Gay Pride 2011 – Amsterdam (1)

Nunuk Pulandari

 

Rabu minggu lalu konco ngajeng rasan-rasan (suami sempat mengatakan) mengajak nonton GAY PRIDE di Amsterdam, pada hari Sabtu (yang lalu). Langsung saya menjawab:”Heb je Gert gesproken . Worden wij dan uitgenodigd om naar de Homo Parade te kijken” (Have you talked to Gert whether we are invited or not). Dan kebetulan hari Sabtu itu saya juga ada tamu dua orang. Satu dari New York dan satu dari Rotterdam. Jadi semua acara bisa digabung sekalian jalan-jalan di Amsterdam.

Tentang kota Amsterdam sudah banyak yang menceritakan. Saya hanya memberikan beberapa foto dari beberapa beberapa obyek yang langsung akan nampak begitu anda ada di “plein” De Dam. De Dam merupakan jantung kota Amsterdam  yang berfungsi sebagai lokasi bagi banyak evenementen di ibu kota Belanda. Di sekitar De Dam banyak terdapat bangunan kuno dengan arsitektur yang sangat indah dan menarik.

Foto 1. Pusat pertokoan Kalverstraat yang cukup dikenal oleh para pelancong dari Indonesia.

Karena mahalnya tempat parkeer di Amsterdam  (5 euro per jam),  kami memarkir mobil di batas kota (di dekat RS Kanker Van Leeuwenhoek). Dari sana kami naik trem no.2 dan berhenti di belakang istana de Dam. Dengan melihat ke foto (foto 1), halte de Dam ada di arah sebelah kanan foto.

Memunggungi  Kalverstraat dan menengok  ke arah kanan,  kita melihat toko “warenhuis” mewah Bijenkorf yang sejak beberapa waktu lalu telah mengubah  penataan interieur bagian dalamnya.  Di sebelah kirinya ada salah satu hotel  termahal di Amsterdam, Krasnapolsky.  Daerah di belakang hotel ini  terkenal dengan yanga namanya : de Rosse buurt (daerah  “lampu”merah yang terkenal dengan “raamprostitutie” nya – para penjaja cintanya bisa dilihat berada di balik  jendela, dan  daerah ini juga terkenal  sebagai daerah peredaran drugs di Belanda .)- Lihat foto 3

Foto 2. De Dam dengan ‘het warenhuis”(Bijenk.)  dan hotel terkenalnya (Krasn.) serta “het bevrijdingsmonument” (Tugu putih di tengah).

Melewati Tugu Monument daerah ini kami menuju ke daerah belakang hotel Krasnapolsky untuk mencari makan siang di daerah Pecinannya, Nieuwmarkt. Sayang sekali Rumah Makan yang biasa kami kunjungi (747) super penuh dan antrian masih panjang. Dan Rumah Makan China di dekat bangunan “De Waag”, ternyata baru buka jam 14.30. Saat ini bangunan de Waag yang sudah direnovasi digunakan sebagai restaurant-café.

Pada awalnya bangunan de Waag yang didirikan pada tahun 1488  merupakan salah satu “stadspoorten”  (pintu gerbang kota Amsterdam) di tembok kota, yang dulunya mengelilingi Amsterdam. (lihat foto 3, de Waag)

Foto 3. Het Stadspoort De Waag di Nieuwmarkt  Amsterdam dengan kedua teman saya..

Di seberang Hotel Krasnapolsky, terletak “Het paleis op de Dam”  Istana di de Dam. Istana Kerajaan yang dibangun antara tahun 1648 dan 1665. Pada awalnya merupakan sebuah bangunan untuk Kantor Balai Kota. Bangunan Istana ini merupakan monument bersejarah yang sekaligus merupakan symbool dari Abad Keemasan di Belanda.

Berjalan di sekitar de Dam terlihat semakin lama semakin banyak para toerist yang berdatangan dari arah stasiun kereta (lihat foto 5 ). Mereka berdatangan dari segala penjuru dunia untuk turut menjadi saksi terlaksananya Gay Pride yang ke 16 kalinya di Amsterdam.

