diperlukan oleh masyarakat ini, yang akan membuat mereka mandiri, atau malah membuat mereka terlena? Akankah kita melihat mereka mampu berjuang, survive di masa yang akan datang dan melihat anak-anak suku Wana menjadi anak-anak yang mampu bersaing dengan teman-temannya di desa-desa lain karena ada yang peduli dengan pendidikan mereka atau malah melihat suku ini lama-lama terkikis dan lenyap dari bumi ini hanya gara-gara kita juga salah memberikan bantuan dan pendampingan pada mereka? Hmmm…hanya waktu yang bisa menjawabnya.

 

** Perjalanan bulan April 2010-Dusun Wana-Desa Salena-Palu-Sulawesi Tengah**

*pictures courtesy to children and community in Wana sub-village-Palu-Sulteng

 

41 Comments to "Suku Asli Wana, Masihkah Terasing?"

  1. Handoko Widagdo  13 August, 2011 at 07:05

    Itsme, itulah sebabnya harus ada yang berani mendampingi mereka dan bicara sampai level nasional/internasional untuk mengubah cara pendatang mengeksploitasi sumberdaya alam mereka.

  2. Itsmi  12 August, 2011 at 20:28

    Handoko, masyarakat adat selalu di salahkan tentu gampang kan hahahahahah

  3. Dj.  12 August, 2011 at 19:14

    Hilda Says:
    August 12th, 2011 at 12:26

    @ om DJ: waaah kalo thn 70an sih emang masa kegelapan di wilayah sulawesi sih hahaha…mungkin cuma Mdo ama Makassar aja yg agak sedikit maju, ah tapi gak juga kali yaaa…
    saya pernah ke Tator via jalan darat dari Tentena, sekarang sudah bagus..meskipun jalan tetep aja agak2 ngeri krn msh banyak yg curam, sekarang rata2 masyarakat Sulsel sdh maju, hp dan BB bukan barang aneh lg..anak2 remaja pun di daerah2 sana hp nya canggih2 deh

    makasih om DJ dah mampir, salam sayang dari kami di Hammer City

    Terimakasih Hilda….
    Cerita ttg Tator, ingat pertama kali ajak Susi ( hanya berduaan saja ), ditahun 1982, juga lewat darat dengan mengendarai Jeep. Dari Makassar sampai Rantepao 9 jam lebih.
    Berangkatnya masih mending, walau ada jembatan yang hancur dan dipasang 2 batang pohon kelapa sebelah kir dan juga dua batang sebelah kanan.
    Jelas kami tidak berani duduk dimobil, kami milih nyebrang kalinya dengan jalan kaki…hahahaha…!!
    Tapi saat pulangnya, kami beli rumah-rumahan Toraja yang dipangku Susi, dimobil selama 9 jam.
    satu pengalaman yang tak terlupakan…
    Ini ada photo rimah toraja yang kami beli dan satu kenangan, saat kami beli itu rumah, sengaja tidak kami tawar, karena penjualnya ( si ibu ) sudah tua.
    Taunya si ibu nanya, kami datang dari mana, setelah kemi jelaskan, maka dia cerita, punya anak yang sementara juga tugas sebagai pendeta di Jerman.
    Dj. tanya siapa namanya, begitu ibu si ibu nyebut namanya, kami sedikit kaget kaget, taunya malah teman dekat di kota Mainz. Jadilah ngobrol kiri kanan…..

    Ngomong-omong….
    Hammercity, kok ya mirip tempat tinggal kami dikampung di Jerman, dimana Susi berasal.
    Kotanya bernama Idar.Oberstei ( kota penghasil batu permata ).
    Tapi kampoeng dimana Susi lahir, namanya Hammerstein ( batu untuk hammer )

    Salam manis dari Mainz. untuk keluarga dirumah ya…

  4. Handoko Widagdo  12 August, 2011 at 18:49

    Hilda, kebetulan saya pernah bekerja di Lore Lindu dengan sebuah LSM konservasi International. Tapi perhatian saya bukan pada konservasinya. Perhatian saya adalah pada masyarakat yang tiba-tiba harus mengalami perubahan yang maha dahsyat tanpa bisa memikirkan bagaimana mereka ke depan. Kekhawatiran saya adalah bahwa perubahan yang demikian hebat itu tidak disadari oleh masyarakat adat ini. Akibatnya ketika semua sarana hidup mereka sudah hilang, mereka menjadi tidak karuan. Biasanya kalau sudah menjadi begini, masyarakt adat ini juga yang disalahkan. padahal mereka tidak siap dengan segala perubahan yang mereka sendiri tidak inginkan ini. Selain di Lore Lindu, saya juga bekerja di Kelay dengan masyarakat Dayak Punan serta dengan kelompok melayu di Kalimantan tengah. Kasusnya sama saja. Pihak luar atas nama pembangunan menghabisi/merusak sarana hidup masyarakat adat tanpa berkonsultasi dengan mereka. Perubahannya demikian cepat sehingga mereka tidak bisa menyesuaikan diri. Harus ada lembaga (seperti lembaganya Hilda?) yang berani mendampingi mereka dan bersuara untuk mereka. Salam.

  5. Itsmi  12 August, 2011 at 18:36

    Pemikiran seperti nu2k memang banyak pendukungnya itu karena mereka melihat suku suku asli begini sebagai objek, jadi tidak mempunyai respek dan untuk saya merusakan. lain soal lagi kalau pertanyaan itu muncul dari suku ini ? baru bisa di bicarakan seperti ecotourism jadi sesuai dengan lingkungannya.

  6. Itsmi  12 August, 2011 at 18:28

    standard siapakah sebenarnya yg kita pakai?
    Hilda pertanyaan begini memang legitim. tapi jangan sampai jadi lumpu ntuk ambil tindakan.
    banyak pemikiran pemikiran tradisional yang kita sudah tau itu tidak layak lagi. Tahun 60-70an banyak yang berpikir, bahwa semua budaya sama cuma berlainan, pemikiran begini saya kira sudah lewat….

  7. Hilda  12 August, 2011 at 12:36

    @ mas paspanpres: gampang kok kalo dtg, dari Jkt ke Palu, dari Palu ke wilayah ini gak membutuhkan wkt lama…naik mobil 20 menit, terus mendaki sekitar 2 jam lah kalo blm biasa, paling lama 3 jam kalo lelet banget…
    udah deh, bisa nginep disana kalau mau bener2 berinteraksi 1-2 hari…kemudian pulang..selesai deh
    asik kan?

  8. Hilda  12 August, 2011 at 12:34

    @ mba mimin: thanks utk kata2 inspiratif…semoga benar2 menginspirasi orang2 yg membaca spy tertarik utk memperhatikan saudara2 kita ini dng lebih nyata, kalau seru…memang seru perjalanan dan petualangan kesana
    salam manis

  9. Hilda  12 August, 2011 at 12:32

    @ Moken: hehehee…saya bekerja di salah satu organisasi kemanusiaan yg disebutkan di atas, tp jgn disebutin yah..malu…
    berharap jika semakin dikenal suku2 asli ini, akan semakin terbuka kesempatan kepada mereka utk anak2 mereka sekolah dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yg lebih tinggi lagi, saya yakin mereka sebenarnya mampu..hanya itulah…kesempatan yg mrka perlukan…
    kita doakan bersama ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.