Pesta Gay Pride ini sesungguhnya diawali sejak tanggal 4 Agustus sampai dengan tanggal 7 Agustus. Dalam beberapa hari itu dilaksanakan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan homoseksualiteit. Sebagai puncak dari segala kegiatan, pesta  ini diadakan di atas kanaal. Di sepanjang Prinsengracht dan di daerah sekitarnya.

Foto 4. Istana de Dam yang sudah direnovasi dan belum lama ini telah dibuka kembali untuk umum.

 

Foto 5. Suasana di sepanjang jalan dari stasiun (di ujung foto) menuju pusat kota de Dam, di  Amsterdam yang menuju Prinsengracht sangat padat.

Dari de Dam, kami melanjutkan perjalanan ke Princengracht dengan menggunakan trem yang super padat. Kami naik dari halte yang ada di depan pertokoan Magna Plaza. Sebuah pertokoan yang pada awalnya merupakan sebuah bangunan Kantor Pos. Kami tidak berjalan kaki mengingat jaraknya yang masih agak jauh (4 atau 5 halte). Terutama untuk kaki-kaki yang sudah mengukur panjangnya jalan di sekitar de Dam hal ini sudah mulai terasa melelahkan.

Foto 6. Pertokoan Magna Plaza nampak dari depan, yang didirikan di bekas bangunan Kantor Pos

Dari halte Prinsengracht kami berjalan mengikuti arus manusia menuju ke rumah sahabat (mereka termasuk pelopor pernikahan kaum homo) yang tinggal di salah satu rumah di jl Prinsengracht (lihat foto 11. )

Untuk merayakan Gay Pride ini mereka mengundang banyak teman. Berdesakan di antara lautan manusia nampak di sepanjang jalan itu berbagai tafereeltjes antara lain: Sekelompok wanita yang sedang merayakan Bachelor party, pesta malam terakhir sebagai seorang yang masih bebas (belum menikah), biasa juga disebut sebagai “vrijgezellenfeest” (lihat foto 7) ; sekelompok kaum muda yang berdandan bagaikan remaja wanita (foto 8) ; atau sekelompok pengunjung yang berdansa ria.(foto 9).

Sampai di rumah sahabat nampak sudah berkumpul teman-teman lainnya. Dari jendela di tingkat 2, saya dan teman saya mendapat tempat di depan jendela kamar tidur untuk menyaksikan Gay Pride itu.

Dari jendela ini saya membuat beberapa foto keramaian yang ada. Lautan manusia yang terbentuk hampir di semua jalan yang menuju ke Prinsengracht, pusat pesta di siang hari itu. Menurut perhitungan terakhir berjumlah plus minus 380.000 pengunjung. Beberapa puluh ribu lebih banyak dari tahun-tahun yang lalu.

Foto 7. Dalam kesempatan seperti ini juga digunakan oleh banyak calon pengantin baru untuk merayakan “Bachelor Party”-nya. Malam / hari terakhir sebagai single.

Sesungguhnya De Canal Parade – Amsterdam merupakan bagian dari serangkaian pesta Gay Pride. Puncak pesta yang sangat meriah ini  diadakan pada hari Sabtu yang lalu. Mulai dari jam 13.30 sampai plus minus jam 17.00. Puncak pesta yang diadakan di atas kapal-kapal yang dihias dengan berbagai warna, yang berparade di kanaal ………

Pesta semacam ini  selalu menarik banyak penonton. Dan Pesta Gay Pride  ini menjadi semakin terkenal di dunia. Juga di sepanjang pinggir kanaal tampak berjubel penontonnya. Berlapis mereka berjejer duduk dan berdiri di sepanjang pinggir kanaal dan di atas kapal yang tertambat di tepi kanaal nya.

Di atas kapal-kapal yang tertambat ini juga berlangsung pesta meriah baik dengan minuman maupun makanan pengiringnya. Pesta kapal yang berlayar  berlangsung kurang lebih 3 sampai 4 jam. Tetapi pesta para penontonnya berlangsung sejak jam dua belasan. Meriahnya pesta itu nampak dengan banyaknya para artis dan DJ’s terkenal yang memamerkan keahliannya di batas kapal-kapal mereka.

Biasanya setiap pesta selalu disertai dengan thema tertentu. Dalam pesta Gay Pride Sabtu kemarin thema yang digunakan untuk Canal Paradenya adalah: “’All Together Now”. Dari jendela atas nampak dominasi beberapa warna yang menyolok, seperti warna rose dan ungu. Suatu parade di atas kanaal yang didominasi dengan warna yang menjadi pilihan bagi para pesertanya.

Parade ini diawali dengan kapal polisi yang membuka laju kapal yang ada.  Nampak dalam Parade yang lalu kekompakkan dari banyak organisasi dan juga wakil-wakil dari berbagai instansi swasta dan pemerintahan.  Yang sangat  penting dalam Canal Parade ini  adalah keikutsertaan Kapal dari “Ministerie van Defensie”.

Dari Kapal ini Letnan Dan Choi yang dilepaskan dari keanggotaan militernya karena dia menyatakan bahwa dirinya adalah seorang homoseksual, telah meresmikan pembukaan Parade Homo yang ada. Salah satu symbool terpenting dari peserta yang melambangkan bahwa “homoseksualiteit” adalah bagian dari kehidupan bermasyarakat yang tidak dapat dipisahkan keberadaannya.

Foto 8. Jalan di sepanjang Prinsengracht yang dipadati oleh pengunjungnya.

 

Foto 9.  Sekelompok pria muda yang mengenakan pakaian rok sedang bergaya

 


Foto 10. Bergoyang dan tertawa ria bersama dengan pengunjungyang tidak saling mengenal.

 

Foto 11. Rumah Gert dan Erick di Prinsengracht. Dari jendela atas saya sempat membuat foto-foto perayaan Gay Pride ke 16, di Amsterdam.

 

Foto 12. Gert dengan putrinya Leoni,  tuan rumah yang ramah dan nyemedulur (sangat bersaudara)

 

Foto 13. Kapal yang mengawali berlangsungnya Pesta Kanal di Amsterdam

 


Foto  14. Kapal yang mewakili Kantor Walikota Amsterdam ikut berpartisipasi dalam pesta kaum Homo di Amsterdam.

 

Foto 15. Teriakan kaum Homo yang menginginkan toleransi terpampang dalam slogan.

Mengingat masih cukup seringnya terjadi tindak kekerasan pada kaum Homo , mereka menginginkan  toleransi yang terbuka sehubungan dengan keberadaannya. Hal ini terpapar jelas dalam slogan yang ada. Mereka menganjurkan untuk mengajarkan rasa toleransi ini sejak dini mula. Sebaiknya sejak mereka sudah mulai belajar membaca.

 

Foto 16. Sebuah kapal mewakili salah satu komunitas Homo di Almere.

Almere adalah sebuah kota terbesar kedua di Provinsi Flevoland. Sebuah kota yang terbentuk di akhir abad ke dua puluh yang berkembang dengan pesatnya. Banyak kaum muda dengan pendapatan yang cukup tinggi, menempati kota baru ini. Saat ini Almere menjadi ibukota Provinsi Flevoland.

Dalam kurun waktu yang cukup singkat kota Almere sudah mencapai sukses yang besar dan kemajuan yang tinggi hampir di semua bidang. Untuk itu saat ini Almere sudah menempati kelompok 10 besar dalam katagori kota “gemeente” Kabupaten (??) di Belanda.

Foto 17. “Het stoute sprookjesbal”,  Pesta dansa dalan cerita yang nakal, mungkin nampak terlihat dari cara berpakaiannya.

 

Foto 18. Banyak kaum selebriti dari kelompok homoseksual  Belanda yang tutur berpesta ria.

 

Foto 19. Kalangan wakil militer turut berpesta sebagai “protes”

Dengan beberapa wakil dari militer Amerika dan Inggris yang “menjerit” menginginkan adanya pengakuan bagi kelompok Homoseksual dari wakil pemerintahnya, mereka turut berparade.

 

Foto 20. Berfoto sebagai “Perompak”.

Pakaian seminim mungkin dan warna yang sering muncul dalam kelompok Homoseksual.

Foto 21. Salah satu peserta yang menarik karena bunganya.

 

Foto 22. Kapal yang berhubungan dengan Paramedische kliniek

“Paramedische Kliniek” di Belanda biasanya melayani berbagai penanganan seperti: menghilangkan rambut di tempat yang tidak dikehendaki, perawatan kesehatan mulut, proses penyuntikan  “botox”  dll, dll. Tentunya hal ini sangat banyak berhubungan dengan kelompok yang sedang berpesta ria.

Foto 23. Para “Ratu” sedang berparade di atas air.

Nampak dari kejauhan “Ratu-ratu” yang sangat menawan dan cantik untuk dipandang mata . Apalagi ketika mereka tampil dalam gaunnya yang terlihat sangat wahhhhh. Sekilas sangat sukar bagi awam untuk membedakan mana Ratu yang asli dan mana Ratu yang palsu.

 

bersambung…

 

148 Comments to "Gay Pride 2011 – Amsterdam (1)"

  1. nu2k  23 August, 2011 at 07:31

    Dear mbak (??) Enief Andhara, maaf kalau salah menyapanya. Waaahhh, pasti belum baca komentaar dimas Suhu JC khaaaan. Saya justru dianjurkan untuk pakai lensa yang panjang dan besaaarrr, biar hasil gambarnya bagus …. Naaahhhhh, itu dia…..Matur nuwun dulu, sebelum ganti camera… ha, ha, haaaa… Maaf terlambat berreaksi dan Salam, nu2k

  2. Enief Adhara  18 August, 2011 at 16:37

    ulasan plus foto foto yang sangat keren banged …. love it

  3. SU  16 August, 2011 at 14:05

    Mas Edy: geleng2 kepala bukan karena sakau ya….tapi bilang “Tak percaya, tak percaya bahwa sekarang Mas Edy tambah innocent.”

  4. nu2k  15 August, 2011 at 05:34

    Ha, ha, haaaa… Waaaahhhh, ini dia mengabadikan suatu moment sambil merem, atau hanya nginceng sethithik… ha, ha, haaaa.. Hasilnya kabut pasir dengan bayang-bayang sepeda… Itu juga khan hasil seni fotografi… ha, ha, ha… Salam, nu2k

  5. Lani  15 August, 2011 at 02:12

    DIMAZ EDY, MBAK NUK : sepedaan ampe ratusan kilo meter…..klu di BELANDA jelas akibatnya aku bakal mekangkang selama setaon ora mari wakakakak……….bedanya klu di JAKARTA ora ming mekangkang……mungkin kurang dr sejam, udah dipanggilkan ambulance ngathang2 disenggol sepeda motor…….ati ditungganggi mobil……….wakakak……ora golek sehat malah modiaaaaaaar terkapaaaaaaaaaar menggelepaaaaaaaaaaaar…………

  6. Edy  15 August, 2011 at 02:07

    kalau sudah hobby memang tidak ada yang bisa mengerti, saya juga lagi kirim artikel dan saya sisipin photo teman saya yg hobby bersepeda, sampai ada lomba bersepeda di gurun, mana sedang ada badai pula, saya yg mengawal dari dalammobil bila ada apa apa, ketika saya mau ambil picture..wuahhhh..rasanya seperti di siram pasir muka, saya moto sambil merem saja tajkut klilipan.

  7. nu2k  15 August, 2011 at 01:57

    Ya itulah dimas Eddy, salah satu hobby konco ngajeng yang saya nggak bisa ikuti….60 atau 70 km, di akhir weekend (dua hari) untuk saya sudah maksimum. Itupun harus diiming-imingi dengan jalan-jalan di salah satu pertokoan yang ada… ha, ha, haaa
    Dia sekarang selalu naik sepeda wanita karena lebih praktis untuk punggung dan keadaan kakinya. Setahun sekali dia akan pergi plus minus dua minggu untuk bersepedahan. Tahun lalu dia dengan dua temannya selama dua minggu bersepeda ke Santiago (Spanyol) sejauh kurang lebih 900km. Dia berangkat dari Perancis Selatan….. Waaahhh, sampai di rumah kulitnya jadi agak gelap…. Ha, ha, haaaa..
    Dimas jangan lupa bawa sepeda., karena bersepedahan di Jakarta sedang mewabah…. ha, ha, haaaa… Salam en kus, kus, kus, Nu2k

  8. Edy  15 August, 2011 at 01:25

    wuahh..sepedaan 600km? itu spt jakrta -semarang, kalo saya ikut, selesai nya dipastikan dengkul nya lepas hahahahahah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.